Home / Artikel Perpustakaan / Optimalisasi Perpustakaan Sekolah/ Strategi Membangun Minat Baca Siswa

Optimalisasi Perpustakaan Sekolah/ Strategi Membangun Minat Baca Siswa

Mengejutkan! Laporan Bank Dunia mengenai keterampilan dan minat baca pelajar tingkat dasar di Indonesia. Di antara negara-negara Asia yang lain, Indonesia mendapat peringkat terbelakang yakni hanya dengan angka 51.7, di atasnya ada Filipina dengan angka 52.6, kemudian Thailand dengan angka 65.1, lalu Singapura dengan angka 74.0, dan peringkat paling tinggi diraih oleh Hongkong dengan angka minat baca 75.5.[1]

Temuan ini menggambarkan, betapa rendahnya minat baca siswa kita. Mereka tidak menempatkan aktivitas membaca sebagai sebuah keharusan, lebih-lebih menjadikan membaca sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Membaca, menempati kegiatan “sampingan” dan menjadi aktivitas “mewah” di kalangan siswa.

Wilson Nadeak mengatakan: Seorang yang berhenti membaca akan berhenti berpikir, dan peradaban tidak lagi berkibar maju.[2] Siswa, sebagai generasi penerus tradisi keilmuan, tidak membaca, nyaris merupakan sebuah ironi. Karena sejatinya, membaca identik dengan ilmu pengetahuan, suatu aspek peradaban manusia yang utama yang mengantarkan manusia dapat mengembangkan kehidupannya.

Problem minat baca harus dipandang sebagai masalah serius dan harus dicarikan solusinya, karena masalah ini berkaitan erat dengan masa depan bangsa dan Negara. Seperti yang ungkap Daoed Joesof: Manusia perseorangan mungkin bisa bertahan hiudp tanpa membiasakan diri untuk membaca tanpa berbudaya baca. Namun sebuah demokrasi hanya akan berkembang apalagi suvive, yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang perlu untuk membaca, bukan sekedar penggemar dan gemar berbicara.[3]

Masa depan bangsa ada pada generasi: siswa. Bila membaca adalah tiang peradaban, maka membangun minat baca siswa menjadi mutlak. Sebab jika tidak, hidup kita hanya menunggu runtuhnya peradaban.

Karena itulah, pembahasan mengenai Optimalisasi Perpustakaan Sekolah sebagai bagian dari upaya membangun minat baca siswa menjadi penting. Pihak Sekolah harus ‘memaksa’ siswa akrab dengan perpustakaan. Dalam suasana keakraban itu, tidak menutup kemungkinan akan lahir minat baca siswa dan pada akhirnya menjadikan membaca sebagai kebutuhan.

B. Rumusan Masalah

Dari permasalahan atau latar belakang di atas, penulis merumuskan pokok permasalahan dalam bentuk point-point pertanyaan, agar kajian dalam masalah ini lebih terfokus. Rumusan masalah tersebut sebagai berikut:

1.  Bagaimanakah strategi membangun minat baca di kalangan siswa?

2.  Adakah peluang terciptanya minat baca di kalangan siswa dengan mengoptimalkan perpustakaan sekolah?

C. Tujuan Penulisan

1.  Untuk mengetahui akar masalah rendahnya minat baca di kalangan siswa.

2.  Untuk menemukan solusi kreatif dalam menumbuhkan minat baca dikalangan siswa.

D. Kajian Pustaka

Penulisan ini berdasar pada beberapa pendapat yaitu:

Tentang Sekolah

Ivan Illich: Masing-masing dari kita mempunyai tanggung jawab untuk membebaskan diri dari system sekolah karena hanya kitalah yang sanggup melaksanakannya. Sekolah jauh lebih memperbudak orang dengan cara yang sistematis.

Tentang Buku dan Membaca

Hernowo: membaca perlu pelatihan. Membaca perlu praktik yang berulang-ulang. Membaca perlu pembiasaan. Saya menganggap membaca adalah makanan ruhani.

Dua pendapat inilah yang menjadi landasan penulis dalam mengkaji persoalan minat baca dikalangan siswa.

PEMBAHASAN

A. Menggugat Minat Baca Siswa

Jargon luhur yang sering kali kita dengar mengenai buku, “buku adalah gudang Ilmu” dan “sebaik-baiknya teman duduk adalah buku”, harusnya menjadi “obor” yang membakar semangat kecintaan kita untuk terus membaca, membudayakan tradisi membaca. Pepatah klasik yang menyiratkan betapa pentingnya sebuah buku bagi keberlangsungan khazanah keilmuan manusia.

Sejarah sudah mencatat, kegemilangan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab yang berada di bawah komando Khalifah Al-Hakam sudah menjadikan Timur Tengah menjadi oase pemikiran. Gairah pengetahuan yang muncul di Yunani dilahirkan kembali di tanah yang tandus (Timur Tengah) yang menjadikannya sebagai pusat peradaban pada masa itu.

Adalah sebuah paradoks, dalam tradisi masyarakat kita, membaca hanya ditempatkan pada aktivitas yang amat sederhana. Seperti yang diungkap Seno, membaca hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang nilai manfaatnya berjangka pendek.[4] Membaca tidak ditempatkan sebagai proses pendidikan serta bagian dari kerja-kerja kebudayaan.

Ironisnya, problem minat baca juga terjadi di kalangan pelajar kita. Penelitian yang dilakukan oleh Taufik Ismail dan Tim Majalah Sastra Horison, patut diapresiasi bersama. Hasil penelitian yang kemudian dipublikasikan secara luas itu melaporkan tentang wajib baca buku sastra selama 3 dan 4 tahun terakhir di 13 negara. Temuan yang menarik di sini adalah wajib baca buku sastra di Indonesia hanya 0 buku.[5] Padahal, saat Belanda masih menjajah Indonesia, pelajar Indonesia yang bersekolah di AMS Hindia Belanda (sekarang setingkat SMA) wajib baca buku sastra kurang lebih 25 buku.

M. Mushthafa mengatakan, bahwa masyarakat Indonesia tergolong masyarakat yang bergerak cepat. Yaitu suatu masyarakat yang bergerak dari suatu keadaan pra-literer kedalam keadaan pasca-literer; dari suatu lingkungan yang tak pernah membaca ke dalam suatu lingkungan yang tak hendak membaca, dimana media televisi mengisi hampir 50% dari waktu senggang malam hari orang Indonesia yang berpendidikan menengah.[6] Diakui atau tidak, dalam masyarakat kita produk teknologi bersifat audio-visual menempati posisi paling diminati. Nyaris dipastikan, setiap rumah memiliki layar kaca dengan segala perangkat keras yang berhubungan dengan itu, seperti CD-player dan antena parabola.

Sementara itu, pada saat yang sama, lembaga pendidikan (baca: sekolah) terasa tidak mampu melawanatau bahkan sengaja membiarkanpenyakit audio-visual tersebut. Sekolah sebagai institusi pendidikan agaknya malah semakin melanggengkan aktivitas siswa yang tidak produktif: tidak membaca. Siswa yang lebih betah berlama-lama di kantin, mall, dan bioskop, masih dianggap suatu gejala yang biasa saja.

B. Perpustakaan Sekolah: Solusi Alternatif

“Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukanlah sekolah. Pelajar tanpa buku bagiku bukanlah pelajar”. (Minda Perangin Angin)[7]

“Pengetahuan sebagian besar tidak didapatkan dari bangku sekolah, melainkan dari buku” (Ajip Rosidi)[8]

Sudah menjadi kebenaran umum, bahwa untuk menjadi manusia berpendidikan seseorang harus masuk terlebih dahulu ke dalam institusi bernama sekolah. Tinggi rendahnya kualitas pendidikan seseorang dapat diukur pada sejauh mana ia mengalami dan manempuh jenjang waktu di dalamnya. Semakin lama dan jauh (tinggi) pengalaman pendidikan seseorang dalam bersekolah, maka akan semakin besar nilai sebagai insan berpendidikan yang akan diperolehnya.

Akan tetapi, yang penting disadari, sekolah bukanlah manifestasi dari pendidikan itu sendiri, artinya bahwa pelembagaan pendidikan merupakan pereduksian terhadap hakikat pendidikan. Pendidikan yang sejatinya merupakan usaha sadar sebagai proses pemanusiaan manusia (humansisasi), dan bisa dilakukan dalam ruang dan waktu kapan pun saja, malah berubah menjadi bangunan yang membentuk ruang; di dalamnya berisi bangku, papan, murid, dan guru. Dengan berbagai sistem yang melingkupinya.

Berangkat dari pengertian semacam inilah, para pakar pendidikan, seperti Paulo Freire, Ivan Illich, Room Topati Masang, Andrias Harefa, Sujono Samba, mengkritik habis lembaga pendidikan dengan berbagai bentuk argumentasi. Dalam pandangan mereka, sekolah tidak cocok untuk disebut lembaga pendidikan. Sebab makna pendidikan itu sendiri adalah humanisasi: manusia utuh.[9] Sedangkan sekolah, dalam perspektif mereka, merupakan lembaga yang memperbudak dan membelenggu; tidak humanis-demokratis, tapi dehumanis-dekonstruktif.

Lalu, haruskah kita meninggalkan sekolah yang selama ini sudah kita yakini akan eksistensinya?

***

Perkataan Minda Perangin Angin dan Ajip Rosidi di atas, barangkali tepat untuk dijadikan poros tengah dari dilema tersebut. Yaitu, antara meninggalkan sekolah atau berdiam diri di dalamnya. Sebab dalam dunia yang serba formal sekarang ini, meninggalkan sekolah merupakan sesuatu yang mustahil, lain dari pada itu sekolah mulai berdirinya sudah terbukti banyak melahirkan orang yang “menjelma” “manusia seutuhnya”. Seperti Soekarno, Hatta, Soeharto, dan beberapa orang lainnya. Untuk itu, maka yang harus dilakukan adalah formulasi dalam dunia persekolahan itu sendiri.

“Formulasi” yang dimaksud adalah mengubah fungsi sekolah yang asalnya menjadi center education. Guru tidak lagi menjelma sebagai dewa yang selalu benar, dan murid tidak memosisikan dirinya sebagai kerbau. Hubungan antara guru dan murid yang dulunya patron-klien harus diubah menjadi jalinan yang dialogis-harmonis. Sehingga tercipta ikatan batin, emosional, yang begitu kuat di antara keduanya.

Tentu saja, sebagai lembaga pendidikan yang berfungsi menanamkan nilai-nilai kemanusian agar mampu menjadi manusia utuh, diperlukan sebuah wadah yang di dalamnya terdapat berbagai jenis ilmu, di sinilah keberadaan perpustakaan menjadi amat penting. Perpustakaan, tentunya tidak hampa akan isi, tetapi merupakan kumpulan dari berbagai jenis buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Karena perpustakan, penting, bukan karena bangunan gedungnya, melainkan dari koleksi buku beraneka ragam di dalamnya.

Mengenai arti penting perpustakaan, pernyataan Prof. Dr. Darji Darmodiharjo, mantan Dirjen Disdakmen, Depdiknas, menarik untuk direnungkan: Perpustakaan harus ada di setiap lembaga pendidikan. Kalau tidak ada ruang perpustakaan, maka gunakanlah satu ruang kelas. Kalau tidak ada ruang kelas, gunakanlah pojok kelas dengan raknya.  Jika tidak ada pojok kelas, tutup saja sekolahnya!. Bila buku adalah jendela dunia, maka perpustakaan adalah rumahnya.[10] Dan sekolah-harusnya-menjadi jalan yang membimbing manusia menuju rumah tersebut.

C. Agenda Membangun Minat Baca Siswa

Agenda membangun minat baca tentunya harus dimulai dari membangun hubungan sinergis antar sekolah dengan perpustakaan sekolah. Sebab, bila kedua institusi ini tidak saling mendukung, tumpang tindih, mustahil minat baca siswa akan tumbuh. Justru sebaliknya, akan semakin pupus. Sekolah sebagai lembaga formal harus mampu mendorong siswa untuk terus menambah informasi, dan perpustakaan sebagai pusat informasi harus benar-benar memberikan pelayanan yang baik, beberapa langkah di bawah ini penting dilakukan dalam membangun minat baca siswa:

1.       Optimalisasi peran guru

Peran guru dalam membangkitkan minat baca siswa ini sangat besar antara lain:

a. Memotivasi siswa, yaitu bisa dengan bercerita tentang tokoh-tokoh yang berhasil meraih cita-citanya dengan membaca. Atau dengan memberikan pengetahuan mengenai arti penting membaca, kegunaan membaca, dan tuntutan membaca sebagai bagian dari tuntutan agama (Islam).

b. Menciptakan metode pembelajaran yang merangsang minat baca. Dalam hal ini, guru bisa menggunakan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar, misalnya pada jam belajar, guru dapat membawa siswanya ke perpustakaan untuk mencari informasi langsung dari buku-buku ataupun media audio-visual yang tersedia di perpustakaan.

c. Memberikan keteladanan. Sebagai panutan, guru harusnya memberikan keteladanan dalam membaca. Sebab bila tidak, “fatwa” guru mengenai pentingnya membaca tidak akan pernah didengar. Karena membangun minat baca, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata.

2.  Optimalisasi Perpustakaan Sekolah

Optimalisasi yang dimaksud pada bagian ini adalah menghidupkan perpustakaan sekolah. Artinya, perpustakaan sekolah tidak diposisikan sebagai pelengkap dari lembaga pendidikan. Tetapi menjadi bagian integral dari lembaga pendidikan itu sendiri. Optimalisasi tersebut antara lain:

a.  Menggunakan perpustakaan sebagai bagian dari kegiatatan belajar mengajar. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu: identirikasi pokok bahasan guna menentukan materi yang dapat diintegrasikan dengan penyelenggaran perpustakaan sekolah; mengidentifikasi bahan pustaka yang menunjang proses pembelajaran; menyusun jadwal kunjungan, jadwal kegiatan, dan deskrikpsi tugas untuk siswa; mengkoordinasikan jadwal; melaksanakan kegiatan sesuai jadwal serta membimbing siswa tentang teknik membaca yang efektif.

b. Khusus untuk siswa baru, hendaknya diadakan Pelayanan Bimbingan Membaca bagi siswa kelas 1. Pada tahap ini, pustakawan harus mampu mengubah pola pikir siswa dalam memandang buku. Buku tidak diposisikan sebagai benda yang “menakutkan”. Agar mereka tidak lagi merasa enggan untuk terus bersama dengan buku.

c. Mengadakan kegiatan lomba. Misalnya lomba mengarang, lomba menelusuri informasi, membuat kliping, dan sebagainya yang masih berkait-erat dengan kegiatan membaca. Ini lambat laun akan menumbuhkan minat siswa untuk terus membaca.

Dengan menfungsikan perpustakaan sekolah, peluang tumbuhnya minat baca siswa amatlah besar. Sebab bagaimana mungkin siswa bisa berminat untuk membaca, sementara perpustakaannya tidak ada. Tidak kalah pentingnya, pustakawan harus bersikap sebagai “pustakawan”, bukan sebagai “polisi”, yang selalu mengintai siswa dalam mencari buku. Pustakawan harus mampu menjadi teladan dalam membaca buku. Keteladanan, pelan tapi pasti, akan mempengaruhi pola pikir siswa dan membentuk opini bahwa membaca memang merupakan hal yang utama dalam proses belajar.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat di simpulkan sebagai berikut:

1.       Membangun minat baca siswa harus dimulai dari:

a.       Optimalisasi Peran Guru.

Yaitu dengan memotivasi siswa, menciptakan metode jitu dalam membangun minat baca siswa dan memberikan keteladanan membaca.

b.      Optimalisasi Perpustakaan Sekolah.

Yaitu dengan menggunakan perpustakaan sebagai bagian dari belajar mengajar, memberikan Pelayanan Bimbingan Membaca untuk siswa baru, dan mengadakan kegiatan lomba.

2.       Peluang tumbuhnya minat baca siswa sangat mungkin terjadi, karena dengan adanya perpustakaan sekolah siswa bisa dengan mudah menggali informasi yang di butuhkan, dan dengan manajemen pengelolaan yang baik, maka siswa akan merasa nyaman dan betah di perpustakaan untuk membaca dan terus membaca.

B. Saran

Melalui tulisan sederhana ini, berikut saran-saran penulis kepada pembaca terkait masalah minat baca siswa dan perpustakaan sekolah:

1.       Kepada semua pihak, lebih-lebih pelajar, hendaknya menjadikan membaca sebagai aktivitas paling penting dari kegiatan yang lain.

2.       Bagi pihak sekolah, hendaknya memberikan perhatian khusus kepada perpustakaan, sebagai pusat informasi di sekolah.

3.       Dan kepada pengelola perpustakaan sekolah; jadikanlah siswa lebih betah dan nyaman di perpustakaan dari pada di kantin-kantin sekolah. Jadikanlah, status pustakawan sebagai pekerjaan mulya dan paling bergengsi.

DAFTAR PUSTAKA

1.       Samba, Sujono. 2007. Lebih Baik Tidak Sekolah, Yogjakarta: LKiS.

2.       Nadeak, Wilson. Membaca, Menulis dan Tradisi, Kompas, 10 April 2005.

3.       Joesof, Daoed. Budaya Baca, St. Sularto, dkk (ed.), Bukuku Kakiku Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.

4.       Gumira Ajidar, Seno. 1997. Ketika Jurnalisme di Bungkam Sastra Harus Bicara, Yogyakarta: Bentang Budaya.

5.       Rijal Alinata, Apik Saiful. Minat Baca Siswa dan Perpustakaan Sekolah, Jurnal Edukasi, (Sumenep), No. 03. 2005.

6.       Mushthafa, M. Tradisi Membaca di Kalangan Masyarakat Madura, Antara Kemiskinan, Peran Pesantren, dan Komunitas Ilmiah yang Rapuh, Jurnal Edukasi. (Sumenep). No. 03. 2005.

7. Perangin Angin, Minda. Berdialog dengan Buku, St. Sularto, dkk (ed.), Bukuku Kakiku Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.

8.       Rosidi, Ajip. 1983. Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastra, Surabaya: Bina Ilmu.

9.       Freire, Paulo. 1984. Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan, Jakarta: Gramedia Pusataka Utama.

10.   Firmansyah, Edy. Robohnya Perpustakaan Kami, Jawa Pos, 25 November 2007.


[1] Laporan ini penulis kutip dari buku Sujono Samba, Lebih Baik Tidak Sekolah (Yogjakarta, LKiS, 2007), hlm. 31

[2] Lihat Wilson Nadeak, Membaca, Menulis dan Tradisi, dalam harian Kompas, 10 April 2005

[3] Lebih jelasnya periksa Daoed Joesof, Budaya Baca, dalam St. Sularto, dkk (ed.), Bukuku Kakiku (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004) hlm. 85

[4] Pidato Seno Gumira Ajidarma dalam pnenerimaan Sourth East Asia (SEA) Write Award 1997. Tuntaskan, Seno, Ketika Jurnalisme di Bungkam Sastra Harus Bicara, Yogyakarta: Bentang Budaya, cet. I, Oktober 1997. hlm. 112

[5] Laporan selengkapnya lihat di tulisan Apik Saiful Rijal Alinata, Minat Baca Siswa dan Perpustakaan Sekolah, Jurnal Edukasi, (Sumenep), No. 03. 2005, hlm. 23

[6] M. Mushthafa, Tradisi Membaca di Kalangan Masyarakat Madura, Antara Kemiskinan, Peran Pesantren, dan Komunitas Ilmiah yang Rapuh, Jurnal Edukasi. (Sumenep). No. 03. 2005. hlm. 10

[7] Lihat Minda Perangin Angin, Berdialog dengan Buku, dalam Bukuku Kakiku, hlm. 127.

[8] Ajip Rosidi, Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastra, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983), hlm. 68

[9] Paulo Freire, Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan , Jakarta: Gramedia Pusataka Utama, 1984, hlm. 4

[10] Edy Firmansyah, Robohnya Perpustakaan Kami, Jawa Pos, 25 November 2007

BIODATA PENULIS

Nama                           : Ach. Qusayairi Nurullah

Alamat             Pondok : Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan,

Jl. Makam Pahlawan No. 03 Guluk-Guluk Sumenep Madura. Kode pos: 69463.

Rumah : Desa Ging-Ging Bluto Sumnep.

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

pidato tentang perpustakaan sebagai gudang ilmu

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

2 comments

  1. mohon ijin untuk mengutip tulisan tentang pepustakaan. matur nuwun mas.

  2. Articlenya bagus banget ijin jadikan referensi ya mimin. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


six − 5 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose