Home / Artikel Perpustakaan / Membangun Paradigma Perpustakaan Apung sebagai Perpustakaan Ideal bagi Masyarakat Pesisir dan anak-anak Nelayan

Membangun Paradigma Perpustakaan Apung sebagai Perpustakaan Ideal bagi Masyarakat Pesisir dan anak-anak Nelayan

Pendahuluan

Peran perpustakaan sebagai sumber belajar (learning resources) berarti bahwa perpustakaan menyediakan koleksi yang menjadi sumber materi pelajaran, baik koleksi cetakan maupun bukan cetakan. Dalam hal ini koleksi perpustakaan harus menunjang hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat yang akan menggunakannya. Oleh karena itu, koleksi perpustakaan harus memenuhi kebutuhan masyarakat umum untuk dapat diterapkan secara langsung maupun sebagai bahan ide yang akan dikembangkan kelak ditengah-tengah lingkungan masing-masing. Koleksi merupakan cerminan kebutuhan pemakai perpustakaan yang harus diperhatikan, baik dari segi jumlah maupun mutunya.

Pada tahun 1930-an Ranganathan menyampaikan lima hukum ilmu perpustakaan (five laws of library science), yaitu :

1.     Books are for use (buku untuk dimanfaatkan)

2.     Every reader his book (setiap pembaca terdapat bukunya)

3.     Every book its reader (setiap buku terdapat pembacanya)

4.     Save the time of the reader (hemat waktu pembaca)

5.     A library is a growing organism (perpustakaan bagai organisme yang sedang tumbuh)

Lima hukum tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan berperanan sangat penting dalam pemanfaatan buku, pelayanan, dan pengembangan pemakainya. Selain itu, perpustakaan merupakan lembaga yang terus tumbuh dan berkembang, baik dari segi koleksi, SDM, maupun sarananya.

Kehidupan nelayan jika ditelusuri lebih mendalam akan ditemukan bentuk kehidupan yang begitu kompleks, baik berbentuk fisik maupun nonfisik yang meliputi perkembangan intelektual dan perkembangan kepribadian diri.

Kita sama-sama tahu bahwa nelayan utamanya masyarakat pesisir saat ini terjebak dalam lingkaran setan kehidupan. Ditengah kuatnya pengaruh globalisasi ekonomi yang melanda dunia mereka harus berhadapan dengan kenyataan bahwa semakin menipisnya sumberdaya laut akibat kegiatan over  fishing yang tidak mengenal waktu dan bentuk pelestarian yang seharusnya dilakukan. Nelayan patutnya bisa melawan segal ketidak adilan ini. Melawan segenap penderitaan yang selalu mengores kesabaran-kesabaran mereka dalam menjalani lika-liku kehidupan.

Sesaat mungkin kita akan bertanya, kemanakah para nelayan yang pandai itu, yang kata orang, bahwa orang pesisir itu pintar-pintar karena sering memakan ikan seperti orang-orang jepang yang sering memakan ikan dan orang-orang pesisirnya pintar-pintar dan cerdas-cerdas karena sering memakan ikan yang biasa disebut dengan sushi, kenapa nelayan kita termasuk dalam masyarakat yang menempati urutan teragung dalam rangking kemiskinan?. Pertanyaan besar yang butuh kecerdasan bersama untuk mengoyak segala sematan itu.

Berbicara mengenai sumberdaya manusia kita akan berbicara mengenai nilai intelektualitas individu dan kemampuan membangun komunitas yang cerdas dan mencerdaskan. Berbicara mengenai nilai kecerdasan akan sangat berkaitan dengan kemampuan daya serap materi atau pembelajaran yang diberikan, pada akhirnya membaca adalah suatu modal dasar seseorang untuk dapat meningkatkan nilai intelektualitasnya dan daya nalarnya dalam mencerna apa yang terjadi di sekitarnya. Kemampuan membaca antar individu berbeda-beda, tergantung lingkungan dan kemauan yang timbul dari dalam dirinya. Maka, dibutuhkan suatu pengkondisian yang baik dalam suatu lingkungan agar nilai minat membaca dan mengambil pelajaran dari apa yang dibaca dapat memberikan hasil yang maksimal dan mampu meningkatkan nilai individu manusia tersebut.

Permasalahan

Tingkat sumberdaya manusia nelayan Indonesia saat ini menduduki peringkat pertama dari bawah, kenapa hal ini terjadi?, jika dibandingkan dengan Negara-negara luar seperti Jepang, kita akan mendapati bahwa masyarakat pesisir mereka/nelayan memiliki kecerdasan yang diatas rata-rata, hal ini disebabkan karena mereka gemar makan ikan. Lalu kenapa dengan nelayan di Indonesia yang pada kehidupan sehari-harinya memakan ikan sebagai makanan pokok sehari-hari.

Apakah ikan di Indonesia nilai gizinya tidak bagus? Atau mengandung unsure-unsur yang dapat mencipkan kebodohan bagi orang yang memakannya?. Padahal jika dikaji lebih mendalam ikan Indonesia memiliki nilai gizi lebih tinggi daripada negara-negara lainnya di Dunia, ini dapat dilihat dari keberagaman jenis ikannya dan kondisi lingkungan perairan yang masih memenuhi standar kehidupan yang layak bagi ikan tumbuh dan berkembang.

Jika diteliti lebih mendalam, kita akan memperoleh pokok permasalahan utama yang mempengaruhi tingkat sumberdaya manusia masyarakat pesisir/nelayan. Yang utama adalah belum adanya pengkondisian lingkungan yang mengarah pada suatu upaya membentuk lingkungan yang tepat dalam proses transfer ilmu pengetahuan dengan menggunakan segala sumberdaya yang ada di lingkungan tempat tinggal nelayan tersebut. Masalah ini perlu untuk dituntaskan dan ditemukan solusi terbaik agar nelayan tidak menjadi korban proses pembangunan tetapi menjadi motivator pembangunan megeri ini.

Tujuan

Untuk membangun suatu keadaan tertentu dalam lingkungan dibutuhkan pembangunan yang berasal dari lingkungan itu sendiri, dengan adanya upaya memanfaatkan segala apa yang ada di lingkungan tersebut untuk memajukan lingkungan itu sendiri berarti kita telah berupaya memberikan suatu solusi terbaik dan mempermudah proses kelancaran pembangunan itu sendiri.

Tulisan ini bertujuan untuk, memberikan gambaran tentang pentingnya minat baca dan kemampuan baca masyarakat dalam proses peningkatan nilai intelektualitas yang akan memberikan suatu nilai tersendiri yang baik untuk lingkungan tempat tinggal masing-masing. Selain itu tujuan tulisan ini adalah membuka pikiran baru tentang upaya memanfaatkan sumberdaya yang ada dilingkungan dan sangat berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat nelayan pada khususnya, yang dengan memanfaatkan sumberdaya tersebut, maka tercapailah tujuan dari meningkatnya tingkat sumber daya manusia yang ada di masyarakat pesisir/nelayan, dalam hal ini kami memperkenalkan, yaitu penggunaan perahu yang biasa dipergunakan nelayan, menjadi perahu yang merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan merubahnya menjadi perpustakaan yang kami beri nama dengan Perpustakaan Apung, dengan mengenalkan konsep ini, diharapkan mampu memenuhi tujuan yaitu meningkatnya peran perpustakaan dalam pembangunan nasional untuk proses pencerdasan masyarakat Inodonesia.

Landasan Teori

Data/informasi yang harus dihimpun dan disimpan pada perpustakaan bergantung pada keperluan pengguna maupun pengelola sistem informasi. Informasi tersebut dapat berupa teks, citra (image), audio atau video. Menurut jenisnya, informasi dapat berupa absolute information, yang merupakan pohonnya informasi, yaitu informasi yang disajikan dengan suatu jaminan dan tidak membutuhkan informasi lebih lanjut; substitutional information, yaitu informasi yang merujuk kepada kasus di mana konsep informasi digunakan untuk sejumlah informasi; dan philosophic information, yaitu informasi yang berkaitan dengan konsep-konsep yang menghubungkan informasi pada pengetahuan dan kebijakan. Jenis lainnya adalah subjective information, yaitu informasi yang berkaitan dengan perasaan dan emosi manusia; objective information, yaitu informasi yang merujuk pada karakter logis informasi tertentu; dan cultural information, yaitu informasi yang memberi penekanan pada dimensi kultural (Maryam 2008).

Berdasarkan karakter pengguna informasi, Atherthon dalam Chowdhury (1999) menyatakan terdapat tiga kelompok penting pengguna sistem informasi ilmu dan teknologi, yaitu: (1) peneliti, untuk penelitian dasar maupun terapan; (2) praktisi dan teknisi, untuk kegiatan pengembangan dan operasional berbagai disiplin ilmu, seperti teknologi industri, pertanian, kedokteran, dan komunikasi; dan (3) manajer, perencana, dan pengambil keputusan. Ketiga kelompok pengguna tersebut menetapkan kecepatan dan ketepatan sebagai variabel kepuasan dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

BAB II

HAK, KEWAJIBAN, DAN KEWENANGAN

Bagian Kesatu

Hak

Pasal 5

(1) Masyarakat mempunyai hak yang sama untuk:

a.  memperoleh  layanan  serta  memanfaatkan  dan  mendayagunakan  fasilitas

perpustakaan;

b.  mengusulkan keanggotaan Dewan Perpustakaan;

c.  mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan;

d.  berperan  serta  dalam  pengawasan  dan  evaluasi  terhadap  penyelenggaraan

perpustakaan.

(2) Masyarakat  di  daerah  terpencil,  terisolasi,  atau  terbelakang  sebagai  akibat  faktor

geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus.

(3) Masyarakat  yang  memiliki  cacat  dan/atau  kelainan  fisik,  emosional,  mental,

intelektual,  dan/atau  sosial  berhak  memperoleh  layanan  perpustakaan  yang

disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing.

BAB III

STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN

Pasal 11

(1) Standar nasional perpustakaan terdiri atas:

a.  standar koleksi perpustakaan;

b.  standar sarana dan prasarana;

c.  standar pelayanan perpustakaan;

d.  standar tenaga perpustakaan;

e.  standar penyelenggaraan; dan

f.  standar pengelolaan.

(2) Standar  nasional  perpustakaan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  digunakan

sebagai acuan penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan.

(3) Ketentuan  lebih  lanjut  mengenai  standar  nasional  perpustakaan  sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pembahasan

Dalam pembahasan ini, adalah penting untuk diketahui bahwa pembangunan Perpustakaan Apung bukanlah suatu hal yang baru yang ada di tengah-tengah masyarakat pesisir saat ini, telah banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat pesisir, baik dalam bentuk penyuluhan melalui badan dinas dari pemerintah maupun secara sukarela yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak untuk kemajuan kita bersama.

Membentuk perpustakaan sama pentingnya dengan membangun sebuah bangunan baru siklus kehidupan dalam masyarakat. Sama pentingnya dengan membentuk kondisi yang aman dan nyaman ditengah-tengah masyarakat. Membangun perpustakaan berarti telah membangun sekolah kehidupan yang mampu menyingkap keajaiban alam dan akan memanfaatkannya secara lebih bijak dan disiplin.

Ada beberapa tahapan yang tepat untuk dilakukan dalam proses membentuk Perpustakaan Apung ini agar proses pembentukannya tepat sasaran dan realistis, antara lain;

  • Melakukan Pendekatan Kultural

Dalam membangun sebuah pembaharuan dalam kehidupan bermasyarakat maka diperlukan proses mencari hal-hal yang diperlukan untuk mendukung hal-hal baru tersebut. Pendekatan cultural disini, diperlukan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat tentang pentingnya pembangunan Perpustakaan Apung untuk membantu masyarakat mencerdaskan kehidupannya secara disiplin dan bermula dari kesadaran dan fikiran untuk maju. Pendekatan semacam ini dilakukan dengan mengikut sertakan tokoh masyarakat di dalamnya.

  1. Membentuk Satuan Masyarakat Pendukung

Dengan adanya satu ikatan yang kuat maka untuk membuat suatu yang baru tidaklah akan sukar. Dengan adanya satuan masyarakat pendukung dari masyarakat yang ada diwilayah tempat tersebut maka akan mempermudah dalam pembagian tugas yang akan sangat berarti saat akan membangun infrastruktur sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mendukung terwujudnya Perpustakaan Apun ini nantinya. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk panitia kepengurusan pengelolaan perpustakaan yang resmi dan disetujui oleh segenap masyarakat.

  1. Penguatan Pengkaderan Kepengurusan

Hal ini sangat diperlukan mengingat pentingnya proses regenerasi dalam suatu struktur kepengurusan suatu pelayanan masyarakat. Dengan adanya proses pengkaderan ini diharapkan akan selalu ada Sumber Daya Manusia yang tersedia untuk mengelola dan memaksimalkan perpustakaan Apung sebagai wadah pembelajaran dan penggalian informasi yang penting bagi masyarakat pesisir/ anak-anak nelayan. Diutamakan dalam proses pengkaderan berasal dari anak-anak masyarakat wilayah tersebut yang lebih mengetahui keadaan masyarakat dan lingkungannya sendiri.

Secara umum dalam pembentukan Perpustakaan Apung sebagai bentuk perpustakaan ideal yang akan memenuhi kebutuhan informasi masyarakat pesisir diharuskan memenuhi karakteristik sebagai berikut;

  1. Lokasi Berada Diatas Sebuah Perahu Besar yang diperuntukkan untuk perpustakaan dengan terdapat satu ruangan besar tempat tersedianya buku-buku bacaan dan tempat menghidar dari panas terik matahari. Terdapat tempat duduk yang luas dan toilet untuk BAB dan kencing. Tempat diletakkannya buku berada ditempat yang tidak mudah goyah dan kuat.
  2. Berisikan Buku-buku yang berguna dalam menginformasikan masyarakat pesisir tentang cara-cara pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang tepat. Dapat pula buku-buku yang berhubungan dengan kemajuan teknologi dan cara pengembangan diri untuk kemajuan hidup masyarakat dan individu masing-masing. Selain itu di dalam perpustakaan juga terdapat bahan bacaan lain yang mendukung seperti; Koran local maupun nasional hingga internasional, buletin, majalah dan lain-lain.
  3. Jika dimungkinkan maka ditambahkan computer maupun laptop dan terdapat akses internet untuk mendukung kemajuan IT untuk masyarakat pesisir.
  4. Dibuat subuah  ruang privasi yang akan digunakan oleh pengelola perpustakaan untuk menyimpan data-data penting dan menjadi ruang pribadi bagi pengelola, pengelola juga bertindak sebagai nakhoda dari perahu tersebut.
  5. Dibuka lokasi penerimaan sumbangsih tambahan inventaris untuk perpustakaan Apung dengan mengadakan perlayaran ke beberapa pelabuhan. Jadi perpustakaan Apung ini tidak statis melainkan bergerak dengan berlayar sesuai dengan ketentuan dan kesepatan pengelola dengan masyarakat.

Jadi, pada akhirnya nanti Perpustakaan Apung akan menjadi Perpustakaan Ideal yang dibutuhkan oleh anak-anak Nelayan dan Masyarakat Pesisir, untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan untuk memenangi persaingan kehidupan serta membantu proses pembangunan nasional.

Kesimpulan dan Saran

Perpustakaan Apung merupakan suatu inovasi dari perpustakaan yang selama ini ada, baik perpustakaan yang telah ada di sekolah-sekolah maupun di lingkungan-lingkungan masyarakat yang disediakan secara sukarela maupun yang berbentuk mobil keliling yang notabene berada secara keseluruhan di daratan. Dengan adanya Perpustakaan Apung ini akan memberikan suntikan metode baru dalam upaya memberantas kebodohan dan memajukan tingkat kualitas Sumber Daya Manusia. Perpustakaan Apung sesuai dengan namanya memang diperuntukkan untuk masyarakat pesisir dan anak-anak nelayan, sebagaimana kita ketahui bahwa kehidupan sehari-hari mereka sangat dekat dengan Perahu maupun Sampan.

Perpustakaan Apung merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat pesisir dan anak-anak nelayan dengan bertitik tolak dari kehidupannya yang tidak lepas dari Pesisir yang lebih pada Laut, jadi Perpustakaan Apung adalah perpustakaan yang terletak di laut / pesisir yang bergerak untuk dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat pesisir dan anak-anak nelayan, untuk mendukung proses pembangunan nasional dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan adanya Perpustakaan Apung ini dibutuhkan kesatuan tujuan dan kerjasama yang baik antar Pemerintah, LSM dan Masyarakat di daerah tersebut. Pada akhirnya diharapkan Perpustakaan Apung ini akan menjadi Perpustakaan Ideal yang menjadi dambaan masyarakat pesisir dan anak-anak nelayan.

Referensi Pustaka

Chowdhury. G.G. 1999. Introduction to Modern Information Retrieval. London: Library Association Publishing.

Maryam, S. 2008. Efektivitas Penyebaran Hasil Penelitian Pertanian melalui Perpustakaan Digital. Tesis S2. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK  INDONESIA, NOMOR 43 TAHUN 2007, TENTANG PERPUSTAKAAN

Penulis: Wahyu Firmana

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

perpustakaan ideal

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


seven − = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose