Home / Artikel Perpustakaan / Asyiknya Di Perpustakaan

Asyiknya Di Perpustakaan

Perpustakaan yang sering dianalogikan sebagai gudang ilmu, merupakan salah satu sarana pendidikan yang memiliki andil besar dalam mewujudkan manusia yang cerdas dan berpengetahuan sebagai langkah menuju masyarakat yang berperadaban.

Keberadaan perpustakaan sesuai dengan tujuan Tuhan memerintahkan manusia untuk belajar (????? = membaca dalam arti luas, bukan hanya membaca buku).  Oleh karena itu ia mutlak adanya, sebagaimana kaidah ushul fikih yang menyatakan bahwa perintah melaksanakan kewajiban (belajar/ membaca) sama dengan perintah membuat sarana (perpustakaan, buku, alat tulis, computer, dll.).

Wahyu pertama tersebut mengandung makna bahwa membaca merupakan kunci penambah pengetahuan. Ayat tersebut memberikan isyarat perlunya pendidikan yang mengajarkan  dan memberitahukan sesuatu yang belum diketahui, yaitu yang berkaitan dengan Tuhan dan mahluk-Nya serta hukum-hukum-Nya yang berlaku dalam kehidupan dunia dan ahirat.  Sejak zaman prasejarah hingga abad modern ini manusia tidak terlepas dari kebudayaan membaca dalam pengertian memaknai seluruh gejala alam.  Manusia selalu berhadapan dengan proses berpikir dan memaknai seluruh fenomena alam yang terjadi.  Lihat Q.S. Yunus : 101, Al-Jatsiyah :3, Al-Hijr :16, dan An-Nahl:65.1

Dengan membaca manusia mampu mengubah pola pikirnya dari negatif menjadi positif.  Tindakan seseorang adalah buah/hasil dari pikirannya sehingga apa yang ia pikirkan itulah yang akan ia kerjakan.  Dengan demikian apabila pola pikir manusia positif (baik), maka tindakan hidupnya pun akan positif.

Membaca membuat manusia dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat, tepat, dan bijaksana.  Dan yang terpenting, membaca mampu menghantantarkan manusia menjadi lebih dekat kepada Sang Pencipta, sehingga tujuan penciptaan manusia, yakni menjadi hamba Allah sebagai konsekuensinya harus mematuhi segala kehendak-Nya dan menjadi kholifah (pemimpin) yang berarri harus mampu mengelola bumi beserta isinya untuk kesejahteraan umat manusia, dapat tercapai (lihat Q.S. 2:30 dan 51:56).

Ada indikator bahwa tigkat kemajuan suatu bangsa itu dapat diukur dari berapa banyak waktu sehari-hari yang digunakan warganya untuk membaca.  Semakin banyak waktu yang digunakan untuk membaca, artinya menurut kebutuhan pribadi bukan dipaksa maka semakin tinggi tingkat budaya bangsa tersebut.

Lebih-lebih di zaman yang menuntut semuanya serba cepat dan sempurna seperti sekarang ini, kegiatan membaca terutama dengan memanfaatkan potensi perpustakaan sangat urgen ditumbuhkan dan ditingkatkan sejak usia dini supaya kelak anak menjadi terbiasa bahkan keranjingan dan tumbuh menjadi insan yang cerdas, beriman, berpengetahuan, mandiri plus bermanfaat atau dengan kata lain memiliki IQ (Intelligece Quotient = kecerdasan otak), EQ (Emotional Quotient = kecerdasan emosi), dan SQ (Spiritual Quotient = kecerdasan agama) sehingga kelak mampu menjadi agent of change.

B.  PERMASALAHAN

Permasalahan yang muncul kemudian adalah bahwa perpustakaan masih kurang begitu dilirik oleh sebagian besar warga masyarakat.  Sementara zaman terus bergerak maju.  Apabila kita tidak segera mengejar maka konsekuensinya adalah keterbelakangan, kemiskinan, dan ketertindasan oleh orang bahkan bangsa lain.  Akan sangat berdosa jika kita menyia-nyiakan kemerdekaan yang sudah para mujahid perjuangkan ini dengan pengorbanan tiada tara.

Solusinya sekarang, bagaimana kita mampu membangun masyarakat yang memiliki ghiroh atau semangat belajar, dan mencintai perpustakaan, atau dengan kata lain bagaimana kita mampu menciptakan perpustakaan yang ideal sehingga masyarakat tertarik untuk mencoba bereksplorasi di dalamnya.

C.  TUJUAN          

Penulisan artikel ini mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan khusus dan tujuan umum.

Adapun tujuan khusus dari penulisan ini adalah untuk menumbuhkan masyarakat cinta perpustakaan.  Sedangkan tujuan umumnya adalah : Untuk meningkatkan pengetahuan (sebagai hasanah keilmuan),  meningkatkan motivasi belajar, dan  meningkatkan keimanan.

D.  LANDASAN TEORI

1.  Pengertian Masyarakat           

Masyarakat adalah suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda (Smith, Stanley, Shores, 1950. P. 5)2.  Atau suatu system yang meliputi unit biofisik para individu yang bertempat tinggal pada suatu geografis tertentu selama periode waktu tertentu dari suatu generasi (f. Znaniecki, 1950, p. 145).Atau sejumlah manusia yang terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.4

Jadi masyarakat adalah suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbedayang bertempat tinggal pada suatu geografis tertentu selama periode waktu tertentu dari suatu generasi dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.

 2.  Pengertian Perpustakaan

Perpustakaan diartikan sebagai sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual,  atau : suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.5

3.  Maksud dan Tujuan Pendirian Perpustakaan6

Aktifitas utama dari perpustakaan adalah menghimpun informasi dari berbagai bentuk atau format untuk pelestarian bahan pustaka dan sumber ilmu pengetahuan lainnya.  Maksud pendirian perpustakaan adalah : 1).  Menyediakan sarana atau tempat untuk menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus menerus, diolah dan diproses.  2).  Sebagai sarana atau wahana melestarikan hasil budaya manusia (ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi. 3).    Sebagai agen perubahan (agent of change) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan sumber belajar mengenai masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. 4).  Dapat menjadi pusat penelitian, rekreasi, dan aktivitas ilmaih lainnya.

Sedangkan tujuan pendirian perpustakaan adalah untuk menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik, terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendoromg terciptanya pendidikan sepanjang hayat (long life education).

Secara operasional tujuan perpustakaan sekolah adalah :1). Menumbuhkan rasa cinta, kesadaran, dan kebiasaan membaca. 2). Membimbing teknik memahami isi bacaan kepada siswa. 3).Memperluas pengetahuan para siswa.  4).  Membimbing mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu. 5). Membimbing para siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik 6).Memberikan dasar-dasar ke arah studi mandiri.  7). Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar bagaimana cara menggunakan perpustakaan dengan baik, efektif dan efisien, terutama dalam menggunakan bahan-bahan referensi. 8). Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksanaan program kurikulum di sekolah, baik yang bersifat kurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler7

4. Jenis-jenis Perpustakaan8

Adapun jenis-jenis perpustakaan adalah sebagai berikut :

a.  Perpustakaan Digital : yaitu perpustakaan yang berbasis teknologi digital atau mendapatkan bantuan computer dalam aktifitas di perpustakaannya secara menyeluruh.  Misalnya buku atau informasi dalam format electric book, piringan, pita magnetic, CD atau DVD rom.

b.  Perpustakaan Nasional : yaitu perpustakaan yang berada di tingkat pusat.

c. Perpustakaan Provinsi : yaitu perpustakaan yang berada di tingkat wilayah

d. Perpustakaan Kabupaten : yaitu perpustakaan yang berada di tingkat kabupaten.

e. Perpustakaan Kecamatan : yaitu perpustakaan yang berada di tingkat kecamatan.

f. Perpustakaan Desa : yaitu perpustakaan yang berada di tingkat desa/ kelurahan.

g. Perpustakaan Khusus : yaitu Perpustakaan yang diperuntukkan  untuk koleksi tokoh-tokoh terkenal.  Misalnya perpustakaan Bung Hatta.

h. Perpustakaan Lembaga Pendidikan. Misalnya Perpustakaan Universitas ( dibagi menjadi perpustakaan pusat dan perpustakaan fakultas) dan perpustakaan sekolah.

i. Perpustakaan Lembaga Keagamaan. Misalnya perpustakaan masjid dan   perpustakaan gereja.

J  Perpustakaan Pribadi/ Keluarga.

 5.  Fungsi Perpustakaan.9

Beberapa fungsi perpustakaan adalah: 1).  Fungsi Edukatif : Perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang rasional dan kritis serta mampu membimbing para siswa dalam hal cara menggunakan dan memelihara pustaka dengan baik.  2).  Fungsi Informatif : Perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang memuat informasi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang bermutu dan up to date yang disusun secara teratur dan sistematis, sehingga dapat memudahkan para petugas dan pemakai dalam mencari informasi yang diperlukannya.   3).  Fungsi Administratif : Perpustakaan harus mengerjakan pencatatan, penyelesaian, dan pemrosesan bahan-bahan pustaka serta menyelenggarakan sirkulasi yang praktis, efektif dan efisien.  4).  Fungsi Rekreatif : Perpustakaan disamping menyediakan buku-buku pengetahuan juga perlu menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif(hiburan) dan bermutu sehingga dapat digunakan para pembaca untuk mengisi waktu senggang.  5).  Fungsi Penelitian : Perpustakaan menyediakan bacaan yang dapat dijadikan sebagai sumber atau obyek penelitian sederhana dalam berbagai bidan studi.

6.  Standar Perpustakaan.10

Perpustakaan bisa disebut standar apabila memenuhi delapan komponen, yaitu : 1). Faktor Personal : Kualifikasi petugas berdasarkan pendidikan dan pengalaman, serta jumlah sesuai dengan jumlah buku pustaka dan pengunjung.

    2).  Faktor Koleksi Pustaka: Ketentuan tentang jumlah buku dan bahan lainnya.  Seperti audiovisual, majalah atau film.  3).  Faktor Biaya : Biaya harus diperhatikan untuk memelihara dan menambah bahan pustaka.  4). Faktor Ruangan dan Inventarisasi Alat Perpustakaan : Peralatan perpustakaan berupa ruangan dan mebel menggunakan ketentuan minimum.  5).  Faktor Organisasi dan Management: menentukan kebijakan dalam mengelola perpustakaan melalui prosedur perencanaan, pelayanan dan pengevaluasian.  6). Jadwal Pelayanan : Menentukan jam pelayanan dan aspek-aspek lain yang menunjang tersedianya pelayanan( kapan dibuka dan ditutup.  7).  Faktor Program dan Tujuan : Menentukan arah dan sasaran yang akan dicatat dan diintegrasikan dengan program pendidikan.  8).  Faktor Pelayanan : Memberikan pelayanan berupa referensi dan pelayanan sirkulasi, serta bimbingan kepada pengunjung

E.  PEMBAHASAN.

Membangun masyarakat yang memiliki  semangat belajar dan mencintai perpustakaan bukan hal yang mudah. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan kerja keras untuk senantiasa memotivasi warga terutama anak, serta contoh yang nyata dan terus menerus dari berbagai pihak.  Di sekolah tugas tersebut menjadi tanggung jawab guru.  Di rumah, orang tualah yang paling berperan, dan di masyarakat berarti para tokohnya.  Disamping menjadi tugas mandiri ketiga komponen di atas, juga dibutuhkan kerja sama yang optimal dari ketiganya plus pihak-pihak lain yang terkait (dikpora, depag, bupati, dll.).

Di rumah hendaknya kedua orang tua membaca dan menulis secara terus menerus di waktu luangnya, sehingga anak bisa melihat, merekam dan  menyimpulkan bahwa membaca dan menulis itu penting, kemudian anak mencontoh (melakukan). Orang tua juga harus menyediakan sarana seperti koleksi buku yang relevan dan upto date, alat tulis, alat elektronik, serta ruangan dan mebel yang memadai serta didesain semenarik mungkin, termasuk penempelan slogan atau kata-kata mutiara yang dapat menimbulkan semangat membaca.  Atau dengan kata lain membuat perpustakaan pribadi/keluarga.  Bimbingan yang baik juga tidak kalah penting ketika anak mengalami kesulitan, plus penerapan inforcement/reward yang tulus dan variatif.   Mendiskusikan bacaan yang baru diselesaikan anak pun sangat penting.  Hal ini membuat anak merasa diperhatikan, bahwa buku yang ia baca penting untuk dijadikan topik.  Kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan emosi positif anak, sehingga anak menjadi lebih bahagia, cerdas, dan kreatif.  Karena pengalaman positif yang diperoleh pada masa kecil akan sangat menentukan perkembangan kepribadian untuk menjadi pribadi yang sehat.  Kemudian, sesekali orang tua perlu mengajak anak mengunjungi perpustakaan umum supaya ia tahu bahwa ada perpustakaan yang lebih besar dan lebih lengkap dibanding dengan yang ada di rumah.  Hal ini akan memberikan wawasan pada anak tentang asyiknya bermain dan belajar di perpustakaan (lebih efektif  memakai istilah bermain bila anak ingin mengajak balita belajar, karena usia ini adalah usia bermain).  Orang tua juga harus  belajar menerapkan skala prioritas.  Hal apa yang penting untuk segera dilakukan dan apa yang kurang serta tidak penting.  Hal yang tidak kalah penting adalah penetapan jadual nonton TV, bermain game (baik dengan computer atau pun HP) serta bemain di luar rumah.  Refressing ke suatu tempat idaman anak bisa juga dijadikan reward (di samping inforcement berupa pujian atau bentuk kasih sayang fisik lainnya seperti pelukan /ciuman serta hadiah material) ketika anak berhasil menyelesaikan suatu bacaan atau tugas lain yang berhubungan dengan baca tulis/mengarang.

Di sekolah tidak jauh berbeda, hanya saja karena jumlah pengunjung yang lebih banyak dan waktunya terbatas, maka koleksi buku harus disesuaikan (jumlah, plus jenisnya sesuai usia dan minat, kondisinya baik dan mutahir), dan petugas perpustakaan yang professional sangat dibutuhkan. Pustakawan hendaknya orang yang berpendidikan, credible (mampu), tidak double fungsi (misalnya nyambi jadi guru) dan online dalam arti selalu siap bertugas. Interaksi yang baik antar pustakawan, bahkan pustakawan dan pengunjung, kelengkapan sarpras (komputerisasi, foto kopi, wc, tempat sholat, kantin, tempat refreshing, dll.), serta penataan yang teratur dan sistematis, semua itu menjadi daya tarik tersendiri.  Dari pihak guru, hendaknya selalu memotivasi dalam setiap proses pembelajaran, baik dengan five minutes motivation sebelum, di tengah, atau seusai proses pembelajaran (akan lebih mengena bila mengemukakan dalil Al-Quran dan hadits bagi muslim, dan contoh biografi tokoh tokoh sukses), maupun dengan memberi tugas ke perpustakaan serta memberi contoh membaca di perpustakaan.  Bimbingan cara membaca efektif dan efisien juga sangat penting.  Dari pihak sekolah hendaknya ada penghargaan bagi siswa-siswa yang rajin membaca (misalnya dengan men-count jumlah buku yang dipinjam) dan penghargaan tersebut diberikan di depan semua siswa seusai upacara tiap ahir semester, diikuti dengan jabat tangan dari semua guru sebagai penghormatan atas prestasi yang diraih.  Pengadaan lomba mengarang juga bisa jadi stimulus.  Dalam hal koleksi bahan bacaan, sekolah dapat bekerja sama dengan perpustakaan daerah. Mungkin sesekali  mengundang motivator professional untuk para tenaga pendidik dan kependidiksn juga bagus.  Satu hal lagi yaitu tersedianya kotak saran, yang fungsinya adalah untuk perbaikan kinerja para petugas dan kemajuan perpustakaan, yang ini berarti keberhasilan pendidikan.

Untuk mendorong minat baca warga sekolah bisa dilakukan dengan strategi :1).  Penetapan jam wajib baca/belajar di perpustakaan sekolah bagi guru dan murid.  2).  Penugasan mengerjakan soal-soal tertentu di ruang perpustakaan.  3).  Penugasan untuk membuat ringkasan dari buku tertentu.  4).  Penugasan berbagai lomba, misalnya lomba kliping, lomba meringkas buku cerita, lomba mengarang, dan lomba bercerita atau story telling.  5).  Melakukan kunjungan ke perpustakaan yang lebih maju, baik perpustakaan sekolah, tingkat kota madya, provinsi, dll.11

Dalam lingkup desa, hendaknya para tokoh masyarakat bekerja sama dengan perangkat desa bahkan kecamatan dan kabupaten bermusyawarah untuk mengadakan perpustakaan desa.  Keberadaan perpustakaan desa menjadi sangat penting mengingat perkembangan dan pergaulan remaja yang menjurus bebas saat ini.  Dengan perpusdes aktivitas remaja bisa dialihkan ke arah positif dan lebih bermanfaat. Letak perpustakaan akan menjadi strategis bila didekatkan dengan tempat ibadah misalnya masjid. Masjid dan ilmu pengetahuan sangat berkaitan.  Masjid berfungsi sebagai pengontrol seluruh aktivitas umat islam, kemudian menjadi penghubung antar ilmu pengetahuan dan ketakwaan, sehingga orang tidak akan lupa pada tujuan mempelajari ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mentafakuri dan mensyukuri ciptaan Allah.

Untuk mempermudah menangkap bahan bacaan pengunjung perpustakaan  perlu mendapatkan tips cara membaca cepat dan efektif , sehingga kegiatan menjadi lebih efisien dan menyenagkan(tips ini bisa disosialisasikan dengan memanfaatkan VCD rom yang selalu online, seperti di Taman Pintar Yogyakarta).

Membaca cepat berarti membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Maksud dan tujuan membaca turut menentukan kecepatan membaca, sehingga tugas pembimbing (guru) adalah mengajarkan pengunjung (siswa) untuk menentukan tujuan setiap kali akan membaca.  Efektf berarti peningkatan kecepatan membaca harus diikuti oleh peningkatan pemahaman.12

Beberapa teknik tersebut adalah : 1).  Membaca Sekilas (Skimming), yaitu suatu tipe membaca dengan cara meliputi/menjelajah bahan bacaan secara cepat agar dapat memetik ide utama.  2).  Membaca Sepintas (Scanning), yaitu suatu teknik pembacaan sekilas tetapi dengan teliti dengan maksud untuk menemukan informasi khusus dari bahan bacaan.  3).  Membaca Teliti (Close Reading), yaitu cara dan upaya untuk memperoleh pemahaman sepenuhnya atas suatu bahan bacaan.13

Bagi siswa yang lebih cerdas dan maju dapat diajarkan rencana studi terpadu untuk memahami serta menguasai isi bacaan. Yaitu : a).  Mensurvei isi (Survei=S).  b).  Mengajukan pertanyaan yang dapat membimbing kita dalam kegiatan membaca (Question=Q).  c).  Membaca isi (Read=R1).  d).  Menceritakan isi bacaan dengan kata-kata kita sendiri (Recite=R2).  e).  Meninjau kembali isi bacaan dengan kata-kata kita sendiri, sesuai dengan isi yang sebenarnya (Review=R3).14

Metode membaca telaah seperti itu dikenal dengan metode SQ3R atau PQ3R.  Dan ada pula yang menyarankan singkatan PQRST untuk bacaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan (sains : science) dengan kepanjangan sebagai berikut : P=Preview (Pra-peninjauan; tinjauan pendahuluan); secara cepat membaca sekilas sebuah bacaan kutipan.  Q=Question (Pertanyaan); ajukan beberapa pertanyaan sebagai pembimbing dalam membaca cermat sesuai dengan maksud dan tujuan penelaahan.  R=Read (baca); bacalah kutipan bacaan itu dengan mempergunakan pertanyaan-pertanyaan tadi sebagai pedoman.  S=Summerise (ringkasan); susun dan rangkumlah informasi yang telah diperoleh tadi.  T=Test (uji=periksa); periksalah dan ujilah rangkuman, apakah sesuai atau tidak dengan bacaan atau kutipan itu.15

Berbagai metode di atas dapat sangat membantu readers dalam memahami maksud yang diinginkan pengarang dalam bacaan tersebut. Apalagi pada saat sekarang dimana informasi menyebar sangat cepat dan cepat pula menjadi basi (out of date), sehingga keterampilan membaca mutlak diperlukan.  Meskipun sekarang jamannya teknologi computer, tetap saja membaca buku merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai dengan baik agar mampu mengakses informasi di jagat raya ini via teknologi.  Dan akan sangat bagus jika kita juga master dalam bahasa inggris sebagai bahasa internasional, mengingat instruksi dalam computer semua dalam bahasa inggris.  Dan lebih bagus lagi juga bisa beberapa bahasa yang lain seperti arab, jerman, prancis, belanda, jepang, dll.  Dengan menguasai banyak bahasa kita akan lebih mampu mengakses dan men-share-kan pengetahuan pengetahuan itu kembali ke dalam berbagai bahasa.

knowledge is power, begitu kata orang bijak. Pengetahuan adalah kekuatan, sehingga siapa yang pandai maka dialah yang akan menguasai dunia. Statement ini sesuai dengan bunyi Al-Quran : Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu).(Ar-Rohman : 3).

Menurut Bill Gates dalam bukunya Business @ the speed of thought, pengetahuan itu akan menjadi semakin dahsyat kekuatannya apabila informasi atau pengetahuan yang ada dalam storage ( otak) seseorang yang masih bersifat pasif di-share-kan sehingga menjadi informasi aktif yang bisa memberi nilai tambah bagi orang lain.16 Jadi, informasi akan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain di seluruh dunia, apabila masing-masing orang bisa memanagenya dan men-share-kan pada orang lain.

Deporter dan Hernacki dalam Quantum Learning juga mengatakan bahwa otak mempunyai jutaan sel saraf yang disebut neuron, yang dapat berinteraksi dengan sel-sel lain di sepanjang cabang yang disebut dendrit.  Melalui pengulangan, sel-sel saraf menjadi terhubung dan termielinasi untuk memudahkan dalam mengingat informasi.  Tanpa pengulangan berkala, myelin akan hilang.17  Jadi, apabila otak tidak sering digunakan untuk berpikir ( membaca dan menulis) maka justru akan mengakibatkan terjadinya kemandulan atau kebodohan, daya ingat rendah, dan ahirnya akan rusak, karena sel saraf tidak berkembang.  Sekarang tergantung pada manusia, apakah ia akan memanfaatkan otaknya atau mengabaikannya. Memanfaatkannya berarti dia bersyukur, dan buah syukur adalah nikmat atau keberuntungan.  Sebaliknya, mengabaikannya berarti sengaja merugi, mencelakai dan menciptakan penderitaan diri.

Kegiatan membaca ini akan menjadi sebuah minat dan budaya apabila dilatih terus-menerus sejak dini, mengingat pikiran/otak pada usia kanak-kanak masih jernih dan juga rasa ingin tahunya masih sangat tinggi.  Ini adalah kesempatan emas.  Keluarga terutama kedua orang tua memegang peranan yang sangat vital bagi keberhasilan anak.  Karena itu harus selalu ada waktu meskipun sedikit, tetapi kontinyu.  Dengan demikian dalam storage setiap anak sebagai calon warga masyarakat dewasa yang kelak akan mementukan nasib bangsa hanya ada membaca dan membaca (book minded) sehingga ahirnya terciptalah reading  habit society dan learning habit society sebagai syarat yang harus dilakoni apabila ingin menjadi agent of change yang mampu menciptakan peradaban dunia.

F.  Kesimpulan dan Saran.

Kesimpulan

           Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  1. Membaca merupakan kegiatan yang memiliki dampak positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain.  Orang yang suka membaca memiliki pola pikir yang tidak sama dengan yang tidak suka membaca.  Perbedaan itu terletak pada kualitas pengetahuan dan cara mengambil keputusan.  Membaca membuat orang  lebih dapat menghargai waktu, dan lebih cerdas, sehingga hidupnya lebih bahagia .  Dan hati yang bahagia dapat mengantarkan manusia menuju sukses, karena dia dapat berpikir dengan jernih untuk mencari solusi.
  2. Minat baca dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah adanya sarana dan prasarana berupa tempat belajar yang nyaman dan buku-buku yang beragam dan berkualitas.  Dan perpustakaan yang memenuhi syarat dapat menjadi alternatif. Perpustakaan akan dikenal dan dimanfaatkan dengan lebih baik bila diadakan sosialisasi terutama di sekolah-sekolah sebagai tempat para pelajar melahap ilmu.  Sosialisasi tersebut bisa dilakukan minimal oleh para guru dengan motivasi yang selalu diselipkan dalam PBM, atau dengan mengundang nara sumber langsung dari petugas perpustakaan terkait atau seorang motivator handal dan akan lebih baik jika sosialisasi itu terprogram minimal tiap tahun.
  3. Untuk menumbuhkan minat baca dan minat mengunjungi perpustakkan dibutuhkan kerjasama yang baik antara sekolah dan orang tua, bahkan kalau perlu dengan pihak perpustakaan terkait.  Motivasi ekstrinsik yang beragam beserta teladan dari ketiga komponen di atas sangat menentukan keberhasilan anak dan masyarakat dalam menumbuhkan minat baca, sehingga minat menulis pun berpeluang besar untuk ditumbuhkembangkan.  Ahirnya dengan masyarakat gemar membaca dan menulis Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain, dan cita-cita Baldatun Thoyyibatun Wa robbul ghofur  ( Negara yang baik dan sejahtera serta  mendapat ampunan Tuhan) dapat segera tercapai.  Amin.

Saran :

  • Bagi Orang Tua : Orang tua hendaknya selalu menyediakan waktu untuk membaca dan menulis untuk dirinya sendiri dengan berbagai koleksi bacaan sebagai contoh sehingga anak terbiasa melihat kegiatan tersebut, terekam dalam memorinya, kemudian mencontoh, karena anak masih kental dengan meniru.  Saat anak mulai tertarik, ketika itulah kesempatan emas bagi orang tua untuk membimbing dan mengarahkan serta selalu menyediakan bacaan yang menarik dan upto date, sehingga kelak menjadi kemampuan yang patut dibanggakan oleh keluarga dan orang banyak.
  • Bagi pihak sekolah : Para pendidik dan tenaga kependidikan hendaknya tetap semangat memotivasi peserta didik untuk mensosialisakan manfaat membaca dan pentingnya mengunjungi perpustakaan. Guru menyampaikannya saat PBM dan petugas perpustakaan ketika sedang bertugas. Kerjasama yang berkualitas antara guru dan petugas perpustakaan serta kepala sekolah sebagai penentu kabijakan baik berupa pelayanan interpersonal maupun koleksi sangat menentukan kesuksesan program ini.
  • Bagi tokoh masyarakat : Sebaiknya orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat berembug untuk mengadakan perpustakaan desa.  Akan lebih baik apabila letak perpustakaan bersebelahan dengan tempat ibadah (masjid misalnya), sehingga para pembaca selalu disadarkan oleh tujuan dari membaca, yaitu supaya lebih mampu mengenal Allah, Tuhan Yang Maha Luas Ilmunya. Dengan begitu manusia pembaca tetap memiliki iman.Iman dan Ilmu adalah dua hal yang tak terpisahkan jika manusia  ingin sukses di dunia dan ahirat.
  • Lembaga Perpustakaan : Hendaknya lebih aktif mensosialisasikan perpustakaan, tidak cukup hanya dengan perpustakaan keliling tapi mendatangi langsung sekolah-sekolah dan desa-desa untuk memberikan motivasi, sehingga warga sekolah dan masyarakat memiliki awareness tentang pentingnya memanfaatkan waktu yang sebentar ini untuk mencari pengetahuan demi kebahagiaan hidup
  • Lembaga Dikpora : Lembaga ini sangat concern dengan kemajuan pendidikan.  Oleh karena itu harus lebih kreatif dalam menstimulus warga sekolah baik para pendidik, tenaga kependidikan maupun peserta didik, sebab kesuksesan peserta didik sangat bergantung pada para pendidik khususnya dalam mengemas proses pembelajaran sehingga peserta didik selalu ingin belajar dan bukannya takut dan jenuh bahkan ingin berhenti belajar. Karena sebagian besar peserta didik tidak mendapatkan motivasi yang efektif dalam keluarga mereka disebabkan latar belakang pendidikan dan ekonomi orang tua. Profesionalitas pendidik berarti capability (memiliki kemampuan), credibility (dapat dipercaya), good personality (memiliki kepribadian atau mampu menjadi contoh yang baik), dan self belonging and responsibility ( mempunyai rasa memiliki terhadap lembaga dia bekerja, dan bertanggung jawab).

Endnote

1.  Wahyudin Sumpeno, Perpustakaan Masjid, (Bandung, Remaja Rosdakarya:1994), 1

2.  Pakguruonline.pendidikan.net/pengertian hakekat manusia.

3.  idem

4.  KBBI, 1988 dalam  Sutarno, Perpustakaan dan Masyarakat, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia : 2003),  11

5.  Warintek08.wordpress.com/tes/pengertian, peran, dan fungsi perpustakaan.

6.  idem

7   Sdspawyatandahazkdr.wordpress.com/2.  Peranan Perpustakaan Sekolah  terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah.

8.  Warintek08.wordpress.com/tes/pengertian, peran, dan fungsi perpustakaan

9.  idem.

10.  Wahyudin Sumpeno, Perpustakaan Masjid, 15

11.  Lasa HS, Membina Perpustakaan Madrasah dan Sekolah Islam, (Yogyakarta, Adi Cipta: 2002), 105

12.  Nurhadi.  Membaca Cepat dan Efektif.  (Bandung, Sinar Baru Offset:1987), 39

13.  Henry Guntur Tarigan, Membaca Ekspresif,  (Bandung, Angkasa : 1994), 30-33

14.  Karlin,1980:404; Weaver,1980:288-9; Tarigan,1982:62-64; Taylor,1975:125-5; 77-22, dalam . Henry Guntur Tarigan, Membaca Ekspresif, 35

15.  Spache,1963:94; Burmeister,1978:107, dalam Henry Guntur Tarigan, Membaca Ekspresif, 36

16.   Maylaffayza  M.  Amorizqa.  Memanfaatkan Kekuatan Informasi dalam Majalah MOP (Semarang, Yayasan  Purnama : 2009).  Edisi Mei.  Hal.  5

17.  Deporter dan Hernacky, Quantum Learning, (Bandung, Kaifa : 2001), 35 dan 37

DAFTAR PUSTAKA

Henry Guntur Tarigan.  1994.  Membaca Ekspresif .  Angkasa.  Bandung.

Henry Guntur Tarigan.  1994.  Membaca Ekspresif.  Angakasa.  Bandung

Deporter, Bobbi dan Hernacki, Mike.  2001.  Quantum Learning.  Kaifa. Bandung.

http://id.wikipedia.org.wiki/Membaca

Lasa HS.  2002.   Membina Perpustakaan Madrasah dan Sekolah Islam.

Adi Cipta. Yogyakarta.

Meithy Djiwatampu.  1995.  Membaca untuk Belajar.  Balai Pustaka Jakarta.

Nurhadi.  1987.  Membaca Cepat dan Efektif.  Sinar Baru Offset.  Bandung.

Pakguruonline.pendidikan.net/pengertian hakekat manusia.

Sdspawyatandahazkdr.wordpress.com/2. Peranan Perpustakaan Sekolahterhadap Mutu Pendidikan di Sekolah.

Tim Penyusun Majalah MOP. 2009.  Majalah MOP. Edisi Mei. Yayasan Purnama.  Semarang.

Wahyudin Sumpeno.  1994.  Perpustakaan Masjid.  Remaja Rosdakarya.  Bandung

Warintek08.wordpress.com/tes/pengertian,peran, dan fungsi perpustakaan.

Penulis: ULFA ARIFAH, S.Pd

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

slogan membaca, contoh kata mutiara perpustakaan, contoh slogan perpustakaan, peran perpustakaan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, perencanaan perpustakaan sekolah, kata-kata mutiara tentang perpustakaan, slogan untuk perpustakaan sekolah

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 5 = fourteen

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose