Home / Artikel Perpustakaan / Interdependensi Perpustakaan Membentuk Mentalitas Masyarakat Menjalankan Proses Pendidikan Seumur Hidup

Interdependensi Perpustakaan Membentuk Mentalitas Masyarakat Menjalankan Proses Pendidikan Seumur Hidup

Pepatah yang mengatakan pengalaman merupakan guru yang baik ternyata memang benar, walaupun itu belumlah cukup untuk mencapai suatu keberhasilan. Karena tingkat keberhasilan harus ditunjang oleh pengalaman dan wawasan yang dapat meningkatkan permormance individu dalam posisinya hari ini. Pengalaman dapat diperoleh dari aktifitas dan kreatifitas yang berkesinambungan, sedangkan wawasan diperoleh dari sumber informasi sebagai setting pendidikan dan pemikiran.

Dalam rangka peningkatan kecerdasan bangsa, maka pemerintah telah memberi dukungan bagi arah pengembangan budaya keilmuan pada masyarakat. Seperti yang tertera dalam GBHN 1993 tentang arah dan kebijakan pembangunan. Dukungan dan kepedulian pemerintah tersebut merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan budaya membaca, tekad untuk memberantas buta huruf, dan dalam jangka panjang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selama ini, masih ada jarak yang memisahkan antara perpustakaan sebagai salah satu setting pendidikan dengan masyarakat.. Keduanya seakan-akan berjalan tak beriringan, sehingga kurang terlihat adanya hubungan satu sama lain. Sebagian besar masyarakat masih beranggapan, bahwa perpustakaan adalah tempat yang berisikan buku-buku koleksi / media cetak yang disusun dan diatur sedemikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca. Padahal, dalam pelaksanaan kegiatannya, perpustakaan menanggapi berbagai permintaan dan memberikan pelayanan kepada para konsumen yang bervariasi secara luas. Dengan semakin meluasnya kemajuan dalam bidang komunikasi dan teknologi, dinamika proses belajar dan sumber belajar yang bervariasi semakin diperlukan.

Pada hakekatnya perpustakaan dibangun adalah untuk melayani masyarakat, terutama di bidang informasi, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dan sejak awal sebuah perpustakaan didirikan apapun jenisnya adalah mempunyai kegiatan utama mengumpulkan semua sumber informasi dalam berbagai bentuk, yakni tertulis  (printed matter), terekam (recorded matter) atau dalam bentuk yang lain, kemudian semua informasi tersebut diproses, dikemas dan disusun untuk disajikan kepada masyarakat yang diharapkan akan menggunakan.

Dengan adanya perkembangan informasi , ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat maju dan pesat saat ini, sudah saatnya perpustakaan dibina dan dikembangkan lebih baik agar dapat menjalankan kegiatannya secara lebih professional. Yakni sebagai salah satu pusat informasi, sumber belajar, penelitian, rekreasi dan pelestarian khasanah budaya bangsa dari masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Semua itu dalam rangka ikut serta mencerdaskan kehidupan masyarakat, meliputi kecerdasan spiritual, intelektual, personal, dan kecerdasan social. Lalu sejauh mana peranan perpustakaan sebagai provider berbagai informasi bagi masyarakat dalam rangka membentuk mentalitasnya menjalankan proses pendidikan sepanjang hayat?

Perpustakaan sebagai setting pendidikan.

Menurut catatan sejarah umat manusia, perpustakaan sudah ada sejak zaman kuno. Dimulai dari perpustakaan di kota Ninive (669 636 SM) ,kemudian di kuil Horus Mesir (337 SM) yang mengkoleksi gulungan papyrus berisi tentang astronomi, agama dan perburuan. Pada masa selanjutnya orang-orang Athena sudah mulai memiliki koleksi buku-buku pribadi. Tokoh filsafat Aristoteles (384 322 SM) pernah membangun perpustakaan yang ia tujukan sebagai pusat penelitian dan pendidikan pengikut-pengikutnya. Ketika masa reformasi dan Renaissance tiba, yakni zaman kebangkitan bangsa Yunani Romawi, banyak karya yang dikembangkan. Orang-orang kaya berniat memiliki koleksi buku-buku pribadi, sebagai lambang status pendidikan dan status sosial mereka.

Selanjutnya, kertas sebagai bahan utama pembuatan buku ditemukan oleh bangsa Cina (105 M) dan kemudian Johann Gutenberg (1400 1468) dari Jerman menemukan mesin cetak. Berkat penemuan itu kemudian perkembangan penerbitan buku berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan dan perpustakaan.

Kini, bagi sebagian masyarakat, perpustakaan merupakan bagian dari kebutuhan yang harus dipenuhi di dalam kehidupannya, terutama masyarakat pelajar, mahasiswa dan kelompok-kelompok tertentu, untuk menunjang aktivitasnya.. Dengan kata lain, perpustakaan sudah memasyarakat. Namun kita juga menyadari, bahwa sebagian masyarakat yang lain belum mendapatkan fasilitas dan layanan perpustakaan sebagaimana mestinya. Hal itu merupakan peringatan untuk segera membenahi dan mengembangkan perpustakaan agar dapat memenuhi tugas dan fungsinya sebagai salah satu pusat informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa, meliputi kecerdasan spiritual, intelektual, personal dan kecerdasan sosial. Jika tingkat kecerdasan sudah meningkat, maka akan menjadi modal penunjang dalam mencapai kesejahteraan umum. Mungkin saja dengan tingkat kesejahteraan umum yang baik akan dapat ditingkatkan kecerdasan masyarakat. Oleh karena kedua hal itu saling berhubungan ( Perpustakaan dan Masyarakat, Sutarno, hal 6).

Konsep pengembangan perpustakaan dapat dilakukan dengan tiga tahap. Pertama, kegiatan difokuskan pada pembenahan internal, termasuk peningkatan kemampuan dan keterampilan staf dan pustakawan, serta perbaikan fasilitas. Kedua, merancang berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, Ketiga, merancang strategi berkelanjutan agar perpustakaan dapat secara konsisten mempertahankan kualitas layanannya.

Perpustakaan yang berada di tengah-tengah masyarakat mempunyai tujuan dan fungsi yang bermacam-macam, di antaranya adalah sebagai sarana pendidikan dan bahkan sering disebut sebagai Universitas Masyarakat. Belajar di perpustakaan merupakan suatu bentuk belajar melalui pengalaman. Belajar melalui pengalaman sering timbul karena adanya ketidakpuasan akan informasi yang diperoleh. Untuk mencapai suatu tingkat kepuasan akan pemahaman suatu informasi dibutuhkan suatu cara belajar yang kreatif agar tercapai suatu cara belajar yang efektif.

Produk belajar yang kreatif pada akhirnya adalah suatu pengembangan pembawaan dan penggunaan akal budi secara penuh dari masyarakat yang lambat laun melalui membaca menyadari, bahwa salah satu potensi yang dimilikinya harus dikembangkan untuk mencapai suatu hasil belajar. Sejalan dengan kedudukan perpustakaan itu sendiri maka terdapat implikasi lebih jauh bahwa perpustakaan sebagai tempat untuk mengembangkan proses belajar melalui membaca yang bermanfaat bagi masyarakat. Fungsi perpustakaan menjadi berkembang sebagai tempat pemupuk minat baca

Sering sekali kita mendengarkan keluhan mengenai kurangnya minat atau budaya BACA. Sering diadakan seminar tentang Meningkatkan budaya baca¦ Namun, jarang sekali hal ini dihubungkan dengan budaya MENULIS. Padahal ada hubungan yang erat diantara keduanya. Menulis merupakan salah satu budaya untuk mengekspresikan isi pikiran seseorang. Dengan semakin tingginya kebutuhan untuk menulis, maka kebutuhan untuk membaca akan dituntut untuk semakin tinggi pula.

Masyarakat mempunyai kebutuhan untuk meningkatkan information literate atau tingkat melek informasi. Information literate ini berhubungan erat dengan kebiasaan membaca dan menulis. Jika tidak suka membaca, bagaimana mungkin informasi bisa sampai kepada mereka. Demikian juga, bagaimana mungkin semangat membaca bisa tumbuh, jika tidak ada kebiasaan untuk mengeluarkan hasil bacaannya kepada dunia luar baik melalui diskusi, dialog, maupun tulisan. Biasanya, orang-orang yang dituntut untuk banyak menulis, seperti menulis paper untuk presentasi, artikel untuk jurnal dan majalah, dan sebagainya, mereka akan lebih banyak membaca dari berbagai sumber yang memungkinkan  untuk  meningkatkan kualitas tulisan mereka. Jadi, terdapat hubungan yang sangat erat, saling bergantung, interdependensi, antara membaca, menulis dan perpustakaan.

Sebagai setting pendidikan, perpustakaan juga merupakan jantung pendidikan. Kalau perpustakaan diibaratkan sebagai jantung, maka program atau kegiatan yang dilakukan perpustakaan adalah nyawanya. Jantung tidak akan berdenyut apabila nyawa tidak ada. Program atau kegiatan yang dibuat hendaknya diprioritaskan untuk menarik minat masyarakat pada bahan bacaan serta meningkatkan minat baca masyarakat. Indikator keberhasilan sebuah program perpustakaan adalah meningkatnya dinamika minat baca dan kebiasaan membaca (reading habbit) masyarakatnya.

Perpustakaan untuk memberdayakan pengetahuan

Mengutip ungkapan dari Barbara Tuchman (1989) :Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam, bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudra waktu.. Jadi, membaca dapat mengubah bukan hanya sudut pandang atau mind set seseorang, tapi juga bisa mengubah hidup secara total. Membaca buku juga menjadi sarana pencerdasan, alih ilmu pengetahuan dan teknologi, dan medium pendidikan yang andal.

Buku dan perpustakaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari peradaban umat manusia. Hampir semua bangsa-bangsa yang memiliki peradaban yang termasyur, memiliki budaya baca tulis yang tinggi. Mereka memiliki kebudayaan yang tinggi karena mau menempatkan buku atau pustaka pada kedudukan yang penting dalam kehidupan mereka. Buku tidak saja merupakan dokumentasi tentang ide, gagasan, dan konsep penulisnya tentang beragam bidang kehidupan namun juga merupakan sumber inspirasi bagi para pembacanya. Dengan membaca buku-buku itu, terjadi transfer pengetahuan dari penulis buku ke pembacanya. Dengan pengetahuan inilah masyarakat akan bergerak semakin maju dan berkembang.

Fungsi perpustakaan bagi masyarakat adalah untuk memperdalam dan menelusuri berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya. Penguasaan konsep dasar yang baik memudahkan masyarakat untuk mengaplikasikan ilmunya pada situasi dan kondisi yang lebih berkembang yang akhirnya masyarakat akan memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional, dan objektif. Kemampuan membaca merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh masyarakat yang sedang belajar. Salah satu tujuan belajar adalah mengakumulasi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pada umumnya dihimpun, dicetak, dan dilestarikan dalam media cetak. Media cetak berfungsi sebagai individu kalau individu tersebut dapat membaca

Pemasyarakatan perpustakaan

Pada hakekatnya, perpustakaan merupakan sesuatu yang universal, maksudnya dimanapun berada perpustakaan mempunyai kegiatan pokok yaitu menghimpun,, menyimpan dan memelihara informasi, serta memberdayakan kepada masyarakat. Perpustakaan akan ada artinya jika dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Sebaliknya, masyarakat akan memakai perpustakaan manakala dilayani dengan baik dan  memperoleh nilai tambah sebagaimana yang mereka harapkan. Jadi antara perpustakan dan masyarakat harus ada kerjasama yang harmonis., karena keduanya memang saling membutuhkan

Pemasyarakatan perpustakaan atau sering disebut sosialisasi perpustakaan adalah upaya atau kegiatan yang dilakukan untuk menempatkan perpustakaan menjadi bagian dari kehidupan dan aktivitas masyarakat. Maksudnya adalah bahwa keberadaan perpustakaan di tengah-tengah masyarakat dimanfaatkan sebagaimana mestinya, sehingga kegiatan perpustakaan dapat berjalan baik dan masyarakat mendapatkan nilai tambah, baik dalam ilmu pengetahuan, informasi maupun jasa perpustakaan lainnya. Pemasyarakatan perpustakaan dapat dilakukan oleh penyelenggara / pengelolanya bersama-sama unsur atau pihak lain. Hal itu sebaiknya dikembangkan untuk semua jenis perpustakan, sebab dengan adanya usaha pemasyarakatan yang dilakukan dengan baik, para pengguna dapat mengikuti perkembangan perpustakaan.

Sebagai contoh, perpustakaan sekolah dimasyarakatkan kepada murid-murid, dan para guru. Maksudnya agar mereka tertarik untuk datang dan menggunakan koleksi bahan pustaka dan fasilitas lain yang ada di perpustakaan. Hal yang menarik, misalnya adanya tambahan buku-buku baru, majalah baru, dan lain-lain. Pemasyarakatan perpustakaan umum juga dilakukan oleh petugas perpustakaan. Oleh karena masyarakat pemakai perpustakaan adalah semua anggota masyarakat di wilayah tersebut yang jumlah dan kelompoknya lebih luas, maka pemasyarakatan perpustakaan dilakukan dengan berbagai cara. Umpamanya membuat papan petunjuk perpustakaan, agar masyarakat mengenal dan mengetahui lokasinya. Mengadakan berbagai kegiatan seperti perlombaan-perlombaan yang dapat diikuti orang banyak (seperti, lomba membuat artikel, cerpen, atau karya penulisan lain) dan memberikan hadiah dan penghargaan yang menarik. Mengundang berbagai tokoh dan pemuka masyarakat dan pemerintah setempat sebagai penyaji dalam seminar, lokakarya, workshop, dsb, serta membuka akses informasi yang luas dan terbuka untuk semua orang. Pemasyarakatan juga dapat dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan (sekolah), lembaga swadaya masyarakat dan penerbit / toko-toko buku, karena tersebut mempunyai misi yang sama atau paling tidak, berdekatan, yaitu untuk memajukan dunia ilmu pengetahuan, tehniknya mungkin dengan mengadakan pameran buku, lukisan dan lain-lain. Intinya adalah perpustakaan harus dijadikan penerbit pengetahuan bagi masyarakat pengguna

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dewasa ini antara lain ditandai perubahan perilaku dalam pencarian informasi (information seeking) yang berdampak bagi lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang jasa informasi dan perpustakaan. Perpustakaan sebagai lembaga yang bertugas menyimpan, mengolah dan mendistribusikan informasi dituntut agar mampu memberdayakan pengetahuan dengan menggali potensi yang dimiliki perpustakaan.

Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus berjalan seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi penggunanya. Bila dahulu fungsi perpustakaan lebih berkonsentrasi pada penyediaan informasi dalam bentuk fisik seperti dokumen tercetak dengan dilengkapi sistem katalog kartu, maka kini dengan berkembangnya teknologi informasi perpustakaan dituntut menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk elektronik yang syarat dengan pengetahuan tak terstruktur. Sumber daya elektronik yang tersedia melalui internet menjadi sasaran pertama bagi para pencari informasi

Ditambahkan, perpustakaan seharusnya dikembangkan menjadi pusat pembelajaran (learning center). Dengan demikian, anggotanya tidak sekadar meminjam buku, tetapi juga bertukar informasi dan mengembangkan jaringan sesama anggota. Menurut Dewan Pengurus CCFI yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Fuad Hassan, dalam masyarakat modern, perpustakaan merupakan pendukung efektif bagi berkembangnya budaya belajar. Perpustakaan yang baik seharusnya bisa berfungsi sebagai pusat pembelajaran, bahkan bisa juga berfungsi sebagai agen perubahan bagi masyarakatnya.

Termasuk dalam sistem knowledge management adalah para pustakawan atau petugas yang berperan sebagai knowledge officer atau pengelola ilmu pengetahuan. Mereka adalah motor penggerak agar tercapai tujuan untuk meningkatkan minat menulis dan membaca, tingkat sadar informasi (information literacy), dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat mencari penjelasan (clearinghouse) yang akurat dan luas informasinya dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Penutup

Di negara kita, masih banyak masyarakat yang belum memiliki kesadaran untuk menggali potensi dirinya. Salah satu cara efektif untuk memberdayakan potensi masyarakat adalah dengan meningkatkan kualitas hidupnya.. Selain diperlukan sekolah-sekolah, perpustakaan adalah penunjang yang sangat diperlukan kehadirannya. Perpustakaan memiliki peranan yang signifikan untuk mendukung gemar membaca (dan menulis) serta meingkatkan literasi informasi, juga mengembangkan masyarakat supaya dapat belajar secara independen. Banyak tokoh-tokoh besar yang telah memfaatkan perpustakaan sebagai bagian dari dirinya, seperti, Haji Agus Salim, Buya Hamka, Presiden Soekarno, Mohmammad Hatta, Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahkan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono adalah orang-orang yang memiliki minat baca tinggi dan memiliki koleksi buku yang luar biasa banyaknya.

Tantangan terbesar yang dihadapi perpustakaan di Indonesia adalah mengubah perpustakaan menjadi tempat belajar yang menarik bagi masyarakat dan memenuhi segala kebutuhan akan informasi masa kini. Tidak seperti kebanyakan perpustakaan sekarang ini, perpustakaan didatangi hanya untuk meminjam buku dan koran. Bila tidak dilakukan pembenahan , baik secara internal maupun eksternal, perpustakaan akan sunyi sepi. Sebagai contoh kota Malang sebagai salah satu kota pendidikan yang ada di Indonesia, mempunyai perpustakaan umum yang cukup berkualitas. Sejak awal berdirinya hingga sekarang, terbukti secara bertahap telah melakukan perubahan-perubahan yang mengarah pada peningkatan pengelolaan, pelayanan dan pengembangan kualitas perpustakaan sehingga menjadi perpustakaan yang confortable.

Akhirnya, perpustakaan sebagai perangkat mutlak dalam masyarakat, yang fungsi utamanya adalah sebagai sumber belajar / pendidikan, pusat sumber informasi, kebudayaan, hiburan dan tempat membina potensi masyarakat menuju belajar sepanjang hayat (long life education) seyogyanya ditingkatkan pengelolaan, pelayanan dan pengembangan kualitasnya, sehingga dapat menjadikan masyarakat cerdas, baik kecerdasan spiritual, intelektual, personal, maupun kecerdasan sosial.

Daftar Pustaka :

Ã?      Sutarno NS, M.Si.  2003.  Perpustakaan dan masyarakat.  Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Ã?      Drs. Mudhoffir, M.Sc.  1992.  Prinsip-prinsip pengelolaan pusat sumber belajar.  Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ã?      GBHN 1993. deppen RI 1993

Ã?      Abdul Kharis Almasyari, SE, Akt.   2007.  Maju dengan membaca.  Klaten: Cempaka Putih

Ã?      R. Masri Sareb Putra.  2008. Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini.  Jakarta: Indeks.

Ã?      Basuki, sulistyo.  1991.  Pengantar Ilmu Perpustakaan.  Jakarta : Gramedia

Ã?      Suherman, M.Si.  2009.  Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah.  Bandung.  MQS Publishing.

Penulis: Meilisa Novariana, S.Pd

Malang

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

peranan mahasiswa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, peran mahasiswa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, contoh katalog perpustakaan

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


3 × = twenty one

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose