Home / Berita Perpustakaan / Digitalisasi Manuskrip Kuno Yahudi

Digitalisasi Manuskrip Kuno Yahudi

Naskah Laut Mati (Dead Sea Scroll), merupakan salah naskah Injil tertua di dunia. Dengan menyimpan 972 teks, termasuk teks-teks dari Kitab Suci Ibrani, gulungan naskah dari abad awal Masehi ini ditemukan antara tahun 1947 hingga 1956 dalam 11 gua di Wadi Qumran dan sekitarnya, di Israel.

Tapi sekarang, naskah ini bisa dibaca secara online. Museum Israel bekerjasama dengan Google meluncurkan proyek digitalisasi manuskrip kuno dari era Kuil Yahudi Kedua. Hal ini akan memudahkan setiap orang yang ingin meneliti manuskrip-manuskrip tersebut.

“Butuh 24 abad hasil kerja arkeolog, sejarawan, dan para peneliti, dan internet untuk menjadikan Naskah Laut Mati bisa diakses secara online di seluruh dunia,” kata salah satu post di blog resmi Google, seperti dikutip dari laman Daily Mail.

Naskah itu akan tampil dalam resolusi 1.200 megapixel. Ini seratus kali lebih tajam, bahkan dari kamera profesional termahal yang ada. Dengan menggunakan teknik ‘one-shot’, kamera kemudian di-scan selama 50 menit untuk menyerap informasi yang ada di artefak ini.

Saking tajamnya, bahkan serat dan tekstur kulit hewan yang ada di naskah asli bisa terlihat. Alat dari Google di situs Museum Israel memungkinkan seluruh naskah bisa diakses dan browser pun bisa men-zoom. Selain itu, situs juga menyediakan translasi ke Bahasa Inggris.

Selama ini, Naskah Laut Mati diperkirakan berusia lebih dari 2000 tahun dan ditulis oleh seorang Yahudi dari salah satu sekte dari Qumran di Gurun Judea. Naskah ini disembunyikan di sejumlah gua sekitar tahun 70 M, ketika pasukan Romawi menghancurkan kuil sekte itu di Yerusalem. Naskah ini kemudian ditemukan oleh penggembala Badui dari tahun 1947 hingga 1956.

Naskah ini memang sangat mudah terkoyak. Karena itu petugas museum pun harus memutar display naskah, untuk menghindari kerusakan akibat berlebihnya cahaya. Karena itu proses digitalisasi pun dilakukan secara ekstra hati-hati.

“Bagi kami, Naskah Laut Mati lebih dari sekedar artefak ikonik dari sebuah peradaban,” kata Direktur Museum Israel, James Snyder.

Sedangkan Direktur Pusat Riset dan Pengembangan Google di Israel, Yossi Matias mengatakan. “Kami mencoba untuk mengembangkan (informasi yang bisa didapat) dan memanfaatkan naskah bersejarah ini. Banyak hal yang bisa dilakukan.”

Lima dari delapan gulungan naskah di Israel Museum telah didigitalisasi. Termasuk, naskah Great Isaiah, naskah Kuil, dan naskah Perang.

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


1 + seven =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose