Home / Artikel Perpustakaan / Membangun Perpustakaan Digital pada Institusi Pesantren

Membangun Perpustakaan Digital pada Institusi Pesantren

Pendahuluan
Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia merupakan wadah tempat berlangsungnya pembelajaran khusus tentang kajian keislaman, yang memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Dalam kegiatannya, pesantren menjadi satuan pendidikan bukan hanya sebatas tempat menginap para santri. Namun keberadaan pesantren sebagai suatu tatanan sistem yang mempunyai unsur yang saling berkaitan. Pesantren sebagai suatu sistem yang memiliki tujuan yang jelas yang melibatkan banyak sumber daya pendidikan guna mencapai tujuan, baik yang bersifat individu ataupun tujuan kelembagaan. Dalam upaya mencapai tujuan itu, berlaku ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan unsur yang satu dengan unsur yang lainnya. Karena itu, pesantren sebagai sebuah satuan pendidikan yang mengkaji disiplin ilmu agama sekaligus sebagai organisasi pembelajaran, yang membutuhkan pengelolaan sumber daya pendidikan termasuk sumber belajar berupa perpustakaan digital guna mendukung kegiatan penelusuran informasi dalam bentuk khasanah keislaman klasik maupun kontemporer serta pengetahuan umum lainnya.

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 20 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Selanjutnya dalam peraturan pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 42 juga dinyatakan bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki antara lain buku dan sumber belajar lainnya. Dari peraturan perundang-undangan tersebut dapat dimaknai bahwa pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan islam tertua yang mayoritas penyelenggaraanya berasal dari masyarakat dirasa harus menyediakan sumber informasi belajar berupa perpustakaan digital guna mendukung efektifitas dan kualitas pembelajaran.

Membangun perpustakaan digital pada pesantren harus berlandaskan pada kaidah-kaidah relevansi substansi kebutuhan dan kepentingan belajar para santri yang dipergunakan sebagai bahan kajiannya. Hal ini senada dengan pernyataan Soedijarto (1997: 26), bahwa perpustakaan sebagai salah satu pusat sumber belajar dan pusat informasi perlu terkait dan relevan dengan kepentingan bahwa dapat lebih mudah dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan pembelajaran.

Pembelajaran di pesantren tentunya tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik dan memuaskan bilamana tidak didukung oleh perpustakaan yang komplit yakni terkemas secara digital yang memuat jutaan koleksi sehingga berkat dukungan perpustakaan digital diharapkan out put pesantren maju, berkembang, progresif, dan memiliki SDM tinggi.

Saat sekarang, pesantren membutuhkan perpustakaan berbasis digital. Artinya secara ideal kini pesantren merupakan sub kultur yang berada pada posisi yang terbuka dan bergerak selaras dengan perubahan sosial (Manfred Ziemek, 1983: 47). Pesantren harus lebih dinamis dalam mensikapi tuntutan informasi melalui pembangunan perpustakaan digital yang dilengkapi dengan akses informasi global. Namun perpustakaan digital pada institusi pesantren secara konkret belum mendapatkan perhatian. Dalam pada itu, perpustakaan digital pada institusi pesantren harus dibangun dan dikembangkan secara totalitas sebagai upaya menciptakan kemelekan informasi baik secara umum maupun secara khusus (keislaman) serta makin intensif pengalaman yang dihayati oleh para santri.

Dikembangkan, menurut penulis mengindikasikan bahwa perpustakaan digital tidak semata dibangun, namun perlu dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung serta beragamnya koleksi digital berbagai literatur khasanah pengetahuan klasik maupun kontemporer. Selanjutnya perpustakaan digital dijadikan sebagai bagian yang integral dari sistem pendidikan bagi setiap santri secara sistemik.

Mencermati telaah di atas, membangun perpustakaan digital pada institusi pesantren tampak menjadi sebuah keniscayaan. Sebab perpustakaan digital memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi setiap santri dan masyarakat bagi terciptanya learning society yang berkemampuan maju berkelanjutan.

Dalam konteks sebagaimana diungkapkan di atas, maka tulisan ini akan membahas empat segmen sebagai rangkaian proposisi pemikiran untuk sampai pada konklusi. Pembahasan akan diawali tentang masalah diskursus pengertian perpustakaan Digital. Pembahasan kedua adalah manfaat perpustakaan digital. Pembahasan ketiga, bagaimana membangun perpustakaan digital pada institusi pesantren. Serta keempat, analisis pengembangan layanan digital pada perpustakaan pesantren.

Perpustakaan Digital
Menurut Digital Library Federation, perpustakaan digital dikenal dengan istilah digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital woks so that they are readily and economically available for use by a defined community or set of communities (www.diglib.org/about/dldefinition.htm)

Selanjutnya, International Conference of Digital Library 2004 mengungkapkan konsep Perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) berkecepatan tinggi.

Sedangkan Griffin (1999: 29) mendefinisikan perpustakan digital sebagai koleksi data multimedia dalam skala besar yang terorganisasi dengan perangkat manajemen informasi dan metode yang mampu menampilkan data sebagai informasi dan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat dalam berbagai konteks organisasi dan sosial masyarakat. Hal ini berarti perpustakaan digital memerlukan model baru untuk akses informasi dan digunakan oleh pengguna dalam arti yang paling luas.

Berbagai definisi di atas pada prinsipnya mengemukakan bahwa perpustakaan digital merupakan institusi informasi yang menyediakan sumber informasi yang disimpan dalam format digital, dapat diakses melalui jaringan, tersedianya staf dengan keahlian khusus untuk menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberikan akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan dan menjamin keberadaan koleksi digital sepanjang waktu sehingga koleksi tersebut dapat digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu atau masyarakat terpilih, secara ekonomis dan mudah.

Secara pasti, perpustakaan digital memiliki nilai efektif dalam penyimpanan dan akses informasi secara elektronik dibandingkan dengan perpustakaan tradisional. Karena sebagian besar pengetahuan direkam dan dikumpulkan dalam media fisik.

Perpustakaan Digital pada Institusi Pesantren
Perpustakaan digital sebagai basis dari pembangunan dan pengembangan perpustakaan pesantren potensial untuk dimanfaatkan dalam bidang pengembangan keilmuan santri. Selama ini metode pendidikan pesantren mayoritas masih bersifat klasikal, sorogan, bandongan ataupun model pembelajaran tradisional lainnya. Perihal tersebut, mengakibatkan masa studi dan tingkat kejenuhan yang harus ditempuh untuk menyelesaikan pendidikan di pesantren menjadi relatif lama.

Dengan sistem aplikasi perpustakaan digital akselerasi pembelajaran dapat dilakukan. Berbagai materi kajian kitab khususnya yang telah diberikan makna melalui simbol-simbol tertentu diubah menjadi data digital. Sehingga setiap santri dapat mengaksesnya tanpa setiap saat harus menunggu kegiatan pembelajaran secara tatap muka diruang kelas semata.

Tetapi setiap santri secara bergantian baik secara kelompok maupun individu cukup mengaktifkan komputer yang telah disediakan.  Selanjutnya, software kamus berbahasa asing dapat pula dimanfaatkan secara beriringan manakala santri menemukan kesulitan menangkap maknanya. Maka pada saat yang sama ia bisa langsung membuka dengan mengklik kamus digital yang diperlukan. Pergerakan dari satu data ke data lain sangat cepat inilah membuat akselerasi belajar bisa dilakukan.

Pada praktiknya, perpustakaan digital mampu memberikan berbagai informasi secara efektif dan efisien. Perpustakaan digital pada institusi pesantren mampu menyimpan koleksi lebih banyak dan beragam bidang kajiannya sehingga tidak memerlukan ruangan yang lebar, perawatan yang memberatkan. Sebab mayoritas koleksi perpustakaan pesantren berdurasi tebal dan berjilid-jilid.

Melalui perpustakaan digital, pembelajaran bermakna dapat tercapai dan santri lebih aktif serta kreatif dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Tersedianya koleksi digital, hanya dengan memasukan kata tertentu sebagai keywoard, maka program mampu mencari referensi topik bahasan yang berisi kata kunci tersebut dari puluhan kitab hanya dalam hitungan detik. Program komputer semacam ini tentu sangat berguna bagi pengembangan tradisi keilmuan pesantren (http://nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news).

Selanjutnya pembelajaran berfikir secara langsung juga dapat dilakukan. Misalnya: telaah takhrijul hadits (penelusuran sebuah hadits dan kriterianya), dapat dilakukan hanya dengan membuka software Al-Maktabah Al-Syamilah yang dikembangkan Al-Meshkat Corp, software ini berisi kajian kitab-kitab keislaman terlengkap mencakup kajian al-quran beserta ilmu-ilmu yang berkaitan seperti: kajian hadits, aqidah, ibadah, sejarah, akhlak, tasawuf yang menjadi induk kajian agama islam.

Kutubu Tisah atau kutubu sittah sebagai software kitab hadits dengan sembilan atau enam perawi, the hadits software sebagai terjemah hadits dalam bahasa inggris  yang dapat diakses secara gratis pada alamat: www.islamasoft.co.uk dan sebagainya. Berikut tampilan software pada perpustakaan digital pesantren sebagaimana dijelaskan di atas.

Gambar di atas merupakan tampilan hadist shahih muslim digital kitab Iman bab bayaan al-iman wa al-islam wa al-ihsan (bab yang menjelaskan tentang iman, islam dan ihsan). Selanjutnya, untuk mencari terjemahan dari sebuah bab bisa ditelusur pada menu yang lain. Atau bisa menggunakan software digital yang lain. Misalnya mencari terjemahan hadits dalam versi bahasa inggris sebagai berikut:

Penerapan perpustakaan digital juga dapat membawa kepada perluasan akses, peningkatan kepercayaan diri para santri dan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menarik. Oleh karena itu, membangun dan mengembangkan perpustakaan digital merupakan sebuah penawaran inovatif, yakni menjadikan santri terlatih untuk dapat mengambil pengetahuan dari sumber informasi manapun tanpa harus menunggu dari satu sumber yakni pendidik atau gurunya.

Sesuai dengan konsepsi tersebut, maka tugas pengajar dipesantren bukan semata menuangkan ilmu, namun merangsang santri untuk lebih suka terhadap ilmu dan mampu mengambil sendiri dari sumber-sumbernya. Selanjutnya pengembangan koleksi digital sebaiknya mendapatkan prioritas karena hal tersebut adalah komponen terpenting dalam proses belajar mengajar. Sehingga melalui perpustakaan digital tersebut, sistem pengajaran yang mendorong pengembangan akal kian terus dikembangkan.

Perpustakaan digital tetap berperan bilamana seorang pengajar berhalangan hadir. Selain itu, proses pembelajaranpun tidak harus bergantung pada banyak atau sedikitnya santri. Hanya dengan satu atau dua orang santripun proses belajar mengajar dapat berlangsung. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan digital pada institusi pesantren berperan penting membantu dan mendukung kegiatan pembelajaran.

Sehingga diharapkan lahirlah generasi yang mampu beradaptasi, cepat belajar dari lingkungan dan mampu merespon serta memilah kemudian mengambil yang terbaik. Melalui perpustakaan digital, tiap santri dapat berenang dilautan layaknya ikan, terbang diudara layaknya burung dan berlari-lari didaratan sehingga menjadi mahluk darat yang terbaik, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai santri.

Konsep Membangun Perpustakaan Digital pada Institusi Pesantren
Urgensi membangun perpustakaan digital pada institusi pesantren selain bermanfaat meningkatkan proses pembelajaran, juga menjadi solutif mengantisipasi ketertinggalan teknologi informasi, pengembangan live skill serta memperdalam kajian keislaman kontemporer yang semakin berkembang.

Berlandaskan opini tersebut, pimpinan pesantren harus memiliki visi dan misi secara progresif serta berani mengambil kebijakan (policy) agar memberikan perhatian khusus untuk membangun dan mengembangkan perpustakaan digital. Artinya pesantren perlu melakukan pembenahan dan terbuka terhadap modernisasi berbasis teknologi informasi.

Hal ini dapat dilakukan melalui studi banding ke perpustakaan digital seperti perpustakaan digital yang didirikan oleh Yayasan Lentera Hati Jakarta sebagai pioner perpustakaan digital berkoleksi khusus tentang khasanah berbagai kitab berbahasa Arab secara internasional serta bekerja sama dengan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) setempat.

Secara manajemen, membangun perpustakaan digital pada institusi pesantren diperlukan seperangkat elemen sukses. Elemen sukses yang dimaksud meliputi: support, capacity dan value (Hakim Nasution, 2004: 20).

Support
Elemen pertama dan paling krusial yang harus dimiliki adalah keinginan (intent) dari kalangan pengambil kebijakan pada institusi pesantren untuk benar-benar menerapkan konsep perpustakaan digital. Tanpa adanya keinginan dari pengambil kebijakan, dalam hal ini berasal dari segenap unsur  pimpinan pesantren, mustahil konsep membangun perpustakaan digital akan terwujud. Adapun bentuk support dari unsur pimpinan atau pengambil kebijakan dalam  hal ini antara lain:

Pertama, alokasi sejumlah sumber daya (manusia, finansial, tenaga, waktu, informasi, dan sebagainya) untuk membangun dan mengembangkan konsep digital library.
Kedua, dibangunnya berbagai infrastruktur pendukung agar tercipta lingkungan yang kondusif guna membangun perpustakaan digital.
Ketiga, sosialisasi secara menyeluruh kepada seluruh santri dan masyarakat sekitar secara merata, kontinyu dan menyeluruh untuk bersama-sama membangun sekaligus mengembangkan sistem layanan perpustakaan digital.

Capacity
Capacity adalah unsur kemampuan atau keberdayaan segenap unsur pimpinan, pengasuh, ustadz/pengajar, serta santri untuk bersama-sama membangun dan mengembangkan perpustakaan digital. Ada tiga hal yang paling tidak harus dimiliki oleh pesantren sehubungan dengan elemen ini antara lain:
a. Ketersediaan perangkat keras (Hardware) sebagai infrastruktur utama yang membangun sistem jaringan komputer.
b. Ketersediaan perangkat lunak (Software) sebagai infrastruktur utama berupa sistem operasi dan program aplikasi yang men-support jaringan komputer.
c. Ketersediaan SDM (Brainware) yang memiliki kompetensi dan keahlian dalam bidang teknologi informasi yang berfungsi sebagai administrator maupun programer dalam sistem jaringan komputer. Perihal ini dapat mengambil alternatif dengan cara mengkursuskan beberapa santri terkait dengan sistem layanan perpustakaan digital.

Added Value
Elemen pertama dan kedua merupakan dua buah aspek yang dilihat dari sisi institusi pesantren sebagai penyedia jasa layanan pendidikan (Supply Side). Berbagai inisiatif pihak pesantren dalam membangun dan mengembangkan perpustakaan digital tidak akan memberikan nilai bilamana tidak ada respon balik (feed back) dari para santri sebagai penerima jasa layanan pendidikan (demand side), serta stakeholder lainnya.

Nilai tambah yang dapat diberikan khususnya dalam membangun dan mengembangkan perpustakaan digital harus benar-benar disosialisasikan sebelum perpustakaan digital benar-benar telah menerapkan layanan perpustakaan secara digital.

Selanjutnya, sebagai tindak lanjut dalam membangun dan mengembangkan perpustakaan digital, institusi pesantren harus mengembangkan tiga hal, yaitu sisi mengembangkan jaringan komputer (hardware side development), sisi pengembangan software pendukung (supporting software side development) dan sisi pengembangan SDM (brainware side development).

Sisi Pengembangan Jaringan Komputer (Hardware Side Development)
Pengembangan jaringan komputer pada institusi pesantren merupakan hal yang masih dianggap awam. Apalagi beberapa pesantren tradisional dianggap masih terbelakang dan gagap teknologi. Membangun dan mengembangkan perpustakaan digital harus dipersiapkan seperangkat fasilitas personal computer (PC), yang dihubungkan satu sama lain sehingga membentuk sebuah jaringan komputer yang terintegrasi (integrated computer network).

Selanjutnya masing-masing komputer akan berfungsi sebagai terminal data yang dapat mengakses berbagai informasi dan koleksi yang diperlukan santri, ustadz, serta masyarakat lainnya dalam ruang lingkup lokal, maupun global (dapat diakses oleh santri-santri dari berbagai pesantren yang lain) ataupun masyarakat pengguna secara luas.

Akses informasi dalam skala terbatas dapat dibangun dengan pengembangan jaringan LAN (Local Area Network) maupun koneksi tanpa kabel (wirelless). Sementara itu, akses informasi dalam skala global dapat dilakukan dengan pelebaran pengembangan jaringan komputer, dengan instalasi fasilitas jaringan internet.

Jaringan komputer terdiri atas satu atau lebih server sebagai pusat data (master), beberapa PC sebagai terminal (client), hub, router dan konektor jaringan. Server berfungsi sebagai pusat data (master) yang dapat menyimpan dan menyediakan data yang dapat diakses oleh user melalui terminal yang disediakan. Sebagai pusat data, server harus memiliki spesifikasi yang baik dalam hal kapasitas penyimpan data, serta kemampuan daya tahan terhadap kerusakan baik yang bersifat teknis maupun non teknis.

Data perpustakaan dan informasi yang telah disimpan di dalam server tidak akan dapat diakses secara maksimal tanpa adanya hub, router, dan konektor. Hub dan router dalam sistem jaringan berfungsi sebagai media pengalih (switch) dan konsentrator interkoneksi antara terminal PC. Sementara itu, konektor berfungsi menghubungkan antara terminal ke hub-server. Konektor dalam jaringan komputer biasanya memakai jenis kabel UTP (Unshielded Twisted Pair) atau jenis kabel koaksial karena dua jenis kabel ini dapat men-transfer data secara cepat.

Pengembangan Software Pendukung (Supporting Software Side Development)
Sebuah sistem jaringan komputer tidak akan berfungsi baik apabila tidak didukung oleh instalasi dan pengembangan perangkat lunak (software) yang dapat mendukung proses transfer data dari server ke terminal. Perangkat lunak (software) pendukung yang dibutuhkan dalam sebuah jaringan komputer dapat digolongkan menjadi dua, yaitu software sistem operasi (operating system) dan software data base pendukung.

Saat ini banyak sekali produk-produk operating system baik yang bersifat under license maupun yang free (open source) yang men-support kerja jaringan komputer. Software sistem operasi yang biasa dipakai diantaranya adalah Novell Netware (under DOS), Windows 2000 server, Windows XP Profesional (untuk sistem operasi berlisensi under Windows), serta Linux dengan berbagai macam distro (Mandrake, Red Hat, Debian, Suse, Knoppix, dsb) untuk sistem operasi free licence/open source.

Sistem operasi tersebut selanjutnya harus didukung oleh software pendukung berupa program aplikasi database yang dapat menjadi media terhadap akses data. Program aplikasi data base merupakan kompilasi dari berbagai program, diantaranya D-Base, Q-Basic, Pascal (Under Dos) maupun Visual Basic dan Delphi (under windows) (Soekartawi, (www.detiknet.com).

Program aplikasi ini akan menyediakan sejumlah menu dan fasilitas pendukung yang memberikan berbagai macam informasi digital dan data yang diperlukan bagi seluruh user pada institusi pesantren.

Program aplikasi database ini kemudian diinstalkan dalam jaringan komputer membentuk sebuah sistem informasi dan digitalisasi perpustakaan.

Sistem informasi perpustakaan digital pada institusi pesantren ini merupakan sebuah sistem informasi yang memberikan fasilitas akses informasi berbentuk digital. Adapun fungsi dari sistem informasi ini secara umum adalah menampung semua informasi untuk mendukung pelayanan dan kebutuhan santri serta masyarakat. Sistem informasi perpustakaan digital pesantren tersebut pada dasarnya berisi berbagai program aplikasi yang terintegrasi dengan sistem data base.

Sebagai sebuah sistem aplikasi yang terintegrasi dengan data base, sistem informasi perpustakaan digital memberikan kemudahan penelusuran informasi bagi user untuk mengakses data yang diperlukan. Selain memberikan kemudahan, membangun dan mengembangkan sistem informasi perpustakaan digital tersebut juga memerlukan tingkat keamanan dalam jaringan dari gangguan teknis dan gangguan non teknis.

Setiap pemakai yang akan mengakses informasi diberikan identifikasi pengguna (user ID) dan kata kunci (password) yang unik untuk setiap user ID. Batasan dan wewenang dalam akses data juga diberikan mengingat tidak semua user bisa mengakses informasi diluar wewenang program.

Pengembangan SDM (Brainware Side Development)
Jaringan LAN yang disertai dengan instalasi program sistem informasi pada perpustakaan digital tidak akan dapat berjalan dengan baik manakala tidak didukung oleh SDM yang menguasaai teknik aplikasi jaringan. SDM yang dimaksud dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

pertama, user atau pengguna. Artinya bahwa tidak semua user memiliki pengetahuan tentang penggunaan jaringan komputer. User dalam sistem jaringan komputer perpustakaan digital pada institusi pesantren terdiri atas kelompok santri, kelompok ustadz dan kelompok masyarakat umum yang akan memanfaatkan fasilitas jaringan komputer.

Oleh karena itu, ketika jaringan komputer telah diaktifkan, perlu dilakukan sosialisasi teknik pengoperasian jaringan melalui sosialisasi langsung maupun melalui pembuatan manual pengoperasian jaringan komputer.

Kedua, administrator jaringan. Administrator jaringan bertanggungjawab terhadap maintaining (perawatan jaringan), pembuatan ID user dan password, serta perbaikan jaringan dari kerusakan yang bersifat hardware maupun software dalam skala kecil. Pengembangan SDM yang berfungsi sebagai administrator dapat dilakukan melalui workshop atau pelatihan yang diselenggarakan oleh programmer jaringan.

Ketiga, programmer. Berfungsi merancang, membuat, dan mengembangkan perangkat lunak (software) sistem informasi perpustakaan yang dioperasikan secara otomasi dan digital. Oleh karena program aplikasi dalam sistem informasi perpustakaan digital ini adalah sistem yang cukup rumit, pada awalnya pihak pesantren dapat bekerja sama dengan pihak konsultan atau vendor yang telah memiliki lisensi dan diharapkan telah melakukan studi banding secara matang dalam pengembangan sistem informasi perpustakaan digital.

Kerjasama ini diperlukan agar program dapat dioperasikan dalam sistem jaringan untuk menunjang pengembangan sistem otomasi dan digital library yang merupakan program aplikasi yang stabil, dan telah diuji cobakan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari error program yang dapat merusakan data pada server jaringan.

Analisis Membangun Perpustakaan Digital pada Institusi Perpustakaan
Membangun perpustakaan digital merupakan sebuah tantangan bagi setiap pesantren guna meningkatkan efektivitas dan kualitas pendidikan. Untuk itu, sebelum dikembangkan perlu dilakukan analisis yang mendalam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi sukses tidaknya pesantren membangun perpustakaan digital. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

Strength (Kekuatan)
1. Telah tersedianya teknologi komputasi dan komunikasi yang memungkinkan dilakukannya penciptaan dan pengumpulan informasi dalam format digital.
2. Adanya keinginan dari sebagian besar pengelola, ustadz dan pihak terkait untuk mengembangkan perpustakaan digital guna meningkatkan kualitas pembelajaran pada lembaga pendidikan pesantren.
3. Pesantren adalah milik masyarakat. Jadi kesempatan mencari pendanaan mendirikan perpustakaan digital dapat diperoleh dengan mudah dari stakeholder dan masyarakat secara luas.

Weekness (Kelemahan)
Kelemahan yang utama dari pengembangan sistem informasi perpustakaan digital terletak pada kurangnya SDM dari kalangan pesantren, khususnya yang menguasai pengoperasian dan bahasa pemrograman komputer. Selanjutnya keterbelakangan santri dan pengelola pesantren terhadap perkembangan teknologi informasi mengakibatkan ketergantungan terhadap jasa konsultan atau vendor TI dalam instalasi program. Selain itu, terbatasnya kemampuan SDM dari kalangan pesantren sebagai administrator jaringan yang harus mengetahui seluk beluk bidang TI. Apalagi pengetahuan secara detail dan mendalam tentang seluk beluk program aplikasi informasi digital diperlukan bagi maintenance jaringan dan perbaikan dari kerusakan.

Opportunity (Kesempatan)
Pada dasarnya implementasi konsep perpustakaan digital adalah sebuah tantangan transformasi. Lembaga pendidikan pesantren secara substantif mau tidak mau dihadapkan pada semakin derasnya arus globalisasi yang membuat lembaga pendidikan pesantren mampu menyiapkan lulusan yang memiliki skill dalam penguasaan teknologi informasi disamping ilmu keagamaan pada khususnya. Dengan demikian sarana dan fasilitas perpustakaan digital pada akhirnya sangat diperlukan.

Fungsi sistem informasi perpustakaan digital dalam kerangka ini tidak sekedar sebagai penunjang dalam memenuhi dan meningkatkan pelayanan informasi kepada santri, namun juga berperan penting sebagai driver of change yang menawarkan berbagai perubahan kultur tentang penelusuran dan penemuan informasi dipesantren tradisional. Perubahan kultur yang dimaksud antara lain:
a. Sistem informasi perpustakaan yang tersaji secara digital berperan mengubah prinsip service to santri menjadi service by santri. Jika pada awalnya pihak pesantren (kyai, ustadz) sebagai pusat ilmu dan sumber informasi, maka pada akhir transformasi diharapkan santri melalui sistem ini akan dapat melayani dirinya sendiri (self of service). Sedangkan ustadz atau kyai lebih berperan sebagai fasilitator dalam penyediaan layanan pendidikan dipesantren.
b. Mencoba mengubah fenomena santri in line menjadi santri on line. Dalam arti kata jika pada awalnya proses pendidikan dilakukan secara konvensional, yang memakan waktu lama dan berbelit-belit, dengan pengembangan sistem informasi perpustakaan digital diharapkan layanan pendidikan pesantren dapat diusahakan lebih praktis dan lebih cepat. Dimana melalui perpustakaan digital ini, pembelajaran melibatkan tiap santri secara langsung.
c. Dengan adanya perpustakaan digital, akan dapat mengatasi permasalahan digital divide atau kesenjangan teknologi bagi santri maupun ustadz dipesantren. Artinya dengan aplikasi penerapan pepustakaan digital ini, diharapkan tidak ada lagi istilah gaptek bagi segenap warga pesantren yang memandang jaringan komputer sebagai barang gaib, yang tidak tersentuh oleh intelektualitas manusia.
d. Meningkatkan pelayanan pembelajaran pesantren dengan mengubah paradigma pelayanan berbasis kertas paper based menjadi pembelajaran berbasis teknologi informasi yang lebih cepat, praktis dan efisien.
e. Meningkatkan pengetahuan warga pesantren terhadap konsep teknologi informasi yang berkembang dengan sangat pesat.

Threat (Ancaman)
- Ancaman terhadap kerusakan yang terjadi pada sistem jaringan terutama pada server yang berfungsi sebagai pusat data dan informasi dalam sistem digital, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Hal ini bisa di atasi dengan cara membuat back-up data pada server.
- Penyusunan yang dilakukan ke dalam jaringan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab (Hacking) untuk menghancurkan sistem yang telah dibangun.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa membangun perpustakaan digital pada institusi pesantren memerlukan perencanaan dan aspek manajemen lainnya. Untuk mendirikan perpustakaan digital tersebut, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, biaya, pengalaman, pengetahuan yang mumpuni dari segenap pengelola khususnya terkait dengan teknologi informasi. Dengan partisipasi aktif tersebut, maka membangun dan mengembangkan perpustakaan digital akan mencapai titik keberhasilan dan nilai guna bagi setiap user yang memerlukan informasi. Selain itu, perpustakaan digital memiliki nilai yang strategis dalam pengembangan mutu pembelajaran (talim) dan pengembangan metode pembelajaran. Sehingga pada akhirnya lembaga pendidikan pesantren mampu menghasilkan output yang inovatif, progresif dan akrab dengan perputaran teknologi informasi global.

Sumber Rujukan
Ansemini, V. 1997. Futuristics in Education. Innotech-Seameo, Qezon City.
Gagne, Elen D. 1985. The Cognitive Psychology of School Learning, Boston: Little Brown and Company.
Griffin. 1999. An Architecture for Collaborative Math and Science Digital Libraries , MS thesis (Virginia Tech Department of Computer Science, Blacksburg, VA).
http://www.diglib.org/about/dldefinition.htm), Download 10 Maret 2012.
http://nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news. download tanggal 15 Desember 2010.
Merril, Irving R.,&Drob, Harold A. 1997. Criteria for Planning for College and University Learning Resources Centre, Association for Educational Communications and Technology, Washington, DC.
Moesa, Ali Maschan. 2002. NU, Agama dan Demokrasi, Surabaya: Pustaka Dai Muda.
Mustaji. 1993. Pemanfaatan Lembaga Sumber Belajar Untuk Pengembangan Sumber Daya Manusia (Makalah Temu Karya) LSB. Jakarta
Nasution, Hakim. 2004. Sistem Informasi Kampus: Sebuah Kebutuhan bagi PT untuk Bisa Bekerja Secara Optimal. Yogyakarta: Wahana Komputer.
Soedijarto. 1997. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Grasindo.
Soedijarto. 2000. Pendidikan Nasional sebagai Wahana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara-Bangsa, Jakarta: Cinaps.
Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sumardji. 1998. Perpustakaan: Organisasi dan Tata Kerjanya, Jakarta: Kanisius.
Sutarno NS. 2004. Manajemen Perpustakaan : Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Sagung Seto.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Wahid, Abdurrahman. 2001. Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan, Jakarta: Desantara
Ziemek, Manfred. 1983. Pesantren dalam Perubahan Sosial, Jakarta: P3M.
Sumber: http://www.pnri.go.id/MajalahOnlineAdd.aspx?id=235

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

kriteria perpustakaan ideal, pengertian selera

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


eight × = 32

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose