Home / Artikel Perpustakaan / Notabena Terhadap Masyarakat Masih Minim

Notabena Terhadap Masyarakat Masih Minim

Perpustakaan. Sebuah tempat yang tidak asing lagi di telinga para pelajar, mahasiswa, pustakawan, maupun masyarakat yang jarang mengunjungi tempat tersebut. Perpustakaan memiliki ruangan yang terdapat buku-buku bacaan fisik maupun non fisik, seperti sosiologi, kedokteran, kesehatan, sejarah, novel, dan komik yang juga ikut andil supaya tidak membuat para pengunjung merasa bosan, karena mereka dapat refreshing dengan buku bacaan yang tidak berat. Demi menunjang tugas-tugas di sekolah, pemerintah telah menyediakan perpustakaan di setiap daerahnya untuk melengkapi perpustakaan yang ada di sekolah. Tentunya setiap pustakawan ingin melestarikan dan meningkatkan budaya baca masyarakat guna memajukan Negara Indonesia.

Di jaman modern seperti sekarang ini, perpustakaan digital yang bisa diakses kapan pun dan dimana pun juga sudah tersedia demi mempermudah pencarian tugas. Sayangnya, meskipun teknologi sudah maju dan fasilitas perpustakaan sudah memadai. Namun, masih ada beberapa masyarakat primitif yang belum bisa membaca. Masalah tersebut dikarenakan kurangnya tenaga pembimbing dalam mengajarkan cara membaca pada masyarakat tersebut. Maka dari itu, diperlukan juga pembimbing untuk di daerah yang masih membutuhkan tenaga pembimbing guna membangun masyarakat yang cinta perpustakaan. Sehingga melalui perpustakaan proses pengenalan membaca dapat terlaksana.

B.      Identifikasi Masalah

Berkaitan dengan latar belakang serta tujuan perpustakaan, maka masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Apakah yang menyebabkan negara kita masih tertinggal dengan negara-negara maju lainnya ?

2. Mengapa mereka yang memiliki SDM tinggi mau menerima tawaran untuk bekerja sama di Negara lain ?

BAB II

PEMBAHASAN

Perpustakaan merupakan sarana pendidikan yang dapat menunjang dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kuliah, dan sebagainya. Disinilah kita dapat menggali wawasan dan perluasan makna yang belum dimengerti. Negara Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Tetapi, pada kenyataannya kebanyakan dari mereka yang mempunyai SDM tinggi tidak mau membagi atau mengamalkan ilmu yang telah dipintalnya kepada masyarakat yang masih mempunyai SDM rendah. Hal seperti itulah yang sangat disayangkan karena akan semakin banyak masyarakat yang belum mengenal membaca. Oleh karena itu, membaca adalah hal yang sangat penting dalam menciptakan masyarakat yang berjiwa pustakawan.

Tidak hanya membaca saja yang sedang melanda keterpurukkan masyarakat Indonesia sehingga jauh dari bayangan Negara Maju. Namun, bagi mereka yang memiliki SDM tinggi selalu mendapat tawaran untuk bekerja di Negara lain. Kasus seperti ini telah sering terjadi. Sehingga negara Indonesia tidak mempunyai masyarakat yang memiliki keahlian khusus untuk negaranya sendiri. Begitu pula, jika semua mereka yang memiliki SDM tinggi menerima tawaran itu, maka masyarakat yang belum bisa membaca akan hidup dalam kemiskinan ilmu. Sebenarnya, dengan ketulusan dan kesabaran dalam mengajarkan membaca. Mereka, masyarakat yang kurang mendapat perhatian akan dengan senang hati menerima ilmu tersebut. Maka dari itu, untuk mewujudkan masyarakat yang gemar membaca sehingga tanpa disadari ia telah mencintai perpustakaan dengan sendirinya, dibutuhkan tenaga pengajar di beberapa tempat yang masih jauh dari jangkauan pengaruh perkembangan jaman. Dan tentunya, mereka yang akan dikirim di daerah tersebut memiliki jiwa yang besar dalam membangun masyarakat yang belum bisa membaca, kemudian memberi pengaruh perubahan yang mampu mencintai perpustakaan seperti ia mencintai apa yang ia sukai.

A. Tujuan

Tujuan utama didirikannya perpustakaan adalah untuk membangun masyarakat yang cinta perpustakaan sehingga mampu melahirkan pustakawan baru di negeri Indonesia ini. Di sisi lain, ada juga tujuan lainnya seperti menciptakan lingkungan baca yang kondusif, membentuk masyarakat yang intelek, menunjang tugas-tugas, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.

B.      Fungsi

Tentunya, setiap perpustakaan yang ada di sekolah, maupun yang ada di daerah, memiliki fungsi yang sama, yaitu membangun masyarakat yang cinta perpustakaan. Sedangkan, perpustakaan daerah (perpusda) memiliki fungsi yang luas sebagai perpustakaan daerah yang melengkapi buku-buku bacaan yang tidak terdapat di perpustakaan sekolah. Selain itu, dapat pula digunakan sebagai tempat untuk membimbing putra-putri Indonesia yang sangat ingin memintal ilmu menjadi seperti kain albanat. Tetapi, terhalang oleh ketidakmampuan biaya untuk menggapai mimpinya.

BAB III

LANDASAN TEORI

Perpustakaan sebagai lembaga penyedia ilmu pengetahuan dan informasi mempunyai peranan yang signifikan terhadap lembaga induk serta masyarakat penggunanya. Demikian halnya di dalam lingkungan pendidikan seperti sekolah. Perpustakaan sekolah merupakan pusat sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang berada di sekolah, baik tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah.

Perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Untuk tujuan tersebut, perpustakaan sekolah perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dalam memajukan masyarakat sekolah dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi yang berkualitas serta serangkaian aktifitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran yang menarik.

Dengan memaksimalkan perannnya, diharapkan perpustakaan sekolah bisa mencetak siswa untuk senantiasa terbiasa dengan aktifitas membaca. Masyarakat sekolah yang menjadi sasaran perpustakaan. Khususnya siswa, yang menjadi obyek dari pada pembelajaran dan pengajaran, harus dikenalkan betapa pentingnya manfaat dari perpustakaan sekolah. Masyarakat sekolah yang sadar dengan kehadiran perpustakaan akan mewujudkan masyarakat yang gemar membaca/reading society.

Lewat membaca di perpustakaan sekolah. Kegemaran membaca yang terbudaya akan tercipta di kalangan siswa. Siswa yang menerima pelajaran di kelas, harus terus dimotivasi untuk terus belajar mengembangkan ilmunya melalui proses membaca di perpustakaan. Dengan menyediakan fasilitas belajar yang menyenangkan, dan kedekatan pustakawan dengan siswa akan membantu proses kenyamanan belajar di perpustakaan. Pihak manajemen sekolah perlu mendukung kebijakan untuk cinta kepada perpustakaan sekolah. Untuk mencapai tujuannya, perpustakaan sekolah perlu dikelola oleh pustakawan dengan tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi terhadap layanan. Pustakawan sekolah harus mempunyai jiwa sabar, serta dituntut untuk memahami apa arti pendidikan sesungguhnya.

Pustakawan sekolah harus dekat dengan masyarakat penggunanya. Pustakawan sekolah merupakan jaminan tercapainya tujuan pendidikan. Karena lewat bimbingannya, masyarakat sekolah, khususnya siswa akan melek informasi, menjadi terbiasa dengan aktifitas membaca, lebih cerdas, dapat menghasilkan karya yang baik, serta memudahkan siswa dalam meraih prestasi, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Dengan terbiasa membaca buku, siswa akan terasah otak dan pola fikirnya. Membaca harus dijadikan aktifitas siswa sehari-hari. Buku harus dicintai dan bila perlu dijadikan sebagai kebutuhan pokok siswa dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Di kelas, pelajaran yang mereka terima tentu dapat dikembangkan dengan menggunakan acuan/sumber informasi di perpustakaan. Budaya membaca dan belajar yang dikembangkan akan selalu terasah dengan ilmu dan pengetahuan. Siswa tidak akan mengalami kesulitan lagi dalam penyerapan dan penalaran pelajaran jika otak mereka selalu terasah dan terbiasa dengan ilmu pengetahuan.

BAB IV

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Membentuk bangsa yang besar biasanya dimulai dari membaca. Sebab, melalui membaca seseorang dapat mengasah kemampuannya dan mencintai hal-hal positif yang semula ia benci, kemudian menjadi ia tekuni. Begitu pula dengan membaca melalui sarana perpustakaan, maka secara tidak langsung ia telah menjadi anggota yang benar-benar mencintai perpustakaan. Tidak ada setitik ilmu yang menjadi sia-sia. Tidak ada pula waktu yang kita luangkan untuk membaca di perpustakaan berakhir dengan sia-sia. Apalagi, jika hal tersebut telah tertanam sejak dini akan menciptakan keberhasilan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, untuk membangun masyarakat yang cinta perpustakaan diperlukan perhatian khusus disejumlah daerah yang masih memerlukan bantuan supaya dapat mengenal kata membaca.

B.      Saran

Tak kenal maka tak sayang, jika kita tak kenal membaca, kita tidak tahu dimanakah rumah buku-buku itu. Pada akhirnya, kita tidak bisa menyayanginya sebagai teman dalam kegelapan. Seperti cahaya yang dapat menyinari setiap insan jika tersesat dalam gelap gulita. Begitu pula dengan ilmu, terutama membaca. Karena dengan membaca dapat mengasah otak ini yang awalnya tidak tahu apa-apa, tetapi setelah membaca menjadi manusia yang berguna bagi bangsanya. Maka dari itu, sebaiknya mengupayakan pendamping yang mampu membantu masyarakat yang ingin belajar membaca. Dengan begitu, dapat pula menciptakan pustakawan yang tidak hanya berwawasan internasional. Tetapi, juga memiliki wawasan kebangsaan. Dan hal itu, dapat dimulai dari perpustakaan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.diknas-padang.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=

23&artid=775

Penulis: HASNA MAHIVA

Jenangan Ponorogo

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


× 2 = two

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose