Home / Artikel Perpustakaan / Menuju Perpustakaan Ideal, Menuju Ruang Komunikasi Pengetahuan

Menuju Perpustakaan Ideal, Menuju Ruang Komunikasi Pengetahuan

Bagaimana seharusnya membangun perpustakaan ideal? Pertanyaan ini penting karena menyangkut dua hal. Pertama, berhubungan dengan tantangan perpustakaan di era teknologi sekarang ini. Kedua, berkaitan dengan ruang jangkauan perpustakaan, yang seharusnya bisa menjadi ruang baca bagi seluruh masyarakat. Tulisan ini berargumen bahwa kemajuan teknologi sekarang ini bermanfaat bagi pengembangan perpustakaan menuju sebuah ruang komunikasi pengetahuan seluruh masyarakat.

Rumah Pengetahuan

Perpustakaan, secara etimologis, adalah ruang pustaka. Pustaka sendiri bermakna pengetahuan yang terekam dalam bentuk fisik, baik berupa gambar-gambar berarti atau tulisan-tulisan bermakna. Perpustakaan dengan demikian merupakan ruang pengetahuan.

Ada sebuah kata penting dalam definisi di atas, bahwa perpustakaan merupakan sebuah ruang. Sebagai ruang, perpustakaan dibatasi oleh luas atau tinggi bangunan. Kita tentu bisa menduga,  bahwa semakin luas atau semakin tinggi bangunan berarti semakin banyak koleksi di dalamnya. Namun, apakah hal itu juga jaminan terhadap kualitas koleksi perpustakaan tersebut?

Berkualitas atau tidaknya koleksi sebuah perpustakaan tergantung dari seberapa dibutuhkan koleksi tersebut oleh para pemustaka. Tidak hanya itu, koleksi yang berkualitas seharusnya bisa melejitkan kreatifitas dan inspirasi bagi para pemustaka untuk berkarya. Pemustaka di sini bermakna umum, baik golongan intelektual akademisi maupun golongan non-akademisi.

Berdasarkan kebutuhan kualitas koleksi perpustakaan di atas, kemudian menjadi penting peran pustakawan. Pustakawan tidak hanya dituntut untuk mahir dalam mengkodifikasikan koleksi agar proses dokumentasi menjadi sistematis. Tetapi, pustakawan juga dituntut untuk tahu apa isi koleksi-koleksi perpustakaannya. Hal ini penting, sebab tak jarang pemustaka tahu apa yang ia butuhkan tetapi tidak tahu koleksi apa yang harus ia baca. Dalam posisi ini, pustakawan berperan sebagai perantara pengetahuan, yang bertugas mengantarai pemustaka dan koleksi perpustakaan.

Sebagai perantara, pustakawan sekali lagi dituntut untuk mengetahui apa isi koleksi-koleksi perpustakaannya. Hal ini tidak gampang, namun bukan berarti sulit diwujudkan. Kuncinya hanya satu: gemar membaca! Melalui kegiatan membaca, proses transferasi pengetahuan tidak berjalan searah: dari perpustakaan ke pemustaka, tetapi juga dari perpustakaan ke pustakawan.

Jika dipikirkan, tidak hanya sebagai perantara pengetahuan, pustakawan juga berpotensi sebagai sumur aktif pengetahuan multidisiplin. Alasannya, pertama, pustakawan adalah penjaga pengetahuan di perpustakaan. Posisi ini mengharuskan pustakawan membaca seluruh input koleksi perpustakaan. Kedua, dikarenakan perpustakaan selalu mendapat input koleksi baru, maka pustakawan, apabila membaca setiap input koleksi tersebut, akan secara otomatis ikut terupdate pengetahuannya.

Barangkali para pustakawan akan bertanya, Lho khan sudah ada katalog? Buat apa mengetahui isi koleksi? Di satu sisi, katalog memang sebuah mesin pencari koleksi-koleksi perpustakaan. Terlebih lagi kehadiran komputer semakin menambah pekerjaan para pustakawan menjadi ringan. Namun, di sisi lain, katalog terkadang tidak merepresentasikan isi dari koleksi yang dikatalogisasikan. Sialnya lagi apabila katalog hanya mengandalkan sistem digital, dan tidak ada sistem manual; bagaimana apabila listrik padam, komputer rusak, atau virus menyerang seluruh data katalog tersebut? Tentu, untuk mencari koleksi akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Oleh karena itu, di samping penyediaan sistem komputerisasi katalog, sistem katalog manual harus tetap dipertahankan.

Katalog yang baik seharusnya memuat intisari buku dan daftar isi. Intisari buku bermanfaat untuk memudahkan pustakawan dan pemustaka mengetahui apa yang dibahas dalam buku-buku tersebut. Adapun daftar isi berguna untuk memudahkan pemustaka dan pustakawan mengetahui peta pembahasan isi buku. Pembuatan katalog seperti ini memang membutuhkan waktu yang lebih lama daripada pembuatan katalog yang hanya menyuratkan judul, pengarang dan subjek koleksi. Namun, kehadirannya akan dibutuhkan oleh pemustaka dan pustakawan ketika mencari koleksi-koleksi buku yang mereka butuhkan.

Berdasarkan uraian di atas, triadik antara perpustakaan, pustakawan dan pemustaka adalah triadik dari sebuah proses institusionalisasi pengetahuan. Perpustakaan adalah rumah pengetahuan. Pustakawan adalah perantara pengetahuan. Pemustaka adalah konsumen pengetahuan. Sebagai rumah pengetahuan, perpustakaan mendistribusikan pengetahuan baik bagi pustakawan maupun pemustakanya.

Paling tidak ada dua tantangan perpustakaan pada masa sekarang ini. Pertama, disebabkan oleh permasalahan ruang. Kedua, disebabkan oleh tantangan teknologi. Dua tantangan ini berhubungan satu sama lain.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, perpustakaan adalah rumah pengetahuan. Sebagai rumah pengetahuan, perpustakaan menyimpan koleksi-koleksi yang tidak saja berharga bagi para pemustaka tetapi juga koleksi-koleksi langka warisan bapak-bapak bangsa terdahulu. Kenyataan inilah yang mengharuskan perpustakaan benar-benar memperhatikan masalah ruang.

Masalah ruang, pertama berkaitan dengan tata interior. Ruang perpustakaan seharusnya memperhatikan aspek-aspek keamanan dan kenyamanan ruang baca. Keamanan di perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan keamanan buku dari pencurian, namun juga berhubungan dengan keamanan buku dari binatang-binatang perusak buku, misalnya tikus dan ngengat. Selain itu, keamanan dari keteledoran para pemustaka atau pustakawan juga mesti diperhatikan, misalnya asap rokok, makanan berminyak atau minuman tumpah yang berpotensi merusak buku. Perlu dipikirkan juga tentang keamanan dari sistem pencahayaan, angin dan debu yang bisa mempercepat proses kerusakan buku. Di sini, keamanan menyaratkan penyediaan teknologi anti-maling, air condition (ac) dengan penjagaan suhu tertentu dan sistem pemadam kebakaran ruangan yang ramah terhadap buku.

Adapun menyangkut kenyamanan ruang baca perlu diperhatikan budaya baca orang Indonesia. Hal ini berhubungan dengan kenyamanan saat membaca di perpustakaan dan kenyamaan dalam proses peminjaman. Mengantuk adalah musuh utama para pemustaka saat membaca. Untuk itu, penataan tata ruang baca harus memperhatikan suhu udara yang tidak panas dan tidak terlalu dingin, dan tempat baca yang hommy, yang membuat pemustaka betah berada di perpustakaan.

Dalam proses peminjaman dan pengembalian pinjaman, sistem digitalisasi koleksi (barcode) adalah solusi untuk memudahkan proses ini. Hal ini tentu harus didukung dengan mesin peminjaman otomatis yang mengandalkan barcode. Pemindaian barcode memiliki dua keuntungan. Bagi pustakawan, sistem ini memudahkan dalam proses pengontrolan, sebab pustakawan tidak perlu mencatat secara manual buku-buku yang ke luar. Melalui barcode, pustakawan dimanjakan dengan sistem digitalisasi yang memungkinkan data (tentang buku ke luar) di dalam komputer. Keuntungan lain, sistem ini memungkinkan pemustaka untuk melayani dirinya sendiri baik dalam hal peminjaman maupun pengembalian pinjaman buku. Tentu, hal ini harus didukung dengan penyediaan mesin self-service, yaitu mesin peminjaman dan pengembalian berbasis barcode.

Masalah ruang kedua berkaitan dengan luas bangunan perpustakaan. Sebagaimana kita tahu, sejak Gutenberg menemukan mesin cetak, dunia perbukuan telah mengalami revolusi. Revolusi yang dimaksud adalah revolusi dalam hal pencetakan buku. Buku yang semula harus membutuhkan waktu lama untuk proses cetak, kini bisa dicetak beratus-ratus eksemplar dalam hitungan jam. Kehadiran mesin cetak membuat publikasi buku semakin hari semakin mudah. Yang menjadi masalah, bagaimana seharusnya ruang perpustakaan merespon koleksi yang semakin hari semakin bertambah?

Menambah luas atau meninggikan bangunan perpustakaan bukanlah solusi permasalahan di atas. Meskipun keduanya merupakan hal yang niscaya tetapi tidak efektif, sebab laju kecepatan pertambahan koleksi tidak bisa dibendung dengan perluasan ruang perpustakaan. Dalam pada itu, sebuah solusi yang laik ditawarkan adalah digitalisasi buku.

Digitalisasi buku adalah proses pemindahan bentuk buku dari buku fisik dalam format kertas menjadi buku elektronik dalam format digital, biasanya dikenal dengan sebutan e-book (buku elektronik). E-book hanya memerlukan ruang maya sebagai ruang penyimpanan, sehingga bertambahnya koleksi e-book tidak menyebabkan ruang perpustakaan menjadi semakin sempit. Sebaliknya, justru dengan penggunaan e-book akan menambah ruang baca di perpustakaan menjadi semakin luas.

Keuntungan lain terkait dengan keamanan buku. Koleksi buku, terutama naskah-naskah kuno akan terhindar dari pencurian, karena tersimpan dalam bentuk digital. Dunia digital yang menampung banyak data akan semakin memberi ruang untuk penyimpanan koleksi lebih banyak daripada penyimpanan dalam bentuk fisik tulisan. Format e-book juga menghindarkan koleksi-koleksi dari kerusakan yang disebabkan oleh faktor-faktor alam, seperti korosi udara.

Meskipun begitu, perpusnas harus siap dengan segala perangkat yang menunjang penyediaan e-book tersebut. Bagi pustakawan, penguasaan komputer dengan segala programnya adalah sesuatu yang mutlak. Yang menjadi masalah sebenarnya pada masalah pemustaka. Sudah siapkah pemustaka membaca koleksi perpusnas dengan format e-book? Pertanyaan ini sekaligus pertanyaan bagi perpusnas: sudah siapkah pengelola perpusnas menyediakan peralatan untuk membaca e-book?

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah. Membaca buku bertulis tinta biasanya memberikan sentuhan personal antara pengarang dengan pemustaka. Ada semacam kenikmatan tersendiri ketika seseorang pemustaka membuka lembar halaman demi halaman. Bentuk fisik buku juga menyebabkan kedekatan tak berjarak antara pengarang dan pemustaka. Hal ini berbeda dalam kasus e-book. Bentuk digital menyebabkan pengarang dan pemustaka seakan termediasi sangat jauh. Belum lagi dengan masalah radiasi komputer atau alat pembaca e-book yang terkadang menjadi penghambat tersendiri bagi para pemustaka. Meskipun demikian, sistem digitalisasi memudahkan perpustakaan berproses menjadi ruang komunikasi pengetahuan.

Menuju Ruang Komunikasi Pengetahuan

Perpustakaan tentu bukan sekadar penamaan. Perpustakaan dinamakan demikian karena memiliki makna yang berhubungan dengan fungsi perpustakaan ini. Sub pembahasan ini ingin menguraikan bagaimana seharusnya perpustakaan menjadi ruang komunikasi pengetahuan bagi seluruh masyarakat.

Perpustakaan seharusnya mengandung dua cakupan. Pertama, ke dalam, perpustakaan harus sanggup diakses oleh seluruh masyarakat. Kedua, ke luar, perpustakaan harus sanggup menjadi bagian dari rumah pengetahuan dunia, khususnya tentang Indonesia, yang dapat diakses oleh masyarakat dunia.

Dari situlah perpustakaan seharusnya mampu menunjukkan dirinya sebagai ruang komunikasi. Sebagai sebuah ruang komunikasi, perpustakaan diharapkan sanggup menjadi ruang diskusi dan transferasi pengetahuan, terutama tentang isu-isu dalam negeri. Hal ini bisa dilaksanakan tidak saja dengan mengumumkan informasi tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan tetapi juga agenda-agenda penting kenegaraan.

Di samping itu, fungsinya sebagai ruang komunikasi menuntut perpustakaan memiliki website. Namun, ini belum cukup. Idealnya, perpustakaan seharusnya juga menyediakan link bagi perpustakaan-perpustakaan besar milik swasta yang penting bagi pengembangan penelitian tentang Indonesia, misalnya link menuju perpustakaan Ignatius Jogjakarta, perpustakaan Radya Pustaka, Mangkunegaran dan Kasunanan di Surakarta, maupun perpustakan-perpustakaan milik kolektor buku.

Ketersediaan link juga menuntut penyajian katalog milik masing-masing perpustakaan. Meskipun beberapa link telah menyediakan layanan ini, namun beberapa di antaranya tidak bisa diakses. Di sinilah, fungsi perpustakaan kembali diuji, terutama bagi para pustakawannya. Secara ideal, para pustakawan tidak hanya berperan sebagai penjaga pengetahuan di dalam perpustakaannya sendiri, namun seharusnya juga sanggup menularkan pengetahuan teknologinya kepada para pustakawan lain di daerah-daerah, baik dalam hal digitalisasi katalog, maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah perpustakaan. Dari sini ada baiknya mengupload hasil-hasil seminar tentang teknologi perpustakaan agar bisa diakses oleh para pustakawan lain.

Perlu diperhatikan, ketersediaan internet (dan website) secara tidak langsung mentransformasi definisi pemustaka. Jika website perpustakaan adalah representasi dari perpustakaan itu sendiri, maka setiap pengunjung website perpustakaan secara otomatis adalah para pengunjung perpustakaan ini. Oleh karena itu, ketika mengunjungi website perpustakaan pastilah para pemustaka sedang mencari koleksi-koleksi yang mereka butuhkan. Untuk merespon hal ini, para pustakawan sebaiknya menyediakan layanan pengaksesan koleksi dalam bentuk e-book.

Jika layanan e-book terwujud, maka layanan ini pasti bermanfaat bagi proses transferasi pengetahuan secara cepat ke seluruh masyarakat. Sebab, masyarakat akan segera mengunjungi website perpustakaan tersebut begitu membutuhkan suatu koleksi. Dengan begitu, perpustakaan tersebut tidak saja membuktikan diri sebagai perpustakaan dalam artian fisik, mengandaikan suatu bangunan di suatu tempat, tetapi juga membuktikan diri sebagai perpustakaan digital yang siap diakses dari seluruh pelosok Indonesia.

Tentu tidak semua koleksi buku harus diformat dalam bentuk e-book dan diupload melalui website perpustakaan. Buku-buku yang laik diupload sebaiknya berupa koleksi praktis yang dibutuhkan oleh rakyat kecil, misalnya buku-buku tentang peternakan, buku-buku tentang perkebunan dan lain sebagainya. Sedangkan, untuk koleksi-koleksi yang bersifat akademis cukup diupload ringkasan isi koleksi tersebut. Hal ini penting untuk menghindari plagiarisme oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Selain aktif memberi (mengupload) e-book, perpustakaan seharusnya juga membuka diri untuk menerima sumbangan buku-buku dari para donatur buku. Inilah fungsi ruang komunikasi, tidak hanya memberi tetapi juga menerima, agar proses transferasi pengetahuan tidak berjalan searah, tetapi dua arah, baik dari perpustakaan ke pemustaka, atau sebaliknya dari pemustaka ke perpustakaan kemudian dilanjutkan ke pemustaka lain. Perpustakaan ideal dengan demikian ikut mengembangkan partisipasi aktif warga negara Indonesia untuk mengerti kebutuhannya sendiri akan pengetahuan.

Sebagai ruang komunikasi pula, perpustakaan diharapkan agar bisa interaktif kepada para pemustakanya. Di samping rubrik tanya-jawab, perpustakaan ideal bisa menyediakan mailing list (milist) perpustakaan sebagai ruang diskusi aktif para pemustakanya. Penyediaan mailing list memiliki banyak keuntungan, antara lain menjadi dialog aktif antara pustakawan dan pemustaka, sehingga pustakawan dapat mengetahuai secara cepat koleksi apa yang dibutuhkan oleh para pemustaka. Keuntungan lain, melalui mailing list perpustakaan tersebut dapat mengetahui secara cepat perkembangan pengetahuan dunia, dan buku-buku baru yang terbit di Indonesia. Hal ini menghindari ketertinggalan perpustakaan dalam menyediakan koleksi-koleksi baru yang bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan di Indonesia.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah akses link ke perpustakaan-perpustakaan universitas. Penyediaan link ke perpustakaan-perpustakaan universitas memudahkan perpustakaan dalam mengakses jurnal-jurnal ilmiah yang disediakan oleh universitas-universitas yang bersangkutan. Jurnal ilmiah berfungsi sebagai barometer dari pengetahuan ilmiah yang sedang berkembang di dunia. Oleh karena itu, dengan penyediaan akses jurnal ilmiah, perpustakaan benar-benar mengukuhkan dirinya sebagai ruang komunikasi yang merambah dunia akademis.

Laik juga dipertimbangkan bagaimana perpustakaan ideal juga menyediakan layanan e-arsip terhadap koran-koran maupun majalah-majalah yang ada di tingkat lokal maupun nasional, bahkan internasional. E-arsip koran dan majalah tidak hanya penting tetapi juga perlu, sebab keduanya merupakan dokumen peristiwa penting yang bisa disebut sebagai dokumen sejarah yang mungkin dibutuhkan oleh generasi mendatang.

Kesimpulan

Melalui perkembangan teknologi, perpustakaan ideal adalah perpustakaan yang mampu membuktikan dirinya sebagai ruang komunikasi pengetahuan. Teknologi membantu perpustakaan dalam menyediakan layanan yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat secara umum. Selanjutnya, kita akan menunggu, apakah pustakawan telah siap menghadapi tantangan teknologi ini.

Penulis: Muhammad Endy Saputro

Solo

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


× eight = 16

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose