Home / Artikel Perpustakaan / Meminimalisir Tindakan “Copy Paste” Melalui Perpustakaan

Meminimalisir Tindakan “Copy Paste” Melalui Perpustakaan

Masyarakat yang maju dan beradap salah satu cirinya adalah ditandai dengan adanya semangat inteletualitas dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan. Syarat peradaban maju adalah ditandai adanya budaya membaca, menulis dan berdiskusi. Adapun  gudangnya bahan bacaan adalah perpustakaan, tempatnya menulis adalah media.

Seiring semakin canggihnya teknologi, banyak masyarakat yang ingin hidup serba praktis. Di dunia intelektual seperti kampus media digital ( internet ) mampu menggeser peran dari perpustakaan tradisional. Sehingga banyak mahasiswa jika ditugasi dosen untuk membuat makalah atau karya ilmiah banyak yang memilih cara praktis seperi copy paste pada karya orang lain yang ada di internet. Hal ini tentu bukan budaya yang menguntungkan bagi dunia intelektual kita.

Di samping itu pada tahap selanjutnya bisa mengancam eksistensi perpustakaan tradisional pada lembaga pendidikan seperti kampus dan sekolah. Sehingga diperlukan upaya-upaya yang bisa membuat perpustakaan bisa hidup dan dicintai civitasnya tanpa menutup pada perkembangan teknologi.

Permasalahan

Tulisan ini mengangkat permasalahan seputar budaya copy paste mahasiswa kita kala menghadapi tugas membuat makalah. Bahkan mereka enggan membuat referensi yang berasal dari perpustakaan yang pada gilirannya merusak ritme intelektualitas dan memarjinalkan keberadaan perpustakaan sebagai jantungnya tiap lembaga pendidikan.

Tujuan penulisan

Dengan tulisan ini diharapkan ada jalan keluar yang mampu menggiring mahasiswa atau pelajar untuk mencintai perpustakaan dan mefanfaatkan fungsinya seoptimal  mungkin. Terutama menyangkut kerja-kerja intelektual sehingga meminimalisasi budaya copy paste atau menjiplak karya orang lain.

Landasan Teori

Teori yang dipakai pada tulisan ini adalah menyangkut ilmu perpustakaan yang dikolaborasikan dengan kenyataan empiris di lapangan menyangkut keberadaan perpustakaan sekolah atau kampus.

Pembahasan

Jika bahasa merupakan kunci ilmu pengetahuan, maka buku adalah jendela pengetahuan. Demikian ungkapan orang bijak mengekspresikan betapa pentingnya membaca. Dengan membaca maka akan terbuka wawasan seseorang terhadap perbagai hal yang di hadapi dalam kehidupan.  Dari ungkapan tersebut  menyiratkan betapa pentingnya sebuah perpustakaan sebagai jantung  pengetahuan.

Menurut pengertiannya, Perpustakaan merupakan  suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.

Menurut Soetopo (2002)  perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah yang bermaksud menunjang  program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan, penyimpanan dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka, dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan.

Sebagai salah satu unsur penunjang dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan di lingkungan akademis,  perpustakaan memiliki peran dan fungsi  yang tidak sedikit.  Yaitu antara lain; sebagai pusat informasi, sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, rekreasi serta pelestarian khasanah budaya bangsa.

Secara empiris, masih banyak lingkungan akademis seperti sekolah yang masih belum mempunyai perpustakaan dan ada sebagaian yang kondisinya sangat menyedihkan. Belum optimalnya jantung pengetahuan tersebut  disebabkan  karena masih minimnya kesadaran  kepala sekolah bersangkutan akan pentingnya perpustakaan sekolah. Sehingga prioritas untuk membangun perpustakaan yang ideal masih kalah dibanding  membangun berbagai menara gading yang sebenarnya tidak signifikan untuk pengembangan pendidikan.

Berangkat dari permasalahan di atas,  menyiratkan betapa pentingnya sebuah perpustakaan yang merupakan tempat berkumpulnya berbagai khazanah pengetahuan dalam bentuk buku maupun dokumen tertulis atau tergambar lainnya. Sebelum media digital muncul, perpustakaan merupakan satu-satunya tempat orang mencarai refensi data.

Namun setelah muncul media digital seperti internet, seolah-olah orang enggan berkunjung ke perpustakaan karena sifat kepraktisan dari media digital. Tulisan ini bukan berarti menegasikan keberadaan internet sebagai ekses dari kemajuan teknologi, akan tetapi hendak mengatakan secara jujur bahwa hadirnya mesin pencari data seperti Yahoo dan Google menjadikan orang khususnya siswa atau mahasiwa enggan berkunjung ke perpustakaan. Hal ini pada gilirannya budaya baca yang terwujud dari kunjungan siswa atau mahasiswa ke perpustakaan juga minim.

Sementara pada sisi lain di luar komunitas pelajar atau masyarakat pada umumnya menganggap keberadaan perpustakaan umum bukan merupakan sesuatu yang penting bagi mereka, kenyataan ini pada akhirnya membuat perpustakaan daerah yang dikelola pemerintah daerah menjadi sepi pengunjung. Kondisi ini diperparah dengan minimnya sosialisasi akan pentingnya perpustakaan oleh pemda bersangkutan.

Kemudahan dalam memperoleh data melalui internet yang diikuti gerakan copy paste membuat perpustakaan kian hari kian terpinggirkan bagi mahasiswa atau pelajar. Apalagi kondisi ini diperburuk oleh layanan dan pengelolaan perpustakaan tradisional.  Kondisi ini diperparah oleh rendahnya budaya baca  di kalangan masyarakat Indonesia serta tenaga perpustakaan yang kurang kompeten di bidangnya. Kendati demikian, untuk lingkungan perguruan tinggi, Perpustakaan sudah menjadi kebutuhan utama meski saat ini banyak dari mahasiswa yang memilih copy paste di Internet.  Parahnya juga tak semua dosen mengetahui atau peduli kalau makalah tersebut hanya copy paste.

Sehingga jangan kaget kalau pengunjung perpustakaan kampus atau sekolah situasinya berbeda pada dekade 90-an dan awal 2000-an. Pada tahun tersebut perpustakaan masih menjadi primadona sebagai tempat utama mencari referensi tugas-tugas kuliah. Namun mendekati tahun 2010 ini justru perpustakaan sepi lantaran banyak yang memilih mencari data di internet.

Copy paste di internet sebenarnya bukan tanpa kelemahan. Banyak sekali situs atau blog di internet yang isinya tak lebih sebagai ajang gaul dan kurang mencerminkan intelektualitas. Sehingga kalau ingin memakai referensi tentu akan mengalami kesulitan sebagaimana yang dikehendaki dalam ritme kerja keilmuan.  Berangkat dari permasalahan ini, mensinergikan antara perpustakaan dengan media digital merupakan langkah realistis dalam upaya menumbuhkan minat cinta terhadap perpustakaan. Intinya adalah bagaimana meminimalisasi tindakan copy paste dalam mengerjakan tugas tugas akademis dan tetap melakukan budaya intelektualitas dengan alur sebagaimana mestinya.

Di beberapa perguruan tinggi modern sebenarnya telah dilakukan sinergisasi antara jaringan internet dengan perpustakaan dalam satu lokasi.  Bahkan  adanya perpustakaan digital di Indonesia merupakan  eksperimen sekelompok orang di perpustakaan pusat Institut Teknologi Bandung (ITB). Sekelompok orang tersebut kemudian  memprakarsai Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia bekerja sama dengan Computer Network Research Group (CNRG) dan Knowledge Management Research Group (KMRG).

Proyek ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, menumbuhkan semangat berbagi pengetahuan antar pendidikan tinggi dan lembaga penelitian melalui pengembangan jaringan nasional perpustakaan. Proyek kecil ini kemudian mendapat sambutan positif dari berbagai pihak sehingga marak.  Adapun anggotanya antara lain;  Litbang Depkes, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Magister Manajemen (MM ITB), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Universitas Cendrawasih (Uncen), Papua, Universitas Tadulako (Untan), Sulawesi Tengah, dan Universitas Yarsi, Jakarta, aktif melakukan tukar-menukar data.

Boleh dibilang hal tersebut merupakan langkah cerdas dalam menjawab tuntutan zaman. Namun kalau mau dicermati, perpustakaan digital masih menyimpan kekurangan terutama dari segi pengguna. Yakni munculnya dampak psikologis berupa rasa malas membaca dan cenderung menggambil data-data illegal dari khasanah keilmuan yang ada. Sehingga turut mengkerdilkan budaya intelektual dan pengembangan kreativitas karya ilmiah yang bersumber dari diri sendiri.

Media internet, praktis is oke, tapi  kalau mengurangi kreativitas berkarya ya sama saja tak ada artinya. Misalnya, seorang mahasiswa diberi tugas oleh doesnnya untuk membuat makalah dengan tema tertentu. Maksud sang dosen agar mahasiawa mampu memunculkan ide tau pemikirannya terhadap suatu masalah guna mencari penyelesaian sesuai pemikiran masing-masing. Namun dengan adanya media digital, mahasiswa tersebut lebih memilih copy paste di internet dari pada berkunjung ke Perpustakaan untuk mencari referensi. Hal ini berarti si mahasiawa melakukan pelanggaran terhadap hak cipta orang lain serta malas berkreasi sendiri. Kebiasaan ini tentu bukan sesuatu yang baik. Dari segi efisiensi dan kepraktisan media digital memang jauh lebih baik, tapi dari segi kreativitas berkarya jadi menurun.

Maka dari itu alangkah lebih arifnya jika hadirnya teknologi baru  bisa mendukung hal-hal positif serta tidak merusak budaya intelektualitas terhadap cara-cara tradisional. Guna menggiring mahasiswa ataupu pelajar agar mencintai perpustakaan memerlukan peran serta berbagai kalangan. Bagaimana caranya?

Sebagai salah satu gambaran, misalnya  upaya menanamkan cinta perpustakaan sekolah pada anak didik.  Ini tak cukup dilakukan sosialisasi untuk mengajak siswa berkunjung ke perpustakaan saja. Namun juga mengkoordinir guru mata pelajaran bersangkutan bagaimana caranya agar siswa bergantung pada perpustakaan.

Contoh pragmatis misalnya  guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia turut aktif menugasi siswa untuk melakukan identifikasi jenis jenis kalimat ( deskripsi, narasi, persuasi, eksposisi dan sebagainya) di dalam suatu buku atau surat kabar yang ada di perpustakaan. Di samping cara-cara yang lain tentunya. Dengan begitu, siswa yang akan berkunjung ke perpustakaan juga meningkat yang pada akhirnya keberadaan perpus sekolah tidak mati suri.

Kesimpulan dan Saran

Sebagai  upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia salah satunya melalui pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca. Perpustakaan diharapkan menjadi mainsterm dalam  pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca, sehingga semakin disadari bahwa masyarakat gemar membaca (reading society) merupakan persyaratan dalam mewujudkan masyarakat gemar belajar (learning society) sebagai wujud masyarakat yang maju dan beradab. Pun demikian dalam menghadapi tugas-tugas akademis diharapkan mahasiswa atau pelajar bisa menggunakan perpustakaan dalam mencari referensi dan bukan sekedar melalui copy paste di internet.

Penulis: Dwi Haryanto, S. Sos.I

banyuanyar, Surakarta

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


four × 8 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose