Home / Artikel Perpustakaan / Analisa Penyebab Rendahnya Minat Baca dan Upaya Menumbuhkembangkan Minat Baca

Analisa Penyebab Rendahnya Minat Baca dan Upaya Menumbuhkembangkan Minat Baca

Masalah minat baca sesungguhnya sudah dibicarakan oleh wakil rakyat 28 tahun yang lalu. Tepatnya ketika pada 1969 anggota DPR-GR mendirikan yayasan yang berhubungan dengan masalah minat baca dan perpustakaan ( Rosidi, 1983). Namun sampai saat ini program baca tulis yang diakui sebagai masalah nasional dan menyangkut masa depan bangsa ini masih tertunda tunda. Lemahnya minat baca masyarakat dapat ditandai dengan masih terjadinya pelanggaran etika akademik seperti pemalsuan karya, kesulitan menulis skripsi, tesis dan disertasi.

Bahkan sering terlihat ditempat-tempat umum seperti stasiun, terminal, pelabuhan, bandara, ruang tunggu, bahkan di ruang dosen jarang dijumpai orang membaca. Implementasi penyerta untuk melaksanakan minat baca masih  carut marut , berhubungan dengan pengadaan fasilitas membaca, pengadaan koleksi dan pengalokasian anggaran untuk melakukan minat baca belum diupayakan secara optimal. Selain faktor tersebut, masyarakat Indonesia belum menempatkan buku sebagai media yang sangat penting dalam pencerdasan bangsa. Mendikbud Wardiman Djoyonegoro sendiri waktu diwawancarai RRI (5/3/97) mengakui bahwa anggaran pemerintah sangat terbatas untuk melaksanakan program nasional baca. Belum lagi tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam era persaingan antarnegara semakin lama tidak semakin ringan. Indek kwalitas Sumberdaya Manusia Indonesia

( Human Development Index/HDI) masih rendah. Sesuai yang dilakukan oleh UNDP 2005, HDI Indonesia masih nomor 117 dari 175 negara.

Oleh karena itu penulis mengajak menganalisa apa penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia  yang kemudian setelah jelas penyebabnya penulis ingin memberikan ide tentang bagaimana trik-trik membangun masyarakat cinta membaca, karena  dengan mengetahui apa penyebabnya trik trik  yang digunakan akan lebih tepat sasaran.

TUJUAN

Melihat kondisi masyarakat yang sangat rendah minat bacanya, bahkan paling rendah dibandingkan dengan Nigeria, Negara berkembang di padang gurun Afrika. Begitu laporan yang dikemukakan suatu Lembaga Pengetesan International Association For Educational Achievement ( IAEA,1992 ).

Apakah memang masyarakat kita tingkat kecerdasanya rendah, sehingga kurang melakukan aktifitas otak dalam kegiatan membaca ataukah budaya okol ( fisik ) lebih dominan daripada budaya lisan yang menguasai wacana informasi seperti intruksi atas petunjuk, ditambah lag dengan semakin maraknya acara televisi yang membuat orang malas membaca, hal seperti ini banyak kita jumpai di tempat tempat umum, disana lebih banyak orang berbicara dan melihat televisi daripada membaca.

Mengenai hal itu, kita tidak perlu banyak berteori, namun bagaimana mengkondisikan minat baca dengan upaya upaya yang kongkrit, lebih bermanfaat dan bijaksana.

Melalui artikel ini, panulis ingin menyampaikan beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk mengkondisikan pembiasaan membaca kepada masyarakat demi meningkatkan kualitas Sumberdaya Manusia ( SDM ) yang semakin lama semakin terpuruk.

MASALAH

Adapun masalah yang perlu dianalisa adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana sebenarnya kondisi minat baca masyarakat Indonesia ?
  2. Apa yang menyebabkan minat baca masyarakat rendah ?
  3. Bagaimana strategi pengembangan yang dapat ditempuh untuk menumbuhkembangkan minat baca ?
  4. Infrastruktur apa saja yang diperlukan untuk mengkondisikan minat baca ?
  5. Apakah bentuk kepedulian masyarakat terhadap upaya penanaman budaya baca ?
  6. Bagaimana memberikan kesadaran kepada masyarakat, bahwa ternyata membaca merupakan faktor penentu kualitas SDM ?                                                                                                                                                                                     

PEMBAHASAN

A. Kondisi minat baca masyarakat

Sajidiman Surjohadiprojo (1995) ketika menjabat Dubes Jepang mengatakan bahwa yang paling membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa Jepang adalah kemampuan adaptifnya, termasuk kemampuan membaca dan mempelajari budaya bangsa lain. Tidak akan dijumpai orang Jepang melamun dan mengobrol dikereta api bawah tanah, kegiatan mereka kalau tidak tidur tentu membaca.

Namun kita tidak dapat  menuduh begitu saja bahwa masyarakat  tidak memiliki minat baca. Hal ini dikarenakan faktor ekonomi, yaitu tingginya biaya produksi buku, karena semua pajak yang berkaitan dengan produksi buku dibebankan kepada konsumen, sehingga harga buku di Indonesia termasuk mahal. Apalagi masyarakat berpendapatan pas- pasan , maka keterbatasan jangkauan dan prioritas kebutuhan juga salah satu penyebab rendahnya minat baca.

Jika Mendikbud menganggap masyarakat masih melecehkan buku (Kompas, 30/12/96) tidakkah terlebih dulu menugaskan Dirjen untuk meneliti minat baca. Apakah rendahnya minat baca tidak diikuti variabel ikutanya, seperti daya beli, kondisi perpustakaan, dan industri buku.

Kondisi penduduk kita yang hamper 220 juta jiwaitu tidak bisa disamakan dengan mereka yang terbiasa membeli kaset, MacDonald, dan pizza. Orang tua yang anaknya  ketika pergi ke sekolah tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki saja, setiap hari masih memikirkan ongkos kendaraanya. Apalagi berpikir untuk membeli buku adalah suatu hal yang luar biasa.

B. Rendahnya minat baca

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kualitas bangsa Indonesia seperti tingkat pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan yang rendah. Kualitas SDM yang belum baik merupakan variabel penting yang membuat rendahnya mutu Indonesia di kancah Internasional. Carut marut praktis pendidikan Indonesia terlalu panjang jika diuraikan, diantaranya seperti kurang tersedianya fasilitas belajar yang memadai, rendahnya kualitas guru, dan karakter guru serta siswa yang belum terkondisikan untuk disiplin, jujur, dan bertanggungjawab. Bukti dari apa yang dikemukakan di atas di antaranya adalah malas membaca dan ,menulis.

Pendidikan selalu berkaitan dengan kegiatan belajar. Belajar selalu identik dengan membaca. Membaca selalu berhubungan dengan bertambahnya pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Persoalanya, kualitas membaca masyarakat juga siswa dan mahasiswa kita teramat rendah. Survai yang dilakukan oleh International Education Achievement (IEA) awal 2000, menunjukkan bahwa rangking kualitas membaca anak anak sekolah kita menduduki urutan ke-29 dari 31 negara yang diteiti di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika. Penyair Taufik Ismail bahkan menyatakan dalam penelitianya bahwa anak-anak sekolah Indonesia nol (0) membaca karya sastra. Finlandia dan Jepang dua diantara yang masyarakatnya memiliki minat baca tinggi.

Sesungguhnya persoalan minat baca sudah dibincang oleh wakil rakyat awal tahun 60-an. Pada 1969 anggota DPR-GR sudah mendirikan yayasan yang berhubungan dengan masalah minat baca dan perpustakaan (Ajip Rosidi, 1983). Sampai sekarang pun para pejabat Depdiknas dan institusi terkait berusaha keras meningkatkan minat baca didukung oleh asosiasi keterbacaan nasional. Festival Raja dan Ratu Buku yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan Nasional merupakan jalan menuju penumbuhan minat baca. Namun, sayangnya sampai sekarang hasil kualitas membaca bangsa belum menggembirakan..

Apa yang menyebabkan minat baca masyarakat kita rendah ? infrastruktur apa saja yang diperlukan untuk menumbuhkan minat baca ? paling tidak ada tiga faktor yang mempengaruhi minat baca masyarakat. Pertama, belum adanya kegemaran buku yang dicontohkan oleh masyarkat termasuk orang tua dan guru. Kedua, kurang  tersedianya bahan bacaan yang cukup untuk menumnbuhkan minat baca. Ketiga, tidak adanya pendidikan pembinaan minat baca, barangkali disebabkan belum terbinanya iklim membaca, belum tersedia program studi yang mengurusi minat baca atau pusat studi membaca dan kesalahan proses pembelajaran membaca dan beberapa penyebab faktor lain.

C. Upaya dan partisipasi masyarakat untuk mengembangkan minat baca

Di abad modern ini seharusnya kita tidak perlu berteori tentang rendahnya minat baca, baik yang berhubungan  dengan pembebasan pajak, gaya hidup, sikap masyarakat, daya beli dan variabel penyertanya. Namun mengkondisikan minat baca memang harus dilakukan, jika bangsa kita ingin turut serta dalam kancah persaingan dunia. Bangsa yang memiliki informasi dialah yang berkuasa. Kebiasaan membaca adalah kunci untuk mewujudkan cita cita mulia itu.  Beberapa upaya dapat dilakukan sepperti berikut.

Pertama, usahakan untuk mewakafkan buku, seperti yang dicanangkan oleh almarhum mantan presiden Soeharto, buku yang menumpuk di almari pajang, majalah, jurnal, ensiklopedi yang kurang berguna menurut pemiliknya, dapat disalurkan ke sekolah dan lembaga-lembaga yang menurut pemiliknya berhak menerima. Jika memungkinkan untuk meningkatkan dan berpartisipasi dalam peningkatan SDM kita dapat memberi persembahan khusus beberapa buku dan langsung menyerahkan kepada almamater yang telah membesarkan pendidikan kita. Budayakan memberi hadiah buku pada event istemewa.

Kedua, optimalkan kinerja mahasiswa dalam kegiatan kuliah kerja nyata (KKN), partisipasi LSM yang bergerak di bidang pendidikan untuk memprioritaskan program perpustakaan beserta penyediaan tenaga pengelolanya. Tahap pertama yang dilakukan adalah penambahan koleksi dan, manajemen pengelolaan dan penumbuhan minat baca.

Ketiga, tumbuhkan upaya untuk menciptakan perpustakaan keluarga. Koleksi tidak harus didapatkan di toko buku dengan biaya mahal. Pasar pasar loak, kios-kios buku di pinggir jalan sering kali dapat menyajikan buku-buku bermutu tanpa harus merogoh uang banyak.

D. Menciptakan masyarakat sadar baca

Upaya pengembangan SDM memerlukan beberapa faktor penunjang yang memadai seperti peningkatan kualitas guru, penyediaan sarana dan prasarana. Salah satu sarana penunjang pendidikan yang sangat mendasar adalah tersedianya buku-buku yang memada baik buku pelajaran, buku teks, kamus dan ensiklopedia. Dalam hubunganya denagn buku, Wapres Tri Sutrisno dalam sambutan peringatan hari pendidikan nasional 1996 di Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa buku dapat dijadikan indikator peradaban bangsa.

Pernyataan tersebut didukung dengan sejarah peradaban modern. Ditandai oleh kebijakan Kalifah Al Makmum dari Baghdad yang dalam setiap membangun masjid selalu ditandai dengan pembangunan perpustakaan yang diberi nama Istana Kebijakan. Pembangunan perpustakaan ini sejalan dengan pembangunan Universitas Islam di Kairo seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Kordova di Spayol. Universitas Islam inilah yang merupakan perintis dijadikanya pola perpustakaan di universitas-universitas Barat.

Buku memiliki nilai pemikiran yang strategis dalam rangka mengakselerasikan, memajukan, mencerdaskan, dan menyejahterakan bangsa. Buku adalah guru yang tak pernah jemu, dan guru yang baik. Ia mampu menjadi sarana untuk menyimpan dan menyebarluaskan pengetahuan, teknologi, informasi, seni, filsafat, dan moral tanpa tergantung pada listrik dan televise. Pendeknya, peran buku belum tergeser oleh media lain.

KESIMPULAN

Dari pembahasan artikel ini dapat disimpulksn bahwa penumbuhan minat baca masyarakat Indonesia harus di optimalkan . Upaya itu diantaranya adalah melalui pengadaan perpustakaan dan bahan bacaan yang menarik serta mencari jalan keluarnya, faktor faktor yang mempengaruhi minat baca seperti penyediaan saran abaca dan pengelola. Tanggungjawab pencerdasan bangsa melalui pembiasaan membaca bukan hanya kewajiban pemerintah tetapi juga nasyarakat itu sendiri. Dan juga merupakan tantangan sekaligus tanggungjawab perpustakaan serta pengelola bagaimana mereka mampu mengubah bentuk budaya lisan menjadi budaya tulis ( literaly ).

SARAN

Mengingat masih rendahnya minat baca mesyarakat Indonesia, maka tidak perlu menunggu pemerintah untuk merealisasikan upaya minat baca, tetapi harus dimulai dari masyarakat itu sendiri, dengan melakukan berbagai upaya sederhana sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Serta membiasakan teladan-teladan edukatif yang yang dapat menumbuhkembangkan budaya baca.

DAFTAR PUSTAKA

Suroso, (2007) Panduan Menulis Artikel dan Jurnal. Yogyakarta : Erlangga Publishing.

Penulis: ELOK MASLAKHAH

BANYUWANGI

 

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

artikel rendahnya minat baca siswa, penyebab malas membaca

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

One comment

  1. maksud saya bukan ini mbok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


6 × = eighteen

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose