Home / Artikel Perpustakaan / Pemanfaatan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca

Pemanfaatan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca

Masih ingatkah anda, apa yang pertama kali diajarkan oleh guru di taman kanak-kanak atau sekolah dasar? Kita semua secara serempak akan menjawab bernyanyi, menari, mengenal angka dan mengenal huruf. Dari mengenal huruf itu akan diajarkan bagaimana cara membaca setiap rangkaian huruf tersebut. Kemudian mulailah tugas-tugas selanjutnya berkaitan dengan mengenal rangkaian huruf yaitu membaca, menjawab soal sampai dengan akhirnya ketrampilan menangkap apa yang disampaikan oleh guru untuk ditulis.

Ternyata membaca adalah kemampuan berfikir yang pertama sekali diketahui oleh seorang anak manusia untuk mengaktifkan motorif dan sensor kognitif seorang manusia. Tetapi kemudian muncul pertanyaan mengapa setelah dewasa membaca menjadi bagian yang sulit dilakukan atau sama sekali tidak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari? Mengapa seseorang seolah lupa bahwa membaca merupakan awal mengenal dunia di luar dirinya? Sampai saat ini belum ada jawaban yang memberikan landasan yang kuat untuk menganalisa hal berkaitan dengan minat baca tersebut. Satu hal yang paling mendasar yang dapat menjawab adalah perlunya sarana yang memudahkan orang untuk memenuhi kebutuhan membaca. Salah satunya adalah perpustakaan.

Perpustakaan merupakan lembaga yang terbuka dan terlepas dari pengaruh luar dalam menyediakan informasi. Rosch (2009) mengatakan bahwa fungsi utama perpustakaan di alam demokrasi adalah berkaitan dengan fungsi pendidikan; fungsi sosial; fungsi politik dan fungsi internasional. Fungsi tersebut ditegaskan lebih dalam lagi oleh Buchori (2009) yang menyatakan kesamaan dalam hak masyarakat dalam pengetahuan; penambahan pengetahuan dan menyediakan informasi agar masyarakat dapat mengelola dirinya sendiri. Jadi sangat jelas bahwa perpustakaan dapat mengambil peran dalam berbagai kegiatan dan kehidupan masyarakat. Tetapi kunci utama dari semua itu adalah bagaimana perpustakaan dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk dapat membaca apapun yang dibutuhkannya. Perpustakaan dapat menjadi sumber informasi yang utama di masyarakat. Sehingga Perpustakaan tidak hanya sebatas gudang dimana informasi tersedia di berbagai media yang dimilikinya.

Permasalahan

Merujuk ke pendahuluan di atas, sudah dapat dipastikan bahwa pada dasarnya membaca merupakan satu kebutuhan yang mendasar yang muncul sejak kecil. Tetapi minat baca menjadi turun secara sistimatis setelah seseorang menjadi dewasa. Perpustakaan sebagai sumber informasi perlu menjadi salah satu pilihan pemecahan masalah sehingga dapat memberi pengaruh terhadap minat baca masyarakat. Tetapi persoalannya adalah sejauh mana perpustakaan dapat memerankan fungsinya sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Di sisi lain bagaimana minat baca masyarakat sendiri dapat ditingkatkan sehingga perpustakaan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Kedua hal ini saling berkaitan dalam  menumbulkan permasalahan.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka permasalahan bagaimana Perpustakaan dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga memberikan pengaruh terhadap peningkatan minat baca masyarakat menjadi kajian dalam tulisan ringkas ini. Pemecahan terhadap permasalahan tersebut diharapkan akan memberikan masukan terhadap pengembangan perpustakaan dan juga menaikkan minat baca masyarakat dengan cara memanfaatkan perpustakaan.

Tujuan

Penulisan artikel ini bertujuan agar:

a.       Mengetahui kondisi perpustakaan  secara umum di Indonesia;

b.      Mengetahui faktor-faktor pendorong peningkatan minat baca masyarakat;

c.       Mengetahui peran perpustakaan dalam meningkatkan minat baca masyarakat.

Landasan teori

Information is a power, demikian yang diucapkan oleh Peter Drucker sebagaimana dikutip oleh Goad (2002: 7). Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat dan organisasi yang memiliki dan menggunakan informasi secara benar akan mampu untuk menggapai kesuksesan. Oleh karena itu apa jadinya jika menghadapi masyarakat yang memiliki minat baca yang rendah, serta  perpustakaan yang tersedia tidak menunjang untuk meningkatkan minat baca tersebut. Sebagai salah satu institusi social, perpustakaan dapat didayagunakan untuk memecahkan masalah. Tetapi pada kenyataan kondisi tersebut tidak menunjang. Gambaran tersebut dapat diketahui dari data tentang tentang jumlah perpustakaan dan pustakawan di Indonesia sebagaimana tabel berikut ini.

Tabel 1. Jumlah Perpustakaan di Indonesia tahun 2005

Perpustakaan Umum

- Perpustakaan propinsi

- (Kab/Kota)

30 dari 33 propinsi

260 dari 440 ( diperkirakan pemekaran akan mencapai 475 kab/kota)

Perpustakaan Khusus 820
Perpustakaan Rumah Ibadah 363
Perpustakaan Sekolah 14.939
Perpustakaan  PT

- PTN

-  PTS

90

1.953

Pusat  Dokumentasi 7

Sumber: Kartini (2006)

Tabel 2: Jumlah Pustakawan di Indonesia tahun 2005

Perpustakaan  Nasional 171
Perpustakaan Umum

- Perpustakaan propinsi

- (Kab/Kota)

685 (29 propinsi dari 33)

83

Perpustakaan Khusus 490
Perpustakaan Rumah Ibadah 217
Perpustakaan Sekolah 14.939
Perpustakaan  PT

- PTN

1.220

Sumber : Kartini (2006)

Meskipun data tersebut di ambil pada tahun 2005, tetapi gambaran tentang kondisi perpustakaan dan pustakawan tidaklah berkembang secara signifikan sampai saat ii. Kondisi yang sangat memprihatinkan jika dibandingkan  dengan jumlah sumber daya manusia Indonesia yang begitu besar. Angka-angka di atas masih belum menjawab  pertanyaan: kelengkapan koleksi buku dan media teks non teks lainnya yang dimiliki? Apa yang telah dan akan dilakukan oleh pustakawan dalam mengelola dan mempromosikan minat baca di perpustakaan? Suatu keadaan yang membuat kita perlu mempertanyakan kembali apakah benar perpustakaan dapat berperan dalam  meningkatkan minat baca masyarakat.

Berdasarkan Indeks Pembangungan Manusia (Human Development Index) tahun 2008, Indonesia menduduki posisi 107. Indonesia jauh di bawah negara-negara Vietnam, Thailand dan Filipina. Salah satu indicator untuk menentukan HDI adalah tingkat melek huruf masyarakat Indonesia.. Dalam hal kemampuan membaca Indonesia menduduki peringkat terbawah. Witdarmono (2006) mengutip hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) adalah proyek Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Tujuan proyek untuk mengukur tingkat pengetahuan dan keterampilan anak usia 14-15 tahun (usia akhir wajib belajar) sebelum dewasa. Hasil penelitian terakhir (2003), dari 40 negara, Indonesia berada pada peringkat terbawah dalam kemampuan membaca! Tiga besar teratas diduduki Finlandia, Korea, dan Kanada. Bagi Indonesia, ini berarti dari lima tingkat kemampuan membaca model PISA, kemampuan anak-anak Indonesia usia 14-15 tahun baru pada di tingkat satu. Artinya, hanya mampu memahami satu atau beberapa informasi pada teks yang tersedia. Kemampuan untuk menafsirkan, menilai, atau menghubungkan isi teks dengan situasi di luar terbatas pada pengalaman hidup umum. Sedangkan Kompas mengutip pandangan Arini,  Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, mengatakan bahwa budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD). Bahkan lebih lanjut data OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. Hal ini disampaikan pada acara di Universitas Petra Surabaya.

Data di atas memberikan gambaran secara lebih luas kondisi Indonesia berhubungan dengan kualitas sumber daya manusianya. Aspek minat baca masyarakat merupakan salah satu indicator yang perlu diperbaiki. Yang menjadi pertanyaan apakah minat baca dan kemampuan membaca tersebut  dapat ditingkatkan apabila kondisi perpustakaan masih seperti saat ini. Pembahasan di bawah  mencoba untuk menggali lebih jauh peluang yang mungkin bisa membantu meningkatkan minat baca sekaligus dengan membaca dapat mencintai perpustakaan.

Pembahasan

Di era yang serba terbuka yang disertai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sudah saatnya semua elemen dalam kehidupan memikirkan peningkatan minat baca masyarakat. Perpustakaan dapat memegang peranan dalam hal ini karena pada dasarnya perpustakaan merupakan satu institusi sosial yang dapat memfasilitasi minat baca masyarakat. Minat baca dapat menumbuhkan generasi muda yang kritis terhadap lingkungannya, kritis terhadap kondisi yang terus berubah. Kondisi ini dapat meningkatkan daya saing masyarakat di era global saat ini. Jika kondisi ini terus berlangsung kita sebagai bangsa tidak pernah dapat berdiri di atas kaki sendiri.

Irkham (2009) menuliskan bahwa rendahnya minat baca juga bisa diukur dari jumlah judul buku baru yang diterbitkan. Indonesia dengan penduduk 225 juta setiap tahun hanya memproduksi 8.000 judul buku. Atau 35 judul buku baru per satu juta penduduk. Padahalini sekadar perbandingan Vietnam dengan 80 juta penduduk sudah memproduksi 15.000 judul. Setara dengan 187 judul buku baru per satu juta penduduk. Vietnam, meskipun umur kemerdekaannya 30 tahun lebih muda dibandingkan Indonesia, melesat jauh di atas rerata negara berkembang, yaitu 55 judul buku baru per satu juta penduduk. Kondisi yang sudah tidak kondusif semakin bertambah dengan tingkat harga jual buku yang mahal yang sulit terjangkau oleh masyarakat.

Untuk menyiasati hal tersebut, penulis menelaah lebih jauh akan peran  perpustakaan yang perlu ditingkatkan secara maksimal yang diharapkan dapat berdampak terhadap peningkatan minat baca di masyarakat. Beberapa faktor berikut perlu mendapat perhatian.

a. Rumah (keluarga)

Rumah sebagai simbol keluarga merupakan cikal bakal manusia bersosialisasi.  Kecintaan terhadap buku dapat dimulai dengan memberikan contoh langsung dari orang tua dan juga mengajak putra-putri yang sedang tumbuh kembang ke Perpustakaan dan atau toko buku. Toko buku bisa menjadi pilihan, tetapi  toko buku bukan merupakan bahwa lemabga yang bebas untuk dimanfattkan. Hanya perpustakaan yang dapat menjadi sarana yang baik bagi  anggota masyarakat. Oleh karena itu perpustakaan perlu siap untuk dikunjungi dan dimanfaatkan informasinya. Kesiapan satu perpustakaan tidak saja dari pengelolaannya tetapi juga pustakawan yang mengelolanya. Fasilitas gedung, koleksi dan pustakwan perlu siap untuk memberikan layanan yang terbaiknya.

b. Sekolah (kurikulum)

Irkham (2009) memberikan contoh dua negara Jepang dan Belanda. Di Jepang, negara yang tiap tahunnya mencetak lebih dari 1 miliar buku ini, sekarang memiliki prinsip: teman duduk terbaik adalah buku. Sekolah-sekolah di Jepang mewajibkan para siswa membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar. Metode pendidikannya dibuat sedemikian rupa sehingga para murid terdorong aktif membaca.

Lain Jepang, lain pula Belanda,. Di negeri kincir angin ini, peningkatan minat baca disiasati dengan mengharuskan para siswa memperkaya pengetahuan dengan membaca, ditunjang sistem perpustakaan (sekolah) yang memenuhi kebutuhan mereka.  Di Indonesia, kondisi ini berbanding terbalik. Guru hanya mengandalkan tugas dari buku-buku paket yang sudah tersedia atau diharapkan murid dapat membeli atas anjuran guru. Kritis dalam menyampaikan pendapat masih belum lajim di sekolah-sekolah di Indonesia. Pola kritis akan terbentuk karena siswa banyak membaca. Jumlah Perpustakaan sekolah yang hanya berjumlah 14.939 tidak akan mencukupi jumlah murid yang ada. Bahkan Irkham menuliskan lebih lanjut sekolah dasar yang memiliki perpustakaan hanya sekitar 1 persen. Sedangkan SMP dan SMA kurang dari 54 persen. Suatu kondisi yang tidak kondusif untuk siswa mendapat fasilitas membaca yang baik.
c. Pemerintah dan masyarakat (perpustakaan)

Sebagaimana dituliskan di atas, permasalahan minat baca dan perpustakaan sebagai fasilitas masyarakat tidak dapat berdiri sendiri. Individu di masyarakt perlu ditingkatkan minat bacanya. Perlu sarana setelah tumbuhnya minat tersebut. Oleh karena itu, target pendirian perpustakaan desa dan keliling dapat menjadi target utama pemerintah agar masyarakat dapat dekat oleh sumber informasi. Konsep perpustakaan desa dan keliling tidak harus berasal dari pemerintah saja tetapi dapat muncul dari masyarakat itu senditi. Tugas pemerintah  mendorong masyarakat lokal untuk berpartisipan dalam mendirikan perpustakaan. Sebagai lembaga sosial, perpustakaan desa dan keliling sangat efektif mendidik dan memberi informasi kepada masyarakat di sekitarnya. Peminjaman buku bukan satu-satunya kegiatan. Di berbagai perpustakaan desa yang telah berdiri dapat menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan, sastra, sosial, maupun politik. Perpustakaan dapat menjadi kegiatan sentral masyarakat (community centre), bahkan dapat berdampingan dengan kegiatan keagamaan. Bagaimana dengan Perpustakaan keliling? Perpustakaan keliling dapat juga melibatkan masyarakat pemilik modal. Tanggungjawab sosial masyarakat (community social responsibility) dapat diwujudkan dengan pengadaan mobil keliling di masyarakat. Lembaga bisnis atau perusahaan dapat berkerjasama dengan pemerintah untuk mengatur pengadaan dan operasional perpustakaan keliling.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Keterkaitan perpustakaan dengan meningkatnya minat baca sangatlah  dekat. Jumlah  perpustakaan dan pustakawan yang kurang memadai menjadi kendala yang perlu dipikirkan bersama.  Di sisi lain penerbitan buku yang relatif rendah dibanding negara lain menambah sulitnya masyarakat untuk mendapat buku yang baik. Oleh karena itu penulis melihat perlunya keterlibatan pemerintah dan juga masyarakat untuk meningkatkan minat baca ini. Hal itu dapat dimulai dari keluarga, sekolah. Tanggungjawab sosial masyarakat (community social responsibility) yang diemban oleh lembaga bisnis atau perusahaan dapat diwujudkan dalam bentuk pendirian Perpustakaan.

Perluasan peran perpustakaan sebagai sentral masyarakat dengan berbagai kegiatannya. Perpustakaan dapat menjadi pusat-pusat kebudayaan komunitas. Di setiap perpustakaan juga aktif diadakan klub-klub seni dan sastra dan juga drama yang sering mementaskan karya-karyanya. Dengan demikian perpustakaan menjadi hidup dan secara tanpa disadari perpustakaan diharapkan dapat menarik masyarakat untuk mengunjungi dan membaca.

Saran

Menyikapi kesimpulan di atasn, penulis menyarankan beberapa hal  untuk meningkatkan minat baca dengan memanfaatkan perpustakaan:

a.       Pada saat proses pemilihan kepala daerah mulai dari tingkat desa sampai dengan propinsi, perlu dilakukan penilaian tentang seberapa besar perhatian calon pemimpin terhadap minat baca masyarakat dan juga keberadaan perpustakaan di wilayahnya;

b.      Perluasan fungsi Perpustakaan yang tadinya bersifat tertutup dapat menjadi lebih terbuka sehingga mengundang anggota masyarakat untuk datang;

c.       Mengadakan lomba yang berkaitan dengan minat baca pada peristiwa-peristiwa nasional. Agenda ini dapat menjadi salah satu agenda yang  wajib diadakan;

d.      Kurikulum pendidikan perlu disisipkan bagian pengajaran yang lebih mengarah pada pentingnya membaca seperti adanya penugasan khusus bagi murid untuk membaca dan merangkum hasil bacaannya dengan jumlah target buku yang harus dibaca;

e.      Apabila di satu daerah belum tersedia perpustakaan, maka sebagai salah satu usulan dalam pelaksanaan tanggungjawab sosial masyarakat (community social responsibility) lembaga bisnis atau perusahan adalah membantu pendirian satu perpustakaan beserta fasilitas pendukungnya baik dalam bentuk perpustakan desa maupun perpustakaan keliling dengan pengadaan mobilnya.

Rujukan

Buchori, Binny (2009). New challenges for Indonesian libraries in the era of democatication. dalam diskusi Libraries and democracy di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Kamis 18 Juni 2009

Budaya Baca Indonesia Terendah di Asia Timur. Kompas, 18 Juni 2009.

Goad, Tom W. (2002). Information literacy and workplace performance. London: Quorum Books.

Irkham, Agus M. (2009). Paradoks melek huruf. terdapat di
http://kubukubuku.blogspot.com/2009/04/paradoks-melek-huruf.html tanggal 25 Juni 2009

Kartini (2006). Kebijakan penyelenggaraan diklat kepustakawanan. Disampaikan Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Fungsional Pustakawan Jakarta, 6 Juli 2006

Rosch, Herman (2009). The role of libraries in democratic societies. dalam diskusi Libraries and democracy di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Kamis 18 Juni 2009

Witdarmono (2006). Membaca dan agresivitas. Kompas, 8 September 2006

Penulis: Drs. Irman Siswadi, M.Hum

Bogor

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


8 × four =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose