Home / Artikel Perpustakaan / Menggagas Perpustakaan Masjid

Menggagas Perpustakaan Masjid

Telah terbukti, bahwa Membaca tidak hanya sebagai proses mengeja huruf, kata, dan angka, melainkan proses kebudayaan. Kegiatan membaca memiliki kaitan yang sangat dekat dengan kebudayaan; misalnya, bahan bacaan atau tulisan. Tulisan sebuah komunitas menjadi penanda kebudayaan dari komunitas tersebut. Demikian pula dengan aspek lain dari membaca itu sendiri. Maka, membaca dengan sendirinya adalah kebudayaan atau, minimal, berkebudayaan.

Di dalam ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa membaca memang proses kebudayaan, yaitu: QS. al-Alaq/96: 1. Ayat yang pertama kali turun ini tidak memerintahkan kita membaca nama Tuhan, melainkan membaca dengan mendasarkan pada nama Tuhan. Membaca mesti didasarkan pada kesadaran akan ketuhanan. Endingnya, diharapkan akan lahir kebudayaan yang Islami.

Dengan demikian, urgensitas membaca menemukan titik labuhnya di sini. Selanjutnya, perlu adanya upaya-upaya serius agar membaca dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan, kebiasaan masyarakat, atau bahkan menjadi ruh dalam kehidupan mereka. Membaca perlu diinstitusikan. Dengan diinstitusikan, akan berlaku mekanisme dan aturan-aturan organisatoris yang, tentunya, mengarah pada peningkatan minat baca masyarakat.

Akan tetapi, kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa tak sedikit dari masyarakat kita yang telah mengambil jarak dengan perpustakaan. Tradisi membaca di masyarakat kita makin luntur, terdegradasi. Dengan sendirinya, perpustakaan telah dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Alih-alih akan ada ketergantungan kepada buku, wong kepada perpustakaannya saja mereka justru tidak mendekat.

Fenomena ini mesti dipandang sebagai masalah serius dan perlu solusi guna mengatasinya. Kecuali, jika kita memang berharap pada runtuhnya kebudayaan bangsa kita?! Dengan memandangnya sebagai masalah serius, akan lahir kesadaran individu, kemudian kesadaran kolektif untuk urun rembug dalam mengeluarkan masyarakat kita dari penyakit akut ini.

Perpustakaan adalah perwujudan dari institusionalisasi membaca. Dengan perpustakaan, kita memiliki peluang yang lebih besar dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun, perpustakaan yang seperti apakah yang mampu mengdongkrak minat baca masyarakat? Tak lain dari perpustakaan yang representatif, perpustakaan yang menyejukkan, dan perpustakaan dengan pengelola yang ramah, kreatif, dan inovatif.

Sebenarnya, dalam soal peningkatan minat baca masyarakat, banyak strategi yang dapat dijalankan, seperti mengadakan perpustakaan keliling, pengentasan buta aksara bagi masyarakat, serta diselenggarakannya lomba-lomba yang berkaitan dengan membaca. Akan tetapi, tulisan ini mengambil stressing pada pengadaan dan peningkatan perpustakaan.

Kajian ini lebih dikrucutkan lagi pada gagasan dibangunnya Perpustakaan Masjid. Oleh karena perpustakaan memiliki nilai urgensitas yang tinggi, maka hal penting yang bisa dilakukan selanjutnya adalah tidak hanya menghiasi perpustakaan dan memolesnya dengan sejumlah aksesoris program dan inovasi-inovasi baru, melainkan juga dengan membuat embrio-embrio yang banyak guna lahirnya perpustakaan di banyak tempat.

Masjid, dalam kehidupan masyarakat muslim, punya daya magis yang luar biasa dan intensitas kunjungan mereka ke tempat ibadah ini sangat tinggi. Bahkan, fakta sejarah menorehkan, bahwa masjid itu multifungsi: tempat ibadah, musyawarah, silaturrahim, pusat dakwah, benteng pertahanan perang, dan juga sebagai lembaga pendidikan. Hemat penulis, memanfaatkan masjid sebagai pusat baca masyarakat, dapat dikategorikan memakmurkan masjid. Selain itu, minat baca masyarakat akan terdongkrak, dan akhirnya kita akan menemukan masyarakat kita sebagai masyarakat yang cerdas, menghargai ilmu pengetahuan, serta memiliki hati yang selalu terikat dengan masjid.

Pada titik ini, gagasan dibangunnya perpustakaan masjid memiliki efek positif yang sangat banyak. Dapat dikatakan, bahwa inilah daya tarik dari kajian ini.

B. PERMASALAHAN

Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, maka penulis membuat rumusan permasalahan sebagai berikut:

1.       Apa problem mendasar dari rendahnya minat baca masyarakat kita?

2.       Bagaimana strategi-taktis membangun Perpustakaan Masjid yang representatif dan bisa menjadi sebagai sumber belajar masyarakat?

3.       Apa saja efek positif yang akan muncul dari gagasan dibangunnya Perpustakaan Masjid?

C. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari penulisan karya ini, minimal, adalah:

1.   Guna mengetahui akar masalah rendahnya minat baca masyarakat kita dan menemukan solusi pemecahannya.

2.   Untuk menemukan cara-cara praktis dalam membangun Perpustakaan Masjid, sebagai gagasan baru, yang representatif dan dapat menjadi rujukan masyarakat.

D. LANDASAN TEORI

Penulisan ini berdasar pada beberapa teori, konsep, dan pendapat tokoh mengenai peningkatan minat baca, pengembangan perpustakaan, dan memakmurkan masjid.

Tentang Kebudayaan:

1.       Menurut E. B. Taylor, Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.

2.       Prof. Dr. Koentjaraningrat: Kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tatakelakuan yang harus didapatnya dengan belajar.

3.       Sultan Takdir Alisyahbana: Kebudayaan adalah manifestasi dari cara belajar.

Jadi, menjadi jelas bahwa Kebudayaan tercipta dari hasil belajar, proses mengetahui. Ilmu pengetahuan yang terekam dalam buku (tersimpan di Perpustakaan) menjadi bahan dasar dari bangunan kebudayaan suatu bangsa.

Pembangunan perpustakaan adalah kata lain dari pembangunan kebudayaan. Demikian pula sebaliknya: peruntuhan (peran) perpustakaan termasuk pembumihangusan kebudayaan. Perpustakaan dan kebudayaan memiliki keterikatan yang kuat. Keduanya saling memengaruhi.

Tentang Buku, Membaca, dan Memakmurkan Masjid:

1.       QS. Al-Alaq/96:1, ??????? ??????? ??????? ??????? ?????? (Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan).

2.       QS. Al-Hajj/22: 32, ???? ?????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ???? ??????? ?????????? (Artinya: Demikianlah [perintah Allah]. Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati])

3.       Ajib Rosidi: Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah, pelajar tanpa buku bagiku bukan pelajar.

4.       Minda Perangin Angin: Pengetahuan sebagian besar tidaklah didapat dari bangku sekolah, melainkan melalui buku.

E. PEMBAHASAN

1. Menggugat Tradisi Baca Masyarakat Kita: Menakar Problem, Menawar Solusi

Saat masih belajar di Sekolah Lanjutan Menengah Atas (SLTA), Guru Bahasa Indonesia penulis menyatakan, bahwa untuk menguasai dunia haruslah dimulai dengan menguasai informasi. Dapat diterima, karena era ini memang era informasi. Globalisasi telah membawa dunia menjadi tanpa batas; barat dan timur, utara dan selatan terpisah hanya dalam peta. Dalam waktu singkat, atau bahkan secara langsung, kita yang tinggal di Indonesia dapat menyaksikan peristiwa yang terjadi di Amerika, Jepang, atau juga di tempat lain. Global Village (kampung global), orang menyebutnya demikian.

Banyak cara guna mendapatkan informasi: mendengar, menonton, atau membaca. Kegiatan membaca memiliki keistimewaan tersendiri. Ia berbeda dengan kegiatan mendengar dan menonton. Membaca melibatkan aspek-aspek terdalam dari manusia: aspek fisik, intelektual, emosional, dan lain-lain. Wajar jika orang bilang: membaca adalah tiang peradaban.

Akan tetapi, hari ini, kita berhadapan dengan kenyataan pahit, yaitu tradisi membaca kita telah teracuni dengan tradisi kelisanan kedua; menambang informasi dari tv dan internet. Anak didik dan masyarakat kita telah mengganti kitab, buku, majalah, dan lain-lain sebagai sumber informasi dengan sumber lain. Mereka berpikir sumber baru itu lebih instan. Sehingga, perpustakaan sekolah, taman baca, perpustakaan keliling, dan perpustakaan umum menjadi sepi.

Kondisi di atas merupakan suatu penanda yang kuat akan rendahnya minat baca anak didik dan masyarakat kita. Pola pikir instan bukan pola pikir yang baik. Di satu sisi, sumber baru itu memang membawa percepatan-percepatan dalam memperoleh informasi, namun menyingkirkan kitab dan buku atau dengan kata lain menjauh dari perpustakaan, merupakan jalan yang tidak bijak.

Rendahnya minat baca atau kesadaran menjadikan buku sebagai bagian hidup dari anak didik dan masyarakat kita disebabkan oleh:

Pertama, minimnya koleksi perpustakaan sekolah atau perpustakaan di lingkungan mereka tinggal. Ragam macamnya koleksi perpustakaan bisa menimbulkan selera dan minat baca mereka. Mulai, koleksi buku-buku komik, cerpen, tata boga, kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik, sampai bidang pertanian.

Kedua, sikap pengelola perpustakaan yang kurang ramah. Kalau perpustakaan diyakini sebagai pintu masuk dalam pembangunan kecerdasan, karakter, dan peradaban bangsa, maka perpustakaan harus dikelola oleh orang yang “cinta buku”, agar dia juga mencintai orang yang berkunjung ke perpustakaan atau orang yang “gila buku”.

Mohammad Ali Hisyam menuturkan tentang kondisi penjaga perpustakaan: “Tak ubahnya polisi yang mengatur lalu lintas buku, penjaga kerapkali berlagak layaknya pengintai yang bertugas meringkus maling ketimbang pelayan yang dengan santun dan terbuka memuaskan dahaga para pengunjung”.

Ketiga, rendahnya daya beli masyarakat. Perekonomian negeri ini yang tak kunjung stabil membuat industri penerbitan buku kesulitan bernafas; di samping ongkos produksi dan distribusi yang tinggi, kemampuan masyarakat membeli hasil produksi (buku) mereka amat rendah. Untuk menjual buku dengan harga murah agar masyarakat dapat dengan mudah menjangkaunya, itu sama dengan bunuh diri. Tingginya harga bahan bacaan, memaksa masyarakat untuk lebih mendahulukan kebutuhan-kebutuhan riil serta mendesak. Daya beli-penerbit-ongkos produksi-distribusi: bagai lingkaran setan. Harga buku di Indonesia pun lebih mahal dari pada harga buku di negara-negara ASEAN.

Keempat, semakin menjamurnya budaya menonton TV. I. Bambang Sugiharto (1998) mengatakan, bahwa televisi sebagai sebuah kekuatan budaya sebenarnya lahir dari tradisi tulis menulis. Namun, secara sangat ironis telah meminggirkan tradisi tulis menulis itu sendiri. Jika dalam pola “membaca” yang lebih dominan adalah aktivasi kesadaran analitis-logis, maka dalam pola “menonton” yang berperan besar adalah gambar/imaji. Barangkali, amat pantas jika disebut “Audio-Visual Syndrom”!

Pergeseran dari budaya baca pada budaya menonton merupakan bencana kebudayaan. Ini tidak boleh dibiarkan merasuk kedalam pola pikir generasi muda kita, yaitu dengan cara memperbanyak perpustakaan yang representatif. Salah satunya Perpustakaan Masjid.

2. Menggagas Perpustakaan Masjid

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa hal yang bisa dilakukan dalam rangka mendongkrak minat baca masyarakat kita adalah, salah satunya, dengan memperbanyak Perpustakaan. Dengan beberapa pertimbangan (sebagaima diurai dalam Pendahuluan karya ini), maka gagasan Perpustakaan Masjid memiliki nilai plus tersendiri, tidak sama dengan perpustakaan lain.

Perpustakaan Masjid diselenggarakan oleh Takmir Masjid yang dalam operasionalisasinya diserah-tugaskan kepada Pengurus Perpustakaan Masjid yang dibentuk takmir. Pengurus Perpustakaan dapat diambil dari unsur Remaja Masjid (Remas) atau pemuda desa di lingkungan masjid. Yang terpenting dari proses rekrutmen pengelola Perpustakaan Masjid adalah ia harus ramah dan memiliki rasa cinta pada membaca dan buku.

Selanjutnya, agar Perpustakaan Masjid dapat berjaya, maka berikut beberapa strategi-taktis yang dapat dilakukan:

1.       Perpustakaan diletakkan di serambi kanan atau kiri masjid. Posisi ini agar mudah terlihat dan diakses oleh jamaah. Tuntutan administrasi jangan sampai membuat jamaah (yang kemudian dijadikan anggota) mengalami kesulitan dalam mengakses bahan pustaka. Apalagi, jamaah masjid tersebut dengan mudah dikenali karena memang dari daerah yang tidak jauh dari masjid dimaksud.

2.       Menerbitkan Buletin Jumat. Buletin ini berisi tema yang beragam sesuai isu teraktual, baik internasional (seperti invasi ke Iraq, dll.), nasional (tentang penetapan 1 Muharram, dll.), atau juga lokal (adanya aliran sesat, dll.). Jika muncul kekhawatiran dengan adanya buletin ini jamaah tidak akan mendengarkan khutbah, maka redaksi wajib menuliskan peringatan Dilarang Dibaca Saat Khutbah.

Redaksi Buletin Jumat juga dapat menerbitkan edisi khusus menjelang bulan ramadlan (misal, berisi faidah shalat tarawih selama sebulan penuh), Hari Raya Idul Fitri (contoh tema: Ber-Idul bersama Nabi, dll.), dan pada hari-hari besar Islam.

3.       Berlangganan Koran. Koran dapat diletakkan di mading dekat parkir masjid atau di halaman masjid yang teduh. Pengurus Perpustakaan bisa mengambil kebijakan berlangganan koran hanya pada hari jumat saja. Karena pada hari jumat, anggota perpustakaan (semua jamaah masjid) banyak yang datang.

4.       Perpustakaan, minimal, memiliki koleksi sebagai berikut:

a.       Khutbah Jumat (edisi dua bahasa: Arab dan Indonesia)

b.      Buku-buku yang berisi tentang keutamaan-keutamaan Hari Jumat, Shalat Jumat, Shalat Jamaah, Bulan Ramadlan, Puasa, Itikaf di masjid, dan lain-lain yang berkaitan dengan ibadah, seperti Rahasia Lailatul Qadar.

c.       Rekaman khutbah jumat khusus yang diterjemah atau ada penjelasan dalam Bahasa Indonesia. Rekaman ini dalam edisi MP3. Dengan edisi MP3, biayanya akan lebih murah dan lebih mudah di back up oleh jamaah untuk koleksi pribadi.

d.      Mengoleksi buku-buku Sejarah Islam

e.      Juga buku biografi Nabi Muhammad; mulai Sejarah Hidup Muhammad (Mohammad Husein Haekal), sampai yang terbaru Muhammad: Rasul Zaman Kita (Thariq Ramadan).

5.       Memberikan penghargaan kepada anggota yang paling sering berkunjung ke perpustakaan; baik karena meminjam, membaca di tempat, atau memang sebatas berkunjung. Bisa juga memberikan penghargaan kepada donatur perpustakaan atau pemasok terbanyak bahan pustaka.

6.       Menyelenggarakan lomba atau kegiatan yang dapat mendongkrak minat baca anggota perpustakaan.

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa gagasan untuk mengadakan Perpustakaan Masjid memiliki banyak efek positif, di antaranya:

1.       Punya nilai ibadah karena termasuk memakmurkan masjid,

2.       Pengurus dan anggota akan memiliki hati yang selalu terikat dengan masjid,

3.       Minat baca masyarakat terdongkrak,

4.       Lahirnya masyarakat yang cerdas, dan

5.       Masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

Sejumlah strategi-taktis ini dapat disempurnakan atau ditambah dengan mempertimbankan tuntutan, situasi, dan masukan dari pihak-pihak yang memiliki perhatian pada masjid dan ilmu pengetahuan.

F. KESIMPULAN DAN SARAN

*Kesimpulan

  1. Problem mendasar dari rendahnya minat baca masyarakat kita?

a.    Minimnya perpustakaan yang representatif,

b.    Sikap pengelola perpustakaan yang kurang ramah,

c.    Rendahnya daya beli masyarakat, dan

d.    Semakin menjamurnya budaya menonton TV.

  1. Adapun strategi-taktis membangun Perpustakaan Masjid yang representatif dan bisa menjadi sebagai sumber belajar masyarakat adalah:

a.    Meletakkan Perpustakaan di serambi kanan atau kiri masjid.

b.    Menerbitkan Buletin Jumat. Redaksi Buletin Jumat juga dapat menerbitkan edisi khusus.

c.    Berlangganan Koran.

d.    Punya koleksi:

1) Khutbah Jumat

2) Buku-buku Fadhail (keutamaan-keutamaan)

3) Rekaman khutbah jumat dalam edisi MP3.

4) Mengoleksi buku-buku Sejarah Islam

5) Buku biografi Nabi Muhammad.

e.    Memberikan penghargaan kepada yang berjasa.

f.      Menyelenggarakan lomba atau kegiatan yang dapat mendongkran minat baca.

  1. Efek positif yang akan muncul dari gagasan dibangunnya Perpustakaan Masjid adalah:

a.    Memakmurkan masjid,

b.    Pengurus dan anggota akan memiliki hati yang selalu terikat dengan masjid,

c.    Minat baca masyarakat terdongkrak,

d.    Lahirnya masyarakat yang cerdas, dan

e.    Masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

*Saran

1.       Minat baca anak didik dan masyarakat mesti terus didorong, salah satunya dengan memperbanyak perpustakaan.

2.       Takmir Masjid perlu mempertimbangkan gagasan perlunya dibangun Perpustakaan Masjid.

3.       Bagi masjid yang sudah memiliki perpustakaan, maka sejumlah strategi-taktis di atas dapat dipertimbangkan dan dilakusanakan.

DAFTAR BUKU BACAAN

Buku:

1.      Drs. Djoko Widagdho, dkk. 1999. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta. Bumi Aksara.

2.      I. Bambang Sugiharto. 1998. Tafsir Dalam Permainan. dalam Ahmad Sahal, dkk. (Ed.). “Utan Kayu: Tafsir dalam Permainan (Karya Pilihan Komunitas Utan Kayu)”. Jakarta. Yayasan Kalam.

3.      Ignas Kleden. 1998. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta. LP3ES.

4.      Minda Perangin Angin. 2004. Berdialog dengan Buku, dalam “Bukuku Kakiku”. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.

Jurnal dan Majalah:

1.      Musaheri. 2005. Membaca Tiang Peradaban. Jurnal EDUKASI (Diknas Sumenep). Edisi No. 03. Halaman 18.

2.      M. Mushthafa. 2005 Tradisi Membaca Di Kalangan Masyarakat Madura: Antara Kemiskinan, Peran Pesantren, dan Komunitas Ilmiah Yang Rapuh. Jurnal EDUKASI (Diknas Sumenep). Edisi No. 03. Halaman 8.

3.      Saiful Rijal Alinata. 2005. Minat Baca Siswa dan Perpustakaan Sekolah. Jurnal EDUKASI (Diknas Sumenep). Edisi No. 03. Halaman 23.

Media Massa:

1.     Ahmad Khotib. Kiai Kampung Saya Bukan Kiai Ceret. Harian Jawa Pos. Minggu, 11 Mei 2008.

2.     Mohammad Ali Hisyam. Perpustakaan Rumah Baca. Harian Jawa Pos. 30 April 2006.

Penulis: Ahmad Khotib

Jln. Makam Pahlawan No. 03 Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Kode pos: 69463

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


9 + = eighteen

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose