Home / Artikel Perpustakaan / Gubug Cinta Baca (GCB), Pembangkit Masyarakat Kembali Ke Dunia Baca

Gubug Cinta Baca (GCB), Pembangkit Masyarakat Kembali Ke Dunia Baca

Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandek. (Barbara Tuchman).

Di abad ke 21, masyarakat cerdas diketahui lewat buku-buku apa yang dibaca, seberapa minat terhadap buku-buku terbaru, seberapa banyakkah koleksi buku yang dimilikinya. Indikator itu secara eksplisit sebagai tolak ukur sejauh mana tingkat minat penduduk suatu negara terhadap budaya membaca.

Namun segenap bangsa ini tidak memiliki budaya saling mengajak untuk melestarikan budaya baca di tempat-tempat umum, seperti di ruang tunggu atau di lobi Hotel, Mall, Terminal, Halte metro mini atau bus, mendirikan tempat untuk surat kabar harian.

Globalisasi dan dunia telekomunikasi telah mengikis karakteristik manusia yang secara lahiriah terbentuk untuk belajar membaca. Di dalam Al-Quran surah Al-Alaq ayat 1 disebutkan Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Mencipta.

Namun masyarakat terlebih dahulu mengidap sindrom instanisme. Mereka (baca: masyarakat) lebih memilih sesuatu yang instan. Cepat jadi. Misalnya, alat telekomunikasi yang lebih inovatif, televisi yang akrab di dalam keluarga, radio yang mudah dibawa.

Masyarakat Indonesia berpredikat pembaca pasif dan mayoritas mengandalkan alat-alat visual yang booming sekarang ini. Tradisi tersebut diprediksikan akan memberikan dampak buruk terhadap generasi selanjutnya. Apabila tidak ada tindakan nyata dari masyarakat untuk mengubah kebiasaan itu.

a. Permasalahan

Dari sini, ada sebuah permasalahan paling urgen di dalam mereparasi cintanya masyarakat kepada perpustakaan. Yaitu munculnya animo masyarakat hedonis, masyarakat konsumtif. Di antara mereka telah mengubah karakter dari masyarakat cerdas ke masyarakat bebas.

Oleh karena itu, pertama, ditemukan spekulasi bahwa masyarakat samasekali tidak dirangsang atau mendapat stimulus dari lingkungan sekitar untuk gemar membaca, sementara pemerintah daerah dan pemerintah desa melepas diri tidak terjun langsung untuk mengimplementasikan ide-ide inovatif masyarakat ke dalam sebuah kegiatan terkait kepustakaan dan bahan bacaan.

Kedua, perpustakaan di desa atau kecamatan belum berdiri kokoh, sedangkan pemerintah tidak melihat potensi masyarakat di desa atau kecamatan tersebut, sehingga cenderung diabaikan. Kasus ini telah ditemukan di desa Sumberkerang dan Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo.

b. Tujuan

Dengan menyelenggarakan ide-ide inovatif ke dalam sebuah kegiatan, kreativitas masyarakat tersalurkan agar masyarakat secara mandiri berperan utama dan aktif dalam membudayakan gemar baca sejak dini.

Ketika perpustakaan di desa atau kecamatan berdiri, maka prospek masa mendatang untuk menumbuhkan kembali minat baca masyarakat tahap demi tahap akan terbangun juga. Semangat membaca masyarakat senantiasa tumbuh setelah diberi stimulus dengan mendirikan perpustakaan yang dikelola sendiri oleh masyarakat setempat.

B. Landasan Teori

Demi pena dan apa-apa yang dituliskannya. (QS. Al-Qalam:1). Ditinjau dari kajian sejarah peradaban keislaman, kemajuan keilmuan Islam berkembang di masa Dinasti Abbasiyah (749 1258 M). Diawali dengan kegiatan para cendekiawan yang melahirkan karya-karya hebat dan masih relevan sampai abad ini.

Infrastruktur untuk pendidikan di tingkat dasar, menengah sampai universitas dibangun. Perpustakaan juga didirikan.

Hasil penelitian empiris telah dilakukan oleh para Intelektual Muslim di masa itu. Lalu muncul nama-nama besar seperti Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusd (Averrous), Ibnu Kholdun, yang mengokohkan keintelektualan Islam di zamannya.

Tidak bisa dipungkiri, Islam merepresentasikan keilmuan di dunia. Hal itu, yang menjadikan ilmu-ilmu lain berkembang pesat. Misalnya ilmu astronomi, ilmu falak, ilmu pemerintahan, ilmu kesusastraan dan ilmu-ilmu lainnya.

Pembelajaran keilmuan kepustakaan sebaiknya dibarengi dengan cara belajar yang efektif dan efesien. Untuk itu, gaya belajar yang seimbang harus diselerasakan untuk melakukan pengembangan terhadap keilmuan di masyarakat.

Perumus gaya belajar seperti Rita Dunn, menerangkan bahwa cara belajar seseorang itu dipengaruhi oleh banyak variabel, variabel itu mencakup faktor-faktor fiskal, emosional, sosiologis, dan lingkungan. Sebagian orang, misalnya, dapat belajar paling baik dengan cahaya yang terang, sedangkan sebagian yang lain dengan pencahayaan yang suram.

Ada orang yang suka belajar secara berkelompok, dan ada yang memilih belajar secara sendirian karena lebih efektif. Sebagian orang ada yang memerlukan iringan musik sebagai latar belakang, sementara sebagian yang lain lebih dapat berkonsentrasi bila berada di dalam ruangan yang sepi. Ada juga orang yang memerlukan lingkungan kerja yang teratur dan rapi, tetapi ada juga yang lebih suka menggelar segala sesuatunya agar semuanya dapat terlihat jelas.

C. Pembahasan

Di dalam perut perpustakaan ada mobilitas yang saling memiliki ketergantungan. Yaitu membaca dan menulis. Ikatan keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dan keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Membaca dan menulis berlangsung bergandengan seperti pasangan yang mengikat tali kemesraan.

Membaca memainkan peran untuk mendapat pemahaman. Untuk merangkai pemaknaan dalam sebuah buku, membaca harus diikat dengan memaknai secara utuh frase atau kalimat dalam buku.

Dari membaca seseorang mampu memperkaya perbendaharaan kata. Aktivitas membaca pun disadari sebagai bentuk pelaksanaan memahami secara utuh identitas dari isi buku tersebut.

Tradisi membaca menjadi sebuah kecintaan. Kemesraan membaca terlahir dari seseorang yang sedang memupuk dirinya menambah kekayaan ilmu. Semakin banyak ilmu, maka semakin cinta dirinya memperkaya khazanah keilmuannya.

Sikap belajar yang baik melalui kebersamaan, sama persisnya membaca buku bergizi yang menarik. Begitu juga di dalam perpustakaan yang mestinya menampilkan persahabatan dan kekeluargaan di dalam lingkungan perpustakaan.

Makna pembelajaran di dalam perpustakaan akan menampilkan perilaku hidup dari setiap seseorang, sikap yang dimiliki oleh setiap individu akan nampak ketika buku-buku yang dibaca mulai bergilir dipahami.

Tapi jika buku-buku tersebut tanpa ada pemahaman. Sesungguhnya tidak ada manfaat dalam menggemari tradisi membaca di lingkungan masyarakat. Inilah yang menjadi kesulitan-kesulitan terpenting, budaya baca telah hilang. Dan pemerintah belum maksimal dalam menanggulangi kepunahan tradisi tersebut.

Sebagai masyarakat yang dalam UU Perpustakaan tahun 2007 Pasal 1 No 11 menerangkan bahwa masyarakat adalah setiap orang, kelompok orang, atau lembaga yang berdomisili pada suatu wilayah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang perpustakaan.

Sebenarnya, pemerintah daerah dan pusat memang telah melakukan kinerjanya dengan menfasilitasi mobil untuk Perpustakaan Keliling. Namun kehadiran Perpustakaan Keliling belum bisa menyalurkan hobi masyarakat secara mudah untuk mengakses buku-buku bacaan.

Contohnya di desa-desa dan kecamatan-kecamatan yang belum terjangkau oleh mobil Perpustakaan Keliling dan yang minim fasilitas. Desa dan kecamatan tersebut belum pernah diperhatikan oleh pemerintah baik pemerintah daerah maupun pusat berkenaan dengan tidak terpenuhinya buku-buku bacaan yang representatif.

Nasib masyarakat di desa dan kecamatan tersebut semakin bimbang karena pemerintahan di desa tidak secara struktural menanggulangi kemiskinan buku dan bahan bacaan.

a. Empat Pedoman Hidup Masyarakat Pustaka

Prinsipnya, jika ingin menghidupkan dan melakukan perubahan pada nasib masyarakat di desa dan kecamatan yang belum tersentuh oleh Perpustakaan Keliling itu, perlu kreativitas dari para masyarakat sendiri untuk gotong royong mengatasi kemiskinan buku dan bahan bacaan itu.

Dengan melakukan empat pedoman hidup masyarakat pustaka sebagai berikut:

1)       kesadaran membaca dan menulis

Kesadaran membaca masyarakat jelas belum terbuka secara transparan. Masyarakat selalu menutup-nutupi potensi intelektualnya. Ketidaksadaran tersebut diselimuti oleh ketakutan yang berkepanjangan, persepsi nenek moyang yang menganggap buku masih milik orang ningrat dan tidak seharusnya dimiliki.

Demi menguatkan kembali potensi masyarakat, kesadaran membaca mesti dipertahankan, diperjuangkan dan dibela. Bila kesadaran membaca sudah dipupuk dalam-dalam, masyarakat akan benar-benar merasakan pentingnya sebuah buku untuk menelaah zaman. Dan menulis buku semakin mudah dilaksanakan sebagai pembiasan dalam mengapresiasikan karya-karya milik sendiri.

2)       Kedisiplinan berkreasi seni

Masyarakat inovatif lahir jika referensi yang didapat dari hasil olahan atau gubahan mendalami isi buku. Dan terbentuk sisi kedisiplinan yang lahir dari hati nurani masing-masing.

Ketika masyarakat sudah memiliki komunitas seni, maka harus jujur untuk menyadari bahwa dirinya bertanggungjawab, kreativitas ditonjolkan serius, masyarakat yang terjun di bidang seni wajib berdisplin supaya tidak lalai.

3)       Keyakinan untuk tumbuh

Keyakinan sama dengan iman. Biasanya, masyarakat desa tabu dengan keyakinan apabila menyangkut keilmuan, mereka enggan bertindak ataupun bergerak.

Padahal mengimani buku-buku juga sebuah keyakinan adanya kitab Al-Quran. Perlu pemulihan kepada masyarakat bahwa keyakinan dalam hati menjadi peran utama menempatkan buku-buku sebagai wacana intelektual.

4)       Kesetiaan belajar sepanjang hayat

ketika perpustakaan mengalami dekadensi pengunjung, sepi peminat, sedikitnya buku-buku terbaru yang representatif. Sikap kekesatrian masyarakat sebagai pengelola ditampakkan. Karena berdirinya perpustakaan juga sangat mencukupi untuk belajar demi tabungan hidup, sepanjang hayat buku adalah ilmu yang tak pernah lekang oleh zaman.

Literatur-literatur di perpustakaan adalah nafas bagi pembaca, masyarakat yang memelihara. Di samping masyarakat harus mengaplikasikan untuk membangun perpustakaan layak baca dan diapresiasikan.

b. Optimalisasi Masyarakat Desa Melestarikan Gubug Cinta Baca (GCB)

Setelah menganalisis lewat komunikasi dua arah dengan masyarakat tentang pelaksanaan jika perpustakaan akan dibangun di sekitar desa atau kecamatan tersebut, memang perlu alokasi dana tidak kecil, akan tetapi demi mencerdaskan masyarakat justru lebih baik.

Merujuk pada UU Perpustakaan tahun 2007 Pasal 43 yang berbunyi:  masyarakat berperan serta dalam pembentukan, penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan, dan pengawasan perpustakaan.

Dapat dikatakan masyarakat memiliki hak untuk meluruskan jalan perpustakaan tanpa harus menunggu perintah dari pemerintah. Karena budaya baca di desa atu di kecamatan jauh lebih mafhum masyarakat daripada pemerintah.

Untuk mengombinasikan keselarasan antara empat pedoman hidup masyarakat pustaka dan optimalisasi melestarikan gubug cinta baca.

Langkah-langkah strategi implementatifnya adalah:

1)       Pemerintah daerah, kepala desa dan kecamatan melakukan koordinasi guna mentranspransikan lokasi tempat pembangunan perpustakaan masyarakat, merumuskan alokasi dana yang disediakan, mensosialisasikan penyesuaian kerja atau sinkronisasi kerja menyambut budaya baru di lingkungan sekitar

2)       Adanya sinergi saling gotong royong mendirikan pusat keilmuan di tengah-tengah pedesaan dan kecamatan yang dikeliling petak-petak sawah

3)       Masyarakat berkeluarga bersama-sama menyemarakkan hadirnya bahan bacaan bermutu secara gratis yang mudah diakses di desa atau kecamatan

Dari tiga strategi implementatif ini, yang perlu diperhatikan keseriusan birokrasi pemerintah untuk membangun pusat keilmuan di desa atau kecamatan, serta meneropong tanggapnya masyarakat untuk benar-benar melestarikan budaya baca nantinya.

Ketika semua birokrat di desa atau kecamatan menyetujui pendirian perpustakaan. Masyarakat pun semakin dekat mengenal bahan-bahan bacaan minimal tentang pengetahuan petunjuk menanam tanaman yang benar dan produktif.

Agar lebih akrab dan terjalin rasa kebersamaan, karakter perpustakaan harus diubah. Sebab hidup di desa atau kecamatan masih identik dengan adat ketimuran, sehingga peletakan kata Perpustakaan di tengah-tengah masyarakat terkesan berlebihan. Demi mengubah pendapat sepihak di kalangan masyarakat, tercetuslah nama khas pedesaan yang akrab bagi masyarakat yaitu Gubug Cinta Baca.

Fasilitas di Gubug Cinta Baca sama dengan sarana perpustakaan masyarakat. Hanya yang membedakan keutuhan nama, Gubug Cinta Baca adalah sebuah perpustakaan masyarakat. Gubug Cinta Baca (baca:GCB) merupakan ide inovatif dari masyarakat yang memang belum terjangkau oleh pemerintah.

GCB berpenampilan khas gubug kejawaan, jam kunjungnya pun 24 jam nonstop. Karena yang menjaga keamanannya dari masyarakat sendiri.

Buku-buku atau bahan bacaan yang disediakan yaitu tentang pertanian, perkebunan, keislaman, perekonomian, sosial, budaya dan motivasi kehidupan.

Lewat aspek kemauan dan tekad yang bulatlah GCB mampu melejitkan potensi masyarakat mau dan sadar membaca dan menulis, meskipun hidup di pedesaan atau kecamatan terpencil, akan tetapi mutu intelektual masyarakatnya selevel masyarakat intelektual yang berpendidikan.

Simulasi GCB ini hemat penulis bisa didirikan di desa Sumberkerang, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, jika kepala Desa dan pemerintah daerah Probolinggo memperhatikan potensi di wilayah Sumberkerang. Yang notabene semakin meningkatnya penduduk baru atau masyarakat baru remaja dan yang sekolah.

Apabila pemerintah kabupaten Probolinggo mendirikan GCB di setiap pedesaan dan kecamatan di seluruh wilayah Probolinggo, pemerintah dan masyarakat Probolinggo akan mencetak generasi-generasi cerdas dan gemar membaca, yang memungkinkan sebagai inspirator kota berbudaya intelektual.

D. Kesimpulan dan Saran

Masyarakat akan sadar bahwa hak masyarakat adalah mendapat subsidi ilmu, membaca buku dan menulis adalah sebuah anugerah. Pemerintah harus mendistribusikan buku-buku atau bahan bacaan demi menumbuh kembangkan generasi-generasi cerdas yang ada di wilayah pedesasan atau kecamatan terpencil.

Dan terpenuhinya subsidi ilmu, apabila Gubug Cinta Baca diefektifkan, direalisasikan dan dibangun di desa atau kecamatan. Gubug Cinta Baca terbangun dari dukungan pihak masyarakat dan pemerintah. Pembangunan Gubug Cinta Baca bisa membangkitkan kembali masyarakat ke dunia baca. Dunia buku yang akan memberi jalan perubahan bagi masyarakat. Pencerahan buku-buku menghantarkan masyarakat sebagai generasi tangguh meski hidup di tengah maraknya budaya-budaya pembaca pasif. Semoga GCB bisa diimplementasikan sehingga tidak hanya sekedar ide-ide segar tapi terbuang seketika.

Kepada pemerintah, semoga memperhatikan ide-ide dan tidak perlu ada pertimbangan finansial, segera bangun GCB agar masyarakatnya tidak selangkah mundur dan terbelakang sementara negeri tetangga sudah gatal mengambil budaya-budaya di negeri kita ini.

Kepada masyarakat, tersedianya GCB bisa membantu memperluas wawasan, gali selalu potensi untuk membangkitkan daya imajinasi dan sekalipun hidup di daerah terpencil, namun memiliki kepingan-kepingan ilmu yang kaya inovasi, mengerti arah peta perjalanan dari makna sebuah kehidupan dari membaca sebuah buku, mensyukuri nikmat dari Tuhan yang Maha Membaca.

DAFTAR PUSTAKA

Asy, Masudi Drs H. S. Sunardi Drs, 2003. Pendidikan Pancasila dan

Kewarganegaraan. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Ali Mafaz, Salamun. 2006. Catatan Harian, Sebuah Introspeksi dan Koreksi. Majalah Qalam: Sumenep, Madura, Vol VII-IX. No. 116

Hernowo, 2002. Mengikat Makna: Kiat-Kiat Ampuh Untuk Melejitkan Kemauan Plus

Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Bandung: Penerbit Kaifa

Dunia Perpustakaan. 2008. (online)

(http://duniaperpustakaan.blogspot.com/2008/11/undang-undang-nomor-43 tahun-2007.html) diakses pada tanggal 16 September 2009

Penulis: Muh. Husen Arifin

Probolinggo

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


7 + = nine

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose