Home / Artikel Perpustakaan / Mengembalikan Identitas dan Eksitensi Mahasiswa Sebagai Aktor Intelektual

Mengembalikan Identitas dan Eksitensi Mahasiswa Sebagai Aktor Intelektual

Indonesia merupakan negara yang sangat heterogen, bahkan dapat dikatakan paling heterogen di dunia. Salah satu heterogenitas masyarakat Indonesia adalah pada tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Namun, belum banyak masyarakat Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan hingga Perguruan Tinggi. Karena alasan inilah, mahasiswa dalam hal ini adalah orang yang mencari ilmu tingkat tinggi ataupun mengikuti perkuliahan di Perguruan Tinggi, sehingga dianggap memiliki pengetahuan yang lebih banyak dan tentu saja lebih tinggi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa julukan yang melekat pada mahasiswa adalah sebagai aktor intelektual, dimana mahasiswa diharapkan dapat memberikan kontribusi secara intelektual untuk mengubah negara ke arah yang lebih baik dan sudah menjadi tugas mereka untuk meneruskan perjuangan para tokoh – tokoh terdahulu yang perlu ditransformasikan pada tradisi intelektual.

Tugas berat yang ada di pundak mahasiswa saat ini adalah bagaimana menjadi seorang mahasiswa yang berkualitas dari segi intelektual. Seorang mahasiswa dikatakan berkualitas apabila ia mempunyai wawasan luas dan mendalam serta tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang yang digelutinya. Mahasiswa juga diharapkan dapat berpartisipasi dalam merenovasi bangsa di berbagai bidang, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan tentu saja di bidang kesehatan. Untuk itu, mahasiswa dituntut agar selalu mengembangkan dan memperkaya khazanah pengetahuan, meningkatkan kreativitas dan daya intelektualnya sekaligus mengembangkan spesialisasi keilmuan mereka agar dapat memberikan kontribusinya kepada negara secara nyata. Pertanyaanny, apakah para mahasiswa telah benar-benar menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik?

Berbagai upaya telah dilakukan Perguruan Tinggi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikannya agar diperoleh output mahasiswa yang berkualitas. Upaya upaya tersebut diantaranya adalah perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas dosen dan yang paling nampak adalah peningkatan penyediaan fasilitas-fasilitas kampus yang memadai. Namun apakah cukup peningkatan kualitas hanya dilakukan oleh pihak kampus saja? Banyak Perguruan Tinngi yang kini telah menyediakan berbagai fasilitas penunjang yang memadai, bahkan sangat potensial dalam memenuhi kebutuhan civitas akademika dan menunjang peningkatan kualitas para mahasiswanya. Salah satu fasilitas penunjang tersebut adalah perpustakaan. Perpustakaan disini merupakan tempat yang menyediakan berbagai media informasi, tidak hanya berbagai macam koleksi buku yang lengkap, namun juga berbagai media lain misalnya surat kabar, majalah, journal, koleksi buku berbahasa asing ataupun fasilitas internet. Di perpustakaan inilah mahasiswa dapat belajar secara mandiri (self education), dimana belajar mandiri merupakan ciri khas belajar di Perguruan Tinggi. Hal  ini membuktikan bahwa inisiatif untuk belajar aktif dituntut lebih banyak pada mahasiswa, salah satunya yaitu dengan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk berkunjung ke perpustakaan baik dengan membaca ataupun menulis.

Manfaat perpustakaan sangat penting untuk mengasah kemampuan analisis dan pendalaman materi perkuliahan serta mencari berbagai informasi yang diperlukan. Perpustakaan memiliki bahan pustaka yang beraneka ragam jenisnya dan berbagai referensi yang lengkap tersedia disana. Buku-buku sebanyak mungkin dapat dibaca, baik buku yang dianjurkan dosen maupun buku lain yang tidak dianjurkan. Dosen sebaiknya menyarankan mahasiswa agar tidak membatasi diri hanya membaca buku yang dianjurkan dosen saja, tetapi mahasiswa harus mau membaca buku mengenai fenomena yang sama sebanyak mungkin. Hal itu akan memberikan pandangan dari banyak pakar, sehingga membaca akan memperluas wawasan kita mengenai objek studi yang kita pelajari. Ada yang perpu kita introspeksikan pada diri kita sendiri yaitu apakah semua fasilitas yang disediakan di perpustakaan ini telah digunakan seoptimal mungkin oleh para mahasiswa? Tugas mahasiswa bukan hanya mendengarkan kuliah dosen saja, namun juga harus mampu mengembangkan diri sendiri. Aktivitas di perpustakaan tentu saja akan membantu penguasan ilmu dan ketrampilan untuk dapat dikembangkan lagi. Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang sangat bisa dilakukan di perpustakaan. Membaca merupakan bagian terpenting yang harus dipergunakan mahasiswa untuk mencapai tujuannya, yaitu memperkaya dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan membaca inilah seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kecerdasan. Untuk tujuan akademik membaca adalah untuk memenuhi tuntutan kurikulum sekolah atau Perguruan Tinggi. Buku sebagai media transformasi dan penyebarluasan ilmu. Buku pula yang mampu membuat kita bisa menembus  batas-batas geografis suatu negara dengan mudah, sehingga ilmu pengetahuan dapat dikomunikasikan dan digunakan dengan cepat di berbagai belahan dunia.

Dengan melakukan aktivitas membaca dan menulis, mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan memahami dan mengaplikasikan bidang keilmuan yang tentu saja sangat menunjang proses akademiknya. Aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membudayakan aktivitas membaca. Dengan kata lain, aktivitas menulis mahasiswa berkaitan erat dengan aktivitas membacanya. Berbagai persoalan muncul seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu permasalahan yang ada di tengah mahasiswa saat ini adalah rendahnya budaya intelektual pada mahasiswa, yang ditandai dari rendahnya aktivitas membaca dan menulis pada mahasiswa. Budaya itu makin langka dan meluntur tanpa diketahui secara pasti apakah penyebabnya.

Organisation for Economic Cooperatian and Development (OECD) melakukan tes komprehensif di 41 negara pada tahun 2003 dan 2006 (pertiga tahun) sebagai sebuah upaya untuk mengetahui keberadaan budaya membaca atau apakah budaya membaca telah benar-benar hilang atau belum. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengukuran kemampuan reading yang tujuannya untuk peningkatan kualitas sistem pendidikan. Data mengenai posisi Indonesia dalam tes tersebut menurut survey The OECD programme for International Student Assesment (PISA) di bidang reading, pada tahun 2003 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 31, dan tahun 2006 dengan urutan yang tak juga berubah. Inilah fakta yang terjadi mengenai Sumber Daya Manusia di Indonesia yang menunjukkan rendahnya kualitas sumber daya manusianya, yang tidak terlepas dari mahasiswa itu sendiri.

Penyebab menurunnya aktivitas di perpustkaan dan budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa yang cenderung masih rendah belum diketahui secara pasti, namun diduga hal ini dikarenakan menipisnya rasa ingin tahu mahasiswa terhadap pengetahuan. Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah karakter sebagian mahasiswa yang saat ini lebih menyukai pekerjaan yang tidak terlalu berat, dimana menulis kadang dianggap beban dan memberatkan mahasiswa.

Lalu upaya apa saja yang dapat dilakukan dalam mengembalikan identitas dan eksistensi mahasiswa sebagai aktor intelektual? Hal ini tentu saja tidak dapat dilakukan dari satu pihak saja namun berbagai pihak sebaiknya turut berperan aktif dalam hal usaha ini. Pihak Perguruan Tinggi misalnya, ikut berperan mengadakan berbagai lomba penulisan berbagai Karya Tulis Mahasiswa, seperti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) dan Program Penulisan Kritis Mahasiswa (PPKM) dengan berbagai hadiah atau penghargaan yang tentu saja dapat meningkatkan minat baca dan tulis di kalangan mahasiswa. Upaya ini juga dapat dilakukan dari pihak dosen yaitu dengan memberikan tugas makalah atau paper, dimana mengharuskan mahasiswa mencari referensi di perpustakaan. Pihak lain yang juga ikut berperan yaitu perpustakaan. Perpustakaan sebaiknya turut berperan aktif, antara lain dengan mengadakan berbagai lomba baik lomba penulisan artikel, resensi atau karya tulis lain dengan berbagai hadiah misalnya buku terbaru atau buku best seller. Acara-acara seru yang sekiranya dapat menarik minat mahasiswa sebaiknya dilaksanakan secara rutin, misalnya acara temu penulis di perpustkaan yang menghadirkan pembicara yang kompeten di bidangnya. Cara lain yang dapat dilakukan oleh perpustakaan yaitu dengan memperpanjang jam buka layanan. Jam buka yang biasanya hanya dari pagi sampai sore hendaknya diperpanjang hingga malam. Perpanjangan jam buka ini diharapkan akan memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang mempunyai waktu terbatas dimana biasanya pagi hingga siang hari digunakan untuk kegiatan perkuliahan, maka pada malam hari bisa berkunjung ke perpustakaan. Contohnya mereka, mahasiswa keperawatan yang sedang ikut profesi ners, atau mahasiswa bidan yang sedang praktik klinik di lapangan, waktu malam bisa digunakan untuk memanfaatkan layanan perpustakaan.

Berbagai cara yang dapat dilakukan di atas tentu saja tak dapat berhasil jika dari pihak mahasiswa sendiri tidak memberikan apresiasi dan respon yang baik. Untuk itu, diperlukan kesadaran pihak mahasiswa. Peningkatkan motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri sangat diperlukan. Seorang mahasiswa yang ingin mencapai sukses dalam studinya harus mempunyai strategi khusus dalam memanfaatkan waktu untuk belajar semaksimal mungkin. Untuk itu diharapkan mahasiswa dapat memanfaatkan waktunya secara baik misalnya dengan mengunjungi dan melakukan berbagai aktivitas di perpustakaan. Dengan berbagai upaya yang dilukan tersebut diharapkan akan muncul respons positif dari mahasiswa dengan cara : Pertama, mengerjakan tugas-tugas penyusunan makalah, paper dan berbagai tugas akademik lain sesuai kaidah keilmuan dan berdasarkan hasil analisis mahasiswa. Kedua, berperan dan berpartisipasi aktif dalam setiap perlombaan Karya tulis Ilmiah sebagai upaya menerapkan dan menguji ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya. Ketiga, mengembangkan ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya melalui karya- karya tulis yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Ketiga respons positif yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut, akan memberikan perubahan  negara ke arah yang lebih baik, sehingga cita-cita akan tercapai dan perjuangan terus berlanjut. Mahasiswa yang menyandang titel sebagai aktor intelektual tentunya harus mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan layanan perpustakaan. Perpustakaan sangat sesuai sebagai partner dalam  pengembangan iltelektualitas mahasiswa. Jadi, wahai para kaum intelektual, mari kita meningkatkan diri untuk bisa mempertahankan identitas dan eksistensi mahasiswa sebagai aktor intelektual.

DAFTAR PUSTAKA

Muijs, Daniel & David Reynolds, 2008. Effective Teaching Teori dan Aplikasi, Edisi Kedua, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Tampubolon, Daulat P., 2001. Perguruan Tinggi Bermutu, Paradigma Baru Manajemen Pendidikan Tinggi Menghadapi Tantangan Abad ke 21, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tilaar, H. A. R, 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21, Indonesia Tera, Magelang

____ , 2001. PROPENAS 2000 2004, UU No. 25 Th. 2000 Tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000 2004, Sinar Grafika, Jakarta

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&jd=Miskinnya+Budaya+Intelektual+Mahasiswa&dn=20080504085817

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&jd=Budaya+Menulis+di+Kalangan+Mahasiswa&dn=20080603221525

http://www.sunan-ampel.ac.id/forum/topic.php?id=85

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=MENINGKATKAN%20BUDAYA%20MEMBACA%20DALAM%20KEHIDUPAN%20MASYARAKAT%20KAMPUS&&nomorurut_artikel=70

http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=36011

Penulis: Erlina Dwi Lestari

Ngampilan Yogyakarta

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

materi identitas mahasiswa

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


five − 4 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose