Home / Artikel Perpustakaan / Model Perpustakaan “Angkringan” Sebagai Wujud Layanan Terhadap Masyarakat Kecil dan Wahana Peningkatan Minat Baca

Model Perpustakaan “Angkringan” Sebagai Wujud Layanan Terhadap Masyarakat Kecil dan Wahana Peningkatan Minat Baca

Perpustakaan di Indonesia pada kenyataannya masih untuk kalangan terbatas. Terbatas pada kelompok menengah ke atas dan kalangan akademis. Sedangkan masyarakat kecil jarang yang mengakses perpustakaan. Jangankan mengakses, letak keberadaan perpustakaan umum saja banyak yang kurang mengetahui.

Dalam perkembangannya, perpustakaan adalah untuk semua. Dapat kita contohkan pada tahun 2005 di Yogyakarta telah mencanangkan program Jogja Library for All. Kesuksesan dari program tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, pengelola atau pustakawan dan masyarakat umum.

Potensi masyarakat yang besar dalam berbagai bidang sudah sepatutnya mendapat pengelolaan yang tepat, salahsatunya dengan program revitalisasi perpustakaan. Angin segar pun muncul ketika UU No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan dikeluarkan pemerintah. Namun, hendaknya pelaksanaan mesti mendapat kawalan ketat dari seluruh elemen bangsa sehingga perwujudan dari UU benar-benar ada, dan tidak hanya sebatas menjadi retorika legal formal.

Guna pengembangan potensi masyarakat dibutuhkan fasilitas pendukung diantaranya adalah model perpustakaan yang lebih dekat dengan rakyat, dalam pengertian perpustakaan yang dapat diakses rakyat kecil khususnya.

B. Permasalahan

Kesenjangan ternyata masih menghiasi kehidupan kita, mengenai pemerataan pembangunan dibatasi tiga hal, yaitu ketidakmerataan antar golongan penduduk, antarsektor, dan antar daerah.(Gunawan Sumodiningrat, 1997:35).

Dalam kemampuan akses informasi masyarakat sekarang ini terdapat pula kesenjangan yang mencolok, dalam hal ini masyarakat bawah tentu yang berkemampuaan kurang. Walau terdapat media informasi yang murah seperti Televisi. Tetapi, televisi justru lebih mementingkan aspek bisnis daripada aspek pendidikan masyarakat.

Potensi yang dipunyai masyarakat kita cenderung kurang berkembang. Bahkan dalam Index Human Development, Indonesia masih berada pada posisi 109 dari 179 negara. Sangat jauh dari Malaysia yang menempati posisi 63, bahkan dari Filipina yang berada di ranking 102. Dari sini berarti masih banyak pekerjaan rumah bagi kita guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.

Lalu dari sisi minat baca, masyarakat kita ternyata kurang dalam hal kecintaan pada pustaka. Dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 tentang akses masyarakat terhadap media massa, ternyata Televisi menjadi pilihan utama masyarakat dengan 85,86 persen dan yang memilih koran atau majalah hanya 23,46 persen. Hal ini tentu menjadi cerminan bagi kondisi minat baca masyarakat kita. Dalam hal kualitas Sumber Daya Manusia ini dibutuhkan fasilitas-fasilitas pendukung, misalnya model perpustakaan alternative yang membuat mesyarakat kecil kita tidak rikuh untuk berkunjung ke perpustakaan.

C.  Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan memberikan konsep model perpustakaan yang dapat diakses oleh semua kalangan, terutama masyarakat kalangan kelas bawah. Sehingga konsep Library for All dapat dilaksanakan di Indonesia.

D.  Landasan Teori

Pengertian Perpustakaan

Perpustakaan, secara konvensional, yaitu kumpulan buku atau bangunan fisik tempat buku dikumpulkan, disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai (Syihabudin Qalyubi dkk, 2007).

Sedangkan dalam UU No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan disebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak,dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Dan definisi Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi.

Fungsi dan Tujuan Perpustakaan

Dalam pasal 3 UU No.43 2007 disebutkan Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Dan pada Pasal 4 disebutkan Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Membaca dan Minat Baca

Menurut Marksheffel membaca didefinisikan sebagai kegiatan kompleks dan disengaja, dalam hal ini berupa proses berfikir yang didalamnya terdiri dari pelbagai aksi yang bekerja secara terpadu mengarah  kepada satu tujuan yaitu memahami paparan tertulis secara keseluruhan. Aksi-aksi pada waktu membaca tersebut berupa memperoleh pengetahuan dari simbol-simbol huruf atau gambar yang diamati, pemecahan masalah-masalah yang timbul serta menginterpretasikan symbol-simbol huruf, gambar-gambar dan sebagainya.

Minat baca dikelompokan sebagai sifat atau sikap (traits or attitude) yang memiliki kecenderungan-kecenderungan atau tendensi tertentu. Minat baca mempresentasikan tindakan-tindakan, minat tidak bisa dikelompokan sebagai pembawaan tetapi sifatnya bisa diusahakan, dipelajari dan dikembangkan. (Ibrahim Bafadal, 1992:191).

E. Pembahasan

Model Perpustakaan Angkringan

Pengembangan perpustakaan di Indonesia dapat kita rasakan dengan sangat, hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh terbitnya UU No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan.

Yang menjadi masalah, adalah pengembangan perpustakaan yang belum berorientasi pada pemakai atau calon pemakai. Sebagai contoh, saat di perpustakaan begitu getol dikembangkan Teknologi informasi tapi kurang memperhatikan dari sisi sosiologis, psikologis, dan ekonomi konsumen informasi. Pembangunan perpustakaan bukan hanya sekedar aspek fisik. Namun, yang lebih ditekankan adalah aspek sosio-kultural masyarakat karena merekalah sasaran dari perpustakaan didirikan.

Dari hal diatas diperlukan konsep pengembangan perpustakaan yang cocok untuk masyarakat dari segala aspek kehidupan. Berikut paparan mengenai konsep model Perpustakaan Angkringan

Istilah angkringan sendiri diambil dari bahasa jawa, yang berarti sebuah warung kecil dengan tenda, dan dengan menu dan suasana yang merakyat akrab dengan rakyat kecil.

Jadi, istilah ini dipakai bukan dari sisi fisik kita akan membentuk perpustakaan yang mirip angkringan. Namun, lebih pada filosofi yang terkandung dalam makna istilah.

Berikut sedikit paparan mengenai perpustakaan angkringan. Perpustakaan angkringan diartikan sebagai perpustakaan yang dekat dengan rakyat, dalam arti masyarakat kelas bawah pun nyaman untuk mengakses informasi.

Selama ini masyarakat kelas bawah enggan untuk pergi ke perpustakaan disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya sebagai berikut:

  • Faktor waktu, masyarakat bawah cenderung menghabiskan waktu untuk bekerja mencari nafkah guna bertahan hidup.
  • Faktor budaya, jelas dalam masyarakat, budaya baca cenderung rendah dimana budaya lisan masih mengakar. Hal ini terjadi bukan saja pada masyarakat bawah tapi juga golongan menengah ke atas juga berbudaya sama.
  • Letak perpustakaan, letak perpustakaan di pusat kota memang strategis dari sisi letak, tapi jauh dari sisi rasa.
  • Desain gedung perpustakaan, desain pengembangan perpustakaan yang begitu wah membuat ada semacam batasan psikis dalam benak masyarakat.
  • Aturan dan tata tertib perpustakaan, aturan yang terlalu kaku membuat rasa bebas menghilang, yang ada adalah legal formal yang mengekang.

Konsep perpustakaan yang dekat dengan rakyat akan dapat terwujud dengan mencari solusi dari masalah-masalah yang ada.

  • Faktor waktu

Waktu dapat didefinisikan sebagai uang. Hal ini memang benar, tapi bagaimana dengan tawaran konsep waktu adalah ilmu. Konsep ini mesti kita tanamkan dalam masyarakat, terutama masyarakat kecil.

  • Faktor budaya

Meningkatkan budaya membaca memang bukan hal yang mudah, apalagi dengan banyak media dengan kemasan yang lebih menarik seperti Televisi. Keunikan masyarakat Indonesia adalah ada fenomena adanya loncatan budaya dari pra literer ke pasca literer. Dari fenomena ini ada sebuah tahapan yang dilewati yaitu masyarakat literer. Tapi hal ini tidak mengurangi pentingnya minat baca. Teknologi bisa sejalan dengan industri perbukuan. Media internet sebagai wujud dari teknologi informasi juga berbasis membaca dalam hal akses. Hanya dari sisi bentuk fisik bacaan saja yang berbeda. Yang menjadi masalah adalah di satu sisi teknologi informasi sudah berkembang cepat, tapi di sisi lain kemampuan masyarakat untuk mengakses sangat rendah.

Dari hal inilah muncul gagasan model perpustakaan angkringan dimana dalam pengembangan perpustakaan juga melihat pada kondisi riil masyarakat yang akan dilayani.

  • Letak Perpustakaan

Letak perpustakaan merakyat adalah di dekat pemukiman penduduk, bukan di daerah perkantoran elite yang masyarakat kecil ingin mendekat saja takut. Menjadikan masyarakat cerdas adalah tujuan perpustakaaan. Tapi bukan berarti yang cerdas akan menjadi tambah cerdas dan yang bodoh akan tetap bodoh. Di sinilah letak perpustakaan mesti juga perlu di kaji ulang. Perpustakaan bukanlah mercu suar yang mesti kelihatan dari jauh, tapi lebih pada seberapa besar kemanfaatannya bagi masyarakat. Proyek perpustakaan keliling juga merupakan sebuah solusi, tapi apakah secara kuantitas telah mencukupi, di banding jumlah penduduk yang begitu besar.

  • Desain gedung perpustakaan

Desain perpustakaan yang maju adalah mewah dengan ruangan ber-AC dan gedungnya bertingkat seperti Mall. Tidak ada yang salah dengan perpustakaan seperti ini. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah desain seperti itu dapat diterima oleh semua kalangan. Yang ada adalah rasa rikuh masyarakat kecil untuk berkunjung ke perpustakaan.

Model desain gedung perpustakaan yang ideal menurut pemikiran angkringan adalah yang sederhana, dengan suasana harmoni, keakraban khas Indonesia. Tentu dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah perpustakaan yang mapan dan norma yang berlaku.

Perpustakaan tidak di bangun dengan indah kemewahan, tapi justru dengan rasa empati nurani tentang pendidikan bagi masyarakat kelas bawah. Hal inilah yang sebenarnya menjadi tujuan negara kita.

  • Aturan dan tata tertib

Aturan perpustakaan hendaknya dibuat tidak terlalu formal dan mengekang. Misalnya: mengenai aturan keanggotaan, dapat lebih dilonggarkan. Lalu tata-tertib seperti berpakaian sopan, harus pakai sepatu dan lain-lain yang sifatnya diskriminatif mesti dihilangkan. Bagaimana mungkin seorang tukang becak atau buruh gendong datang ke perpustakaan, saat membaca aturan akan merasa nyaman saat di aturan perpustakaannya bersifat formal. Birokrasi yang rumit sudah semestinya ditinggalkan dalam layanan perpustakaan ke depan.

  • Konsep Layanan Prima desentalisasi

Konsep layanan prima memang mesti dibutuhkan dalam setiap layanan pada masyarakat. Desentralisasi perpustakaan memang sebuah hal yang perlu dilakukan mengingat persebaran penduduk yang kian merata. Dan pula mendekatkan perpustakaan pada masyarakat. Konsep total library yang ditawarkan memang layak dilaksanakan. Sekarang ini bukan saatnya pengunjung di perpustakaan tetapi lebih pada perpustakaan diantara pengunjung. Jadi, perpustakaan bukanlah dari sisi fisik gedung saja, tetapi lebih pada sebuah sistem.

Perlu kita ingat konsep perpustakaan mabulir, yang sebenarnya bisa dikembangkan. Perpustakaan kita masih banyak yang bangga dengan buku-buku mahal di rak, tapi dari sisi kemanfaatan kurang diperhatikan. Kini saatnya diubah pemahaman dengan buku-buku lusuh tidak henti-hentinya dibaca masyarakat kita, terutama masyarakat kecil.

F. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

  • Perpustakaan selama ini masih menjadi konsumsi kalangan terbatas. Akses kaum marginal masih dirasa kurang, sehingga diperlukan sebuah konsep perpustakaan merakyat. Dalam hal ini perpustakaan angkringan.
  • Model perpustakaan angkringan dapat dijadikan solusi cerdas menuju bangsa yang cerdas. Perpustakaan masa depan adalah perpustakaan yang mendatangi pemakai, bukan pemakai yang datang ke perpustakaan.

Saran

  • Buku selama ini dianggap sebagai barang mewah, untuk itu diperlukan promosi tentang pemahaman masyarakat tentang buku.
  • Perwujudan program perpustakaan membutuhkan peran aktif dari semua elemen masyarakat dan pemerintah.
  • Peran masyarakat pendidikan tinggi atau kaum terpelajar perlu ditingkatkan dalam rangka transfer pengetahuan pada masyarakat yang buta akan informasi dan buku.

Daftar Pustaka

Akses Terhadap Media Masa http:www.bps.go.id tanggal akses 15 september pukul 12.00

Bafadal, Ibrahim. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, edisi 1, cetakan I, Jakarta: Bumi Aksara, 1997.

Camphell, J.E, Kebiasaan Membaca dalam Perpustakaan Menjawab Tantangan             Jaman,Semarang: Unika Soegijapranata, 1997: 1-22.

Syihabudin Qulyubi dkk. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Yogyakarta: Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, 2007.

UU No 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan

Penulis: HERI KURNIAWAN

Gamping Sleman Yogyakarta

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

perpustakaan angkringan

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

One comment

  1. Gagasan yang menarik, sayangnya masih sulit untuk diterapkan. Faktor waktu dan budaya yg jadi alasan dalam tulisan ini juga masih belum cukup, justru bertolak belakang. Bagi orang suka di angkringan, selain untuk makan, banyaknya adalah untuk ngobrol, bayangkan bagaimana ada angkringan yg isinya adalah orang membaca, tak ada obrolan, sangat bertolak belakang dgn faktor budaya. Soal waktu, sulit untuk mengisi waktu antara ngobrol di angkringan dgn membaca yg butuh ketenangan dan waktu yg cukup untuk mencerna bacaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


five − = 3

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose