Home / Artikel Perpustakaan / Mari Cinta Membaca

Mari Cinta Membaca

Masalah Perpustakaan erat sekali hubungannya dengan membaca. Semua sudah tahu kalau Perpustakaan adalah gudang untuk menggali ilmu , karenanya untuk mengkayakan wawasan masyarakat  Pemerintah telah membangun Perpustakaan Nasional. Dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa Indonesia supaya tidak jauh ketinggalan dalam ilmu pengetahuan. Bahkan sudah ada istilah yang tidak asing lagi Membaca adalah jendela dunia

Dengan berbagai upaya Pemerintah membuat slogan gemar membaca, bahkan untuk membuat masyarakat gemar membaca Pemerintah pernah mempergunakan jasa seorang artis (Tamara Blezynski) sampai pada model seorang presenter terkenal sekaliber Tantowi Yahya untuk mengajak masyarakat Indonesia gemar membaca buku, bahkan gambar. Tantowi Yahya sebagai duta baca terpajang dengan ukuran cukup besar di depan Perpustakaan Nasional. Semua itu tidak lain untuk menarik minat masyarat Indonesia supaya gemar melakukan suatu kegiatan yang sebagian besar kurang diminati oleh bangsa tercinta ini.

Untuk memberi wujud nyata guna semakin menarik minat masyarakat akan buku bacaan di sebuah perpustakaan, kini Universitas Indonesia tengah membangun Perpustakaan terbesar di Asia dan (mungkin juga di dunia). Semua didedikasikan untuk masyarakat pecinta buku dan mereka yang belum kenal perpustakaan semoga saja tertarik untuk datang ke perpustakaan yang diharapkan selesai bulan desember tahun 2009 ini. (data dari interknet.)

MINAT BACA MASYARAKAT INDONESIA

Bukan rahasia lagi minat baca masyarakat Indonesia tidak seperti masyarakat luar negeri yang menjadikan membaca adalah kegiatan rutin harian mereka. Sedangkan pada masyarakat Indoensia, mereka yang gemar membaca bisa dikatagorikan beberapa golongan, dan golongan-golongan itu bisa disebut dengan kaum Intelektual.

Bahkan  Ibu Arini Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya mengatakan bahwa budaya baca masyarakat Indonesia terendah dari 52 Negara Asia Timur, data ini berdasarkan dari Organisai Pengembangan Kerjasama Ekonomi (OECD) /diambil dari Surabaya, Kompas.com/berita dari internet/http/ykai.net)

Siapa saja mereka yang tergolong kaum intelektual :

Katagori pertama:

  1. Anak sekolah/mahasiswa
  2. Mereka yang punya gelar Doktor
  3. Profesional

Ketiga golongan  di atas memang pas kalau dibilang pasti suka datang ke Perpustakaan karena mereka memang sangat memerlukan buku untuk keperluan mereka. Anak sekolah atau mahasiswa  Jelas kedua golongan itu sangat perlu akan ilmu demi kelangsungan pendidikan mereka. Seorang Doktor pun tak bisa lepas dari sebuah atau beberapa buah diktat, bisa untuk referensi atau untuk acuan mereka dalam melengkapi  kegiatan sehari-hari yang selalu saja bergelut dengan pendidikan. Lalu seorang Profesional pun tak kalah dengan kedua golongan sebelumnya, mereka juga memerlukan buku di perpustakaan untuk referensi tulisannya jika mereka itu penulis dan lain sebagainya.

Sebenarnya yang harus dipertimbangkan adalah posisi atau status Ibu Rumah Tangga. Lalu apakah seorang ibu rumah tangga juga termasuk dalam katagori intelektual? Bukankah ibu rumah tangga hanya sebagai wanita dengan kesibukannya mengurus kebersihan rumah serta menyediakan makanan sehat untuk suami dan anak-anaknya?

Memang benar ibu rumah tangga bertugas dalam wilayah mengurus rumah. Namun jangan salah tak sedikit ibu rumah tangga memiliki dedikasih untuk memperkanalkan anak-anak mereka pada buku bacaaan lewat dongeng sebelum tidur atau membawa anak-anak mereka ke toko buku terdekat, bahkan ke Perpustakaan. Ibu rumah tangga inilah yang disebut ibu rumah tangga yang memiliki intelektual tinggi. Jadi harusnya katagori diatas perlu ditambahkan satu orang lagi (menjadi 4 golongan?)

Benarkah anak sekolah (SMP/SMA dan mahasiswa gemar ke Perpustakaan atau gemar membaca? Sebenarnya tidak semua dari mereka itu gemar membaca atau berburu buku bacaan baik di toko buku apalagi di Perpustakaan. Jadi untuk mereka yang kita kelompokkan atau golongkan dengan sebutan kaum intelektual adalah mereka para murid SMP dan SMA serta Mahasiswa yang gemar membaca serta sering mendatangi Perpustakaan. (Jadinya nilai mereka hampir sama dengan ibu rumah tangga  yang terdiri dari ibu rumah tangga biasa dan ibu rumah tangga yang masuk katagori intelektual) Apalagi sekarang ini marak internet yang dapat memberikan informasi cepat pada masyarakat. Tidak jarang anak sekolah dan mahasiswa mengakses berita dari internet, baik yang berupa ilmu pengetahuan mau pun masalah umum. Jadi dengan demikian maka Perpustakaan semakin jauh saja dari kaum muda..

Katagori kedua

Katagori ini adalah golongan yang menempatkan bacaaan sebagai keperluan yang tidak terlalu penting. Artinya tidak mencari bacaan karena memang merasa tidak ada kepentingan yang sangat mendesak dengan buku bacaan, jadi jelas golongan ini tidak focus pada buku bacaan apalagi berkunjung ke perpustakaan. Siapa saja golongan ini?

Bisa Karyawan perusahaan atau tenaga lepas . Bagi mereka bacaan didapat dengan membeli Koran yang dijajakan dipinggir jalan (itu pun tidak fanatic akan isi media tersebut yang penting rasa iseng atau mengisi waktu kosong terisi dengan membacam berita/apa saja) Setelah koran dibaca lalu dicampakkan tanpa harus terlalu dipikirkan lagi isinya, karena tayangan televise mungkin lebih menarik untuk dinikmati bersama keluarga mereka

Katagori ketiga :

Golongan ini paling memprihatinkan, karena golongan ini adalah katagori masyarakat awam. Yang dimaksud awam di sini adalah masyarakat yang sama sekali tidak memasukkan jadwal membaca pada agenda keseharian mereka. Karena mereka disibukkan dengan mencari nafkah dan kebetulan pula dalam mencari nafkah mereka tidak bersentuhan dengan  buku . golongan ini misalnya kaum buruh dan penjajah makanan. Bagi mereka daripada membaca lebih baik menonton tayangan televise saja.

Di Indonesia katagori ke tiga ini tidak sedikit jumlahnya. Dan mereka ini terdiri dari keluarga. Ada ayah, ibu dan anak-anak. Domisili mereka tersebar di seluruh Indonesia. Dari masa ke masa mereka akan terus mengalami pertumbuhan dan keturunan. Karena mereka menganggap membaca itu tidak penting, maka tidak kecil kemungkinan kelak keturunan mereka pun tidak mencintai membaca buku karena tidak ada pengenalan dari masing-masing orang tua mereka, yang akhirnya kalau dibiarkan terus menerus maka akan timbul slogan dengan bunyi beginikita makan dengan nasi bukan dengan membaca bahkan ironisnya lagi tidak kecil kemungkinan kelak mereka memiliki prinsip kuat, bahwa bagi mereka hidup tidak tergantung pada buku bacaan. Dan pada akhirnya mereka akan mengatakan Hanya buang waktu saja membaca buku sedangkan untuk bertahan hidup adalah dengan bekerja keras

Berdirinya  Beberapa Perpustakaan di Indonesia

Beberapa Perpustakaan didirikan oleh badan pihak Swasta atau Badan Usaha di beberapa wilaya Jakarta dan Daerah, ini membuktikan bagaimana kaum intelektual turut serta untuk membuat masyarakat Indonesia dari golongan mana pun untuk cinta membaca. Bahkan mereka telah menyediakan beberapa Rumah Kreatif untuk anak muda berkarya serta  menyediakan Taman Belajar Masyarakat. Apakah cara ini akan berhasil membuat masyarakat Indonesia gemar membaca? Walau tidak semua warga dan masyarakat Indonesia menyerbu Taman Belajar Masyarakat atau Rumah Kreatif, toh mereka masih ada yang terlihat mendatangi kedua tempat itu. Memang sangat sulit untuk menempatkan dunia baca nomor satu di masyarakat ditengah arus modernisasi menyerbu Indonesia tak termasuk masyarakatnya, dimana acara dari beberapa televisi yang beragam dan kita hanya tinggal menekan tombol lalu menekan remot sesuati ketinginan kita apa yang akan ditonton.

YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia ) data dari internet(Ijakarta-ykai.net)

Yayasan ini pun tidak tinggal diam. YKAI menyediakan pustaka keliling dengan mempergunakan mobil keliling yang berisi beragam jenis buku bacaan untuk anak-anak. Cara ini rupanya cukup ampuh karena banyak anak-anak menyerbu mobil yang beroperasi di lima wilayah Jakarta ini. Hasilnya cukup membuat anak-anak yang jauh dari buku bacaaan itu dapat mencerahkan pikiran mereka dengan buku yang dibawa oleh mobil pustaka keliling tersebut. Tapi bagaimana bila Pustaka Keliling itu tidak lagi berada di wilayah mereka? Adakah mereka mencari buku di perpustakaan atau hanya akan menunggu kapan Pustaka Keliling itu mampir kembali ke wilayah atau ke perkampungan mereka?

Inilah permasalahannya dan  menjadi tugas kita semua bisa membuat anak-anak itu merasa punya tanggung jawab untuk memperkaya wawasannya dengan banyak membaca. Jangan sampai acara di televisi atau  ramainya penyewaan PS dapat merebut perhatian anak-anak Indonesia semakin malas datang ke Perputakaan atau pun  ke Taman Belajar Masyarakat atau anak-anak tak lagi menunggu datangnya Pustaka Keliling jika tenggang waktu Pustaka Keliling itu  terlalu lama berkunjung kembali ke perkampungan mereka karena terbatasnya sarana yang ada.

Internet saingai Perpustakaan yang ada di Indonesia.

Adanya Internet yang sangat fleksibel serta daya tariknya begitu kuat untuk masyarakat dan para muda anak sekolah sampai tingkat mahasiswa, tampaknya jangan dipandang enteng dalam pengaruhnya ke Perpustakaan. Karena internet memang sangat mudah di dapat. Bagi yang tidak memiliki computer sendiri, cukup hanya dengan menyewa perjam Ro.5.000,- atau jika menjadi member akan lebih murah lagi. Data dari internet bervariasi, jika mereka lelah dengan buku bacaan atau topic yang sedang mereka pelajari, dengan gampang mereka akan mengakses dunia hiburan, baik hiburan local sampai manca Negara. Dibanding dengan Perpustakaan jelas ini tidak ada? Perpustakaan full menyediakan buku yang tak memiliki tombol untuk mengubah apa-apa yang tersaji di dalam buku itu.

Hal demikian yang harus diperhatikan oleh pihak pengelolah Perpustakaan dalam hal ini diutamakan pada Perpustakaan Nasional RI sebagai acuan dari semua Perpustakaan yang tumbuh di seluruh Indonesia. Untuk melarang para muda atau masyarakat luas untuk tidak datang ke warnet, jelas itu tidak mungkin karena setiap masyarakat Indonesia memiliki hak untuk melakukan kesenangannya selama tidak mengganggu ketertipan umum. Tapi kalau hal ini dibiarkan terus menerus maka bukan tak mungkin Perpustakaan akan ditinggalkan dan Internet adalah pilihan vavorit untuk mencari data yang diperlukan, sekaligus bersantai dengan berita ringan di dalamnya.

Dampak Negatif dan Positif Internet Bagi Masyarakat.

Dengan datang ke bilik Internet tentu saja ada dua dampak negative dan positi pada diri masyarakat itu sendiri.

Pertama, apabila media Internet hanya dipergunakan untuk melihat gambar yang sangat leluasa bisa diakses di dunia maya itu dan  kebetulan gambar yang mereka tonton adalah sesuatu yang tabu atau tak seharusnya menjadi suguhan, jelas itu sangatlah merugikan dan berdampak negative pada anak muda yang masih duduk di bangku sekolahan.

Dampak yang kedua, adalah jika yang datang ke bilik Internet itu adalah masyarakat yang biasanya malas membaca, tapi karena tertarik pada dunia yang baru mereka kenal itu, tentu saja menghasilkan nilai positif, karena dengan demikian masyarakat yang semula malas membaca jadi rajin memperhatikan rangkaian huruf yang membentuk kata dan berkesinambungan dengan kalimat panjang. Tanpa terasa karena daya tarik Internet mereka jadi suka membaca (walau pun yang mereka baca barangkali saja hanya beriti artis dan berita ringan serta gossip belaka?)

Perpustakaan Tetap Tak Bisa Dibandingkan Dengan Internet.

Barangkali judul di atas akan membuat para pengelola Perpustakaan atau kaum Pustakawan berbesar hati, karena bagaimana pun Perpustakaan seyogyanya jangan sampai ditinggal pengagumnya karena adanya Internet yang selalu menghadirkan informasi terbaru dan terkini di layarnya,. Kenapa demikian? Karena Pada Perpustakaan selalu saja ada arsip yang keasliannya dapat dipertanggung jawabkan, baik dari si Penerbit mau pun Penulisnya sendiri. Lebih-lebih pihak Perpustakaan yang digawangi Pustakawan itu tak akan pernah mendatangkan buku yang tak bisa dipertanggung jawabkan kebenaran isi dan informasi yang disampaikan buku itu sendiri. Sebenarnya hal itulah yang harus dipertimbangkan oleh masyarakat luas bahwa Perpustakaan walau pun tak seindah Internet tapi menyediakan arsip dan buku yang sangat akurat kebenarannya.  Untuk lebih  memberitahukan hal demikian pada masyarakat, hendaknya pihak Perpustakaan tak bosan-bosannya mengajak bicara dari hati ke hati dengan masyarakat pengguna Perpustakaan supaya mereka pun akan memberi pengertian bagi pecinta Perpustakaan lainnya supaya masyarakat luas jangan sampai meninggalkan Perpustakaan.

Pemerintah dan Badan Usaha Pengelola Perpustakaan Harus merubah  Anggapan Perpustakaan itu Ruangan Yang Serius..

Cara lain yang harus dilakukan pula, hendaknya Pemerintah dan Swasta atau Badan Usaha pengelolah Perpustakaan mengadakan sharing bersama untuk menangkal kebosanan masyarakat datang ke Perpustakaan. Dalam hal ini Pemerintah selagi Pembina dan pengelolah utama Perpustakaan mengaja serta para kaum Intelektual dan Pustakawan lebih memperhatikan keberadaan Perpustakaan itu sendiri. Misalnya dengan menampilkan gaya seperti di rumah sendiri, atau seperti sebuah Café, sehingga masyarakat datang ke Perpustakaan tidak hanya duduk di bangku yang di depannya terdapat meja yang di kanan kirinya diberi penutup (maksudnya supaya si pembaca jangan terganggu sekelilingnya).

Maka dengan gaya Perpustakaan yang demikian barangkali akan membuat lebih nyaman pengunjungnya karena mereka lebih merasa tidak berada di sebuah lorong pembelajaran yang tidak santai malah tegan dan sangat serius.

Lalu untuk anak-anak hendaknya para pengelola Perpustakaan  membuat ruangan sedemikian rupa yang disukai oleh anak-anak, misalnya dengan memberikan warna cerah di sana sini, atau dibuat bangku atau kursi yang mirip dengan di Taman Kanak-kanak, beraneka warna serta ruangan pun dibuat seperti sebuah ruang untuk sebuah acara ulang tahun, semarak dan segar, sehingga anak-anak baik itu balita mau pun tingkat Sekolah Dasar akan merasa nyaman dan tak tertekan seperti bila mereka berkunjung ke Perpustakaan yang umum . Serius dan membosankan!.

Lalu tambahannya pihak Pemerintah sebagai Pengelola Perpustakaan Nasional RI atau pihak Swasta yang turut serta dalam pemberdayaan budaya baca masyarakat hendaknya jangan hanya menyidiakan buku tapi juga sesekali mengadakan pertemuan atau kebersamaan dengan para masyarakat. Misalnya dengan mengadakan lomba membaca dan tentu saja ada hadiah dalam lomba itu, lalu mengadakan lomba mengarang atau barangkali lomba menggambar dan lain sebagainya yang masih dalam katagori berhubungan dengan buku.

Dengan cara demikian mungkin bisa saja membuat Perpustakaan lebih ramai dan dapat menambah minat baca masyarakat yang budaya bacanya adalah  sangat rendah dibanding dengan budaya baca masyarakat di luar negeri.

Tentu saja bila mengikuti cara di atas biaya yang dibutuhkan berkali lipat karena untuk sebuah ruangan yang hanngat dan tak menjemukan serta jauh dari kesan serius memang tidak sedikit.

Maka itu hendaknya pihak Pemeriintah tidak segan turun tangan dan menyediakan atau mengalokasikan adanya dana khusus untuk pemberdayaan atau pencerahan dari sebuah Perpustakaan yang mulanya terkesan serius menjadi hangat dan santai.

Inilah yang harus dilakukan pihak Pemerintah jika tidak ingin terjadi kesenjangan antara masyarakat dengan dunia Pustaka. Memang mahal, tapi dengan cara apalagi Perpustakaan melawan persaingan yang semakin kritis di dunia keilmuan itu? Dan Pemerintah sebagai pihak yang sangat bertanggung jawab atas peningkatan budaya baca masyarakat hendaknya sangat mempertimbangkan hal tersebut di atas.

Penulis: Rosidawati

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

One comment

  1. Fatimah malik ar’asy. . . Sy minta bantuan pencarian bukti2/arsip2 apapun yg ada sangkut pautnya dgn http://www.abdulmalikarasy.wordpress.com sy sangat butuh bantuan.untuk kemenangan fatimah.no hp sy ada di web itu.trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


nine − 1 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose