Home / Artikel Perpustakaan / Membangun Masyarakat Cinta Perpustakaan Menggugah Semangat Membangun Masyarakat Melalui Pendayagunaan Perpustakaan dengan Sistem Marketing Proaktif

Membangun Masyarakat Cinta Perpustakaan Menggugah Semangat Membangun Masyarakat Melalui Pendayagunaan Perpustakaan dengan Sistem Marketing Proaktif

Berbanding terbalik dengan aneka ragam kekayaan alam dan potensi sumber daya manusia yang dimiliki oleh Indonesia, hingga 64 tahun setelah meraih kemerdekaannya negara ini belum mampu membawa rakyatnya menuju titik kesejahteraan yang menyeluruh. Salah satu penyebab dari kegagalan ini adalah kurangnya semangat rakyat Indonesia untuk terus maju menyongsong berbagai tantangan zaman dengan cara memanfaatkan dan menciptakan teknologi modern untuk membantu usaha mereka membangun negeri. Dari 250 juta jumlah rakyat Indonesia, mungkin hanya ada beberapa gelintir yang melek pendidikan dan teknologi. Sedangkan sisanya terus merasa nyaman berada dalam zona statis tanpa merasa perlu memiliki semangat dan memulai usaha untuk mengembangkan diri dengan ilmu pengetahuan.

Bila ditilik lebih jauh, sumber dari kestatisan ini adalah kurangnya minat masyarakat untuk mengakses informasi terbaru yang menunjang pembangunan dengan cara membaca. Hasil penelitian UNDP menyebutkan bahwa Indonesia menempati posisi ke 96, jauh di bawah Malaysia dan Singapura dalam hal minat baca. Terdapat beberapa faktor yang menjadi akar masalah dari kurangnya minat untuk mengembangkan pengetahuan diri dengan membaca ini. Pertama adalah sejarah historis dan kultural bangsa ini yang lebih mengutamakan budaya bertutur daripada membaca melalui kebiasaan mendongeng dan bercerita. Kedua adalah kurang efektifnya kurikulum pendidikan dalam mendorong tumbuhnya minat baca siswa. Ketiga adalah gempuran hiburan yang bersifat audio visual seperti televisi dan game-game terbaru yang dianggap lebih menarik dan mudah dicerna oleh sebagian besar masyarakat. Keempat adalah tidak adanya lingkungan yang mendukung dan mendorong minat baca bagi seseorang. Yang terakhir adalah kurangnya sarana dan prasarana yang dapat mendorong masyarakat untuk gemar membaca. Yang termasuk ke dalam sarana dan prasarana ini adalah ketersediaan buku dan penyebarannya dalam masyarakat dan juga adanya institusi penampung buku-buku tersebut yakni perpustakaan.

Sudah diketahui secara jamak bahwa penyebaran perpustakaan tidak merata antara daerah satu dengan lainnya. Terdapat kesenjangan cukup tinggi antara daerah perkotaan dan pedesaan dalam hal jumlah perpustakaan dan pemanfaatannya. Selain itu pandangan yang beredar luas selama ini, perpustakaan adalah tempat kongkow-kongkow eklusif bagi para akademisi berkacamata tebal. Sedangkan, masyarakat awam yang tidak berkaitan dengan dunia pendidikan tidak berhak dan tidak berkepentingan untuk berada disana.

Keyataan memang berbicara demikian, selama ini yang membuat kehidupan perpustakaan tetap berdenyut sebagian besar adalah para mahasiswa yang berpusing-pusing mengumpulkan bahan untuk skripsi serta makalah dan para dosen yang mencari bahan ajar. Bahkan di perpustakaan umum yang sejatinya dibangun untuk seluruh lapisan masyarakat, hanya dipadati siswa dan mahasiswa. Beruntung bila masih ada yang memadati, karena bila di kota tersebut tidak terdapat universitas, praktis perpustakaan umum kosong melompong. Bilapun ada masyarakat yang datang, sebagian besar adalah remaja-remaja tanggung yang hanya tertarik membaca komik atau bacaan-bacaan ringan pembunuh waktu lain. Pendeknya, masyarakat Indonesia belum bisa mendayagunakan perpustakaan dengan baik.

Perpustakaan selain dimonopoli oleh akademisi, juga dipandang sebagai gedung suwung yang dipenuhi oleh buku-buku berdebu yang sudah menguning dan bahkan hampir lumutan. Berdasarkan stigma negatif tentang perpustakaan yang terus tumbuh dan berkembang sehingga seolah membentengi perpustakaan dengan masyarakat pengguna, penulis bertujuan untuk mencari pokok permasalahan dan alasan yang dapat menjelaskan mengapa fenomena tersebut terjadi. Selanjutnya, berdasarkan faktor-faktor negatif tersebut penulis akan mencoba menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan mengenai lesunya minat baca dan lemahnya inisiatif masyarakat untuk mengunjungi dan mendayagunakan perpustakaan. Efek paralel yang diharapkan tumbuh dari solusi yang ditawarkan adalah tumbuhnya masyarakat cinta perpustakaan yang aktif, kreatif, inovatif, tangguh dan siap menghadapi berbagai tantanngan zaman.

Terdapat beberapa pokok permasalahan mendasar yang menyebabkan adanya benteng penghalang antara perpustakaan dan masyarakat pengguna sehingga perpustakaan tidak dapat memaksimalkan fungsinya sebagai sumber

informasi dan badan nirlaba yang bertujuan melayani masyarakat. Faktor utamanya adalah kurang memuaskannya faktor pelayanan perpustakaan. Hal tersebut meliputi pustakawan, koleksi buku-buku perpustakaan, dan juga kenyamanan tata letak dan gedung perpustakaan. Selama ini salah satu momok yang menyebabkan masyarakat enggan berkunjung ke perpustakaan adalah karena tampang mengerikan para pustakawan yang seolah mirip monster bertaring dengan wajah penuh kerutan saat memberikan pelayanan kepada pengunjung. Mudah dipahami, situasi perpustakaan yang sunyi, suram, dan membosankan memberikan tekanan psikologis yang lumayan berat bagi penghuni tetapnya. Ketidaknyamanan tata letak dan penataan ruangan, dan juga gedung perpustakaan yang biasanya terkesan tua dan suram menambah keengganan masyarakat untuk sekadar bertandang ke perpustakaan.

Selain itu, seringkali perpustakaan kurang mengikuti tren informasi dan buku-buku terbaru yang terus bermunculan. Koleksi kebanyakan perpustakaan Indonesia adalah buku-buku tua berdebu dan menguning yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Perpustakaan terkesan lambat dalam merespon perkembangan informasi yang berubah setiap menit. Akibatnya, masyarakat yang tak mau tertinggal informasi cenderung lebih memilih media dan tempat lain untuk mendapatkan informasi, seperti melalui internet, televisi, dan toko buku.

Faktor kedua adalah tidak adanya usaha untuk mendorong masyarakat mengunjungi perpustakaan. Gedung perpustakaan yang sudah dibangun megah di tengah kota, misalnya, hanya bisa berdiri angkuh dan berdiam diri menunggu orang mendatanginya. Padahal, banyak orang, terutama lapisan masyarakat pedesaan yang tak dapat menjangkau lokasi perpustakaan umum atau bahkan tidak mengetahui keberadaannya. Praktis, stigma perpustakaan sebagai tempat ekslusif bagi para akademisi dan manusia modern yang seperti berada di dunia lain yang sulit dijangkau bagi masyarakat pedesaan dan kelas bawah terus tumbuh subur.

Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah keringnya sumber pendanaan perpustakaan yang mendukung agar kegiatan operasional tetap berjalan dan dapur tetap mengepul. Sebagaimana telah diketahui secara luas, biarpun berkeinginan banyak dan berinisiatif tinggi untuk membangun negeri, pemerintah Indonesia tergolong cekak dana. Hal ini juga berarti bahwa perpustakaan tidak bisa melulu bergantung pada pemerintah yang, karena terpaksa, tak jarang melakukan praktek kanibalisme dengan cara menyunat dana satu departemen demi kelangsungan departemen lainnya. Walhasil, perpustakaan seringkali harus puasa senin kamis bila hanya memilki satu sumber logistik.

Selain itu, faktor eksternal yang juga menghambat kemajuan perpustakaan sebagai pusat informasi yang diminati dan berdayaguna tinggi adalah rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk membaca. Mak Ijah yang bekerja sebagai buruh tani dan Pak Sunyoto yang jadi mandor perusahaan rokok, atau ratusan ribu Mak Ijah dan Pak Sunyoto lain pasti merasa tak perlu membaca untuk dapat mengenyangkan perut mereka. Pandangan masyarakat luas selama ini memang menyatakan bahwa untuk dapat mengepulkan periuk nasi tak perlu sekolah tinggi-tinggi atau membaca terus-terusan hingga kacamata yang sudah tebal makin menebal saja. Ironisnya bukti yang mendukung pendapat ini memang berserakan dimana-mana. Para sarjana bertoga banyak yang kerjanya hanya bisa mengajukan lamaran dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Jika tak dapat kerja juga, mereka akhirnya banting setir jadi supir atau petugas parkir; pekerjaan yang bahkan bisa dilakukan orang tak berijasah SD.

Berdasarkan berbagai faktor yang menjadi akar pokok permasalahan terciptanya jurang antara perpustakaan dan masyarakat sehingga kemajuan perpustakaan dalam mendayagunakan fungsinya terhambat, dapat ditarik kesimpulan bahwa diperlukan adanya perombakan anatomi perpustakaan dari dalam. Seperti halnya sebuah perusahaan yang hampir bangkrut karena jualannya tak laku, perpustakaan memerlukan image baru sebagai sebuah instasi nirlaba yang dapat menyediakan pelayanan maksimal sebagaimana yang dilakukan oleh instasi yang berorientasi pada laba. Untuk itu, diperlukan sebuah pisau bedah dan alat make-over yang diaplikasikan oleh kebanyakan instasi yang berorientasi laba yaitu teori pemasaran.

Mungkin agak terdengar aneh, karena perpustakaan yang sejatinya bertujuan untuk melayani masyarakat diperlakukan layaknya barang jualan. Namun situasi memang mengharuskan hal tersebut terjadi. Kalau tidak, selamanya perpustakaan akan lemah dan lesu darah lalu mati karena kalah dalam persaingan dengan institusi lainnya.

Langkah pertama yang harus segera diambil untuk menghapus pembatas antara perpustakaan dan masyarakat adalah mengubah pewajahan dan image perpustakaan agar sesuai dengan keinginan masyarakat. Intinya adalah memuaskan pengunjung dengan pelayanan yang maksimal. Hal ini dapat dilakukan dengan terlebih dulu melakukan riset pemasaran untuk memetakan keinginan seluruh masyarakat luas mengenai sebuah perpustakaan yang ideal bagi mereka.

Selanjutnya adalah membuat program berdasarkan riset yang sudah dilakukan. Mungkin saja nanti masyarakat akan meminta agar pustakawan memiliki tampang secantik atau setampan artis papan atas. Memang hal tersebut tidak mungkin direalisasikan, namun paling tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa para pustakawan harus menanggalkan topeng monster dan taring mereka saat melayani pengunjung dan menggantinya dengan senyuman ramah yang membuat siapapun merasa nyaman. Suasana sunyi perpustakaan yang membosankan, misalnya, bisa diatasi dengan memutarkan musik-musik pengantar yang lembut dan membuat semua orang merasa lebih relaks sebagaimana yang biasa diterapkan di toko buku. Selain itu, penataan ruangan dan buku-buku perpustakaan juga harus menunjang kemudahan pengunjung dalam menemukannya dan membuat mereka betah berlama-lama berada di perpustakaan. Untuk mengatasi kelambatan perpustakaan dalam mendapatkan buku-buku yang diburu para pengunjung dan mengejar arus informasi yang makin deras, perpustakaan bisa mengadakan angket berkala yang dapat mendata kebutuhan pengunjung atau mencari informasi di internet mengenai buku terbaru. Sedangkan untuk mengembangkan system perpustakaan agar tidak ketinggalan zaman, para pustakawan harus cerdas mengembangkan diri dengan berbagai informasi teknologi terbaru yang relevan dengan kemajuan perpustakaan. Hal yang paling efektif untuk diterapkan, misalnya adalah dengan digitalisasi koleksi perpustakaan.

Setelah proses perbaikan anatomi dan pewajahan perpustakaan dilakukan, langkah selanjutnya adalah promosi dan distribusi. Layaknya produk-produk yang dihasilkan oleh institusi pencari laba, perpustakaan juga dapat menggunakan jasa iklan di berbagai media dalam rangka mempromosikan perpustakaan agar menjadi primadona baru sebagai tempat rekreasi gratis bagi masyarakat, misalnya. Karena perbaikan pewajahan dan anatomi perpustakaan dari dalam tak akan ada gunanya jika masyarakat luas tak mengetahuinya.

Sedangkan distribusi ditujukan untuk menjangkau masyarakat yang selama ini belum tersentuh oleh perpustakaan, yaitu masyarakat pedesaan dan masyarakat kelas bawah. Untuk melaksanakan hal tersebut langkah yang harus ditempuh adalah melalui jasa sales promosi perpustakaan keliling. Namun agar langkah ini tidak sia-sia, perpustakaan perlu bekerjasama dengan pemerintah daerah dan kepala desa agar menggerakkan warganya untuk meluangkan sedikit waktunya untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang diadakan perpustakaan keliling.

Contoh kegiatan yang memungkinkan adalah dengan mendistribusikan buku-buku yang sesuai dengan potensi daerah untuk menunjang pembangunan dan menggalakkan program 20 menit membaca setiap harinya bagi semua warga di kelurahan. Lalu warga diminta mendiskusikan isi bacaan yang sekiranya dapat menghasilkan suatu langkah nyata bagi kemajuan desa mereka. Untuk menjaga kelangsungan kegiatan ini, perlu dibentuk organisasi yang dapat menjaga kegiatan ini agar tetap berjalan efektif. Sedangkan para pustakawan yang diterjunkan di lapangan memfungsikan dirinya sebagai pengarah dan pembina masyarakat baca. Selain itu, perpustakaan sebisa mungkin juga harus membangkitkan unit-unit perpustakaan yang ada si sekolah-sekolah di pelosok Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan berbagai perlombaan yang mendorong siswa agar mau mendayagunakan perpustakaan sekolahnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, perpustakaan pusat dapat membantu unit perpustakaan sekolah dengan menghibahi buku-buku yang relevan bagi siswa sekolah. Pendeknya, untuk meraih pengunjung dan menciptakan masyarakat yang cinta perpustakaan, perpustakaan tak bisa tinggal diam dan menunggu masyarakat untuk datang. Sistem pro-aktif dengan cara menjemput bola diharapkan dapat mewujudkan masyarakat yang cinta perpustakaan, kreatif, inovatif, dan melek ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam rangka melaksanakan langkah-langkah tersebut di atas pasti diperlukan dana yang tidak sedikit. Sebagaimana dikemukakan di atas, sangat mustahil bagi perpustakaan untuk seratus persen bergantung pada pemerintah. Untuk itu perpustakaan perlu mengembangkan relasi dengan berbagai institusi yang dapat mengucurkan dana demi kelangsungan program perpustakaan. Sebagai sebuah lembaga nirlaba memang cukup sulit bagi perpustakaan untuk mendapatkan donor segar dari investor. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan cara meminjam dana untuk dijadikan modal usaha yang dikelola perpustakaan.

Tentu saja perpustakaan harus memiliki sumber daya yang mumpuni dan terpercaya untuk mengelola usaha pencari darah segar bagi perpustakaan ini. Aneka usaha yang patut dicoba oleh perpustakaan pusat adalah usaha penerbitan dan percetakan, internet, maupun toko buku dan peralatan sekolah. Memang tidak menutup kemungkinan ada usaha selain yang dicontohkan di atas selama usaha tersebut dapat menghasilkan dana.

Selain bantuan dari investor ataupun institusi perbankan, perpustakaan dapat mengajak serta pengunjung setianya untuk membantu kelangsungan perpustakaan sesuai dengan kemampuan mereka. Misalnya dengan menyumbang buku-buku untuk menambah koleksi perpustakaan. Beruntung bila ada pengunjung yang mau menanamkan dana segar bagi perpustakaan. Kunci dari langkah berani ini adalah kemampuan perpustakaan tersebut sendiri sebagai sebuah entitas yang terdiri dari berbagai elemen pegawai yang penuh dedikasi dan profesional untuk menjalin relasi dengan berbagai kalangan atas dasar kepercayaan dan mengembangkan usaha yang dirintis perpustakaan dengan tujuan utama membantu perpustakaan agar dapat mendayagunakan fungsinya sebagai penyokong kemajuan bangsa.

Untuk menjawab persoalan mengenai rendahnya minat membaca masyarakat, sebagaimana telah dikemukakan di atas, perpustakaan perlu bergerak menjangkau seluruh pelosok Indonesia dan membentuk komunitas baca yang harus terus dipantau kegiatannya. Namun, karena selama ini masyarakat cenderung selalu mempertanyakan efektivitas membaca dan korelasinya dengan langkah riil dalam memajukan pembangunan di segala bidang, perpustakaan perlu bekerjasama dengan departemen lain untuk membina masyarakat baca yang tidak hanya melek ilmu pengetahuan dan teknologi, namun juga tanggap dan siap berbuat sesuatu demi kemajuan bangsa. Contoh nyata adalah dengan memberikan buku-buku yang berkaitan dengan teknik mesin dan otomotif bagi para pemuda di bengkel desa. Dengan membaca pengetahuan yang berkaitan dengan dunia mereka, diharapkan (dan memang harus didorong), para pemuda tersebut akan dapat memperbaiki layanan mereka pada pelanggan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, mereka akan menjadi ahli teknisi andal.

Yang perlu digarisbawahi adalah, untuk terus dapat bertahan dan maju di tengah gempuran badai globalisasi yang serba cepat dan dinamis, Indonesia dan

segenap elemen masyarakat harus pandai-pandai mengembangkan diri dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mereka tumbuh menjadi masyarakat yang kreatif, inofatif, dinamis, tangguh, dan siap meghadapi berbagai tantangan zaman. Salah satu cara untuk dapat mewujudkan hal tersebut adalah dengan membangun masyarakat yang mampu mendayagunakan institusi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi yang memang didirikan untuk melayani masyarakat, yaitu perpustakaan. Namun berhubung selama ini terdapat jurang pembatas yang cukup dalam antara perpustakaan dan masyarakat, diperlukan adanya suatu usaha untuk meraih simpati masyarakat sehingga perpustakaan dapat mendayagunakan fungsinya dan masyarakat merasakan manfaatnya. Langkah paling tepat untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menerapkan teori pemasaran yang meliputi a) pewajahan dan pembentukan image perpustakaan dengan cara memperbaiki pelayanan perpustakaan , b) promosi, dengan cara mengiklankan perpustakaan melalui berbagai media, c) distribusi yang bertujuan untuk menjangkau kalangan yang selama ini sulit terjangkau dengan teknik pro-aktif dan menjemput bola d) mengatasi pendanaan dengan membuka aneka usaha yang relevan dengan perpustakaan dan menjalin relasi dengan berbagai institusi dalam rangka mencari donor dan dana pinjaman sebagai modal awal, dan e) mengatasi rendahnya minat membaca masyarakat dengan membentuk komunitas membaca di pelosok-pelosok, mengefektifkan unit-unit perpustakaan sekolah dan menjalin bantuan dengan departemen lain untuk merealisasikan dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata.

Referensi

¢ Daryono. Pengembangan Minat Baca Masyarakat. (Online), (http://daryono.staff.uns.ac.id/diakses 14 Agustus 2009).

¢ Anonim. Pendidikan Indonesia Turunkan Minat Baca. (Online), (http://antaranews.com/ diakses 14 Agustus 2009)

¢ Supriyanto, Wahyu. Digitalisasi Koleksi Perpustakaan Prospek dan Kendala. (Online), (http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/pusta/wahyus.pdf./diakses Agustus 2009)

Penulis: Ana Zahida

: Jl Sumbersari Gg VII No 34 A, Malang

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


6 + seven =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose