Home / Artikel Perpustakaan / Membangun Budaya Berpikir Kritis Dengan Membaca

Membangun Budaya Berpikir Kritis Dengan Membaca

Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat dalam sambutan yang diberikannya dalam buku Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah karya Suherman, M.Si. menyatakan bahwa Perpustakaan merupakan cermin sebuah organisasi, merupakan indikator kemajuan sebuah bangsa, dan gambaran citra seorang individu. Untuk melihat performa atau budaya kerja sebuah bangsa, organisasi, atau individu, lihatlah bagaimana perlakuannya terhadap perpustakaan.

Wajah sebuah bangsa dapat dilihat dari wajah perpustakaannya dan kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari minat bacanya. Baik secara langsung maupun tidak langsung, kebiasaan membaca menjadi salah satu indikator kualitas sekolah, bahkan secara nasional sangat menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI), dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa (Suherman, 2009). Salah satu indikasi kemajuan peradaban suatu bangsa ialah seberapa besar minat baca masyarakatnya. Tidak ada satu pun negara maju di dunia ini yang masyarakatnya tidak gemar membaca (Kheng Sun, 2009).

Di negara-negara maju seperti Inggris dan Jepang misalnya, budaya membaca sangat terpelihara sehingga bisa berkembang dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari jumlah buku baru yang diterbitkan setiap tahunnya. Selalu meningkat dan tersedianya perpustakaan-perpustakaan yang berkualitas tinggi yang terdapat dimana-mana untuk melayani kebutuhan bacaan masyarakat (Kheng Sun, 2009).

Bila kita melihat ke masa-masa awal bagaimana terbentuknya perpustakaan, maka kita akan menelusurinya dalam beberapa rentang waktu. Dimulai dari periode Sebelum Masehi, dimana para ahli telah menemukan bahwa kebudayaan perpustakaan telah dirintis pada jaman kejayaan Arab oleh orang-orang Arab yang pada jaman itu telah memiliki peradaban yang sangat tinggi.

Di Eropa sendiri, ide tentang perpustakaan telah dirintis oleh bangsa Sumeria yang dengan kemajuan berpikirnya telah menghasilkan  karya-karya sosial, politik, filsafat, dan sastra, baik berupa hymne, persembahyangan, upacara keagamaan, legenda suci maupun bentuk-bentuk magis lainnya. Periode kedua yaitu sesudah Masehi, dimana pada abad  3, agama Kristen telah mempengaruhi kerajaan Romawi dan dengan sendirinya mempengaruhi perkembangan perpustakaan. Periode berikutnya yaitu periode abad pertengahan, dimana selain berfungsi dalam menyebarkan agama Kristen, perpustakaan juga diarahkan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kebudayaan, dan menjadi sumber informasi tentang Eropa Barat dan Eropa Timur. Pada masa ini perpustakaan juga mulai berkembang di mesjid-mesjid untuk memelihara dan mengembangkan ajaran Islam. Seiring dengan berkembangnya universitas-universitas di Arab, perpustakaan-perpustakaan universitas mulai berkembang. Pada masa ini pulalah muncul era Renaissance yang ditandai dengan perkembangan produksi buku dengan kualitas penjilidan dan kualitas kertas yang semakin baik. Buku-buku tentang kebudayaan, buku teks untuk pendidikan, dan buku-buku fiksi makin banyak diterbitkan (Nurhadi, 1983).

Pada periode abad 17, perpustakaan tidak lagi hanya dirasakan sebagai tempat untuk melestarikan pengetahuan, tetapi juga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri, seperti yang dilakukan oleh para tokoh seperti Galileo, Keppler, Francis Bacon, dan Rene Descartes. Era ini juga ditandai dengan lahirnya perpustakaan nasional di beberapa Negara di Eropa, serta lahirnya katalog perpustakaan dari The Bibliotheque du Roi (The French Royal Library) yang disusun oleh Nicolas Rigault di bawah pengawasan Colbert (Nurhadi, 1983).

Abad 18 dan 19 mencatat hal-hal penting seperti munculnya revolusi industri pada tahun 1789 yang mengakibatkan terjadinya perubahan tata pemerintahan dan sistem sosial di Perancis. Terjadi perubahan status, perpustakaan-perpustakaan gereja yang semula hanya untuk pemuka agama menjadi perpustakaan umum untuk kepentingan masyarakat luas. Perpustakaan milik perseorangan dilebur menjadi satu dan kemudian menjadi perpustakaan nasional dengan nama La Bibliotheque Nationale di Perancis. Hal-hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah meningkatnya kebiasaan membaca di kalangan warga Eropa dan menjadi membudaya, diikuti dengan berkembangnya sarana penunjang yang membantu menumbuhsuburkan perpustakaan secara tidak langsung. Majalah, surat kabar, pamflet mulai terbit dan menjadi koleksi-koleksi baru di perpustakaan. Pengaruh perkembangan perpustakaan meluas ke Asia dan benua ketiga, sehingga pada akhir abad 19, perpustakaan ada di hampir seluruh dunia (Nurhadi, 1983).

Memasuki abad 20, ada dua hal penting yang berpengaruh, yaitu ledakan informasi dan teknologi. Ledakan informasi telah menimbulkan banyak masalah dalam perkembangan perpustakaan, sedangkan kemajuan teknologi telah banyak mempengaruhi layanan perpustakaan dalam perkembangannya. Dibutuhkan kemampuan tambahan untuk mengelola koleksi-koleksi baru nonbuku. Istilah perpustakaan telah berkembang menjadi pusat informasi atau dalam istilah lain basis data. Konsekwensinya adalah adanya tuntutan bagi pustakawan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi. Pertemuan-pertemuan profesional dalam bidang perpustakaan menjadi kebutuhan penting sebagai media komunikasi dan media untuk memecahkan masalah dalam hal layanan informasi (Nurhadi, 1983).

Perpustakaan dapat diterjemahkan sebagai suatu unit kerja yang berupa tempat mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu, untuk digunakan secara kontinyu oleh pemakainya sebagai sumber informasi (Nurhadi, 1983).

Latar Belakang Masalah

Situasi saat ini di Indonesia tentang budaya membaca, khususnya budaya membaca di perpustakaan sangatlah memprihatinkan. Kita ketinggalan banyak bila dibandingkan dengan negara-negara maju. Di lingkungan sekolah atau universitas, siswa atau mahasiswa yang rajin ke perpustakaan dianggap kutu buku, kurang pergaulan, dianggap sok pintar atau sok rajin.

Budaya membaca dan berpikir kritis di lingkungan akademis sangat menurun. Situasi ini diperparah dengan rendahnya kualitas orang-orang terpelajar untuk memahami bacaan-bacaan ilmiah, akibatnya civitas akademika tidak mampu berpikir secara holistik dan kritis dalam menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahan riil yang dialami masyarakat. Jika kualitas orang terpelajar dalam membaca sangat rendah, apalagi masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan tinggi?

Mengapa masyarakat acuh tak acuh terhadap eksistensi perpustakaan? Budaya kapitalistik, hedonis, konsumtif telah menggerogoti kapasitas intelektual masyarakat untuk berpikir kritis melalui kegiatan membaca (apalagi membaca di perpustakaan!). Perpustakaan dianggpa sebagai sesuatu yang kuno, yang tidak mampu mengikuti perkembangan jaman dan tuntutan konsumen yang ingin serba cepat, praktis, dan mudah. Citra perpustakaan sebagai gudang buku masih melekat pada sebagian masyarakat kita, ditambah dengan kesan pustakawannya yang berperan hanya sebagai penjaga buku dan diperparah dengan tidak adanya program-program yang cerdas dan inovatif untuk menumbuhkan minat baca siswa.  ujar Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Suherman, 2009). Biasanya perpustakaan di Indonesia hanya terkesan sekadar ada dengan pelayanan yang sering kurang memuaskan. Tidak heran jika para pengunjungnya tampak kurang bergairah menikmati membaca buku bacaan, sehingga sebagian besar hanya membaca koran (Kheng Sun, 2009). Citra perpustakaan sebagai jendela informasi bagi siapa saja rupanya masih belum membumi dan populis di kalangan masyarakat awam, khususnya masyarakat kelas bawah.

Pemerintah dalam upayanya memperbaiki pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan peningkatan penggunaan teknologi informasi dan fasilitas-fasilitas pembelajaran modern lainnya, menetapkan standar penilaian yang tinggi dalam UAN, tetapi melupakan esensi terpenting bagi siswa, yaitu kemampuan membaca dan berpikir kritis. Seperti yang dikatakan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Hakikat pendidikan adalah membaca.

Jika perpustakaan tidak berdampak positif kepada civitas akademika, yang notabene kehidupannya berhubungan erat dengan buku, maka akan lebih sulit lagi bagi perpustakaan untuk memiliki dampak positif bagi masyarakat luas (terutama yang tidak terdidik). Dan rasanya akan semakin sulit lagi bagi sebuah masyarakat suatu bangsa yang sedang berkembang untuk memiliki budaya membaca.

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk :

1.       Memperbaiki citra perpustakaan di masyarakat .

2.       Menggali potensi dan nilai tambah dari perpustakaan sehingga dapat dirasakan manfaatnya secara nyata dan lebih luas di kalangan masyarakat yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing lapisan masyarakat tersebut.

3.       Menghilangkan stigma bahwa perpustakaan hanyalah monopoli kaum intelektual dan kutu buku, sehingga masyarakat tak terdidik sekalipun bisa merasakan manfaat nyata dari hadirnya perpustakaan.

4.       Membangun kesadaran budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan terpelajar dan masyarakat awam.

Landasan Teori

Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu, untuk digunakan secara kontinyu oleh pemakainya sebagai sumber informasi
(Nurhadi, 1983). Lima unsur pokok dalam pengertian perpustakaan (Nurhadi, 1983) :

1.       Tempat mengumpulkan, menyimpan, dan memelihara koleksi bahan pustaka.

2.       Koleksi bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu.

3.       Untuk digunakan secara kontinyu oleh pemakainya.

4.       Sebagai sumber informasi.

5.       Merupakan suatu unit kerja.

Menurut IFLA (International Federation Library Association), ada bermacam-macam perpustakaan :

1.       Perpustakaan Umum

Perpustakaan yang diselenggarakan untuk masyarakat umum yang meliputi seluruh lapisan masyarakat dalam radius wilayah tertentu, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, kecerdasan, dan kemampuan masyarakat umum setempat dalam rangka meningkatkan taraf hidup mereka.

2.       Perpustakaan Sekolah

Semua perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah, dari tingkat dasar hingga lanjutan atas guna menunjang proses belajar-mengajar di sekolah.

3.       Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan yang diselenggarakan oleh lembaga Perguruan Tinggi untuk menunjang pelaksanaan Tri Dharma  Perguruan Tinggi.

4.       Perpustakaan Khusus (perpustakaan kedinasan)

Perpustakaan yang diselenggarakan oleh suatu lembaga khusus, misalnya : lembaga industri, lembaga perkantoran (departemen), lembaga penelitian, dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya.

5.       Perpustakaan Nasional

Perpustakaan yang diselenggarakan oleh negara pada tingkat nasional sebagai tempat untuk mendokumentasikan seluruh penerbitan yang dilakukan di negara yang bersangkutan.

Citra perpustakaan sebagai gudang buku masih melekat pada sebagian masyarakat kita, ditambah dengan kesan pustakawannya yang berperan hanya sebagai penjaga buku dan diperparah dengan tidak adanya program-program yang cerdas dan inovatif untuk menumbuhkan minat baca siswa informasi menurut Suherman (2009) adalah kemampuan seseorang dalam mencari, mengoleksi, mengevaluasi, atau menginterpretasikan, menggunakan, atau mengkomunikasikan informasi dari berbagai sumber secara efektif. Information literacy is a set of abilities requiring individuals to recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate, and use effectively the needed information [American Library Association dalam Presidential Committee on Information Literacy Final Report (Chicago : American Library Association, 1989)].

Masyarakat praliterasi adalah masyarakat yang hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses sumber informasi. Kalaupun mudah, mereka tidak bisa mencernanya dengan baik. Kendala utamanya adalah pendidikan.

Masyarakat  literasi mewakili masyarakat terdidik. Walaupun memiliki akses terhadap bacaan, tidak berarti tradisi baca tulis tambah subur di kalangan ini.

Masyarakat postliterasi mewakili segmentasi penduduk di kota-kota besar, terutama mereka yang memiliki akses pada teknologi informasi dan audio visual seperti internet, TV kabel, multimedia, sarana telekomunikasi bergerak, dan sebagainya (Adin 2006, dalam Suherman, 2009).

Pembahasan

Secara kultural, masalah minat baca inilah yang sesungguhnya menjadi sumber problematika bangsa. Minat baca berbanding lurus dengan kemajuan dan kemakmuran bangsa tersebut. Di Indonesia, masalah ini kurang mendapat perhatian, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Perpustakaan yang merupakan sebuah infrastruktur jantung pendidikan menjadi sangat terabaikan keadaannya (Suherman, 2009).

Masalah kurangnya minat baca di Indonesia bukan tanpa sebab, Suherman (2009) mengatakan bahwa kita melompat ke senang menonton televisi  tanpa melalui tahapan masyarakat yang gemar membaca. Dalam hal ini, ada benarnya tesis pemikiran Neil Postman yang mengatakan bahwa dunia hiburan dapat membangkrutkan budaya sebuah bangsa, terutama bangsa dengan tradisi membaca yang lemah. Kondisi itu diperburuk dengan semakin tidak pedulinya orang tua akan kegiatan membaca. Semakin banyak keluarga yang kedua orang tuanya sibuk bekerja sehingga mereka tidak lagi mempunyai cukup waktu dan energi untuk mendekatkan anaknya pada buku.

Rupanya membaca belum menjadi arus utama pembangunan di Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa buruknya kita menciptakan budaya membaca. Yang berkembang bukanlah reading society, melainkan chatting society. Kita mengalami sebuah lompatan budaya, yaitu melompat dari keadaan praliteratur ke masa pascaliterer, tanpa melalui masa literer (Suherman, 2009).

Kemampuan baca tulis bergantung pada sebuah budaya yang mendukung nilai-nilai membaca, informasi, dan pengetahuan yang ditularkan kepada masyarakat, budaya, dan dunia. Tidak mengagetkan bahwa kita melihat bukti menurunnya kemampuan memecahkan masalah dan pemikiran yang tinggi. Itu dikarenakan kita berpindah dari sebuah budaya baca ke budaya visual yang digital (Le Gault, 2006). Tentu saja dengan kurangnya membaca, kemampuan berpikir kritis sebagian masyarakat kita menjadi sangat kurang. Dalam bukunya yang berjudul Beyond Feelings : A Guide to Critical Thinking, Vincent Ryan Ruggiero (dalam Le Gault, 2006) mengatakan bahwa tiga aktivitas dasar yang terlibat dalam pemikiran kritis adalah menemukan bukti, memutuskan apa arti bukti itu, dan mencapai kesimpulan berdasarkan bukti.

Menurut Le Gault (2006), berpikir kritis adalah sebuah produk dari satu bagian otak manusia yang sangat berkembang, the cerebral cortex, bagian luar dari bagian otak manusia yang terluas, the cerebrum (otak depan). Berpikir kritis mengkombinasikan dan mengkoordinasikan semua aspek  kognitif oleh super computer biologis yang ada dalam kepala kita persepsi, emosi, intuisi, mode berpikir linear ataupun nonlinear, serta penalaran induktif maupun deduktif.

Beberapa manfaat dari membaca sebenarnya kurang lebih dapat dijelaskan sebagai berikut, seperti yang diungkapkan oleh Kheng Sun (2009) bahwa dengan membaca kita mendapatkan petunjuk-petunjuk penting dari orang yang kompeten di bidangnya. Pengetahuan yang kita peroleh dari membaca bisa berguna untuk mengatasi berbagai masalah, dan membaca juga bisa menjadi sumber hiburan. Le Gault (2006) mengatakan bahwa informasi atau pengetahuan yang kita dapat melalui membaca (atau mendengar) memungkinkan kita untuk membuat observasi sementara, yang akan meluruskan jalan kepada pemikiran lateral dan memperbaiki kemampuan memecahkan masalah, walaupun pengetahuan tertentu, belum tentu berhubungan langsung dengan masalah yang ada.

Sementara sebagian peneliti menemukan sedikit atau tidak ada hubungan sama sekali antara menonton televisi dengan kemampuan aksara, sebagian peneliti lain menemukan perbandingan terbalik antara banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi dengan kemampuan yang berhubungan dengan aksara. Sebagai contoh, sebuah studi yang dilakukan oleh The National Opinion Research Center (1947-1990) menemukan bahwa menonton televisi memperburuk kosakata, sedangkan membaca koran, memperbaikinya. Semakin banyak orang yang kehilangan kemampuan memahami dan mengikuti ide, argumen dengan alasan, dan informasi teknis yang disajikan dalam bentuk narasi tulisan. Menurut The National Institute for Literacy, hanya ada satu dari dua belas anak kulit putih berusia 17 tahun yang dapat membaca dan menyarikan informasi dari dalam teks bacaan khusus. Rasio aksara tersebut lebih rendah bagi para siswa keturunan Amerika Latin dan warga Afro-Amerika (Le Gault, 2006).

Jika ide, informasi, cerita, pengetahuan, dan fungsi kerja lebih sering disampaikan dan diteruskan oleh media visual dan digital, mengapa kita harus peduli pada membaca? Karena pada intinya, bahkan di dalam sebuah dunia yang semakin lama semakin bergantung kepada visual dan digital, kata-kata yang tertulis masih merupakan cara terbaik untuk menyebarkan dan mendapatkan pengetahuan teknis atau sosial yang mendalam mengenai dunia ini (Le Gault, 2006).

Donald A. Norman dalam bukunya yang berjudul Things That Make Us Smart, menulis : Salah satu kekuatan literatur serius adalah adanya kemungkinan bagi berbagai interpretasi alternatif. Pemahaman sang pembaca pada berbagai karakter dan isu-isu sosial yang ada sedang dibahas oleh penggambaran alternatif atas berbagai kemungkinan yang diungkapkan oleh penulis. Pembaca membutuhkan waktu untuk berhenti dan merefleksikan berbagai isu tadi, bertanya dan mengeksplorasi. Ini sangat sulit dilakukan ketika sedang menonton sebuah sandiwara, film, atau sebuah acara di televisi.

Bagi Kheng Sun (2009), membaca memberikan kepuasan yang jauh melebihi menonton televisi. Meskipun banyak cerita film diangkat dari kisah suatu novel, tetapi kepuasan membaca ceritanya di novel akan lebih nikmat daripada menonton filmnya. Hal ini karena membaca membuat imajinasi kita hidup,sedangkan menonton televisi praktis justru mematikan imajinasi. Menonton televisi kurang memuaskan karena selain banyak iklannya juga membuat si penonton menjadi pasif, sementara membaca membuat pikiran pembacanya aktif dan kepuasannya tidak terganggu oleh tayangan iklan. Dengan membaca, kita mengaktifkan pikiran sehingga apa yang kitabaca terkesan hidup dalam imajinasi. Kita pun akan jauh lebih mudah memahami cerita yang kita baca dari buku karena kita bisa secara mudah mengulangi bagian mana yang kurang kita pahami. Hal ini tidak memungkinkan jika kita menonton televisi.

Kegiatan membaca bukanlah semata-mata kegiatan menambah pengetahuan, melainkan juga suatu pengalaman yang melibatkan seluruh diri pembaca, baik aspek individualnya maupun aspek kolektifnya. Secara khusus, kegiatan membaca adalah kegiatan menyendiri. Orang yang membaca tidak berbicara, tidak berbuat apa-apa, memisahkan diri dari sesamanya, dan mengasingkan diri dari dunia yang mengelilinginya (Escarpit, 2008).

Bagi Escarpit (2008) usia merupakan faktor penting dalam ketersediaan kesempatan membaca. Pendidikan, pelatihan profesional, pencapaian suatu karier membuat remaja dan anak muda semakin kekurangan waktu untuk membaca buku yang fungsional. Waktu luang mereka diisi oleh banyak kegiatan hiburan, terutama olahraga. Walaupun demikian, anak muda membaca karena ia mempunyai motivasi kuat. Mereka adalah pembaca yang bersemangat dan haus akan pengetahuan. Namun, berdasarkan survey, mereka hanya membaca sedikit di luar studinya, dan lingkup bacaannya relatif sempit. Antara usia 30 dan 40 tahun, ketika tekanan hidup (eksistensi) menjadi berkurang, tampaknya mulailah awal usia membaca. Faktor-faktor yang berpengaruh pada ketersediaan waktu untuk membaca, antara lain kegiatan profesional, tempat tinggal, kondisi iklim, situasi keluarganya, dan sebagainya. Jika tersedia kondisi materi yang mendukung ruangan klub, perpustakaan di tempat istirahat membaca pada waktu istirahat kerja dapat dilakukan secara aktif dan menguntungkan.

Baru-baru ini di Jerman, seorang wanita bernama Nina Pauern berusaha membaca karya terbesar Karl Marx, Das Kapital, edisi 2008. Niat membaca buku yang luar biasa tebal itu dilatarbelakangi adanya krisis finansial yang diakibatkan oleh sistem ekonomi kapitalisme di seluruh belahan dunia, yang membuat Nina tertarik untuk membaca dan mempelajarinya yang merupakan alternatif dari atau tandingan dari kapitalisme. Di Hamburg, Jerman, banyak orang yang berkumpul mempelajari buku tersebut. Mereka tergabung dalam semacam sekolah sore untuk mempelajari karya-karya Marx. Perkumpulan semacam ini tersebar di  30 kota di Jerman. Setiap akhir pekan, Nina memutus hubungan telepon, komputer, dan kontak sosial. Koran pun ia biarkan begitu saja. Ketika di kafe, ia pun membaca buku tersebut. Hal semacam ini merupakan suatu bukti bahwa dalam suatu masyarakat yang minat bacanya tinggi, ketika muncul suatu isu-isu sosial, politik, ekonomi dalam kehidupan, mereka tidak segan untuk membaca buku guna mengetahui dan memahami isu-isu tersebut, sekalipun buku yang mereka baca diluar bidang kompetensi atau disiplin ilmunya.

Lain lagi dengan John Wood, seorang mantan eksekutif Microsoft yang rela meninggalkan karier cemerlangnya untuk membangun ribuan sekolah dan perpustakaan di seluruh pelosok dunia. Fakta yang ia temukan ketika ia sedang berlibur di Nepal adalah kondisi perpustakaan sekolah yang memprihatinkan dan tidak layak. Dimulai dengan jaringan sosial yang dia buat untuk menggalang dana dan sumbangan buku untuk perpustakaan sekolah di Nepal tersebut, membawanya ke sebuah panggilan hidup untuk membangun sebuah organisasi nirlaba yang misinya adalah membangun sekolah-sekolah dan perpustakaan-perpustakaan di tempat yang tertinggal. Hal ini berujung kepada konsekwensi pilihan karier yang harus dia pilih, tetap berkarier di Microsoft yang sangat menjanjikan atau memulai sebuah pekerjaan mulia yang penuh resiko dan tidak ada kepastian jaminan finansial di dalamnya. John pun memilih mengambil pilihan yang kedua. Berkat karyanya yang tak kenal lelah, organisasi nirlaba Room  To Read yang dijalankannya, telah membantu masa depan jutaan anak di hampir seluruh pelosok dunia dalam hal pendidikan. John meraih Academy for Educational Development Breakthrough Ideas in Education Award 2007. Semua ini berawal dari rasa cintanya terhadap buku dan perpustakaan.

Bagi bangsa Indonesia, tradisi membaca sesungguhnya memiliki legitimasi historis. Para tokoh pendiri Republik ini adalah sosok-sosok yang memiliki kegandrungan yang luar biasa terhadap buku, seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Soepomo, dan Agus Salim. Mereka besar bukan sekedar karena sejarah pergerakan politiknya, melainkan juga karena kualitas intelektualnya yang dibangun melalui kebiasaan membaca buku. Oleh karena itu, membangun budaya baca bukan sekedar menyediakan buku atau ruang baca, melainkan juga membangun pemikiran, perilaku, dan budaya dari generasi yang asing dengan buku menjadi generasi pencinta buku. Dan dari sanalah kreativitas dan transfer pengetahuan bisa berlangsung dan berkembang. Dapat dikatakan bahwa kunci utama untuk keluar dari kemiskinan dan menjadi bangsa yang makmur adalah dengan membangkitkan minat baca masyarakat. Kita tidak akan menemukan sebuah kenyataan di belahan bumi manapun ada orang berilmu dan luas pengetahuannya tapi hidupnya miskin, kecuali atas dasar pilihan hidup (Suherman, 2009).

Kesimpulan dan saran

Peran kunci perpustakaan sebagai media untuk mencerdaskan masyarakat di segala lini kehidupan, termasuk mereka yang tidak berpendidikan tinggi tidak diperhatikan pemerintah dan kalangan pendidik sebagai isu yang strategis dalam memecahkan persoalan-persoalan bangsa dan negara yang seringkali hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para pejabat negara tanpa menyentuh dan melibatkan masyarakat akar rumput (grass root). Padahal mereka inilah yang bersentuhan langsung dengan realitas sosial dan problematikanya dalam keseharian hidup mereka. Perpustakaan baru sebatas wadah bagi para penggila buku, dan itu pun hanya sekedar aktivitas pribadi tanpa ada diskusi-diskusi kelompok yang membahas masalah riil di masyarakat.

Sudah saatnya perpustakaan bukan lagi sekedar wadah steril yang dipermak dengan fasilitas-fasilitas penunjang yang lengkap, pelayanan yang memuaskan, dan koleksi-koleksi buku yang lengkap (walaupun itu semua mutlak perlu dalam standar sebuah perpustakaan yang ideal dan layak!),namun lebih dari itu perpustakaan dapat berfungsi sebagai wadah interaksi bagi komunitas basis dari segala tingkatan atau golongan masyarakat. Perpustakaan selain sebagai wadah pengetahuan sekaligus sebagai penerapan atau aplikasi dari pengetahuan itu dalam bentuk hal-hal yang konkret yang berguna bagi masyarakat melalui program-program perpustakaan yang berkualitas. Perpustakaan sebagai pusat koordinasi bagi gerakan-gerakan sosial baru yang lebih proaktif (daripada sekedar reaktif) melalui wacana pengetahuannya, yang dapat digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Perpustakaan seharusnya menjadi suatu wadah yang dinamis, yang disamping berlangsungnya kegiatan membaca juga ditindaklanjuti dengan program-program seperti diskusi, seminar, dan sebagainya dalam memecahkan masalah-masalah politik, ekonomi, lingkungan, budaya, sosial, agama, dan lain-lain. Oleh karena itu, perlu difasilitasi pemerintah dan kalangan masyarakat, serta perlu adanya propaganda dari pemerintah melalui iklan di media cetak maupun elektronik.

Perpustakaan di desa atau perkotaan diharapkan mampu memfasilitasi kepentingan warganya dalam hidup bermasyarakat serta dalam menangani permasalahan sosial yang ada di dalamnya. Di level nasional, peran perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan koordinasi akan menggalang kekuatan yang besar dari masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam menangani masalah-masalah kebangsaan dan negara.

Ketika perpustakaan mulai dirasa sebagai salah satu wadah atau media yang efektif dalam menangani permasalahan-permasalahan sosial di masyarakat dan tidak hanya sebagai tempat untuk memuaskan hasrat pribadi untuk membaca, maka perpustakaan akan mendapat tempat di hati masyarakat dari semua kalangan dan tingkat pendidikan. Dan niscaya akan terbentuk sebuah budaya berpikir kritis dalam suatu masyarakat yang gemar membaca dan mencintai perpustakaan. Semoga.

Daftar Pustaka

Escarpit, Robert, 2008 : Sosiologi Sastra, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Le GAult, Michael R., 2006 : Think, Jakarta : Transmedia.

Nurhadi, Muljani A., 1983 : Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya di Indonesia, Yogyakarta : Andi Offset.

Sindhunata, 2009 : Majalah BASIS No.05-06, Tahun ke 58, Mei-Juni 2009.

Suherman, 2009 : Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah, Bandung : MQS Publishing.

Sun, Kheng, 2009 : Majalah BAHANA, Edisi Agustus 2009 vol.220.

Wood, John, 2009 : Room to Read, Bandung : Bentang.

Penulis: Junius Wijaya Heryanto

Solo

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 2 = three

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose