Home / Artikel Perpustakaan / Model Perpustakaan Ideal: Multifunction Library

Model Perpustakaan Ideal: Multifunction Library

Setiap orang baik yang pernah mengenyam pendidikan atau tidak pasti pernah mendengar kata perpustakaan. Namun, pengertian orang tentang perpustakaan masih bermacam-macam. Ada yang memberikan pengertian dari segi gedung, ada yang menekankan pada koleksi, dan ada juga yang menggabungkan kedua-duanya yaitu sebuah gedung atau ruangan yang dipenuhi rak-rak yang berisi buku atau koleksi lainnya. Ya, dapat dikatakan itulah realita perpustakaan Indonesia selama beberapa tahun ini.

Beberapa tahun ini, semua pihak baik dari kalangan pejabat sampai masyarakat biasa sedang ramai mempromosikan dan mengajak kembali rakyat Indonesia untuk gemar membaca. Banyak cara yang telah mereka tempuh, diantaranya persewaan buku-buku bacaan keliling seperti yang dilakukan oleh seorang ibu di suatu daerah di Indonesia, mempromosikan mobil ceria yaitu perpustakaan yang berkeliling dengan mobil, dan sebagainya. Selain untuk tujuan mengajak rakyat Indonesia agar gemar membaca, juga ingin mempromosikan kembali perpustakaan yang sudah lama digantikan perannya oleh kecanggihan teknologi informasi dan telekomunikasi seperti internet. Karena dengan mengunjungi dunia maya (internet) orang sudah bisa memperoleh informasi atau data-data sejarah yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan sekali pencet saja orang sudah bisa menjelajah dari satu negara ke negara lainnya dan bisa berkomunikasi dengan orang-orang disana. Dan kita juga bisa melihat liputan kejadiannya.

Mengapa perpustakaan sekarang kurang diminati oleh rakyat? Salah satu alasannya yaitu perannya sebagai penyedia informasi sudah tergeser oleh internet. Alasan lainnya karena fasilitas yang kurang memadai, koleksi buku dan referensinya yang tidak beragam, pelayanan yang kurang baik, kondisi perpustakaan yang tidak mendukung kenyamanan pengunjung dan letaknya yang tidak terjangkau, dan yang paling utama adalah menurunnya minat baca rakyat.

Seperti kebanyakan perpustakaan yang ada di Indonesia. Umumnya fasilitas yang diberikan sama saja. Masih dikerjakan secara manual, sehingga kita harus mencari buku yang kita inginkan tanpa tahu dimana posisinya, peminjaman dan pengembalian buku masih dicatat di buku besar. Kartu perpustakaan yang biasa pun masih berlaku. Namun tidak semua perpustakaan dalam kondisi yang sama, karena beberapa perguruan tinggi sudah mulai menggunakan teknologi informasi dan tekekomunikasi sebagai sarana penunjang operasionalnya, sehingga muncul perpustakaan elektronik, perpustakaan digital, dan perpustakaan maya (virtual library). Sebagai contoh, adalah perpustakaan perguruan tinggi. Mereka memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu lulusannya dengan menyediakan layanan informasi dalam bentuk bahan pustaka dengan memanfaatkan teknologi informasi, dan menyediakan sarana pembelajaran yang kondusif. Dan beberapa tahun belakangan ini, mereka sudah menggunakan satu kartu yang disebut Kartu Sakti (Kartu Sarana Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri) untuk menikmati fasilitas perpustakaan di beberapa universitas negeri yang tergabung di dalamnya.

Kebanyakan pengunjung yang datang ke perpustakaan sering kesusahan menemukan buku dan referensi yang mereka inginkan. Sebagian besar koleksi di perpustakaan sudah tidak up to date. Padahal mereka sudah berharap dapat menemukan apa yang mereka cari di tempat yang mereka kenal sebagai gudangnya informasi, tapi ternyata mereka pulang tidak membawa apa-apa.

Beberapa orang menjawab pelayanan di perpustakaan itu kurang baik, ketika ditanya kenapa kalian tidak pergi ke perpustakaan itu?. Ya, pelayanan yang terbaik memang dibutuhkan oleh para pengunjung karena pengunjung adalah raja. Mereka berharap mendapat penghormatan dan keramahan dari para pustakawan dan pegawai disana. Satu pemandangan yang biasanya tampak di perpustakaan adalah para pustakawan yang umurnya bisa dibilang tua. Hal ini bisa membuat perpustakaan menjadi tidak efektif, karena mereka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melayani pengunjung dan menyelesaikan pekerjaannya. Yang menjadi pertanyaan sekarang kemana generasi muda yang akan mengisi posisi mereka sebagai pustakawan itu berada sekarang?.

Seseorang ketika melakukan suatu kegiatan bahkan itu kesenangannya pasti menginginkan kenyamanan. Begitu juga dengan pengunjung perpustakaan. Mereka menginginkan kondisi yang nyaman untuk membaca, tidak berisik, sirkulasi udara yang baik, kebersihannya, dan posisi duduk yang strategis dan cukup pencahayaan. Tapi seringkali mereka tidak mendapati kenyamanan itu. Sehingga mereka lebih memilih meminjam buku untuk dibaca di rumah saja. Posisi perpustakaan juga terkadang bisa menjadi alasan mengapa mereka enggan ke perpustakaan. Orang yang tinggal di desa atau yang jauh dari kota pasti menginginkan dekat dengan perpustakaan. Tapi umumnya perpustakaan, terutama perpustakaan umum letaknya pasti di tengah kota. Sehingga orang-orang yang rumahnya jauh tidak bisa menjangkaunya.

Dan inilah alasan yang paling utama dan menjadi tujuan dari kebanyakan gerakan sosial yaitu menumbuhkan dan meningkatkan semangat orang untuk gemar membaca. Hal ini sebagai tindakan untuk mewujudkan tujuan nasional seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga dapat mengurangi angka buta huruf yang dari tahun ke tahun semakin tinggi. Selain itu dengan menumbuhkan semangat untuk gemar membaca ini, khususnya bagi kalangan generasi muda agar dapat menambah wawasan mereka dan mengetahui segala hal yang terjadi di dunia ini baik di masa lalu maupun yang terjadi pada masa sekarang.

Dengan artikel ini, penulis berharap dapat membantu program pemerintah untuk menumbuhkan dan meningkatkan semangat gemar membaca sehingga orang lebih senang mengunjungi perpustakaan. Selain mengoreksi kembali sebab-sebab apa yang telah menggeser kedudukan perpustakaan, penulis juga ingin memberikan masukan ide untuk memecahkan permasalahan tersebut.

Sebagaimana yang terjadi beberapa waktu yang lalu terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, dan beberapa kota lain yang banyak pelajarnya, terutama mahasiswa. Perpustakaan dilirik sebagai lahan untuk mendapat pendapatan sebesar-besarnya oleh para pengusaha. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda yang tahu keinginan anak-anak seusia mereka. Sebagai referensi mereka biasa menggunakan jasa teman atau pengalaman mereka sendiri yang pernah tinggal di luar negeri, kadang-kadang juga dari internet atau majalah-majalah pendidikan/ usaha. Ada berbagai macam konsep, dari yang sekedar mini perpustakaan yang menyediakan kenyamanan bagi pengunjungnya, perpustakaan plus restoran (cafe baca), sampai cafe baca yang menyediakan hot spot sehingga pengunjung bisa memanfaatkan layanan internet gratis seperti trend usaha perpustakaan saat ini.

Usaha ini membawa banyak keuntungan selain bagi pengusaha sendiri, juga bagi dunia kerja karena bisa mengurangi sedikit pengangguran di kota besar, selain itu para pengunjung bisa menikmati fasilitas yang ada sebagai sarana edukatif dan rekreatif untuk menghilangkan kejenuhan mereka dengan aktifitas sehari-hari.

Dengan melihat kondisi saat ini, pemerintah harus lebih jelih dalam melihat situasi dan kesempatan yang ada. Pemerintah selain dituntut harus dapat menyediakan sarana dan prasarana edukatif yang dibutuhkan pengunjung juga harus bisa menangkap peluang lebih dari perpustakaan sebagai sarana rekreatif yang edukatif bagi keluarga. Pemerintah harus mulai berbenah diri. Mendekatkan lokasi perpustakaan dengan pengunjung atau minimal dengan perpustakaan keliling. Memperbaiki dan menambah fasilitas perpustakaan, misalnya dengan membedakan ruangan untuk anak-anak dan dewasa. Agar mereka nyaman dalam membaca berikan tempat duduk yang unik, misalnya warna-warni dan gambar kepala hewan di sandaran punggungnya untuk anak-anak, dan konsep lesehan atau dudukan bangku yang empuk untuk dewasa. Buatlah ruangan yang senyaman mungkin seperti berada di dalam rumah, dengan pencahayaan dan ventilasi udara yang baik, tambahkan gorden bercorak yang disesuaikan dengan anak-anak atau dewasa agar jika terkena terik matahari tidak silau dan berikan AC atau kipas angin agar jika cuaca panas mereka tidak kepanasan.

Bagian luar gedung difasilitasi tempat rekreasi, terdiri dari arena bermain dan olahraga, tempat makan, toko peralatan tulis dan toko buku, mini lab yang bisa mengajarkan anak-anak agar lebih ilmiah tapi masih rekreatif, taman dengan bermacam-macam tanaman yang diberi tanda petunjuk agar pengunjung bisa belajar botani juga, hewan-hewan peliharaan kecil seperti unggas, ikan dan sebagainya karena dapat menarik banyak pengunjung anak-anak dan menambah fasilitas hot spot (internet).

Sarana dan prasarana juga harus ditingkatkan, seperti menambah koleksi baik buku-buku, jurnal, majalah, surat kabar berkala, film-film edukatif, CD atau kaset, dan sebagainya. Pustakawan yang sudah cukup umur sebaiknya diganti dengan yang muda tapi harus berpengalaman di bidangnya, dan dilengkapi dengan teknologi informasi dan telekomunikasi seperti komputer untuk mempermudah tugas-tugas mereka dan meminimalisasi pengunjung yang kesulitan mencari referensi mereka.

Sehingga perpustakaan yang baru ini bisa kita sebut sebagai Multifunction Library, sebagai sarana edukatif dan rekreatif, penyedia informasi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya. Dan menurut penulis, ini adalah perpustakaan ideal yang saat ini dibutuhkan oleh setiap orang baik yang berpendidikan maupun yang hanya ingin tahu lebih banyak tentang pengetahuan.

Penulis: NURUL CHOMARIYAH

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


7 + four =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose