Home / Artikel Perpustakaan / Pemberdayaan Perpustakaan Berbasis Masjid Menuju Perpustakaan Masa Depan

Pemberdayaan Perpustakaan Berbasis Masjid Menuju Perpustakaan Masa Depan

Hampir semua negara maju memiliki sejarah panjang tentang masyarakatnya  yang gemar membaca maupun menulis karena kegiatan membaca dan menulis adalah indikasi maju-tidaknya peradaban bangsa. Membaca merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan kreativitas dan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bila Indonesia tidak ingin menjadi konsumen dari IPTEK yang dikembangkan oleh negara-negara lain, maka upaya untuk mendorong masyarakat agar membaca menjadi kebutuhan mereka sehari-hari menjadi hal yang niscaya.

Namun ironisnya, fakta justru menunjukkan bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan tingkat minat baca masyarakat bangsa lain. Laporan UNDP tahun 2003 menyatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index HDI) berdasarkan angka buta aksara posisi Indonesia berada pada urutan 112 dari 174 negara. Posisi ini berada di bawah Vietnam (urutan ke 109) yang baru keluar dari konflik yang berkepanjangan. Demikian juga data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id). Data lain dari International Association for Evaluation of Educational (IEA) tahun 1992 tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia menempatkan Indonesia urutan ke-29.

Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan masyarakat Indonesia disebabkan karena masih dominannya budaya tutur dibandingkan dengan budaya baca, tidak meratanya penyebaran koleksi bahan pustaka di berbagai lapisan masyarakat dan belum optimalnya pemberdayaan perpustakaan di masyarakat.

Perpustakaan merupakan sarana sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui beraneka bacaan. Perpustakaan yang menyediakan berbagai bahan pustaka memungkinkan tiap orang memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Kalau warga masyarakat menambah pengetahuannya melalui pustaka pilihannya, akhirnya merata pula peningkatan taraf kecerdasan mereka. Oleh karena itu, kehadiran perpustakaan dalam suatu lingkungan kemasyarakatan dapat turut berpengaruh terhadap teratasinya kondisi ketertinggalan masyarakat yang bersangkutan

Menjadikan Masjid sebagai Pusat Baca

Masjid adalah jantung umat. Masjid adalah salah satu pilar meretas kebangkitan umat selain pesantren dan kampus. Keberadaan masjid merupakan poros aktivitas keagamaan di masyarakat. Masjid diharapkan pula menjadi mitra Lembaga pendidikan formal (sekolah) yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi yang akan datang.

Jumlah masjid di Indonesia mencapai lebih dari 700 ribu dan merupakan jumlah terbesar di dunia. Namun bila dicermati, kondisi kaum muslimin saat ini dimana masjid  belum difungsikan secara optimal. Alangkah indahnya jika sekitar 700.000 masjid di Indonesia dapat memberikan jawaban riil atas berbagai permasalahan umat. Setiap kumandang adzan mengalirkan kerinduan umat untuk datang mendekat seperti layaknya fungsi jantung bagi darah. Masjid seharusnya dapat dioptimalkan fungsinya sebagai ruang publik dan pusat peradaban umat.

Pemberdayaan perpustakaan masjid merupakan salah satu upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Perpustakaan masjid merupakan perpustakaan komunitas yang sangat mudah dijangkau oleh masyarakat sehingga menjadi pusat baca dan sarana mencerdaskan umat. Sejarah keemasan Islam sendiri mencatat dengan tinta emas bagaimana masjid dengan perpustakaannya menjadi pusat pencerahan dan pencerdasan umat.

Di masa pemerintahan Khalifah al-Makmum, beliau merekonstruksi masjid yang tidak terpisah dengan perpustakaan. Di Andalusia saja, pada abad  ke-10 terdapat  sekitar 20 perpustakaan. Salah satunya, yaitu perpustakaan umum Cordova, telah mampu menyediakan 400.000 judul buku. Padahal, pada empat abad berikutnya, sebuah perpustakaan yang terlengkap di Eropa pada Gereja Canterbury  hanya mampu menyediakan 1.800 judul buku. Bahkan, perpustakaan umum di Tripoli mampu menyediakan  tiga juta judul buku dan 50.000 eksemplar al-Quran berikut tafsirnya pada abad yang sama. Kini umat Islam ditantang dan bertanggungjawab menjadikan kembali perpustakaan berbasis masjid sebagai media pencerahan dan perncerdasan umat.

Perpustakaan masjid merupakan perpustakaan umum yang berada di lingkungan masjid. Koleksinya umumnya diutamakan buku-buku ilmu keagamaan (Agama Islam). Bila dipersentasekan, sekitar 60 persen koleksi perpustakaan masjid diisi koleksi ilmu pengetahuan tentang agama islam dan 40 persen berisikan koleksi tentang ilmu-ilmu teknologi.

Sedangkan sasaran yang akan dicapai melalui perpustakaan masjid itu, antara lain untuk memantapkan iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan juga kecakapan serta keterampilan untuk meningkatkan taraf hidup di berbagai bidang kehidupan melalui ilmu pengetahuan.

Perpustakaan masjid yang ideal seharusnya menjalankan fungsi-fungsi perpustakaan. Fungsi perpustakaan tersebut yaitu sebagai tempat mengumpulkan koleksi baik buku, majalah maupun bentuk koleksi lainnya, mendata koleksi yang masuk, mengkategorikan koleksi kedalam kelompok yang sesuai, menyusun koleksi di rak koleksi sesuai dengan pengelompokkannya agar mudah diakses oleh pengunjung, memelihara dan menjaga kondisi fisik koleksi, mengatur distribusi (peminjaman dan pengembalian) koleksi dan menyediakan fasilitas tambahan lainnya yang mendukung kenyamanan pengunjung.

Selain itu perpustakaan juga seharusnya berfungsi sebagai penyelenggara kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan minat baca-tulis pengunjungnya, antara lain menggelar event pameran dan bedah buku. Dengan kata lain, perpustakaan masjid tidak sekedar tempat senggang menunggu waktu sholat, tetapi menampilkan perpustakaan sebagai sarana berkomunikasi, baik dengan sesama jamaah maupun dengan pustakawan, atau menghadirkan pakar dalam mencari tahu sesuatu yang belum dipahami.

Namun nasib perpustakaan masjid selama ini masih jauh dari yang diharapkan karena dikelola ala kadarnya. Lemahnya SDM menjadi kendala bagi perpustakaan masjid. Banyak buku-buku di perpustkaan masjid tetap susah diakses oleh masyarakat. sudah saatnya kini dipikirkan pengelolaan perpustakaan masjid yang lebih baik dan lebih efektif.

Menuju Perpustakaan Masjid Masa Depan

Umat Islam harus memiliki kembali pemikiran Islam yang utuh dan menyeluruh serta jelas tentang gambaran kehidupan Islam di masa depan serta memahami akta-fakta yang sedang terjadi sekarang sehingga menemukan strategi dan taktik implementasi konsepsi mereka dalam realitas kehidupan. Penguasaan khazanah pemikiran Islam dan kebiasaan berfikir menghubungkan pemikiran tersebut dalam realitas kehidupan akan membentuk kepakaran dan keahlian (experties) umat dalam mewujudkan visi dan misi kehidupan mereka. Sebab, tradisi menghubungkan informasi maupun konsep pemikiran dengan realitas akan membentuk metode berfikir yang produktif dalam diri umat ini dan mereka akan menjadi umat yang bertradisi berfikir, ummah mufakkirah. Umat yang mampu bangkit meniti jalur kehidupan yang luhur. Dan, harapan ideal di atas dapat kita mulai dari masjid, salah satunya dengan memberdayakan kembali peran perpustakaan

Dengan menyadari peran besar perpustakaan berbasis masjid, maka saat ini diperlukan gerakan bersama untuk kembali ke masjid dan memberdayakan perpustakaan dengan anak muda sebagai pelopornya. Karena Generasi mudalah yang menjadi sosok idaman umat yang memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Dengan potensi intelektualitas, penuh idealisme dan energik, merupakan potensi untuk membawa kondisi umat yang saat ini terpuruk menuju kebangkitan hakiki.

Saatnya kini kita kembali ke Masjid, dengan anak-anak muda sebagai pelopornya. Apalagi anak-anak muda yang masih mempunyai semangat dan darah segar. Dengan memakmurkan masjid,  Insya Allah  satu persatu persoalan umat terpecahkan. Dan, kini saatnya kita, khususnya anak muda, perlu kembali lagi jika selama ini telah jauh dari masjid. Kita perlu menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas.

Memakmurkan masjid dengan salah satu carannya menghadirkan perpustakaan yang dapat menjadi magnet bagi masyarakat sekitar masjid. Di masjid diadakan ruangan perpustakaan yang bisa memberikan rasa nyaman pada pengunjungnya. Baik itu nyaman secara fisik maupun secara psikis. Perasaan nyaman secara fisik bisa dilakukan dengan pengaturan ruangan yang baik seperti pengaturan sirkulasi udara,menjaga kebersihan dan kerapihan ruangan pengaturan tata letak rak buku dan meja yang memudahkan aktivitas pengunjung juga bisa membantu menciptakan suasana nyaman bagi pengunjung.  Secara psikis, rasa nyaman bisa diciptakan dengan menghadirkan pelayanan yang ramah, cepat tanggap, dan koorporatif.

Perpustakaan masjid harus dikelola professional sehingga dapat menjadi sebuah pusat baca publik yang dapat memenuhi kebutuhan semua pembaca, memiliki koleksi yang bermutu dan memiliki jaringan dengan pihak penerbit. Ke depan, masjid sangat mungkin menjadi jaringan perpustakaan/informasi yang jangkauannya sangat luas dan pengembangan koleksi yang terkoordinasi dalam mencerdaskan umat dan bangsa.

Masjid harusnya dijadikan sebagai institusi agama yang profesional. Bahkan, seiring perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat, masjid saatnya dilengkapi dengan sambungan internet tanpa kabel dan gratis diakses oleh jamaah sehingga masjid tidak lagi dikunjungi ketika waktu shalat. Tetapi, dijadikan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan bahkan tempat berkreasi.

Perkembangan teknologi informasi (TI) membawa dampak tersendiri bagi perpustakaan masjid. Perpustakaan masjid dituntut pula untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi apabila tidak ingin ketinggalan dalam menggapai informasi dan memberikan pelayanan yang prima terhadap penggunanya. Perpustakaan masjid saatnya pula mengembangakna perpustakaan hybrid atau model perpustkaan yang menggabungkan antara system tradisional dan digital. Antara masjid dan teknologi modern seharusnya memang tidak terpisah, tetapi dapat berkolaborasi dalam membangun umat yang melek pengetahuan.

Saatnya masjid-masjid di Indonesia melakukan inovasi untuk menumbuhkan semangat baca dengan mendirikan perpustakaan masjid yang dapat diakses oleh umat.  Masjid yang tersebar di tengah-tengah umat Islam ini sudah harus mengambil peranan sebagai sarana untuk mengatasi keterbelakangan umat dan harus dipikirkan sebagai basis gerakan membaca, menuju kebangkitan umat dan bangsa. Semoga.

Penulis: Bahrul ulum Ilham, S.Pd

Jl. Monginsidi Baru AB/4 No. 7 Makassar

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

tata letak perpustakaan ideal

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


1 × six =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose