Home / Berita Perpustakaan / Jejaring sosial dan Kebebasan berkomunikasi

Jejaring sosial dan Kebebasan berkomunikasi

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta ¦¦¦, sama halnya dengan tulisan ini, mengajak kita untuk semakin mengenal dan mencintai ide tokoh penting dalam memberikan pemahaman terkait apa itu komunikasi ?,Tulisan ini merupakan kumpulan beberapa ide dari beberapa tokoh penting yang harus selalu diingat dalam keseharian kita, apabila kita berjumpa dengan istilah komunikasi dan menggunakannya dalam jejaring social yang terus mewabah pengaruh terhadap masyarakat modern.

Berkembangnya komunikasi sebagai sebuah disiplin ilmu tak dapat dipikirkan terlepas dari pemikiran tiga tokoh besar abad 19, teori evolusi (Charles darwin), teori psikoanalisa (Sigmund freud), dan marxisme (Karl marx), yang mana memiliki kontribusi terhadap perkembangan studi komunikasi, dimulai sejak tahun 1900- hingga sekarang. Adapun studi komunikasi berfokus pada pesan-pesan media sebagai yang berpengaruh langsung pada perilaku dan perbuatan tertentu seseorang, yang mana pada hakekatnya berbicara mengenai perubahan tingkah laku dan persuasi.

Komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi informai yang disampaikan baik secara lisan maupun tertulis dengan kata-kata, atau yang disampaikan dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, menggunakan alat bantu disekeliling kita sehingga sebuah pesan menjadi lebih kaya (Hybel dan weafer II 1992 dalam liliweri,2003).

Lebih lanjut ditegaskan, komunikasi adalah transmisi informasi dari semua bentuk interaksi dan relasi social dalam konteks tata muka. Komunikasi tidak saja diperlihatkan melalui penggunaan bahasa semata-mata, tetapi menggunakan juga tanda-tanda tubuh yang membutuhkan interpretasi tentang apa yang dikatakan dan dibuat oleh orang lain. Dengan berkembangnya media tulisan dan elektronik seperti radio, televisi atau computer, komunikasi mengubah dengan cepat relasi tatap muka (Liliwer,2003i). lebih lanjut penulis, ditambah dengan berkembangnya jejaring social semisalnya; Facebook, Twitter, dan masih banyak lainnya.

Liliweri menegaskan Salah satu karakteristik umum komunikasi yakni merupakan aktivitas pertukaran makna, hal ini dikarenakan komunikasi yang berlangsung antar manusia tidak dapat dipahami hanya melalui kata-kata yang diucapkan atau yang ditulis. Komunikasi hanya dapat dipahami melalui makna denotatif (arti kata berdasarkan kamus) dan konotatif (arti kata berdarkan kamus tertentu) dari situasi yang berada dibalik kata-kata itu. Karena makna itu ada dan hanya dapat dipahami oleh pengirim atau penerima maka demi keberhasilan komunikasi dibutuhkan aktivitas pertukaran makna.

Mengambil pemikiran ahli teori medium, ancaman terbesar bagi manusia adalah kepercayaan bahwa teknologi itu sesuatu yang netral semata-mata, alat eksternal yang dapat dipakai untuk tujuan jahat maupun baik. Dari perspektif ini, perubahan dalam cara atau metode berkomunikasi membentuk dan menentukan perilaku seseorang serta ide-ide yang terkandung dalam isi sebuah pesan, sehingga dengan demikian dapat membantu dalam proses pembentukan institusi social dan politik. Asumsi dasar dari teori ini bahwa komunikasi merupakan kondisi dimana teknologi yang dipakai dapat berpengaruh luar biasa besarnya bagi masyarakat dimana komunikasi itu berlangsung, dan bisa saja secara radikal mempengaruhi tentang realitas, serta interaksi dengan waktu dan tempat. Karena itu, pusat keprihatinan penulis adalah pada upaya menemukan interpretasi budaya yang diantaranya kebebasan berkomunikasi dari berbagai perspektif masyarakat agar bisa menyadari dampak jejaring social terhadap kesadaran manusia. Dengan demikian ia dapat membantu dalam proses pembentukan realitas social.

Kebebasan berkomunikasi dan konsekuensinya
Dampak langsung jejaring sosial sebagai media berkomunikasi terhadap perubahan tingkah laku individu tidaklah sebesar yang dibayangkan sebelumnya. Dewasa ini satu ketrampilan praktis yang mewabah keseluruh pelosok belahan bumi, mulai dari anak-anak, ketika menginjak usia remaja sampai orang tua ikut mempengaruhi proses pemberian makna komunikasi dalam berbagi informasi aktivitas kehidupan sehari-hari. Jejaring sosial telah menciptakan kebebasan berkomunikasi ataupun manusia sebagai animal simbolicum memiliki pengaruh yang urgen terkait hal tersebut. Pengaruh yang secara jelas terlihat dimana bias jejaring social untuk menjawab kebutuhan berkomunikasi antara manusia berbasis desa global, yang mana bermaksud membangun suatu pertalian langsung guna menangkap makna-makna subyektif maupun kolektif dari ekspresi budaya popular, seperti agama, cara penyampaian kejadian sehari-hari (baca: lingkungan Keluarga, Lembaga Pemerintahan, lingkungan Sekolah,dsb), opini, serta keyakinan-keyakinan yang ingin diketahui secara luas oleh anggota jejaring social. Tak dapat disangkal bahwa jejaring social telah diwarnai kebebasan berkomunikasi yang dirasakan kurang mengatasi hubungan saling bergantung yang besar antar manusia dalam proses penciptaan budaya dan pembangunan kehidupan social yang dapat dialami setiap anggotannya sebagai suatu yang nyata dan bermakna. (berger dan lukman, 1966) menegaskan saling mengirim informasi bukanlah fungsi dasar komunikasi, melainkan bagaimana interaksi itu berlangsung.

Sehungan dengan ini, Paus Yohanes Paulus II dalam pesan tertulisnya mengatakan bahwa karunia mendengar, karunia berbicara, dan karunia pengertian yang memungkinkan kita keluar dari keterpencilan dan kesendirian kita dan menukarkan pikiran-pikiran dan perasan-perasaan yang muncul dalam hati kita kepada orang-orang seputar kita, harus disyukuri dan dirayakan secara khusus¦karena olehnya penemuan penemuan yang amat sangat menambah dan memperluas jangkauan komunikasi bisa menghantar dan memperkuat volume kita (Eilers,1993:No. 684,703). Seruan profetis ini ingin menekankan pentingnya komunikasi dalam kehidupan bersama. Untuk itu seorang individu harus memahami kebebasan berkomunikasi dengan dunia luar yang harus mengandung kebenaran sebagai pemersatu dan penghubung dalam kehidupan social yang nyata.

Sedikit pesan di akhir tulisan ini, semua orang layak menjadi guru informasi yang baik di semua tempat di sekolah, di universitas, di bus, di pesawat, di kereta api, di jalan raya,di perpustakaan, di rumah, di kantor,di lobi, di toko, di pasar,di mana saja kehidupan berlangsung.

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Irenius Bodo

loving being my self

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 3 = seven

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose