Home / Artikel Perpustakaan / Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Sejak Dini

Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Sejak Dini

Peningkatan wawasan dan ilmu pengetahuan kerap disandingkan dengan hobby seseorang terhadap membaca apapun, di manapun dan kapanpun. Pada dasarnya hobby membaca berkaitan erat dengan budaya membaca suatu keluarga, masyarakat, daerah, bahkan budaya suatu bangsa. Sebuah keluarga yang menerapkan budaya membaca, akan lebih mudah mengkondisikan anggota keluarganya untuk mempunyai minat dalam membaca. Hal ini diantaranya bisa ditandai misalnya dengan adanya ruang baca dengan sejumlah koleksi buku dalam sebuah keluarga, menjadi anggota perpustakaan yang secara rutin meminjam koleksi perpustakaan, mempunyai agenda untuk membeli buku setiap bulan, atau 3 bulan sekali, mempunyai jadwal tersendiri untuk membaca, Serta menggunakan sebagian waktu luangnya untuk membaca. Ketika budaya membaca ini telah terbentuk di dalam setiap keluarga, maka daerah dimana keluarga-keluarga tersebut menetap akan terlokalisasi sebagai daerah yang mempunyai budaya membaca. Demikian seterusnya. Bila  daerah-daerah yang telah membudaya dengan membaca tersebut bertambah banyak maka akan terbentuklah bangsa yang mempunyai budaya membaca.

Kegiatan membaca yang dilakukan secara benar dan efektif telah terbukti mampu meningkatkan kuwalitas hidup seseorang yang pada gilirannya akan menjadi suatu budaya atau kebiasaan bagi dirinya. Budaya membaca tersebut diawali dari tumbuhnya minat baca, kemudian menjadi gemar dan cinta membaca. Selanjutnya memelihara dan mengembangkan minat baca tersebut menjadi suatu yang bermanfaat.

Namun permasalahannya tidak sesederhana yang kita bayangkan, berbagai kondisi dan situasi membuat masyarakat harus mementingkan aktifitas lain yang lebih primer dibandingkan meluangkan waktunya untuk membaca, diantara kondisi tersebut seperti, fenomena ekonomi keluarga yang memprihatinkan sehingga mengharuskan setiap anggota keluarga sibuk dengan rutinitas yang tidak pernah berakhir, akhirnya mereka tidak mempunyai waktu luang untuk digunakan ke perpustakaan. Kemudian, bila harus membeli buku, tentunya membutuhkan budget tersendiri. Selanjutnya juga disebabkan oleh minat dan budaya membaca pada masyarakat yang relative masih rendah. Maka untuk menciptakan budaya membaca, tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pembiasaan membaca sejak dini sangat menentukan terbentuknya budaya baca pada masyarakat. Beranjak dari fenomena tersebut, penulis ingin mengkaji tentang upaya-upaya kearah peningkatan wawasan masyarakat melalui peningkatan minat dan budaya baca pada masyarakat.


2.  Permasalahan

Membentuk masyarakat yang cinta terhadap membaca, memang bukan pekerjaan yang mudah. Bahkan bila kondisi tersebut berhasil kita lakukan di negeri kita ini, maka dapat dipastikan wajah negeri ini akan berubah dengan nuansa yang lebih cemerlang dan  berwawasan. Merubah suatu karakter dan kepribadian masyarakat merupakan permasalahan besar yang tidak pernah selesai. Pendidikan berusaha menjawab tantangan ini, akan tetapi hal itu hanya sampai pada level sebagian akademisi saja, sedangkan pada tataran masyarakat pada umumnya karakter dan kepribadian ini sangat sulit untuk di rekontruksi. Maka permasalahan yang menjadi kegelisahan penulis adalah sebagai berikut:

  1. Mengapa minat baca pada masyarakat relative rendah
  2. Bagaimanakah upaya-upaya pemerintah  untuk meningkatkan minat baca pada masyarakat.
  3. Bagaimanakah korelasi antara budaya membaca dengan kemajuan bangsa


3. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab beberapa permasalahan yang menjadi permasalahan inti penulisan, maka tujuannya adalah:

  1. Untuk mengetahui sebab dan alasan-alasan terhadap rendahnya minat baca pada       masyarakat.
  2. Untuk mendapatkan gambaran mengenai apa saja upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan minat baca terhadap masyarakat.
  3. Untuk memberikan gambaran korelasi budaya membaca dengan kemajuan bangsa.


4. Landasan Teori

Bacalah, bacalah dengan nama Tuhan mu yang telah mengajarkan dengan perantaraan qalam (pena) ¦¦¦..(Q.S: al- Alaq)

Ayat Al-quran yang pertama turun dengan isyarat membaca, telah lebih dahulu menunjukkan tentang arti penting membaca bagi ummat Islam khususnya, dan ummat manusia pada umumnya. Ayat tersebut juga menjadi bukti bahwa Islam berorientasi ke depan dengan mempersiapkan ummatnya untuk menghadapi tantangan zaman global dengan membaca.

Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif individu terhadap aspek-aspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang. Menurut (Meichati 1972) minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melalukan suatu aktivitas. Aspek minat terdiri dari aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu obyek dan berpusat pada manfaat dari obyek tersebut. Aspek afektif nampak dalam rasa suka atau tidak senang dan kepuasan pribadi terhadap obyek tersebut.

Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. (Juel 1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan. Hasil selanjutnya adalah bertambahnya wawasan dan kemampuan berfikir dengan baik dan benar pada masing-masing individu.

Dengan demikian minat membaca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak dini sebab minat membaca pada setiap individu tidak akan terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan semenjak anak-anak. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat membaca anak. Orang tua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak, setelah itu baru guru di sekolah, teman sebaya dan masyarakat.

Selanjutnya (Mulyani 1981) berpendapat bahwa tingkat perkembangan seseorang yang paling menguntungkan untuk pengembangan minat membaca adalah pada masa peka, yaitu sekitar usia 5 s/d 6 tahun. Kemudian minat membaca ini akan berkembang sampai dengan masa remaja dan dewasa.

Ada dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi minat membaca anak, yaitu faktor personal dan faktor institusional (Purves dan Beach, dalam Harris dan Sipay, 1980). Faktor personal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri anak, yaitu meliputi usia, jenis kelamin, inteligensi, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor di luar diri anak, yaitu meliputi ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan jenis-jenis bukunya, status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis, kemudian pengaruh orang tua, guru dan teman sebaya.

Ada perbedaan minat anak terhadap buku bila ditinjau dari usia kronologis anak. (Ediasari Ayahbunda, 1983) berpendapat bahwa pada usia antara dua sampai dengan enam tahun anak-anak menyukai buku bacaan yang didominasi oleh gambar-gambar yang nyata. Pada usia tujuh tahun anak menyukai buku yang didominasi oleh gambar-gambar dengan bentuk tulisan besar-besar dan kata-kata yang sederhana dan mudah dibaca. Biasanya pada usia ini anak sudah memiliki kemampuan membaca permulaan dan mereka mulai aktif untuk membaca kata. Pada usia 8 s/d 9 tahun, anak-anak menyukai buku bacaan dengan komposisi gambar dan tulisan yang seimbang. Mereka biasanya sudah lancar membaca, walaupun pemahaman mereka masih terbatas pada kalimat singkat dan sederhana bentuknya. Kemudian pada usia 10 s/d 12 tahun anak lebih menyukai buku dengan komposisi tulisan lebih banyak daripada gambar. Pada usia ini kemampuan berpikir abstrak dalam diri anak mulai berkembang sehingga mereka dapat menemukan intisari dari buku bacaan dan mampu menceritakan isinya kepada orang lain. Menyikapi teori tersebut, maka sudah seharusnya perpustakaan sekolah memperhatikan koleksi buku sesuai dengan tingkat usia siswa sebagai tambahan koleksi buku-buku paket. Karena hal tersebut sangat berpengaruh pada minat dan motivasi anak untuk mengunjungi perpustakaan dan tentu saja ada aktifitas membaca di dalamnya.

Setiap bulan September pemerintah telah mencanangakan sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Melalui peringatan tersebut diharapkan masyarakat menjadi gemar membaca, khususnya anak-anak Sekolah Dasar (SD); sebab kegemaran membaca harus di tumbuhkan sejak dini dan menjadi kunci untuk keberhasilan belajar siswa di sekolah. Kemampuan membaca dan minat membaca yang tinggi adalah modal dasar untuk keberhasilan anak dalam berbagai mata pelajaran.

Sejak tahun 1995 sampai sekarang, media massa juga terus mensosialisasikan informasi mengenai minat membaca masyarakat, terutama minat membaca anak-anak SD. Misalnya di harian Suara Merdeka menulis tajuk rencana dengan judul Kegemaran Membaca Belum Seperti Yang Diharapkan (Suara Merdeka, 1995). Kompas memuat artikel Rumah Baca, Upaya Menumbuhkan Minat Baca (Kompas, 1995) dan (Pikiran Rakyat  2000) melalui tulisan Wakidi yang berjudul Minat Membaca Anak Sekolah Dasar juga ikut prihatin dengan minat membaca anak SD yang rendah. Media elektronik seperti televisi juga ikut menayangkan berbagai iklan layanan masyarakat untuk meningkatkan minat membaca.

Berbagai tulisan di media massa dan tayangan iklan layanan masyarakat di televisi pada intinya menyuarakan keprihatinan terhadap minat membaca anak-anak yang masih rendah. Padahal masalah minat membaca merupakan persoalan yang penting dalam dunia pendidikan. Anak-anak SD yang memiliki minat membaca tinggi akan berprestasi tinggi di jenjang sekolah selanjutnya, sebaliknya anak-anak SD yang memiliki minat membaca rendah, akan rendah pula prestasi belajarnya (Wigfield dan Guthrie, 1997).


5. Pembahasan

a. Sebab-Sebab Rendahnya Minat Baca Pada Masyarakat.

Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar dengan jumlah wilayahnya yang luas dari Sabang sampai Maroeke. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku- suku yang berbeda dalam bahasa, adat istiadat, agama dan budaya. Keberagaman tersebut akhirnya membentuk sebuah negara yang bersatu dengan Bhinneka Tunggal Ika. Dari segi Agama 99 % masyarakat Indonesia beragama Islam, maka sudah seharusnya ummat ini melaksanakan pesan-pesan al-Quran terutama mengenai perintah membaca.  Indonesia sampai saat ini masih tergolong sebagai negara berkembang, maka masyarakatnya juga masih dalam katagori berkembang baik secara ekonomi maupun intelektual. Secara intelektual masyarakat kita masih relative rendah, hal ini ditandai oleh rendahnya minat baca pada masyarakat. Dari hasil pengamatan yang penulis lakukan di beberapa fasilitas umum di beberapa kota kecil di Indonesia, seperti terminal bus, terminal kereta api, air port, halte, rumah sakit, tempat-tempat rekreasi dan lain-lain. terlihat bahwa sangat sedikit sekali dari bagian mereka yang menggunakan waktu luangnya di tempat-tempat tersebut untuk membaca.

Bila kita analogikan dalam contoh, dari 100 orang yang sedang menunggu pemberangkatan angkutan, hanya 5 orang yang kelihatan sedang membaca Koran atau majalah. Selebihnya tidak membaca apapun. (Hasil obervasi, April Juni 2009). Dan dari hasil observasi di beberapa rumah pribadi masyarakat, penulis mendapatkan bahwa sebagian besar rumah-rumah tersebut tidak mempunyai koleksi buku dan ruang baca untuk membaca dengan nyaman, sebaliknya, umumnya setiap rumah mempunyai ruang untuk televisi dengan beberapa perangkatnya yang nyaman, serta aksesoris elektronik lainnya. Hanya sebagian kecil keluarga yang telah mempunyai koleksi buku, walaupun tidak mempunyai ruang baca khusus. (Hasil observasi, April Juni 2009). Keadaan ini tentu saja sangat ironis, dimana masyarakat telah menganggap telivisi sebagai kebutuhan primer, di banding untuk membeli sejumlah buku-buku ilmu pengetahuan. Kondisi tersebut juga sekaligus membuktikan bahwa, masalah ekonomi ternyata bukanlah alasan utama masyarakat sebagai kendala dalam mewujudkan budaya membaca.

Berdasarkan hasil observasi tersebut  penulis mengambil kesimpulan bahwa minat baca pada masyarakat kita masih relative rendah. Selanjutnya permasalahan yang harus kita jawab adalah mengapa minat baca masyarakat rendah? Fenomena menunjukkan bahwa factor motivasi sangat menentukan seseorang untuk melakukan sesuatu. Maka ketika masyarakat kita tidak mempunyai suatu motivasi tertentu untuk membaca, maka mereka tidak melakukannya. Jepang merupakan salah satu Negara yang sudah mempunyai budaya membaca yang sangat baik, Masyarakat Jepang, termotivasi untuk membaca disebabkan oleh pentingnya segala informasi yang harus mereka akses setiap hari, bila mereka terlambat maka segala sesuatu dalam  hidup, bisnis, pendidikan dan sebagainya akan terhambat. Dari pola tersebut jepang mampu tampil sebagai Negara yang maju dan mempunyai mayoritas rakyat yang cerdas. kondisi tersebut belum terpolakan di masyarakat kita Indonesia.

Selanjutnya, rendahnya wawasan dan tingkat pendidikan menjadi salah satu dari bagian urgen yang menyebabkan rendahnya minat baca pada masyarakat. Kemudian sangat terbatasnya fasilitas yang mendukung masyarakat untuk membaca seperti perpustakaan, took-toko buku, jaringan internet dan sebagainya. Pada umumnya di Negara kita perpustakaan hanya terdapat di kota Kabupaten dengan jumlah koleksi buku yang juga sangat minim. Sedangkan di Kecamatan dan Desa sama sekali tidak kita dapatkan perpustakaan ataupun rumah baca, maupun perpustakaan keliling untuk masyarakat.

Factor pembiasaan dalam keluaraga juga menjadi masalah dalam hal ini, sangat jarang kita temukan keluarga yang mengagendakan pengeluaran keluarga untuk jalan-jalan ke toko buku, serta memberikan apresiasi terhadap moment-moment penting dalam bentuk buku. Umumnya kita merayakannya dengan makan-makan dan hadiah dalam bentuk materi yang tidak bermuatan intelektual.

Bila kita mengkaji lebih dalam, maka kita akan menemukan bahwa ayat Al-quran  yang pertama turun adalah perintah membaca dan menulis yang tertuang didalam surat al-Alaq. Maka sepertinya sangat ironis bila mayoritas masyarakat kita yang beragama Islam justru tidak mengamalkan anjuran ini. Sementara masyarakat Jepang yang menyembah matahari terbit justru lebih mengamalkan pesan-pesan al-Quran, sehingga membuat Negara mereka mampu melaju dengan pesat

b. Upaya-upaya Pemerintah Terhadap  Peningkatan Minat Baca Masyarakat

Dalam Undang Undang tentang perpustakaan (UU No.43/2007) menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban menggalakkan promosi gemar membaca dan pemanfaatan perpustakaan. Selanjutnya ada beberapa kebijakan (policy) yang mungkin dapat diambil pemerintah sebagai upaya peningkatan minat baca pada msyarakat, diantaranya sebagai berikut: Pertama, pengadaan bazar buku murah. Tak bisa dipungkiri bahwa mahalnya harga buku di negeri ini, merupakan salah satu penyebab rendahnya daya beli masyarakat terhadap buku. Buku di negeri ini lebih identik dengan kaum terpelajar, sedangkan masayarakat pada umumnya belum familiar dengan buku. Dengan demikian, langkah konkret pemerintah dalam membangun budaya baca adalah dengan mengadakan bazar buku murah. Pemerintah dalam hal ini bisa menjalin kerja sama dengan LSM maupun organisasi kemasyarakat lainnya untuk mengadakan bazar buku murah. Misalnya dengan melaksanakan bazar buku di berbagai daerah, baik di perguruan tinggi/disekolah-sekolah maupun di pelosok-pelosok desa.

Kedua, memaksimalkan perpustakaan. Keberadaan perpustakaan merupakan keniscayaan dalam mengakrapkan serta mensosialisasikan buku ke masyarakat. Selama ini, keberadaan perpustakaan di Kecamatan-Kecamatan di setiap Kabupaten masih langka, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Untuk mensiasati hal ini, pemerintah perlu membangun perpustakaan di setiap desa, paling tidak dalam satu kecamatan terdapat satu perpustakaan. Selain itu, pemerintah bisa memaksimalkan perpustakaan keliling. Melalui mobil-mobil dinas perpustakaan terkait. Mengingat kesadaran membaca di lingkungan masyarakat, khususnya masyarakat di pedesaan sangat rendah, maka pemerintah diharapkan dapat bekerjasama dengan kepala desa dan aparat desa agar dapat mensosialisasikan keberadaan perpustakaan, rumah baca, atau perpustakaan keliling kepada masyarakat. Lebih efektif lagi bila, jadwal keberadaan perpustakaan keliling di umumkan kepada masyarakat sehari sebelumnya, agar masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk kegiatan ini.

Lingkungan sekolah dan lingkungan kampus juga mempunyai masalah besar terhadap budaya membaca. maka perlu disosialisasikan sejak dini di lingkungan sekolah pada tingkat dasar. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab rendahnya budaya baca tidak hanya terjadi pada masyarakat umum akan tetapi juga merambah pada kaum terpelajar. Apalagi era globalisasi telah memanjakan generasi muda dengan berbagai kemudahan elektronika. Tak urung HP, video game, play station pun menjadi pilihan utama mereka. Ketimbang memilih berteman dengan buku-buku apalagi menyibukkan diri di perpustakaan.

Ketiga, memberikan apresiasi yang tinggi kepada anggota masyarakat yang mempunyai minat baca yang tinggi. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan mengadakan lomba membaca pada setiap perlombaan hari-hari besar, baik hari besar nasional maupun agama. Juga bisa melalui evaluasi di perpustakaan pada daftar peminjaman buku terbanyak. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk motivasi baca di dalam masyarakat.

c. Korelasi Budaya Baca dengan kemajuan bangsa

Fakta sejarah membuktikan bangsa yang maju mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Terlebih pada era globalisasi ini, dengan perekonomian dunia semakin terintegrasi dan perdagangan antar negara kian liberal. Hanya bangsa yang dapat menghasilkan barang dan jasa kompetitif yang bisa eksis, maju, dan makmur. Cirinya berkualitas unggul, harga relatif murah, dan kuantitas produksi (supply) dapat memenuhi kebutuhan pasar, baik pasar domestik maupun internasional. Menghasilkan barang dan jasa semacam ini tidak mungkin dikerjakan secara tradisional tanpa menggunakan teknologi atau dengan manajemen asal-asalan.

Wajar bila negara-negara industri maju yang tergabung dalam OECD (seperti AS, Kanada, Uni Eropa, Jepang, dan Australia) menguasai 70 persen perdagangan dunia dan menjadi Negara yang makmur. Merekalah yang menguasai teknologi serta mengaplikasikannya dalam industri dan ekonomi.

Dengan pola serupa, Singapura, RRC, India, Malaysia, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Cile berhasil mengikuti jejak negara-negara OECD. Lalu, apa hubungannya antara budaya baca dan penguasaan iptek dan kemajuan bangsa? Jelas budaya baca berkorelasi positif dengan penguasaan iptek suatu bangsa. Semakin tinggi budaya baca, semakin maju bangsa tersebut. Mahasiswa di negara industri maju rata-rata membaca delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap hari (UNESCO, 2005).

Kondisi tersebut tentu saja bukan suatu kebetulan, tetapi merupakan sunatullah bahwa bila ingin maju dan hidup bahagia dunia-akhirat, kita harus menguasai dan menggunakan ilmu. Gerbang utamanya dengan membaca serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah (Alquran dan Hadis) maupun qauniyah berupa alam semesta beserta segenap isi dan dinamikanya.

Tantangan yang selanjutnya timbul adalah bagaimana kita mentransformasi budaya baca masyarakat yang terendah di dunia menjadi budaya masyarakat gemar membaca. Rendahnya minat baca terutama karena kurangnya kesadaran publik akan arti penting membaca bagi peningkatan kemampuan dan kesejahteraan diri maupun bangsa. Daya beli mayoritas rakyat kita masih lemah sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok sehari-hari saja sudah kewalahan, apalagi beli koran, buku, atau bacaan lainnya. Komitmen pemerintah untuk menyediakan buku dan bahan bacaan yang berkualitas dan murah di perpustakaan umum, juga masih rendah. Serbuan media elektronik (televisi, bioskop, dan internet) yang kebanyakan berisi tayangan hiburan, pornografi, iklan komersial, dan hal-hal hedonistis lainnya akhirnya semakin menjauhkan masyarakat dari budaya membaca dan menulis.

Masyarakat lebih senang menonton dan berbudaya verbal. Apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap kaum cerdik-pandai, ilmuwan, peneliti, akademisi, guru, dan profesional sangat tidak memadai. Sistem pendidikan dan metode belajar-mengajar dari tingkat TK sampai perguruan tinggi (PT) pun kurang menumbuh kembangkan minat baca, berpikir logis, kreatif, inovatif, entrepreneurship, dan moralitas peserta didik. Akibatnya, sebagian besar lulusan pendidikan menengah dan PT hanya ingin menjadi pegawai negeri, politisi, atau bekerja pada orang lain, bukan menciptakan pekerjaan sendiri, atau berwirausaha.

Bila kita cermati sejumlah data, bahwa Jumlah pengusaha nasional kita hanya 0,08 persen dari total penduduk Indonesia. Padahal, salah satu syarat utama agar sebuah bangsa menjadi maju dan makmur adalah jumlah pengusahanya minimal dua persen dari total penduduk (Ciputra, 2007). Para sarjana lulusan PT umumnya belum siap terjun ke lapangan bila hanya mengandalkan bekal title sarjana, etos kerjanya rendah, dan kurang peduli dengan nasib bangsanya. Akhirnya Pengangguran terdidik membludak. Daya saing Indonesia menempati posisi kedua terbawah dari 55 negara yang disurvei (WorldCompetitivenessYearbook,2007).
Sudah seharusnya bila kita ingin menjadi bangsa maju, makmur, dan bermartabat, tak ada pilihan lain, kecuali melakukan gerakan nasional secara cerdas, sistematis, dan kontinu untuk mencintai, menguasai, dan menerapkan iptek di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama yang harus kita lakukan adalah membuka selebar-lebarnya akses masyarakat kepada semua jenis bahan bacaan yang berguna.

Kita bisa meneladani India dengan mencetak berbagai buku teks dalam kertas koran sehingga harganya jauh lebih murah ketimbang aslinya. Sebagaimana Jepang, kita juga harus menggalakkan penerjemahan buku-buku dan jurnal ilmiah sehingga lebih banyak lagi rakyat dapat memahami dan menguasai iptek mutakhir.

Setiap kabupaten/kota dan provinsi minimal harus mempunyai satu perpustakaan umum. Masing-masing desa di seluruh Tanah Air selayaknya dilengkapi dengan satu taman bacaan. Kedua, sistem pendidikan harus kita benahi agar bisa menghasilkan lulusan SDM yang mampu berpikir jernih dan logis, kreatif, inovatif, mampu berkomunikasi dengan baik, melek teknologi informasi (computer literacy), berjiwa wirausaha, memiliki etos kerja tinggi, dan berakhlak mulia. Lulusan sekolah tingkat menengah kejuruan, diploma, S1, S2, dan S3 tentu harus menguasai keahlian yang menjadi bidang studinya.


6. Kesimpulan

Menumbuh kembangkan minat baca terhadap masyarakat seyogyanya dimulai sejak dini, karena pembentukan budaya membaca tersebut membutuhkan serangkaian proses panjang yang nantinya akan membentuk karakter masyarakat dengan budaya membaca.

Pada dasarnya pemerintah telah berusaha melakukan beberapa upaya dalam rangka peningkatan minat baca, akan tetapi Kendala operasional di lapangan menjadi factor penghambat utama dalam suksesnya program tersebut.

Masyarakat dengan budaya membaca yang baik mempunyai korelasi yang positif dengan kemajuan suatu bangsa dalam berbagai aspeknya.


7. Saran

Pemerintah dengan segenap kelebihan dan kekurangannya telah berusaha dengan berbagai agenda kegiatan sebagai wahana motivasi membaca terhadap masyarakat. Namun penulis melihat bahwa sebagian besar agenda kegiatan tersebut hanya diketahui dan terdapat di kota-kota provinsi, mungkin dalam tahap operasionalnya kegiatan ini belum sampai ketingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Karena itu penulis sangat berharap pemerintah juga dapat lebih memperhatikan pada tahap pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Selanjutnya, mengingat bahwa budaya membaca sangat di tentukan sejak dini, maka harapan utama kita adalah pemerintah dapat membenahi perpustakaan yang ada disekolah-sekolah pada tingkat dasar di seluruh Indonesia, dengan turut mengadakan koleksi bacaan sesuai dengan usia siswa. Yaitu TK, SD, SMP dan SMA. Dimana selama ini perpustakaan di unit tersebut sangat memprihatinkan dalam berbagai aspeknya.

Demikianlah, semoga usaha sungguh-sungguh dari segenap element pemerintah dapat merealisasikan budaya masyarakat dalam membaca.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-quran dan terjemahannya,

Meichati, S. 1978. Motivasi Pembaca. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Juel, C. 1988. Learning to Read and Write : A Longitudinal Study of 54 Children from First through Fourth Grade. Journal of Educational Psychology, 80 (4), 437 447.

Ayahbunda, Jakarta, September No. 18, 1983.

Pikiran Rakyat, Bandung, 15 Juli 2000.

Suara Merdeka, Semarang, 15 September 1995.

Kompas, Jakarta, 22 Januari 1995.

Wigfield, A., and Guthrie, J.T. 1997. Relations of Childrens Motivation for Reading to the Amount and Breadth of Their Reading. Journal of Educational Psychology, 89 ( 3 ), 420 432.

Mulyani, A.N. 1981. Pembinaan Minat Baca dan Promosi Perpustakaan. Berita Perpustakaan Sekolah, I, 24 29.

Harris, A., and Sipay, E. 1980. How To Increase Reading Ability.. New York : Longman, Inc.

Penulis: Safrina, S.Ag, M.Ag

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


one + 1 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose