Home / Artikel Perpustakaan / Menuju Perpustakaan Sekolah Digital 2010

Menuju Perpustakaan Sekolah Digital 2010

Di kalangan para akademik, khususnya sekolah menengah sudah menjadi suatu hal yang wajar bagi setiap siswa untuk keluar-masuk perpustakaan setiap hari, apalagi bagi mereka yang hobi membaca buku.  Tujuan mereka ke perpustakaan tidak hanya sekedar membaca buku, tetapi ada yang mencari tugas sekolah. Bisa saja hanya sekedar duduk-duduk membaca koran atau majalah.

Bayangan tentang perpustakaan di dalam kerangka paradigma seperti sekarang ini adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar, menawarkan hal-hal yang baru, inovatif, dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apapun yang ditawarkan akan menjadi suatu yang atraktif, interaktif, edukatif, dan rekreatif bagi para pengunjungnya. Produk dan layanannya dapat dipublikasikan dengan berbagai cara, baik melalui media cetak , maupun media elektronik bagi para siswanya.

Secara umum, tujuan dari perpustakaan sekolah adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lingungan sekolah tersebut, khususnya bagi para siswa, guru, maupun karyawannya . Dengan adanya perpustakaan sekolah, maka kehausan mereka akan bacaan dapat teratasi.  Bagi mereka yang ingin mencari berbagai informasi juga bisa mendatangi tempat tersebut.  Sehuubungan dengan hal itu, maka secara eksplisit fungsi perpustakaan sekolah terbagi menjadi 4 macam, yaitu fungsi edukatif, informatif, rekreatif, dan riset/ penelitian sederhana. Keempat hal tersebut merupakan fungsi pokok daripada sebuah perpustakaan sekolah.

Seiring dengan perkembangan zaman, maka diharapkan perpustakaan sekolah mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, agar tetap eksis dan dinikmati oleh para siswa. Untuk itu, perlu adanya pengelolaan perpustakaan sekolah secara lebih profesional. Gedung dan ruangan harus ditata dengan baik agar dapat memberikan layanan yang menyenangkan bagi para penggunanya, baik siswa, guru, maupun karyawan sekolah. Selain koleksi konvensional dalam bentuk karya cetak dan karya rekam, akan lebih baik lagi jika ditambahi dengan koleksi koleksi digital seperti layanan informasi berbasis teknologi dengan menyediakan layanan internet  dan sebagainya.

Untuk itu, sangatlah diperlukan suatu sumber dana yang mumpuni, baik berupa SDM, maupun peralatan dan perlengkapan yang memadai, sehingga dapat meningkatkan kinerja perpustakaan di zaman sekarang yang serba komputer ini.

B. Permasalahan

Dengan meilmpah ruahnya sumber daya digital, sudah selayaknya perpustakaan sekolah (khususnya SMP dan SMA) menggunakan teknologi baru di bidang komputer dan informatika untuk mengelolanya, sehingga perpustakaan tersebut dapat memonitor segala buku yang keluar-masuk secara digital, atau yang sekarang ini kita kenal dengan istilah perpustakaan digital (digital library). Perpustakaan digital merupakan kesinambungan kehendak umat manusia untuk membangun sebuah peradaban berbasis pengetahuan dan informasi yang turun temurun, menembus ruang dan waktu.

Namun, belum semua perpustakaan sekolah menggunakan teknologi digital ini dalam mengelola segala kegiatannya. Baik dari segi SDM maupun pembiayaan masih sangat berpengaruh untuk mewujudkan itu semua.  Harus ada alokasi khusus dari sekolah demi menunjang digitalisasi perpustakaan sekolah ke depan.  Kerja sama dengan pemda, masyarakat, dan siswa itu sendiri juga sangat diperlukan.

Pengelola / pustakawan sekolah perlu suatu proses pembelajaran dalam mengelola perpustakaan digital, dan hal ini bukanlah suatu perkara yang mudah.  Apalagi  bagi pustakawan yang kurang familiar dengan komputer. Harus butuh suatu kesabaran, sehingga lambat laun mereka trampil dalam mengelola perpustakaan digital secara baik.

Begitu juga dengan para siswanya. Selain pengenalan secara detail mekanisme peminjaman buku digital, juga perlu suatu pemahaman baik dari guru maupun pustakawan sendiri . Dengan harapan, di kemudian hari siswa yang belum bisa menjadi bisa, dan tidak enggan untuk mengunjungi perpustakaan setiap harinya. Jika para siswa telah mahir, maka ke depan bisa saja pustakawan cukup mengawasi para siswa yang akan meminjam buku. Karena mulai dari pencarian katalog, tempat dan nomor buku, juga proses peminjaman buku sudah dilakukan sendiri secara digital oleh para siswa. Sirkulasi buku dengan sendirinya sudah terekam oleh komputer.

C. Tujuan.

Tujuan penulis dalam membuat artikel kali ini adalah agar memberi bekal kepada para pustakawan dan para siswa, agar masing-masing berusaha untuk dapat mengelola dan menggunakan fasilitas  perpustakaan digital  di era yang serba dgitalisasi seperti sekarang ini. Para pustakawan diharapkan dapat memaksimalkan pengetahuan tentang tata cara mengelola perpustakaan secara digital.

Bagi siswa, diharapkan mereka mulai familiar dengan perpustakaan digital, dengan motivasi yang tinggi untuk mengunjungi tempat tersebut, sehingga fungsi utama perpustakaan sekolah, yang merupakan bagian integral dari sekolah seperti menumbuhkembangkan minat baca siswa, sumber informasi, sumber hiburan, dan lainnya dapat terkoneksi secara sinkron.

Di luar itu semua, tujuan penulisan artikel ini adalah supaya masyarakat umum memahami dan mengerti, sehingga mereka ikut berpartisipasi melalui sumbangsih pikiran dan moral, agar secara perlahan-lahan, setiap sekolah (khususnya SMP dan SMA) dapat menyediakan perpustakaan digital, walaupun dalam konsep yang cukup sederhana.

Pemerintah, khususnya pemda, semoga dapat menyoroti hal ini lebih dekat, dan dapat mengalokasikan sebagan dananya agar terciptanya komputerisasi perpustakaan sekolah, dan lambat laun merangkak menjadi perpustakaan digital dengan tersedianya berbagai layanan yang bersifat digital.

D. Landasan Teori

Sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 2 Tahun 1989 yang berisi bahwa setiap sekolah harus menyediakan sarana belajar (perpustakaan). Maka kehadiran perpustakaan sekolah dapat dibenarkan jika mampu membantu pencapaian pengembangan tujuan sekolah yang bersangkutan. Untuk itu, perpustakaan sekolah harus bisa menyelaraskan diri di era yang serba digital ini.

Ironisnya, masih ada juga guru yang hanya mengejar nilai yang bersifat normatif saja tanpa berusaha untuk meningkatkan kultur minat baca para siswa. Di luar itu semua, yang paling penting adalah perpustakaan sekolah tidak boleh menyimpang dari tugas dan tujuan sekolah sebagai lembaga induknya.

E. Permasalahan

Dengan adanya berbagai macam peralatan digital seperti sekarang ini, apalagi dengan adanya komputer di setiap sekolahan, sangatlah tidak etis jika seorang siswa (apalagi siswa SMA) tidak dapat mengoperasikan komputer. Hal ini merupakan syarat dominan, agar user dapat melakukan sirkulasi peminjaman buku digital secara mandiri. Selain itu, perlu pembelajaran lebih lanjut . Dan yang paling penting adalah bagaimana agar mereka candu untuk selalu mengunjungi perpustakaan. Berbagai fasilitas yang up to date sangatlah disarankan, seperti koran harian, majalah mingguan, ataupun tabloid bulanan demi menambah wawasan positif siswanya.

Bagi para pustakawan sendiri,  harus ada training dan monitoring secara intens, agar mereka tidak canggung  jka ada siswa yang meminta bantuan/ petunjuk. Begitu juga jika ada hal baru yang berhubungan dengan perpustakaan, mereka tidak akan ketinggalan berita.

Perpustakaan sekolah memang bukanlah lembaga nir laba (non profit organization) yang hanya mencari keuntungan semata. Namun, untuk mewujudkan segala seuatu seperti di atas, tentunya diperlukan biaya baik untuk mengadakan koleksi , perawatan, pelayanan, serta menggaji para pegawainya. Untuk itu, yang paling penting di sini adalah dukungan dari semua pihak. Selain pemerintah, kepala sekolah, sebagai pimpinan tertinggi sekolahan harus lebih memperhatikan keberlangsungan perpustakaan sekolah ke depan. Kepala sekolah harus bisa mencari solusi agar berangsur-angsur, perpustakaan sekolahnya bisa menggunakan teknlogi digital sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.

Bagi para siswa, walaupun ada program sekolah gratis dari pemerintah, namun menurut hemat penulis, sebaiknya siswa tetap berkontribusi, dengan ikut menyumbang melalui sejenis sumbangan SPP. Dengan catatan, pihak sekolah tidak boleh menarik iuran yang dirasa sangat berat oleh siswanya (yang wajar-wajar saja). Walaupun kecil tidak masalah, karena ini merupakan suatu agenda jangka panjang, dimana siswa baru yang masuk ke sekolah juga akan ikut diminta iuran yang sama. Artinya, segala bentuk dana di atas sepenuhnya adalah untuk sebesar-besar pemenuhan kebutuhan bagi pengguna perpustakaan.

F. Kesimpulan dan Saran

Penggagasan perpustakaan sekolah berbasis digital memang harus dimulai dari sekarang, agar kita tidak ketinggalan dengan negara-negara tetangga. Untuk itu, perlu dipersiapkan segala sumber daya yang diperlukan.

Yang pertama, jika perpustakaan sekolah tersebut masih manual dalam melayani penggunanya, sebaiknya terlebih dahulu dirubah menggunakan layanan komputer. Jika layanan komputer telah berjalan, maka selanjutnya tinggal menambahi segala kekurangan yang ada, sehinga lengkap dan menjadi perpustakaan sekolah digital.

Bagi pengelolanya, terlebih dahulu harus familiar dengan komputer. Selanjutnya, secara bertahap mereka diberi pembekalan tentang tata cara mengelola perpustakaan digital, agar ke depan, jika perpustakaan sekolah sudah digital, tidak perlu repot-repot lagi menyewa orang untuk mengajari mereka. Untuk itu harus ada kerja sama dengan pihak terkait, seperti pakar IT dan organisasi sejenis di lingkungan setempat.

Siswa sendiri, harus dibuat agar selalu betah untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah. Penyediaan sarana pendukung serta inovasi-inovasi baru perlu disediakan, agar mereka tetap berminat ke situ. Mereka juga perlu diajari tata cara peminjaman buku secara digital, jika perpustakaan sekolah tersebut sudah menjadi perpustakaan digital nantinya.

Masyarakat harus mendukung terciptanya perpustakaan sekolah ini, karena secara tidak langsung, mereka juga mendapatkan manfaat dari perpustakaan digital ini, lewat anak-anaknya yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Dukungan moral dari masyarakat sangat dibutuhkan demi percepatan pencapaian perpustakaan sekolah digital. Bagi pemda, adalah bantuan lewat kebijakan-kebijakan yang ada, dengan menyoroti masalah ini secara lebih serius.

Sekali lagi disinggung, bahwa itu semua harus sesuai dengan fungsi utama perpustakaan sekolah. Semoga, tahun 2010 adalah permulaan dari basis perpustakaan sekolah digital secara menyeluruh, di semua sekolah menengah di Indonesia. Dan tentunya, perpustakaan sekolah digital ini tetap tidak mengesampingkan buku-buku yang selama ini menjadi produk utama perpustakaan.

Referensi

Bafadah, Ibrahim, Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Hermawan, Rachman, dkk, Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia, Jakarta: Sagung Seto, 2006.

Sidik, Umar, dkk, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi (IPI), 2003.

Universitas Indonesia, Perpustakaan Digital Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia, Jakarta: Sagung Seto, 2007.

Penulis: ADIB

Karangwuni, Blok E3A, Caturtunggal, Depok, Sleman

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

One comment

  1. ini kan aku lagi buat Skripsi ttg perpustakaan digital,,,tolong bantuannya tentang kebutuhan analisis dan desaign sistem informasi perpustakaan digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


1 + = three

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose