Home / Artikel Perpustakaan / Menggugah Spirit Cinta Perpustakaan

Menggugah Spirit Cinta Perpustakaan

Selama ini tanpa terasa telah terjadi pereduksian dalam menyadari kebutuhan untuk membaca dalam masyarakat. Muncul anggapan bahwa membaca buku hanyalah kebutuhan bagi orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan sekolah. Indikator terkecil dari gejala ini dapat terlihat dengan fenomena kecenderungan dalam mengoleksi buku. Masyarakat yang memang pekerjaannya tidak berhubungan dengan sekolah akan enggan membeli buku.

Di sisi lain, dalam masyarakat yang aktivitasnya berhubungan dengan sekolah pun terjadi keengganan dalam membaca dan mengoleksi buku. Siswa maupun mahasiswa yang etos belajarnya rendah hanya akan mau membaca dan membeli buku ketika mendapat tugas dari kelas. Bahkan yang paling parah pun bisa terjadi seperti pelajar yang kerjanya hanya mencari makalah loakan dalam memenuhi tugas kelasnya. Inilah potret masyarakat sekolahan yang tidak menjadi pendukung suburnya dunia baca, yang justru meruntuhkan idealisme belajar.

Sekarang solusinya perlu dilakukan gerakan memperluas kesadaran bahwa kebutuhan membaca buku tidak dibatasi oleh status manusia. Masyarakat apapun profesinya, mereka pada dasarnya butuh selalu membaca. Butuh membaca karena butuh informasi. Buku menjadi salah satu penyuplai kebutuhan itu.[1] Kebutuhan membaca seharusnya dijadikan pandangan hidup yang diikuti semua masyarakat tanpa membedakan status, baik yang masih aktif dengan dunia sekolah maupun sudah memasuki dunia kerja. Kesadaran ini perlu menjadi kesepakatan bersama, milik bersama dan menggugah semua pihak untuk mengkampanyekannya bagi mereka yang belum sadar.

Karena kehidupan manusia  tidak bisa dilepaskan dari keyakinan yang dipeganginya, maka pandangan hidup tersebut akan lebih mudah merasuki kesadaran manusia bila ditopang dengan ritus agama. Perbedaan agama tidak perlu menjadi faktor penghalang, karena setiap agama mempunyai ritual sendiri-sendiri yang muatan pesannya mempunyai kemiripan universal, yakni memaksimalkan potensi manusia untuk berkarya demi pengabdiannya kepada Tuhannya.

Salah satu pandangan hidup yang menekankan kebutuhan membaca telah penulis temukan dalam pengalaman akademik seorang bernama Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D. Setahu penulis, dalam kurun waktu 5 tahun tinggal di Indonesia setelah pulang dari Amerika, dia telah menerbitkan karya tulisnya sebanyak 7 buku, menerbitkan 2 buku terjemahannya, menerbitkan 2 buku yang dieditorinya, menulis kata pengantar untuk 4 buku dan menyeponsori penerbitan antologi tulisan yang dieditori santrinya.

Kekonsistenan Yudian ini adalah karena dia mempunyai pengalaman akdemik yang dibalutnya dengan nilai spiritual, yakni mujahadah ilmiah. Aktivitas ini meliputi beberapa bagian, yaitu : tahajjud ilmiah, ijtihad ilmiah dan jihad ilmiah. Tahajjud ilmiah adalah kegiatan membaca buku dengan jumlah halaman sebanyak-banyaknya pada malam hari. Lalu diteruskan dengan ijtihad ilmiah yang isinya adalah kegiatan menulis ide-ide dari hasil pembacaan yang telah dilakukan. Kemudian pada akhirnya adalah jihad ilmiah yang merupakan kegiatan untuk mempublikasikan tulisan tersebut semampunya meski kalau terpaksa dengan uang pribadi dan tanpa gelisah apakah untung atau rugi.[2]

Permasalahan

Permasalahan yang menghadang tradisi mencintai buku dan perpustakaan sekarang ini mencakup:

1.             Adanya pereduksian kesadaran akan kebutuhan membaca. Indikator gejala ini dapat dilihat dengan menyempitnya lingkungan masyarakat yang cinta buku hanya dilakoni masyarakat yang aktivitasnya membutuhkan analisis akademis. Sedangkan masyarakat yang mata pencahariannya sebagai buruh pabrik, karyawan kantor, petani, kuli bangunan dan jenis masyarakat lain kurang membutuhkan analisis akademik, mereka semua kurang mempunyai perhatian kebutuhan untuk membaca, yang pada akhirnya tidak mencintai perpustakaan.

2.             Meski pada realitasnya mayoritas masyarakat hidup dengan ajaran dari agama-agama yang telah dipeluknya, namun penerapan keberagamaan mereka hanya sebatas kebutuhan ritual beribadah dengan Tuhannya. Tampaknya keasadaran beribadah dengan implementasi memperbaiki kualitas pengetahuan belum tersentuh. Padahal setiap agama mengharuskan pemeluknya untuk mengetahui ajaran yang dikandung agama yang dipeluknya. Mengetahui tentu tidak bisa tercapai tanpa menggiatkan semangat membaca. Pada dasarnya, sebenarnya agama telah menekankan pemeluknya untuk mendapatkan ilmunya lebih dulu sebelum melaksanakan ibadahnya. Sehingga kesadaran membaca serta mencintai perpustakaan harus dihidupkan lagi melalui ritual agama masing-masing.

3.             Masalah cinta buku dan perpustakaan sebenarnya tidak mutlak permasalahan ekonomi. Membaca buku tidak perlu harus buku keluaran baru. Buku-buku lama yang disediakan di pasar-pasar loakan yang harganya murah sebenarnya bisa menjadi solusi bagi mereka yang mempunyai sedikit estimasi keuangan untuk membeli buku. Kemudian, berdirinya perpustakaan daerah dan perpustakaan keliling sebenarnya juga menjadi solusi bagi yang tidak bisa membeli buku. Masalah kurangnya minat membaca lebih besar didominasi oleh lunturnya kesadaran masyarakat itu sendiri.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan menghidupkan kembali kesadaran bahwa sebenarnya kebutuhan membaca adalah milik setiap orang. Kalau sekarang kesadaran tersebut mengalami penyempitan hanya bagi masyarakat sekolahan, maka secepatnya perlu diperluas bahwa manfaatnya juga sangat dibutuhkan bagi setiap masyarakat dengan tidak memandang dari mana statusnya.

Baik orang yang statusnya masih siswa/mahasiswa atau berprofesi sebagai tenaga pengajar maupun orang yang statusnya sebagai profesional di luar dunia pendidikan, semuanya mempunyai pengalaman dan pemikiran sendiri-sendiri yang sangat berharga. Karena bernilainya, maka perlu diceritakan kepada orang lain bahkan dipublikasikan untuk menjadi pelajaran bagi orang lain dan generasi sesudahnya. Untuk mengasah pemikiran dan menjadikan bernilainya pengalaman hidup maka yang bersangkutan juga harus banyak membaca. Setelah membaca dan mengalaminya kemudian menuliskannya.

Kesadaran proses sejarah demikian akan ditampilkan dalam penelitian ini. Artinya, cerita hidup seseorang yang merupakan proses sejarah hanya akan ditemukan nilai pengetahuannya jika pelakunya mempunyai pengetahuan dan kesadaran menuliskannya kembali untuk menjadi pengetahuan bagi orang lain. Kesadaran belajar dan mengajarkan kembali ini akan dipaparkan dengan penopang nilai spiritual keagamaan. Alasan menggunakan penopang demikian karena asumsi bahwa cara inilah yang bisa menjadi amunisi paling signifikan untuk menggugah    kesadaran orang tanpa membedakan statusnya.

Landasan Teori

Buku-buku menjadi media yang paling efektif untuk menyebarkan ide dan pemikiran. Buku ibarat refleksi kehadiran langsung penulis yang ingin menyampaikan gagasan dan idenya kepada pembacanya. Apa yang disampaikan pengarang ini adalah wujud nyata  pemberian penulis kepada zaman yang dijalani dan akan ditinggalkannya.[3] Buku setidaknya menjadi cara penyampaian ide yang susunan redaksi dan tata bahasanya begitu tinggi tingkat otentisitasnya dibanding dengan cara pidato. Apalagi setelah diikuti revolusi industri, penggandaan buku bisa dilakukan sebanyak mungkin. Kesempatan memproduksi hasil yang berskala besar ini menjadi amunisi ampuh dapat sampainya buku itu dikonsumsi masyarakat sampai hitungan per-individu.

Atmosfer semaraknya kegiatan membaca dan menerbitkan buku sangat tergantung dengan keadaan lingkungan masyarakat. Begitupula tingkat kecintaan masyarakat terhadap perpustakaan sangat dipengaruhi tingkat kemauan membaca. Orang yang kesibukannya kebetulan sebagai siswa/mahasiswa atau tenaga pengajar sangat menunjang untuk menjadikan kebutuhan membaca menjadi kebutuhan pokoknya. Sedangkan yang sibuk dengan profesi di luar pendidikan yang tidak perlu membutuhkan analisis akademik akan cenderung kuat untuk menjadikan kebutuhan membaca menjadi kebutuhan sekunder, bisa juga tersier atau bahkan bukan lagi kebutuhan. Agak dekat dengan akademisi adalah profesional yang pekerjaannya membutuhkan analisis akademik, seperti lawyer, hakim, ekonom, anggota dewan dst. Mereka juga masih menempatkan  membaca sebagai kebutuhan pokok.

Polaritas status masyarakat ini telah menyebabkan terbelahnya masyarakat dalam  menempatkan kebutuhan untuk membaca. Kesadaran masyarakat justru semakin melemah ketika terjadi reduksi kesadaran. Pandangan yang mudah diterima masyarakat awam adalah membaca, membeli dan menerbitkan buku hanyalah kebutuhan bagi orang yang kepentingannya berkaitan dengan analisis akdemis. Mengunjungi, menikmati dan menambah fasilitas perpustakaan seolah menjadi kegiatan yang sia-sia bagi orang yang tidak punya kepentingan dengannya.

Di sisi lain, realitas masyarakat Indonesia yang agamis kurang bisa memaksimalkan penerapan ajaran agamanya. Kurangnya memaksimalkan keberagamaannya ini berdampak pada kesadarannya akan ilmu. Kalau agama saja syarat berisikan ajaran yang menuntut pemeluknya memperkaya pengetahuan, masyarakat Indonesia yang agamis sebagai perumpamaan laboratorium hidup dalam praktek pengamalan ajaran agama, maka sudah seharusnyalah tidak terjadi penyempitan kesadaran kebutuhan untuk membaca. Setiap orang, baik statusnya terkait lingkungan akademis maupun tidak, seharusnya tetap mempunyai kesadaran untuk  menyuburkan tradisi membaca.

Pembahasan

Menyempitnya kesadaran akan kebutuhan untuk membaca ini salah satu solusinya adalah mengubah pandangan hidup manusia.  Pandangan  tersebut di antaranya dengan menggunakan ritual yang diambil dari terminologi Islam. Mujahadah adalah sebuah ritual membaca-baca kalimat Allah yang dilakukan secara terus menerus. Sedangkan dalam penelitian ini, mujahadah bersifat ilmiah sehingga menjadi semacam aktivitas untuk membuat karya ilmiah yang pelaksanaanya diusahakan berjalan terus menerus. Pastinya  agama-agama lain juga mempunyai ritual semacam itu yang penerapannya memang menuntut konsistensi.

Apa yang telah dipraktekkan Yudian dengan teorinya ini sebenarnya hanya salah satu contoh bagaimana seorang spesialis berupaya memperkaya pengetahuan dan mendokumentasikan pemikiran-pemikiranya. Teori ini bisa saja diterapkan oleh orang lain. Meskipun dari latar belakang profesi yang lain, sesuai tujuan teori tersebut, pelakunya kemungkinan besar akan menjadi spesialis di bidangnya sendiri   yang berhasil memperkaya pengetahuan dan mendokumentasikan temuan-temuannya.

Kemauan tersebut berasal dari kesadaran. Harusnya setiap orang, dengan status yang dijalaninya sendiri, menyadari bahwa mereka mempunyai kekhususan potensi  yang layak untuk dikembangkan dan diajarkan.  Kemauan memperkaya pengetahuan merupakan kesadaran untuk menjaga dokumentasi temuan, gagasan dan pemikiran agar bisa dibaca orang lain dan generasi berikutnya.

Kesadaran ini harus dipertahankan secara terus menerus. Tidak berhenti selama waktu masih memungkinkan karena tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan yang bermanfaat bagi zaman. Seperti kerja keras yang dibalut dengan nilai spiritual oleh Prof. Yudian. Sebenarnya dia dalah doktor lulusan McGill University di Kanada, pernah Visiting Scolars di Harvard Law School Amerika Serikat dan menjadi anggota American Association of University Professors. Setelah pulang ke Indonesia, dia menjadi Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, Wakil Rois Syuriah PWNU DIY dan membangun sekaligus membina Pesantren Nawesea. Di balik keberadaannya yang mempunyai segudang prestasi dan segunung aktivitas yang menyibukkan, sampai saat ini, dia justru menghasilkan banyak karya.

Kesadaran sejarah demikian juga sangat mudah diikuti oleh orang lain, tanpa merasa canggung melihat keadaannya sekarang. Motivasi yang paling penting dari kemauan membaca adalah kesadaran untuk memperdalam pengetahuan sesuai spesialisasi profesi yang dipilih dan untuk mendokumentasikan pemikiran serta temuan yang ditawarkan bagi orang lain.

Sebagai contoh yang paling kecil, seorang reparasi mesin mempunyai pengetahuan dan gagasan tersendiri mengenai penanganan mesin yang rusak. Seharusnya kalau orang ini mempunyai kesadaran maka akan membanding-bandingkan pengetahuan yang telah didapatnya dengan literatur tulisannya orang lain, yang tentunya kalau tidak bisa membeli bukunya masih ada alternatif mencarinya di perpustakaan.  Selanjutnya yang bersangkutan akan mengalami tumbuhnya kesadaran untuk mendokumentasikan ide pokok pemikirannya ke dalam tulisannya sendiri, baik nanti disimpan pribadi atau mencoba ditawarkan ke penerbit.

Kesadaran ini segaris dengan pengalaman mujahadah ilmiah yakni: diawali dengan membaca-baca referensi mengenai fenomena yang dihadapinya, diteruskan dengan menuangkan idenya sendiri ke dalam tulisannya dan kemudian menawarkan-nawarkan hasil ide dan gagasan-gagasannya atau bahkan lebih baik kalau diterbitkan sendiri. Seandainya setiap orang di Indonesia, dengan profesinya masing-masing yang berbeda, mempunyai kesadaran memperdalam dan menuliskan pengetahuannya, maka budaya membaca akan terwujud. Toko buku dan perpustakaan akan ramai.

Setiap orang akan berlomba-lomba membuat perpustakaan pribadi. Kegiatan publikasi karya akan menjadi kesadaran semua kalangan masyarakat, bukan hanya orang yang profesinya berkaitan dengan hal-hal akademis. Pada dasarnya setiap orang mempunyai inner power (kekuatan bagian dalam) yang berpijak pada keikhlasan, yang bila diarahkan pada pikiran positif akan menghasilkan karya yang bermakna dan bila diarahkan pada pikiran negatif akan menghasilkan perbuatan yang sia-sia. Sepaham dengan nilai substansial konsep mujahadah ilmiah, teori ini bisa ditemukan dalam konsep Quantum Ikhlas.[4]

Media untuk menyalurkan ide dan gagasan pribadi sekarang ini cukup terbuka. Sebagai contoh dalam surat kabar harian, baik lokal maupun nasional, telah dibuka rubrik khusus untuk surat pembaca. Langkah untuk memaksimalkan pemanfaatan fasilitas ini perlu diawali dengan memperluas cakrawala kesadaran masyarakat. Bahwa membaca, menulis dan mengunjungi perpustakaan adalah penting bagi setiap orang di samping pentingnya bekerja untuk mendapatkan kecukupan ekonomi. Agama pun telah mengajarkan bahwa upaya beramal tidak bisa dilepaskan dari kerja keras untuk berilmu.

Masalah ekonomi sebenarnya bukan penghalang utama untuk mencintai kegiatan membaca karena telah ada perpustakaan, baik  bentuknya perpustakaan keliling maupun menempati kantor yang  diperuntukkan bagi masyarakat umum. Problem terbesar terletak dalam kemauan sedangkan kemauan akan muncul setelah adanya kesadaran. Kesadaran ini salah satunya dapat digali melalui ajaran setiap agama.

Kesimpulan dan Saran

Setiap  agama mengajarkan pemeluknya untuk mendampingkan kegiatan beramal dengan kerja keras berilmu. Tesis ini menggugah setiap orang, dengan statusnya yang berbeda-beda, agar mempunyai kesadaran untuk mengembangkan dan menuliskan ide pemikirannya sendiri terkait status yang dijalaninya, yang akibatnya cita-cita membentuk masyarakat yang cinta perpustakaan akan terwujud. Keberhasilan dari teori ini tidak hanya cinta perpustakaan secara pasif, maksudnya cinta membaca buku dan menikmati fasilitas, tapi juga cinta perpustakaan secara aktif yang maksudnya cinta menulis serta mempublikasikan buku dan menambah koleksi serta literatur perpustakaan.

Pada akhirnya, sebagai saran, kegiatan yang memacu semangat membuat karya tulis agar terus ditingkatkan dan pengelolaan perpustakaan keliling agar dimaksimalkan.

Daftar Pustaka

Chayono, Teguh Yudi [2007], Buletin Media Pustakawan vol.14 no 1 Maret 2007: Peran Perpustakaan Dalam Membangun Budaya Membaca di Masyarakat. Jakarta : Perpustakaan Nasional.

Muhthar, Moh Asyari [2007], Jawa Pos minggu tanggal 23/12/2007 kolom Di balik Buku.

Muhammad, Gunawan [2007]. Tempo majalah berita mingguna edisi 24-30 Desember 2007: catatan pinggir Langka. Jakarta, Tempo New Rooms.

Sentanu, Erbe [2007], Quantum Iklas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati: The Power of Positive Feeling. Jakarta: Elex Komputindo.

Sutoyo, Agus [2002], Buletin Media Pustakawan vol.9 no 1 Maret 2002: Potensi Perpustakaan dan Perubahan Sosial. Jakarta : Perpustakaan Nasional

Wawancara degan Prof. Yudian tanggal 10 September 2009 di Pesantren Nawesea.


[1]Moh Asyari Muhthar [2007], Jawa Pos minggu tanggal 23/12/2007 kolom Di balik Buku.

[2] Wawancara degan Prof. Yudian tanggal 10 September 2009 di Pesantren Nawesea.

[3] Gunawan Muhammad [2007]. Tempo majalah berita mingguna edisi 24-30 Desember 2007: catatan pinggir Langka. Jakarta, Tempo New Rooms.

[4] Erbe Sentanu [2007], Quantum Iklas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati: The Power of Positive Feeling. Jakarta: Elex Komputindo.

Penulis: Faiq Tobroni, S.H.I

Yogyakarta

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


× 8 = fifty six

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose