Home / Artikel Perpustakaan / Membangun Masyarakat Mencintai Perpustakaan

Membangun Masyarakat Mencintai Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi dan masyarakat yang membutuhkan informasi ibarat dua sisi mata uang yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Hal itu dapat terwujud manakala perpustakaan sudah siap melayani dengan sumber informasi yang memadai. Sementara itu masyarakat mampu dan mau memahami, menghayati serta memaknai pentingnya informasi dalam kesehariannya.

Dalam kehidupan yang serba modern dan serba cepat dewasa ini semua orang membutuhkan informasi  sebagai sesuatu yang sangat penting dan strategis. Tanpa ketersediaan dan kemudahan akses informasi yang dibutuhkan masyarakat tentunya akan mengalami kesulitan. Seandainya kita ketinggalan atau mendapat kesulitan untuk mendapatkan akses informasi yang sangat penting, maka dapat menyebabkan munculnya permasalahan tersendiri. Dalam hal-hal tertentu masyarakat menjadi tersisih dan terbelakang dibandingkan kelompok-kelompok yang dengan mudah mendapat akses informasi. Disinilah peranan perpustakaan sangat besar sebagai media dan pusat informasi serta sumber ilmu pengetahuan. Keterbukaan dan kemudahan dalam memperoleh informasi selain melalui buku, majalah, surat kabar, film, video, jaringan internet dan komputer termasuk aplikasi teknologi informasi dan teknologi telekomunikasi, maka kendala jarak dan waktu sudah dapat teratasi. Melalui tenaga-tenaga yang profesional perpustakaan diharapkan dapat memberikan bimbingan bagi pemakai perpustakaan untuk melangkah ke masa depan.

Namun kita juga menyadari bahwa sebagian masyarakat yang lain belum mendapatkan fasilitas dan layanan perpustakaan sebagaimana mestinya. Hal ini merupakan tantangan bagi semua pihak untuk segera membenahi dan mengembangkan perpustakaan agar dapat memenuhi tugas dan fungsinya sebagai salah satu pusat informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa. Pada saat tingkat kecerdasan sebagian masyarakat sudah meningkat, maka akan menjadi modal penunjang dalam mencapai kesejahteraan umum.

PERMASALAHAN

Mengapa masyarakat masih kurang dalam  memanfaatkan perpustakaan?

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Adanya jarak/celah antara perpustakaan dan masyarakat.
  2. Keterbatasan akses informasi dan komunikasi.
  3. Respon dan perhatian masyarakat yang relatif rendah.
  4. Persepsi masyarakat tentang perpustakaan yang kurang tepat.
  5. Minat masyarakat terhadap perpustakaan relatif rendah.
  6. Tingkat kesibukan/waktu yang terbatas.
  7. Kondisi, persebaran, jangkauan layanan perpustakaan.
  8. Budaya masyarakat yang masih rendah akibat dari kurang tersedianya bahan pustaka yang memadai.
  9. Perpustakaan yang masih dipandang sebelah mata bagi masyarakat sehingga menjadi tantangan bagi perpustakaan untuk meningkatkan kwalitas layanannya.

TUJUAN

Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penulisan karya ilmiah ini adalah:

  1. Meningkatnya minat baca masyarakat.
  2. Meningkatnya kwalitas layanan perpustakaan sehingga masyarakat akan mencintai perpustakaan.

LANDASAN TEORI

Untuk mendukung karya ilmiah ini diperlukan landasan teori yang kuat. Dibawah ini penulis mengemukakan beberapa teori yang digunakan dalam mendukung proses penulisan karya ilmiah ini

1.  Membangun

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:102) membangun berarti bangkit berdiri.

2.  Masyarakat

Istilah masyarakat dalam pengertian yang seluas-luasnya adalah sejumlah manusia dalam arti yang seluas-luasnya dan terikat oleh sebuah kebudayaan yang mereka anggap sama (Kamus Besar  Bahasa Indonesia, 2005:721).

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (2007:4) yang dimaksud dengan masyarakat adalah setiap orang, kelompok orang, atau lembaga yang berdomisili pada suatu wilayah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang perpustakaan. Didalam Undang-Undang tersebut juga dijelaskan pada BAB II  tentang Hak, Kewajiban dan Kewenangan (Pasal 5 ayat 2) yakni masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. Layanan perpustakaan secara khusus yang dimaksud di atas salah satunya adalah layanan perpustakaan keliling.

3.  Mencintai

Istilah mencintai berasal dari kata dasar cinta yang diberi awalan me- dan akhiran - i. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:214-215) istilah cinta mengandung makna suka sekali; sayang sekali. Sedangkan mencintai berarti menaruh kasih sayang kepada; menyukai.

4.  Perpustakaan

Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan (2008:2).

PEMBAHASAN

Dari beberapa permasalahan yang muncul akan menjadikan ancaman dan tantangan bagi perpustakaan yang juga dapat dikatakan sebagai kelemahan eksternal perpustakaan yaitu hambatan dan kesulitan yang berada di luar perpustakaan. Adapun ancaman atau tantangan eksternal itu meliputi:

1.  Adanya jarak/celah antara perpustakaan dan masyarakat

Pada dasarnya keberadaan perpustakaan dan masyarakat adalah saling melengkapi. Akan tetapi antara keduanya seolah-olah berjalan sendiri-sendiri. Artinya penyelenggara perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi dan pusat sumber belajar belum menyentuh kebutuhan masyarakat. Sebaliknya masyarakat mungkin saja belum mengetahui, memahami dan menyadari apa arti dan kegunaan perpustakaan. Keadaan yang demikian tidak boleh berlangsung terus, karena tidak menguntungkan semua pihak, perpustakaan dan masyarakat. Oleh karena itu harus diupayakan terciptanya jembatan yang menghubungkan dan menghilangkan jarak tersebut, sehingga timbul suatu sinerji dan kesamaan pandangan serta kepentingan antara keduanya. Jembatan tersebut adalah suatu pengertian, pemahaman, persamaan persepsi, dan pemaknaan dalam masyarakat tentang pentingnya perpustakaan sebagai pusat informasi, sumber belajar, tempat menghimpun, memelihara dan melestarikan khasanah budaya bangsa yang sarat dengan nilai-nilai filosofis, historis, dokumentatif, ilmiah, rekreatif, dan konstruktif.

2. Keterbatasan akses informasi dan komunikasi

Informasi dan bentuk komunikasi antara perpustakaan dan masyarakat perlu dibangun hubungan yang baik, yakni hubungan yang saling membutuhkan, saling menginginkan, dan saling mengisi. Pada satu sisi perpustakaan menghendaki untuk dimanfaatkan oleh masyarakat dengan berbagai layanan dan fasilitasnya. Sementara pada sisi yang lain masyarakat membutuhkan informasi dan ilmu pengetahuan yang ada di perpustakaan guna menambah pengetahuan, wawasan, pengalaman dan keterampilan.

Untuk mengembangkan informasi dan komunikasi tersebut perlu dilakukan beberapa upaya antara lain: pemasyarakatan/sosialisasi, melalui media cetak dan elektronik, mengadakan berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat, dan mengadakan penelitian mengenai kebutuhan konsumen/pelanggan perpustakaan. Pada akhirnya komunikasi dan informasi yang efektif akan membuka dan memperlebar akses antara perpustakaan dan masyarakat.

3. Respon dan perhatian masyarakat yang relatif rendah

Respon dan perhatian masyarakat terhadap perpustakaan yang relatif rendah bisa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: ketidaktahuan atau kekurangtahuan masyarakat dimana letak/lokasi perpustakan, apa kegunaan perpustakaan, siapa saja yang boleh ke perpustakaan, bagaimana cara menjadi anggota perpustakaan, bahan pustaka apa saja yang ada di perpustakaan, dan sebagainya. Untuk mengembangkan respon dan perhatian masyarakat perlu dilakukan pendekatan, antara lain pendekatan sosial, yakni upaya yang dilakukan perpustakaan agar masyarakat memahami tentang pentingnya menambah wawasan dan pengetahuan yang dibutuhkan sehari-hari yang bisa ditemukan di perpustakaan. Kemudian pendekatan kultural, maksudnya adalah bahwa  pada umumnya masyarakat kita masih memiliki  budaya lisan atau budaya tutur yang kuat dan melekat di dalam adat kebiasaan mereka. Budaya lisan itu secara sedikit demi sedikit perlu diubah dengan mengembangkan budaya tulisan yaitu membiasakan diri dengan membaca bacaan yang bermanfaat.

4. Persepsi masyarakat tentang perpustakaan yang kurang tepat

Masyarakat kita terdiri dari beberapa kelompok, strata sosial, tingkat pendidikan, etnis, suku, kebudayaan, agama dan kepercayaan, adat istiadat dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, sikap, pandangan, cara berpikir dan wawasan, serta persepsi terhadap sesuatu juga berbeda. Seperti disebutkan di atas bahwa keterbatasan akses informasi, komunikasi dan respon terhadap perpustakaan tida sama, maka akibatnya persepsi terhadap perpustakaan sering tidak sama. Sebagai contoh, perpustakaan hanya untuk kalangan tertentu, masuk perpustakaan harus membayar dan petugas layanan kurang ramah/supel dalam melayani pengunjung. Hal seperti itu harus dihilangkan, dan perlu diciptakan/dikembangkan citra dan persepsi yang benar tentang perpustakaan bagi semua anggota masyarakat.

5.  Minat masyarakat terhadap perpustakaan relatif rendah

Besar kecilnya minat masyarakat terhadap perpustakaan dapat diketahui dengan melakukan penelitian. Penelitian ini pernah dilakukan oleh Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat. Hasilnya antara lain menyatakan bahwa: (1) bagi sebagian anggota masyarakat yang telah terbiasa dan  dan memahami manfaat perpustakaan, maka minatnya cukup besar,                 (2) kurangnya minat tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi dan akses terhadap perpustakaan, (3) kinerja perpustakaan, termasuk di dalamnya jumlah koleksi, system layanan, dan pemasyarakatan perlu ditingkatkan, (4) diperlukan pendekatan antara perpustakaan dan masyarakat, (5) masih perlu perhatian dan komitmen penyelenggara/pengelola perpustakaan untuk memberikan layanan yang lebih baik perpustakaan melayani, bukan untuk dilayani.

6.  Tingkat kesibukan/waktu yang terbatas.

Ditinjau dari segi komunitas tempat tinggal, secara garis besar masyarakat kita terbagi dua, yaitu masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan. Pada umumnya masyarakat kota sudah lebih mengenal dan mengetahui serta memanfaatkan perpustakaan. Namun jika dikaitkan dengan kesibukannya sehari-hari dan terbatasnya waktu untuk berkunjung ke perpustakaan, masyarakat tersebut belum maksimal dapat menikmati layanan perpustakaan. Untuk mengatasi kendala tersebut, maka sebaiknya perpustakaan membuka jam layanan yang lebih panjang, misalnya dari pagi sampai malam hari, atau membuka layanan pada hari-hari libur. Tentu dengan konsekuensi perlu dana, tenaga dan lain sebagainya. Sebab tugas pokok perpustakaan adalah melayani masyarakat, sehingga perlu menyesuaikan diri dengan masyarakat, jika benar-benar ingin  memberikan layanan yang terbaik.

Upaya tersebut sekaligus merupakan upaya untuk mengatasi, menjembatani, dan memenuhi kebutuhan, ataupun menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat sehingga  akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

7.  Kondisi, persebaran, jangkauan layanan perpustakaan.

Pada dasarnya semua orang menginginkan layanan perpustakaan, tetapi hal itu belum dapat diwujudkan dengan baik. Ada beberapa hal yang ikut mempengaruhi kinerja perpustakaan. Pertama, keberadaan perpustakaan belum mendapatkan perhatian sepenuhnya masyarakat. Anggota-anggota masyarakat masih banyak yang belum mengenal secara dekat, memahami dan memanfaatkan perpustakaan. Kedua, Kondisi dan kinerja yang belum optimal sehingga belum mampu memberikan layanan yang terbaik. Ketiga, tingkat persebaran belum merata dan jumlahnya belum sebanding dengan jumlah penduduk di penjuru wilayah. Keempat, jangkauan layanan juga masih sangat terbatas. Beberapa kondisi tersebut ikut melengkapi dan memperlebar jarak dan menciptakan kesenjangan informasi pada perpustakaan dan masyarakat.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan:

  1. Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang mempunyai kegiatan di bidang informasi, pendidikan, ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, dan pelestarian khasanah budaya bangsa. Kegiatan utamanya adalah menghimpun, menyimpan/ memlihara, dan menyajikan dan memberdayakan koleksi bahan pustaka serta memberikan layanan keada masyarakat.
  2. Antara perpustakaan dan masyarakat terdapat hubungan kausal, yakni hubungan sebab dan akibat. Artinya adanya perpustakaan karena ada masyarakat yang membutuhkan, dan keberadaan perpustakaan adalah untuk melayani masyarakat.
  3. Meskipun dikatakan ada hubungan yang erat antara perpustakaan dan masyarakat, namun karena banyak faktor yang ikut mempengaruhi yang bersifat internal dan eksternal, misalnya administrasi, manajemen, pemahaman, kesadaran, dan lingkungan, maka peranan yang semestinya dilakukan perpustakaan untuk melayani masyarakat belum optimal
  4. Keberadaan sebuah perpustakaan di masyarakat merupakan salah satu indikator atau ukuran tentang tingkat kemajuan masyarakat di sekitarnya.
  5. Pembangunan perpustakaan dengan berbagai koleksi bahan pustaka, sarana dan prasarana serta fasilitas lainnya dimaksudkan untuk menunjang proses peningkatan kecerdasaan masyarakat.  Kecerdasan itu meliputi kecerdasan intelektual, sprititual, personal dan kecerdasan sosial.  Peranan yang paling mendasar bukan saja bagaimana perpustakaan berfungsi sebagai sarana untuk mengetahui ( how to know ) akan tetapi lebih pada bagaimana belajar ( how to learn) tentang hal-hal yang ingin dikuasai, didalami, dan dihayati oleh seseorang dari masyarakat.
  6. Ada beberapa hal prinsip yang harus diperhatikan didalam penyelenggaraan perpustakaan, yaitu pertama gedung / ruang / tempat dengan segala sarana dan prasarananya, kedua koleksi bahan pustaka, ketiga petugas yang melayani, keempat masyarakat pemakai, dan kelima suatu sistem atau mekanisme pengolahan, pengaturan, penyusunan, dan akses/ temu kembali informasi.
  7. Ada kaitan erat antara minat baca, budaya baca dan perpustakaan.  Kaitan itu adalah, bahwa minat baca seseorang yang dimulai dengan adanya selera dan keinginan setelah yang bersangkutan menyadari dan memahami bahwa terdapat hal yang menarik dan berarti yang terkandung di dalam suatu bahan bacaan.  Dari minat dan selera tersebut kemudian tumbuh dalam suatu kegemaran membaca.  Kegemaran membaca itu jika dilakukan terus menerus dan teratur akan menimbulkan suatu kebiasaan membaca.  Dari kebiasaan membaca kemudian pada tahap selanjutnya akan menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.  Dan dari sana akan timbul suatu budaya baca suatu masyarakat.  Keinginan, selera, kegemaran, kebiasaan dan budaya membaca tidak akan terwujud dan terpenuhi apabila tidak tersedia bahan bacaan yang memadai dan sesuai dengan keinginan masyarakat.  Untuk melengkapi dan menyediakan bahan bacaan tersebut yang paling mudah ditemukan adalah sebuah perpustakaan.  Jadi antara minat, budaya baca, dan perpustakaan merupakan suatu lingkaran yang saling berkaitan satu sama lain.
  8. Keberhasilan perpustakaan dalam melayani masyarakat dapat diukur dengan beberapa indikator seperti koleksi bahan pustaka, pengunjung, anggota dan peminat serta transaksi informasi yaitu peminjaman dan pengembalian (sirkulasi), penelitian, pembelajaran, pengkajian, pengembangan, dan penyebarluasan informasi dari perpustakaan kepada masyarakat pemakai.
  9. Berkembangnya perpustakaan tergantung kepada tiga unsur utama, yaitu pemerintah, masyarakat, dan swasta.  Oleh karena itu ketiganya perlu menempatkan dan memerankan diri sesuai dengan tanggung jawab, wewenang, dan kewajiban masing-masing, dan menjalin kerja sama sebaik-baiknya.  Perpustakaan adalah dari masyarakat milik masyarakat dan untuk masyarakat.

Saran :

  1. Perpustakaan berusaha menjalin kerja sama dan jaringan informasi yang baik dan saling menguntungkan dengan mitra kerja, baik dengan perpustakaan lain maupun lembaga-lembaga yang mempunyai kedekatan visi dan misinya.
  2. Perpustakaan terus berusaha untuk menciptakan K5 (kebersihan, keamanan, ketenangan, kenyamanan, kesenangan agar pengunjung tidak jenuh untuk membaca dan belajar atau sekedar mencari hiburan.
  3. Perpustakaan berusaha melakukan sosialisasi, publikasi dan promosi terus- menerusagar keberadaannya dikenal, dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
  4. Perpustakaan hendaknya berusaha menciptakan kesan yang baik, luwes, ramah, bersifat informatif, membimbing dan dekat dengan masyarakat.
  5. Perpustakaan berusaha mengembangkan berbagai kegiatan yang melibatkan dan memfasilitasi kepentingan masyarakat, sehingga masyarakat cenderung berkunjung ke perpustakaan. Mereka nantinya akan merasa bahwa perpustakaan adalah milik masyarakat dan untuk mereka pula. Dampaknya perpustakaan menjadi ramai pengunjung dan pemakai.

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kamus Besar  Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta : Balai Pustaka.

Laksmi. 2006. Tinjauan Kultural Terhadap Kepustakawanan: Inspirasi Dari Sebuah Karya Umberto Eco. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Rimbarawa, Kosam dan Supriyanto. 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan. Jakarta : Ikatan Pustakawan Indonesia Pengurus Daerah DKI Jakarta.

Sutarno, NS. 2006. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta : Sagung Seto.

Penulis: Siti Indarwati, A.Md.

 

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

karya ilmiah tentang perpustakaan

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

One comment

  1. People should love library, but library has to love people first :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


seven − = 2

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose