Home / Artikel Perpustakaan / Menciptakan Perpustakaan Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Membangun Kualitas Masyarakat

Menciptakan Perpustakaan Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Membangun Kualitas Masyarakat

Perpustakaan merupakan salah satu sarana belajar yang diciptakan dan dipelihara oleh masyarakat. Sejak zaman dahulu perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat, hal ini terjadi karena perpustakaan merupakan hasil ciptaan masyarakat. Sejarah terbentuknya perpustakaan dimulai pada tahun 600 SM, Raja Assurbanipal mendirikan perpustakaan besar di kota Niniveh dengan tujuan untuk menyimpan hasil seni dan pengetahuan masyarakat Babylonia serta bertugas untuk menyebarkan kepada masyarakat. Pada abad pertengahan, gereja mendirikan perpustakaan yang berfungsi untuk menyimpan karya gereja dan menyebarkannya kepada masyarakat. Hingga kemudian pada akhir abad 19 dan awal abad 20an, pemerintah Amerika Utara dan Eropa Barat mendirikan perpustakaan umum yang bertujuan untuk menyebarluaskan pendidikan bagi semua golongan dan pranata sosial masyarakat[1].

Keberadaan perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan arsip-arsip sejarah dan dokumen lainnya. Akan tetapi fungsi yang tidak kalah penting adalah sebagai agen perubahan  dalam membangun kualitas masyarakat. Salah satu ciri masyarakat berkualitas adalah memiliki kesadaran pentingnya membaca untuk meningkatkan kualitas diri. Keberadaan perpustakaan merupakan  wadah untuk menciptakan masyarakat membaca .

Salah satu indikator minat baca adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi oleh sepuluh orang, di negara tatangga seperti Srilangka perbandingannya satu surat kabar adalah 1:38, Philipina 1:30 dan Malaysia 1:18 sementara rasio jumlah penduduk Indonesia dengan surat kabar adalah l:43, artinya konsumsi satu surat kabar untuk 43 orang[2]. Berbagai data menunjukkan  bahwa membaca bagi masyarakat Indonesia belum menjadi sebuah kebutuhan dasar.

Persoalan minat baca dan upaya untuk mengatasinya bukanlah merupakan hal yang baru di Indonesia. Persoalan ini telah menjadi pembicaraan hangat sejak tahun 1956, tepatnya pada tanggal 4 Juli 1956. IKAPI menyampaikan kepada pemerintah republik Indonesia, para wakil rakyat dan masyarakat umum tentang surat terbuka yang berjudul Panca daya. Butir pertama pada surat terbuka tersebut berisi tentang upaya untuk memperluas kemampuan membaca dan memperluas golongan pembaca dengan jalan mendirikan perpustakaan desa. Akan tetapi impian dari IKAPI ini belum terwujud secara sempurna, mantan ketua IKAPI 1963-1968 M. Hoetaoeroek menyatakan bahwa adanya jarak yang jauh antara cita-cita dan pelaksanaannya[3].

Beberapa  asumsi yang menjadi alasan mengapa Indonesia berada pada tataran daya baca yang rendah diantaranya. Pertama, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak, siswa dan mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dan lebih baik, mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, serta  mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dan yang lain. Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku ataupun surfing di internet. Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu, seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket. Keempat, budaya baca memang belum pernah diwariskan oleh nenek moyang. Pada masa kecil  kisah, dan dongeng adat-istiadat dikemukakan secara verbal oleh orangtua, tokoh masyarakat, dan penguasa pada zaman dulu. Kelima, masyarakat   seringkali disibukkan dengan berbagai kegiatan upacara-upacara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga. Pada masyarakat pedesaan, pada umumnya juga disibukkan untuk merawat hewan ternak seperti sapi, bebek, ayam (terlebih kaum perempuan) sehingga setiap hari waktu luang sangat minim bahkan nyaris tidak ada untuk membantu anak membaca buku. Keenam, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan masih merupakan barang aneh dan langka[4].

Meneropong Kondisi Perpustakaan

Tampilan perpustakaan terutama perpustakaan daerah merupakan hal yang penting untuk menarik perhatian masyarakat secara luas. Pada beberapa daerah telah  memiliki perpustakaan yang dapat mengundang daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitarnya, akan tetapi tidak sedikit pula perpustakaan daerah yang masih terkesan jauh dari menarik. Gambaran dengan perpustakaan yang kaku, hening, berdebu dan bau kertas lapuk menjadi negative brand image tersendiri. Kondisi ini menjadi bagian dari problematika  bagi pihak perpustakaan untuk menarik minat masyarakat. Dalam sebuah tulisan yang ditulis oleh Ida Fajar dengan judul Getting Closer to Customer: The Mushrooming of Alternative Libraries in Yogyakarta, Indonesia menyatakan bahwa perpustakaan umum belum memadai dalam melayani masyarakat. Kondisi berjaraknya perpustakaan umum dengan masyarakat, baik dari dimensi ruang tempuh maupun kesempatan waktu mengakses menjadi bagian dari problema tersendiri.

Permasalahan lain adalah mengenai terbatasnya anggaran dana yang dihadapi oleh sebagian besar perpustakaan daerah di Indonesia. Hal ini diperkuat oleh pernyataan kepala perpustakaan Nasional Dady P.Rachmananta  yang menyatakan bahwa persoalan dana yang dihadapai perpustakaan daerah semakin parah, terutama untuk pengadaan buku dan jurnal[5]. Minimnya anggaran menyebabkan perpustakaan kesulitan memenuhi kebutuhan informasi masyarakat yang semakin komplek. Idealnya sebuah perpustakaan yang mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat apabila koleksi buku yang dimiliki selalu up to date.

Selain itu menurut Heri, Keterbatasan anggaran juga menyebabkan perpustakaan tidak mampu melengkapi sarana layanan serta belanja pegawai profesional di bidang perpustakaan. Sarana layanan yang tidak memadai menyebabkan perpustakaan tidak confortable sehingga menimbulkan keengganan masyarakat untuk mengakses perpustakaan. Sedangkan tenaga profesional di bidang perpustakaan sangat diperlukan untuk mendesain perpustakaan sebagai sarana belajar ideal bagi masyarakat[6].

Pada saat ini maju dan mundurnya perpustakaan berada pada otoritas pemerintah daerah, masalah pendanaan perpustakaan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Apabila pemerintah daerah setempat memiliki apresiasi tinggi terhadap perkembangan perpustakaan, maka pemerintah daerah bersangkutan akan mengalokasikan dana yang memadai bagi perpustakaan. Akan tetapi  apabila pemerintah daerah tidak memiliki apresiasi terhadap perpustakaan daerah maka perpustakaan akan berada pada kondisi yang cenderung mati.

Upaya Menumbuhkan Kecintaan Masyarakat pada Perpustakaan

Upaya untuk menumbuhkan minat dan kecintaan masyarakat terhadap perpustakaan dalam tulisan ini penulis membagi kedalam dua langkah. Langkah pertama untuk menciptakan daya tarik masyarakat terhadap perpustakaan adalah menata ulang unsur-unsur internal pada perpustakaan, diantaranya:

a) Tampilan Perpustakaan yang menarik

Tampilan perpustakaan menjadi hal yang sangat penting untuk menarik minat masyarakat. Tampilan pertama berupa bangunan perpustakaan dengan bentuk dan warna yang cerah memberikan kesan yang lebih hidup, disertai dengan lingkungan perpustakaan yang terlihat sejuk dan nyaman menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Dalam hal ini wujud perpustakaan secara fisik menjadi langkah awal untuk menunjukkan eksitensinya.

b)  Mendesain ruang perpustakaan menjadi lebih Colorfull dan Nyaman

Ruangan yang hidup akan terasa lebih nyaman untuk ditempati. Memberikan gambar-gambar lucu khas anak-anak, cat tembok dengan dasar yang cerah serta desain gambar dan isi tulisan yang dapat menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan pengetahuan menjadi sebuah tempat yang dapat memunculkan sebuah inspirasi. Ruang baca  dengan memiliki view ke taman atau kolam akan menambah suasana yang nyaman, tenang, rileks dan menambah estetika. Disamping  itu Pencahayaan dan sirkulasi udara sangat dibutuhkan dibagian ruang baca. Untuk pencahayaan di siang hari dapat mengandalkan cahaya matahari, cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan di siang hari sangat membantu mengurangi kelembapan

Penempatan dan penyusunan buku-buku juga menjadi aspek penting untuk menarik minat pengunjung. Menempatkan buku-buku baru di bagian paling depan dan mudah dijangkau, dengan katalog yang lengkap dapat membantu untuk lebih mudah menemukan buku yang dicari.

c)       Meningkatkan sumber daya para pegawai.

Peningkatan sumber daya pada para pegawai (pengurus perpustakaan) merupakan agenda penting. Pengasahan skill ini dapat berupa pelatihan teknis maupun pengembangan kepribadian pegawai. Pelatihan teknis bertujuan untuk pengembangan perpustakaan secara teknis dan administratif, sedangkan pengembangan kepribadian bertujuan untuk melejitkan loyalitas dan mutu pelayanan kepada masyarakat, dengan demikian masyarakat merasa nyaman dan puas dengan pelayanan yang diberikan.

Langkah kedua adalah pengembangan perpustakaan yang bersifat eksternal, diantaranya:

a) Pemasyarakatan perpustakaan

Pemasyarakatan perpustakaan ini dapat melalui sosialisasi dengan media cetak, media  elektronika, leaflet, spanduk dan event-event yang menarik perhatian masyarakat. Diantara event-event yang dapat dilakukan, pertama Book fair. Mengadakan bazar buku di area perpustakaan dengan serangkaian acara yang lain, misalnya bedah buku, talk show dan sebagainya dapat menarik pengunjung. Kedua, memperingati moment-moment yang berkaitan dengan pendidikan, seputar buku & perpustakaan. Seperti halnya memperingati bulan buku nasional pada tanggal 2 Mei serta bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan pada tanggal 14 September. Peringatan-peringatan seperti ini dapat dilakukan dalam bentuk sarasehan, bedah buku maupun lomba-lomba yang melibatkan setiap unsur masyarakat terutama anak-anak.

b)      Layanan perpustakaan keliling (pusling) dengan mobil pintar dan motor pintar.

Pelaksanaan layanan ini dapat dilakukan di tempat-tempat ramai dan strategis serta  daerah-daerah yang jauh dari  perpustakaan daerah. Dengan demikian layanan perpustakaan keliling dapat melakukan kegiatan taman baca. Pelaksaan ini dapat dilakukan secara berkala.

c) perpustakaan alternatif

Pelaksanaan perpustakaan alternatif ini dapat terlaksana apabila anggaran dana yang disediakan oleh pemerintah daerah memadai. Pendirian perpustakaan alternatif dapat ditempatkan di daerah yang tidak mudah untuk menjangkau perpustakaan pusat daerah. Hal ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat untuk mengakses pengetahuan.

Perpustakaan alternatif telah direalisasikan oleh pemerintah Yogyakarta. Pemerintah Yogyakarta sangat mendukung terhadap pendirian perpustakaan alternatif (masyarakat) tersebut,  bentuk dukungan ini terbukti dalam dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Yogyakarta Tahun 2007. Dalam dokumen tersebut Pemerintah Kota mengalokasikan dana sebesar Rp.591.000.000,- rupiah sebagai dana stimulan bagi 110 perpustakaan masyarakat. Dana tersebut mengalir dalam tiga jalur kategori perpustakaan, yaitu: kategori A ialah perpustakaan yang sudah baik sebanyak 33 perpustakaan yang masing-masing memperoleh bantuan sebesar Rp 5,5 juta. Kategori B, perpustakaan yang sudah terbentuk, tetapi belum berjalan sebagaimana mestinya karena kurangnya dana operasional atau koleksi buku yang dimiliki sudah jenuh. Ada 35 perpustakaan dalam kategori B yang masing-masing dikucuri bantuan sebesar Rp. 4,5 juta. Terakhir, Kategori C yakni perpustakaan rintisan sebanyak 42 buah mendapat bantuan sebesar Rp. 6 juta per perpustakaan[7]. Beberapa tahun ke depan, Pemerintah Kota Yogyakarta bercita-cita semua RW di Yogyakarta yang berjumlah 600-an memiliki perpustakaan.

Langkah yang dilakukan oleh pemerintah kota Yogyakarta patut dicontoh oleh daerah-daerah yang lain. Dilihat dari segi pendanaan perpustakaan alternative tergolong tidak murah, akan tetapi jika dilihat dari cita-cita untuk meningkatkan kualitas bangsa proyek ini dirasa perlu.

Keberadaan perpustakaan alternative ini dapat disesuaikan dengan kondisi keberadaan masyarakat sekitar serta kebutuhannya. Sebagai contoh, perpustakaan alternative yang berada di pedesaan dengan mayoritas mata pencaharian petani, dominasi koleksi buku dapat berupa buku-buku seputar pertanian, cocok tanam dan buku-buku anak.  Perpustakaan ini juga dapat dikembangkan dengan membuka jasa konsultasi seputar pertanian atau  mengadakan sarasehan yang berkaitan dengan pertanian. Demikian juga perpustakaan alternatif  yang berada di daerah nelayan, dominasi buku-buku yang disediakan adalah  buku-buku yang berkaitan dengan perikanan. Dengan demikian masyarakat akan termotivasi untuk mencari solusi melalui membaca, dan mereka akan berusaha mencuri waktu untuk membaca.

d)            Merangkul masyarakat yang memiliki minat baca tinggi sebagai duta perpustakaan

Memberikan apresiasi bagi masyarakat yang memiliki minat baca tinggi dapat mendorong masyarakat lain untuk berpacu meramaikan perpustakaan.  Apresiasi yang diberikan adalah sebagai duta perpustakaan. Duta perpustakaan ini dapat diambil dari pengunjung perpustakaan daerah melalui penilaian pengunjung paling sering mengunjungi dan meminjam buku selama jangka waktu tertentu. Penilaian lain berupa penilaian terhadap minat baca, bentuk penilaian ini dapat berupa skala untuk menilai seberapa tinggi minat terhadap membaca. Penyeleksian pertama dapat dilakukan melalui daftar hadir pengunjung dan peminjam buku.  Penyeleksian kedua dapat melalui skala, dengan mengambil tiga besar dari hasil seleksi pertama, dan penyeleksian terakhir dapat  berupa tes wawancara untuk menguji kapabilitas peserta.

Duta perpustakaan yang terpilih dapat membantu untuk mensosialisasikan perpustakaan pada masayarakat luas. Misalnya, dalam beberapa waktu mensosialisasikan perpustakaan dan pentingnya mencari sebuah pengetahuan melalui membaca. Bentuk sosialisasi dapat berupa talkshow dengan menceritakan pengalaman mengenai pentingnya membaca, sarasehan serta bentuk kegiatan sosial lainnya, seperti membacakan dongeng pada anak-anak  di kampung.

Mewujudkan masyarakat membaca dan masyarakat cinta perpustakaaan merupakan cita-cita luhur yang harus diperjuangkan bersama. salah satu indikator Majunya sebuah masyarakat dapat dilihat dari minat baca dan eksistensi perpustakaan ditengah-tengah masyarakat. Yunani merupakan bangsa yang berkemajuan, bangsa yang menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan dan hingga saat ini Yunani tetap menjadi rujukan dalam dunia ilmu pengeahuan.

Kutipan dari Andre Maurois seorang sastrawan Prancis dalam tulisannya yang berjudul Public Libraries and Their Mission semoga menjadi renungan bersama.

tidak ada hal yang lebih penting bagi umat manusia dari pada membawakan buku-buku dalam jangkauan semua orang, buku yang dapat meluaskan pandangan dapat membebaskan kita dari diri kita sendiri, dapat mendorong kita ke penemuan-penemuan baru dan benar-benar dapat mengubah kehidupan serta membuat seseorang menjadi anggota masyarakat yang berharga. Satu-satunya jalan untuk melaksanakan ini ialah melalui perpustakaan-perpustakaan.

@@@

Daftar Pustaka

Arif. Blog : www.arif.staf.ugm.wordpress.com ,  Akses 31 Maret 2008

Rosyidi Imron. Pengaruh Budaya Membaca Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa UIN Malang. 2004. Laporan Penelitian Lemlit UIN Malang

Taryadi Alfons. Problema dan Prospek Dunia Penerbitan Buku di Indonesia (dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa), 2001, Yogyakarta : Kanisius. Hal 134

Arixs. Enam penyebab Rendahnya minat baca.www.hotnews.com 29 Mei 2006

Jawa Pos, 11 Juni 2004

Hakim Heri Abi Burachman. Swadaya Masyarakat Membangun Perpustakaan. Blog: www.Her-abi.staff.ugm.ac.id. Akses 12 Januari 2008

Subhan Ahmad, Perpustakaan (Alternatif ) Masyarakat Kota Yogyakarta. Blog: www.Ahmad _Subhan.blogspot.com.  Akses  19 Juli 2009


[1] Arif. Blog : www.arif.staf.ugm.wordpress.com ,  Akses 31 Maret 2008

[2] Rosyidi Imron. Pengaruh Budaya Membaca Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa UIN Malang. 2004. Laporan Penelitian Lemlit UIN Malang

[3] Taryadi Alfons. Problema dan Prospek Dunia Penerbitan Buku di Indonesia (dalam Buku Membangun Kualitas Bangsa), 2001, Yogyakarta : Kanisius. Hal 134

[4] Arixs. Enam penyebab Rendahnya minat baca.www.hotnews.com 29 Mei 2006

[5] Jawa Pos, 11 Juni 2004

[6] Hakim Heri Abi Burachman. Swadaya Masyarakat Membangun Perpustakaan. Blog: www.Her-abi.staff.ugm.ac.id. Akses 12 Januari 2008

[7] Subhan Ahmad, Perpustakaan (Alternatif ) Masyarakat Kota Yogyakarta. Blog  Ahmad Subhan. Akses  19 Juli 2009

Penulis: Latifatul Masruroh

Jember

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


7 − one =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose