Home / Artikel Perpustakaan / Menjadi Pustakawan Teladan

Menjadi Pustakawan Teladan

Ketika saya mengikuti kongres perpustakaan di Lembang, Bandung, pada tahun 1998, seorang pustakawan dari Belanda yang menjadi pemakalah kurang lebih berujar seperti berikut.

Sebelum saya memulai uraian saya, saya mohon maaf, selama saya menyajikan materi nanti, jangan ada yang bertanya dulu, terutama para peserta yang dari Indonesia. Sebab biasanya, pertanyaan teman-teman dari Indonesia hebat-hebat, lebih sulit untuk dijawab daripada praktiknya.

Ucapan pakar dari Belanda itu langsung disambut ger seluruh peserta. Bahkan banyak sepertinya yang sengaja tertawa terbahak-bahak. Saat itu, barangkali saya pun ikut tertawa karena merasa lucu saja dan baru sedikit menangkap maknanya. Barulah saya lebih memahami apa yang disindirkan oleh pustawakan Belanda itu pada tahun 2000 ketika saya melihat-lihat perpustakaan di Singapura bersama beberapa pustakawan lain dari Sumatra Selatan. Perpustakaan di sini, terutama di National Library, sudah lama automasi, bersih, nyaman, pustakawannya gesit dan tampak cerdas. Seorang pustakawati yang menjadi gaet kami bahkan sudah S2, padahal usianya belum sampai 25 tahun.

Oleh karena itu, uraian dalam artikel sederhana ini pun, lebih merujuk pada pengalaman pribadi, bukan pada teore semata. Namun demikian saya berharap, tulisan sederhana ini mampu menjadi sharing (tukar pemikiran) bagi rekan-rekan pustakawan di mana pun berada.

Selain itu, saya memang pernah dua kali menjadi Pustakawan Teladan I tingkat Provinsi Sumatra Selatan untuk Kelompok C pada tahun 1999 dan 2000. Namun, dalam kesempatan ini, hendaknya kata teladan seperti yang dituliskan pada judul tidaklah diartikan sebagai juara dalam suatu even, tetapi lebih pada profesionalisme sebagai seorang pustakawan.

Membangun Diri Sendiri

Pertama menjadi pengelola perpustakaan saya alami pada tahun 1994 di sebuah yayasan swasta di Palembang. Ukuran ruangnya sekitar 6 X 12 meter. Jadi, kira-kira dua ruang kelas atau lebih. Saya diangkat menjadi koordinator. Punya tiga anak buah. Saya memang telah memiliki sedikit pengetahuan tentang perpustakaan. Oleh karena itu, setiap ada seminar, lokakarya, diklat, kongres, atau sejenisnya, saya berusaha untuk ikut, jika diizinkan pihak yayasan. Bersyukur, pihak yayasan pun sangat respon.

Sekitar satu bulan setelah mulai bekerja, barulah saya memahami sikap ketiga rekan kerja. Sikap positif dan negatif saya amati. Terutama sikap negatif, baik secara individu maupun profesional, sering saya perhatikan. Tujuannya, saya ingin semuanya berbenah.

Barangkali, setelah satu tahun berjalan, hasilnya kian tampak. Tidak mudah memang. Namun yang pasti, saya sendiri kadang bertanya kepada mereka tentang kendala atau hal yang kurang saya pahami. Sebab saya yakin, mereka yang lebih dahulu bekerja di sana lebih banyak mengetahui segala sesuatu tentang perpustakaan dan permasalahannya.

Sampai akhirnya, setelah proses adaptasi kian baik, ada beberapa hal yang coba saya tanamkan kepada rekan kerja untuk membangun dirinya sendiri, antara lain sebagai berikut.

1. Bangga menjadi seorang pustakawan/librarian.

2. Komitmen pada karier atau pekerjaan yang dijalani.

3. Mampu bekerja sama dengan  orang lain (dalam tim).

4. Tetap semangat dan optimis untuk melayani dan membantu (siswa, guru, dan karyawan).

5. Sabar, ramah, dan elegan pada pengunjung, terutama terhadap para siswa.

Beberapa hal di atas perlu disadari betul oleh rekan kerja saya sebagai tim, mengingat ada beberapa sisi yang selama ini masuk kategori negatif. Padahal, saya melihat mereka memiliki kemampuna lebih yang harus dikemukakan. Karena sering bertukar pikiran, salah satu rekan kerja saya yang laki-laki akhirnya yakin mengambil kuliah di UT jurusan perpustakaan. Saya pun tetap membantu mendampinginya belajar sebatas yang saya tahu.

Selain itu, satu lagi rekan kerja saya yang perempuan juga meminta jam tambahan untuk mengajar di kelas. Atas seizin yayasan juga, saya pun mengizinkan. Saya melihat, kini rekan yang satu ini pun lebih bergairah dalam bekerja sebagai pustakawan. Dengan demikian, sasaran saya untuk poin 1 dan 2 sudah mulai tercapai.

Seiring waktu berjalan, poin 3, 4, dan 5 kian tercapai. Keluhan siswa terhadap para pustakawan di ruang saya kian jauh berkurang. Saya juga melihat hubungan yang lebih harmonis, baik dengan siswa maupun guru. Demikian juga dengan kasus kehilangan buku, hampir tidak terjadi lagi. Sebab di bulan pertama saya bertugas dulu, saya masih sering melihat para siswa sering membuang buku ke luar jendela atau bahkan merusaknya diam-diam hanya karena jengkel dengan petugas perpustakaan.

Secara umum, terutama di perpustakaan sekolah di mana pun berada, barangkali ada 3 penyakit kurang yang diderita oleh para pustakawan sekolah, yaitu (1) kurang menampakan antusiasme, (2) kurang bersikap gembira dan optimis, dan (3) kurang tanggap dan inspiratif terhadap kebutuhan siswa/murid. Ketiga permasalahan ini tidak akan berubah tanpa kemauan dari para pustakawan itu sendiri untuk mereformasi dirinya. Akibatnya, yang muncul justru rasa saling curiga. Mereka menganggap siswa (peminjam) hanyalah tukang ribut dan para pencuri. Sebaliknya, para siswa juga melihat para pustakawan adalah orang yang kurang kerjaan dan judes. Penyakit jenis ini, tampaknya diderita juga di lingkungan perpustakaan saya dulu. Oleh karena itu, pada masa-masa berikutnya, saya dan rekan kerja mulai mencoba menyembuhkan diri sendiri secara santai dan perlahan, namun serius. Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa kegiatan yang dilakukan, yaitu:

1. rajin membaca katalog, baik dari toko buku maupun penerbit;

2. rajin membuat sinopsis buku secara sederhana, baik fiksi maupun nonfiksi, kemudian ditempel di papan khusus sebagai bahan informasi siswa;

3. melakukan jam wajib baca jenis buku tertentu;

4. membuat kliping jenis bacaan tertentu dari surat kabar; serta

5. menjadi narasumber bagi siswa.

Selain hal-hal di atas, guna meningkatkan kinerja dan pelayanan, ada beberapa hal lain yang dilakukan, antara lain seperti berikut.

Pertama, memberi kode khusus/label warna tertentu pada punggung buku. Setiap klasifikasi diberi warna yang berbeda. Hal ini untuk mempermudah pustakawan mengatur buku di rak, mengingat masih sering terjadi penempatan buku oleh siswa (pengunjung) dengan semaunya. Atau mungkin juga sengaja disembunyikan di rak lain agar dia dapat menemukan dengan mudah dan membacanya lagi pada kesempatan lain.

Kedua, menukar koleksi dengan perpustakaan lain, yaitu saling meminjam koleksi jenis tertentu dalam jangka waktu tertentu. Koleksi yang ditukar ini dapat berupa koleksi terbitan lama maupun terbitan baru.

Ketiga, melakukan studi banding ke perpustakaan lain, baik perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus, maupun umum. Hal ini dapat dilakukan secara tidak formal atau sekadar melihat-lihat. Tujuannya, menemukan hal positif yang mungkin dapat dikembangkan atau diterapkan di perpustakaan sendiri.

Mereformasi Lingkungan Kerja

Salah satu tugas yang cukup berat bagi seorang pustakawan adalah mereformasi lingkungannya, di samping mereformasi dirinya. Lingkungan yang dimaksud adalah mengubah pola pikir pemegang kebijakan, misalnya kepala sekolah atau ketua yayasan. Dalam hal ini terutama berkaitan dengan kebijakan pengadaan koleksi. Sebab biasanya, dana yang dialokasikan ke perpustakaan banyak yang hanya tertera di atas kertas.

Hal ini pulalah yang pernah coba saya lakukan di tempat saya bekerja. Pada tahun ketiga, saya serius akan mengundurkan diri apabila pihak yayasan tidak benar-benar merealisasikan pengadaan buku baru untuk perpustakaan di akhir tahun. Sebab, biasanya di akhir tahun para siswa dimintai sumbangan oleh sekolah untuk pengadaan koleksi buku. Setelah dana dari siswa terkumpul, uang pun tidak terkabar lagi, apalagi dalam bentuk buku.

Ancaman yang saya sampaikan tentulah tidak frontal. Saya dengan kepala sekolah dan ketua yayasan bercanda-canda, namun tetap serius dan fokus pada tujuan. Alhamdulillah, pada akhir tahun itu, dari sekian ratus siwa terkumpullah buku baru sekitar 600 eksemplar. Rekan kerja saya pun tidak menyangka. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya, mereka memilih mengalah dan nerimo apa pun kata bos.

Reformasi ini perlu dilakukan oleh seorang pustakawan karena sebenarnya ia merupakan leader di lingkungan kerjanya. Pustawakan, siswa, guru, kepala sekolah atau ketua yayasan, merupakan tim atau kelompok yang harus kompak dan solid. Sebab kita yakin, semuanya ingin mengarah ke suatu tujuan yang baik dan positif, bukan tujuan yang negatif atau buruk. Oleh karena itu, semua eleven harus mempunyai fungsinya sesuai bidang lerja atau profesionalnya.

Menurut Kart Levin (dalam Dananjaya, 2005), dalam kehidupan manusia itu (termasuk dalam dunia kerja) pastilah ada dinamika kelompok manusia. Kart Levin mengelompokkan tiga jenis, yakni sebagai berikut.

1. Reference group atau kelompok acuan, yaitu kelompok yang terbangun oleh

    persamaan kebutuhan. Dalam hal ini, untuk lingkungan sekolah/perpustakaan,

    yang dibutuhkan tentulah bahan bacaan/buku.

2. Task group atau kelompok tugas, yaitu kelompok yang terbangun oleh

     persamaan profesi atau pekerjaan. Untuk para pekerja di lingkungan sekolah

     adalah para staf edukatif, baik guru, karyawan (tata usaha), termasuk

     pustakawan.

3. Decission group atau kelompok pembuat keputusan, yaitu kelompok elite

    penentu kebijakan. Di lingkungan sekolah, yang memegang kendali ini

    biasanya kepala sekolah atau ketua yayasan.

Tiga hal di atas pun perlu dipahami oleh seorang pustakawan agar pekerjaannya dapat berjalan baik, lancar, dan kondusif. Sehingga, keberadaan pustakawan dan perpustakaannya bukanlah sekadar syarat, tetapi benar-benar mampu memberikan makna di sebuh lembaga/sekolah.

Ketika kondisi perpustakaan kian bermakna, seorang pustakawan perlu terus mempertahankan kinerjanya. Ada dua hal yang perlu ditindaklanjuti terhadap para peminjam buku (pengunjung), yakni seperti berikut.

Pertama, memberikan penghargaan atau reward secara sederhana, baik untuk siswa, guru, maupun karyawan yang meminjam koleksi terbanyak. Misalnya dengan memberikan piagam, pinjaman gratis untuk jangka waktu tertentu, atau hal lain sebagai tanda penghargaan. Hal ini untuk merangsang pembaca lain lebih giat membaca atau lebih banyak meminjam koleksi.

Kedua, memberikan hukuman atau punishment yang bersifat proporsional, adil, dan transparan terhadap para peminjam buku bila terjadi anomali, misalnya rusak atau hilang. Misalnya dengan mengganti koleksi baru atau mengganti sejumlah harga tertentu. Ini perlu dilakukan agar koleksi tetap terkendali dan adanya saling menghargai dan bertanggung jawab secara profesional kerja.

Mengubah Pola Pikir Masyarakat

Dulu sekali, barangkali tak dapat dipungkiri adanya anggapan bahwa orang yang bekerja di perpustakaan (terutama perpustakaan sekolah atau kantor tertentu) cenderung identik dengan orang buangan. Biasanya, ia tidak mampu bekerja sebagai guru atau tata usaha, ya akhirnya disepikan saja di perpustakaan.

Barangkali, dulu memang banyak kasus demikian. Namun di zaman sekarang, mudah-mudahan sudah tidak ada lagi. Sebab, jika disadari benar, keberadaan sebuah perpustakaan dan pustakawannya pun sama pentingnya dengan bagian lain. Oleh karena itu, pola pikir masyarakat yang seperti ini harus diubah. Pengubahan pola pikir ini harus dimulai dari para pustakawan itu sendiri. Sebab, jika pustakawannya sendiri tidak mau berubah maka orang lain pun tidak mungkin mengubah cara pandangnya.

Berkaitan dengan hal ini, meminjam istilah dari quantum teaching dan quantum leraning, seorang pustakawan hendaknya melaksanakan tugasnya seperti berikut.

1. Enjoyebel working, yaitu dapat bekerja dengan cara yang menyenangkan.

2. Working to know, yaitu bekerja sambil berkarya sesuai atau berkaitan dengan

    profesinya.

3. Working to be, yaitu bekerja menjadi diri sendiri sebagai seorang pustakawan

    yang professional.

4. Working to live together, yaitu mampu bekerja untuk hidup bersama secara

    harmonis dan tetap menjadi bagian penting dari yang lainnya.

Selain keempat hal di atas, seorang pustakawan pun harus memiliki program kerja yang jelas yang dapat dicapai sesuai situasi dan kondisi di lingkungannya. Apabila beberapa hal ini telah mampu dilakukan oleh pustakawan, mudah-mudahan masyarakat pun akan memandang pustakawan sebagai seorang profesional yang penting yang tetap harus dicari dan dibutuhkan. Apalagi. sekarang ini sudah zaman sibernetik, di mana perkembangan ilmu pengetahuan demikian cepat dan mengglobal. Dalam hal ini, pustakawan pun jangan sampai tertinggal dengan perkembangan perpustakaan maya, meskipun di sekolah atau di lingkungan kerjanya belum terpasang jaringan internet.

Epilog

Sekarang ini, dengan adanya program sekolah gratis yang dicanangkan pemerintah, khususnya terhadap sekolah-sekolah yang berstatus negeri, barangkali, kondisi perpustakaan dan pustakawannya semakin terjepit. Hal ini terutama bagi pemegang kebijakan di sekolah yang selama ini sudah apatis dan pesimis terhadap perpustakaan. Namun sebenarnya, bagi sekolah dan pustakawan yang memang berpandangan positif, tetap masih banyak peluang yang dapat dilakukan. Justru tantangan ini membuka peluang untuk berdaya kreatif dalam mengembangan perpustakaan. Sebab pada masa kini, media massa cetak dan elektronik semakin membuka peluang untuk menambah koleksi baru secara lebih murah namun canggih. Lihatlah, sudah banyak situs yang menyediakan buku elektronik secara gratsi, baik buku pelajaran maupun buku umum. Jadi, untuk perpustakaan-perpustakaan yang telah memiliki komputer (internet), hal ini merupakan koleksi plus yang sangat berharga.

Dengan tidak menepikan kondisi perpustakaan yang bagai kerakap tumbuh di batu (terutama perpustakaan sekolah), para pustakawan hendaknya tetap perlu optimis dan kreatif dengan kondisi yang ada. Oleh karena itu, seorang pustakawan, di mana pun berada hendaknya (1) tetap siap dan sigap dalam segala kondisi/suasana, (2) tetap optimis dan kreatif dalam keterbatasan, serta (3) mampu mengikuti perkembangan teknologi (khususnya dunia internet).

Dengan uraian sederhana di atas, mudah-mudahan para pustakawan mampu menjadi lebih profesional dan mampu menjadi teladan, baik bagi lingkungan kerjanya, masyarakat pembacanya, maupun bagi dirinya sendiri. Ya, semoga!

Penulis: Purhendi

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


9 × three =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose