Home / Artikel Perpustakaan / Pemberdayaan Perpustakaan Umum, Menuju Pemberdayaan Masyarakat dari Buta Perpustakaan

Pemberdayaan Perpustakaan Umum, Menuju Pemberdayaan Masyarakat dari Buta Perpustakaan

Perpustakaan adalah temuan manusia di abad ilmu, dalam setiap sejarah peradaban manusia dengan latar agama dan kultur yang berbeda-beda perpustakaan menjadi kebutuhan yang menyertainya. Library sebutan perpustakaan, dikenal di Amerika-Eropa bertalian dengan kata liber (bahasa latin) yang berarti buku. Bible, injil juga disebut buku, ada istilah mirip yaitu bibliography, yang diperpustakaan disebut sebagai katalog buku. Khazanah Islam menyebut perpustakaan dengan maktabah berasal dari kata kitab tidak lain berarti buku. Di Indonesia perpustakan terambil dari kata pustaka, bahasa sangsekerta untuk menyebut buku. Perpustakaan telah menjadi bagian kehidupan manusia, membentuk sejarah dan perubahan hingga hari ini.[1]

Pada perkembangan selanjutnya, dapat kita saksikan sejumlah fakta yang kasat mata. Fenomena tumbuhnya pusat belanja dikota-kota besar di Indonesia yang dahulu dikenal sebagai supermarket. Lihatlah mall-mall[2] yang tampil gagah perkasa, gedung besar bertingkat-tingkat dibangun dan bermunculan di tiap-tiap kota besar. Ada dalam satu lokasi, di Jakarta mall-mall ini saling berhadap-hadapan, ada yang dibuat seperti adik kakak, dengan nama kembar, berlabel pusat belanja moderen. Gedung-gedung perpustakaan tak ada yang mampu menyaingi gedung-gedung mall itu, meskipun untuk menyaingi toiletnya saja, cukup sulit. Hal ini juga semakin menyuburkan budaya konsumerisme tingkat lanjut, masyarakat digiring  hanya sebagai konsumen baik makanan dan produk material lainnya.

Sisi baik dari bandul globalisasi diantaranya melimpahnya informasi masih kurang menjadi perhatian. Perubahan-perubahan ini mestinya mendorong menjamurnya gedung-gedung yang dapat menampung derasnya informasi, bukan sebaliknya termegap-megap untuk mencerna informasi baru yang mungkin sudah usang, baru sampai ke Indonesia. Mengapa demikian, karena bangsa ini tidak memadai dalam mengupayakan transformasi keilmuwan malah sebaliknya hanya unsur-unsur hedonismenya saja, karena kebutuhan perut mudah ditata kelola untuk mengambil keuntungan finansial bersifat segera.

Kondisi ini juga semakin diperparah dengan minat baca yang denyutnya timbul-tenggelam. Ada masa-masa tertentu melonjak terutama di kampus-kampus, dan adakalanya menukik tajam, bahkan lari ditempat saja, dalam garis datar ketika lulus dari sekolah/kuliah, karena disibukan dengan pekerjaan dan rutinitas kehidupan lainnya.

Negara dalam hal ini pemerintahan provinsi dapat memberikan wadah dan fasilitas untuk mempertahankan minat baca sebagai kebutuhan alami manusia setelah makan. Perpustakaan telah disediakan namun tidak dimanfaatkan secara maksimal. Perpustakaan yang berjenis-jenis masih dikelola dengan manajemen yang ala kadarnya. Masyarakat tanpa memadang kedudukannya sebenarnya dapat memanfaatkan sarana publik, khususnya perpustakaan umum.

Fasilitas perpustakaan umum dirasakan belum memadai. Di beberapa negara maju, perpustakaan yang menyediakan tempat membaca yang nyaman dengan koleksi buku yang cukup lengkap merupakan fasilitas publik yang relatif mudah ditemukan. Kondisi tersebut berbeda 180 derajat dengan Indonesia yang agak cukup sulit menemukan perpustakaan yang layak, nyaman, dan kaya akan koleksi buku. Dalam sebuah penelitian jajak pendapat di 12 kota besar di Indonesia, lebih dari 50 persen responden menyatakan sulit menemukan perpustakaan di sekitar tempat tinggal mereka. (Astuti 2009)[3]

B. Latar Belakang Permasalahan

Telah disingung diatas bahwa perpustakaan amat penting. Sejarah bahkan telah mencatat manfaat besar perpustakaan. Manfaat utama adalah sebagai sarana simpan. Karena yang disimpan adalah informasi pengetahuan, maka dapat dilestarikan dan dikembangkan oleh pemakai. Buku-buku tertentu di perpustakaan menjadi andalan dan benda yang tak ternilai. Keinginan dan cita yang sejak jauh-jauh dalam banyak tulisan sebagai nilai manfaat perpustakaan. Image branding perpustakaan diantaranya sebagai jendela dunia, sebagai pusat informasi, ada yang menyebut sebagai cultural of changed. Perpustakaan di tingkat Perguruan Tinggi malah menjadi jantungnya universitas. Realitasnya perpustakaan masih kurang diapresiasi baik oleh pemegang kebijakan dan masyarakat luas.

Pemegang peradaban dunia tidak cukup hanya dengan kekuatan fisik dan sumber daya alam semata, kekuatan intelektual Sumber Daya Manusia juga memegang peranan. Dapat disaksikan negara tetangga kita Singapura, Malaysia, ataupun nun jauh disana negara-negara Eropa yang kecil-kecil secara geografis, lebih sedikit penduduknya, namun telah mencapai kemajuan nyata dalam hidup layak dan sejahtera.

Dengan kekuatan ilmu, menjadikan Sumber Daya Manusia unggul dan kreatif, dan berfikir asimetris memanfaatkan peluang untuk berada pada kehidupan lebih baik dan lebih baik lagi. Keyakinan agama sebenarnya telah mendorong dengan suruhan membaca dan beramal dalam bentuk kerja. Untuk itu menjadi sesuatu yang urgen, fasilitas sumber-sumber ilmu, terutama yang dapat menampung dan melayani orang banyak untuk napak tilas ilmu yaitu perpustakaan.

Kepedulian pemerintah adalah wajib, karena setelah menunaikan kewajibannya masyarakat boleh meminta haknya. Hak untuk mendapatkan akses informasi yang disinergikan sebagai hak intelektual, benihnya telah dijamin oleh UUD (pasal 28 (hak berpendapat) dan pasal 31 (hak mendapat pendidikan)). Bagaimana mereka (masyarakat) dapat memberikan pendapat yang bernas kalau kebutuhan otaknya tidak tercukupi. Pendidikan yang diterima hanya itu-itu saja tanpa materi pengayaan karena buku-buku mahal tak terjamah.

Fasilitas tersebut adalah Perpustakaan Umum. Menurut UU Perpustakaan No. 43 Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi

Apa sumbangsih perpustakaan selama ini tentu tidak sekedar jargon-jargon saja, karena ia ada tentu bekerja, ia ada digunakan ia ada menghasilkan sesuatu. Tidak seperti ada tapi tiada. Adanya bermanfaat dan dapat dimanfaatkan pemustaka. Di Jakarta saja kita memiliki Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda) di tiap wilayah kota administrasi yang merupakan kekuatan yang dapat dimanfaatkan.

Tulisan ini ditujukan untuk mencari jawab, dan juga memberi sedikit masukan utamanya perpustakaan umum. Mengapa perpustakaan tidak belum maksimal- dikembangkan secara baik oleh pemerintah. Kemudian soal masyarakat sebagai pengguna tidak merasa tertarik menjadi bagian dari perpustakaan, padahal secara asasi mereka butuh informasi.

C. Pembahasan

Perpustakaan umum berciri khusus dan terasa spesial. Alasan yang dapat dikemukakan, Perpustakaan adalah tempat yang jauh dari gaduh. Instruksi tak tertulis ini tidak dimiliki tempat lain. Tempat yang demokratis sekaligus tidak mengikat pengguna pada afiliasi partai apapun. Tempat untuk mendapatkan hak untuk mengetahui sesuatu. Tempat dimana anak-anak menikmati sentuhan pertamanya kepada literasi. Tempat yang dapat membuka cakrawala dunia, karena koran-koran dan majalah disediakan, novel-novel bercita rasa daerah lokal dapat dinikmati sambil santai bersama sanak famili, mencari bacaan sesuai umur dan kesukaan. (Greenhalgh, Warpole and Landry 1995).

Sebagaimana pernyataan Greenhalgh, Warpole dan Landry mengenai Perpustakaan Umum di Negara Inggris yang telah maju. Perpustakaan Umum dapat digunakan sebagai tempat belajar dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat masih buta mengenai manfaat terbesar tersebut. Berikut ini akan penulis utarakan manfaat dari melek perpustakaan.

1. Perpustakaan Umum Sebagai Wahana Belajar

Inilah tempat yang bukan teori saja untuk menyimpan dan melestarikan semua khazanah keilmuan. Tempat yang perduli kepada sesama, kepemilikan yang semu dimana perpustakaan terbiasa mengalirkan distribusi koleksinya kepada siapa saja yang menginginkannya. Teori kapitalisme dan pengeruk keuntungan tidak dapat menembus keberpihakan perpustakaan kepada sesama, non profit dan tidak menjadikan ladang usaha.

Contoh yang paling pas dan mudah ditemukan adalah perpustakaan umum. Di dalamnya tidak ada pembedaan latar belakang sosial ekonomi, sosial budaya, atau perbedaan lainnya yang bisa dikatakan sebagai diskriminasi informasi. Secara lebih khusus tanggung jawab sosial sebuah perpustakaan  adalah dalam memberikan layanan informasi kepada pemakai dengan kemungkinan tidak membayar, cuma-cuma dan memberikan kesempatan yang sama, demokratis, merata dan adil.

Suluh ilmu pengetahuan ini adalah persinggahan awal (masa anak-anak)  dan akhir (manula) masyarakat. Disini tidak secara khusus dibedakan orang yang mengaksesnya. Seperti kata pepatah Sejauh-jauhnya terbang bangau, pasti kepelimbangan juga.  Artinya setelah individu-individu dalam kotak-kotak pribadi sebagai masyarakat sekolah, masyarakat kampus akan kembali ke masyarakat umum.

Perpustakaan umum akan menjadi partner di kemudian hari karena letaknya dan koleksinya. Maka tidaklah berlebihan dikatakan Perpustakaan Umum dikenal sebagai wahana Life Long Learning. Menjadi manusia pembelajar terus menerus selama hayat dikandung badan, sebagaimana kalimat bijak, Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.

Koleksi Perpustakaan Umum juga mesti memperhatikan pengguna terbesar yang dilayaninya. Koleksi yang banyak dan melimpah tentu baik, namun koleksi yang tepat adalah yang terbaik. Pustakawan mesti jeli dan memperhatikan aspek-aspek sosial kultural. Jumlah koleksi sebagaimana dikatakan Thompson bisa menjadi bumerang, banyak koleksi tetapi siapa pemakainya. Ditambahkan lagi bahwa pustakawan bukanlah insyinyur elektro yang menghitung pekerjaannya pada kuantitas. Pustakawan tidak sepatutnya menghitung-hitung kemampuan dan prestasi berdasarkan jumlah kongrit dari koleksi yang dikelola. (Pendit 1992). Akan tetapi menurut penulis bagaimana pustakawan dapat menjembatani kebutuhan pemakai, kebutuhan informasinya lewat buku, jurnal dan media informasi lainnya yang berkembang pesat dijaman internet saat ini.

Masih mengenai koleksi, keterbatasan dana yang sering dikeluhkan untuk pembelian koleksi.karena keinginan perpustakaan ingin mengoleksi seluruh ilmu pengetahuan adalah baik namun hal ini tidaklah tepat. Penulis sempat mengunjungi perpustakaan yang ada di Jakarta. Perpustakaan yang dikelola swasta misalnya Perpustakaan CSIS* (Center for Social Information Strategy)- Jakarta  dan Perpustakaan British Council (BC) dapat dijadikan teladan.

Koleksi mereka mungkin tidak meliputi seluruh kajian DDC (Dewey Decimal Classification) akan tetapi efektif. Koleksinya pada subyek tertentu, misalnya pengembangan kebahasaan sastra Inggris (BC) atau bidang ilmu sosial (CSIS). Distingsi ini dapat memudahkan kerja dari perpustakaan semakin fokus pada pengembangan koleksi dan pemustaka. Perpustakaan juga tidak melulu soal buku, perpustakaan BC lebih bersifat kultural misalnya memfasilitasi acara-acara yang dapat diikuti pengguna entah pertunjukan film, musik dan diskusi buku soal kesusastrean Inggris.

Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda) dapat mengambil ciri khas koleksinya masing-masing. Tidak hanya satu subyek mungkin dua atau tiga subyek keilmuan. Sehingga perpustakaan ini dapat berjejaring antara perpustakaan umum, memberi rujukan sehingga penanganan pemakai lebih baik. Hal yang tidak kalah penting adalah budget untuk mengadakan koleksi yang efektif dan terarah. Pembeda perpustakaan lainnya adalah pada local content. Hasil-hasil cultural entah kesenian, cerita rakyat, kebahasaan, fakta-fakta historis menjadi kekuatan dan daya tarik perpustakaan. Hasilnya adalah pemberdayaan perpustakaan untuk kemudian memberdayakan pengetahuannya masyarakat di luar  lingkungannya.

2. Perpustakaan umum dan masyarakat

Masyarakat dalam semua strata adalah pengguna informasi. Kebutuahn informasinya akan berbeda-beda sebagaima latar belakang dan pendidikannya. Jika meliahat masyarakat dari sisi aset (SDM), maka yang berwenang (pemerintah) perlu memfasilitasinya. Kebutuhan ilmiah manusia perlu disalurkan dan diasah terus menerus. Fasilitas perpustakaan perlu dikenalkan, setelah terbebas dari buta huruf, mesti dibebaskan dari buta perpustakaan lewat pemberdayaan pemakai.

Pemberdayaan masyarakat perpustakaan disini, adalah masyarakat pemakai. Pemustaka yang aktif tentu dapat dengan mudah untuk mendapat informasi. Masyarakat sebagai pengguna pasif dan aktif dapat dilibatkan dalam hal isi koleksi perpustakaan. Pengguna dapat dijadikan barometer pelayanan, dan juga sebaliknya dapat menjadi dermawan untuk menyumbangkan koleksi.

Masyarakat kita mungkin belum mencapai tingkat kesadaran masyarakat maju (Amerika-Eropa) Namun lain ceritanya apabila perpustakaan dapat bekerja professional serta amanah. Setiap orang – mayoritas perpustakaan di kampus di buka untuk umum- bisa mengakses buku. Karena itu, orang Amerika tidak punya kebutuhan untuk menyimpan buku-buku dalam jumlah besar di rumah mereka. Setiap kali membutuhkan sebuah buku, mereka akan mencarinya di perpustakaan, atau membeli dan kemudian menjualnya kembali setelah dibaca. Buku-buku yang disimpan di rumah biasanya dipilih sangat selektif, sebagai koleksi pribadi. (Altbach and Tefferra 2000).

Membeli buku bekas dengan kualitas bagus dari para pengguna dapat dilakukan juga, artinya beragam cara digunakan untuk menyiasati anggaran yang minim. Tidaklah merendahkan sebuah institusi terlebih dilakukan di negara maju sekalipun, koleksi bekas namun isinya bermanfaat besar bagi yang membutuhkan.

Teknologi internet yang semakin canggih, dapat dipergunakan dengan tujuan menambah jelajah dan materi pengayaan perpustakaan. Iklaniklan dan propaganda perpustakaan bisa diinformasikan kepada khalayak, situs-situs dan jejaring sosial yang berbasis internet semisal memanfaatkan situs jejaring sosial www.blogger.com, www.facebook.com, www.friendster.com dapat digunakan.

Pustakawan bisa menjadi semacam penunjuk, karena dalam tugas referral disebutkan bahwa kita dapat menjadi penunjuk berbantuan ensiklopedi, kamus, indeks dan alat lainnya. Informasi yang terjadi di dunia lain yaitu dunia maya, menyebabkan ledakan informasi. Orang akan disediakan data yan berlimpah-limpah. Penggunaan kata kunci menjadi andalan untuk mendapatkan raihan dengan hasil maksimal. Mesin-mesin canggih yang bekerja pada mesin pencari www.google.com, www.yahoo.com — telah menjadi andalan bagi pencari informasi.

Kemajuan teknologi informasi semakin pesat, buku-buku manual kini telah berhadapan dengan buku digital. Teknologi ICT (Information and Communication Technology) telah membawa perubahan tersebut. Bahkan perpustakaan telah berlomba-lomba membuat perpustakaan dengan label digital. Bagaimana nasib peprustakan-perpustakaan kecil, yang lemah dari segi koleksi dan perlatan canggih tersebut.

Meminjam istilah Yohanes Surya*, yaitu teori mestakung (semesta mendukung) keterlibatan kekuatan-kekauatan informasi milik Negara. Untuk pemerataan informasi berbantuan internet perpustakaan tidak hanya menjadi tanggung jawab kita. Pemerintah dalam hal ini kementerian informasi dan komunikasi, PDII-LIPI (Pusat Data dan Informasi Ilmiah, Perpustakaan Nasional dan Mendiknas bertanggung jawab untuk memikirkan dan memberi solusi bagi pemerataan teknologi di perpustakaan.

Jaring-jaring informasi hingga pelosok desa terpencil dapat disalurkan melalui perpustakaan perpustakaan umum. Konten dunia yang berisi temuan-temuan ilmiah dalam bentuk jurnal buku-buku elektronik dapat dilanggan dan pemakaian dapat dilakukan bersama, sinergi yang telah lama didambakan oleh masyarakat, karena selama ini kondisi perpustakaan banyak yang masih jauh baik dari segi sarana dan prasarana. Dengan konsep pemerataan informasi ini memberikan angin segar bagi perpustakaan untuk menjaring pemakai, menggiatkan keilmuan.

D. Penutup

Ruang berkumpul, ruang pertemuan. Manusia membutuhkan ruang yang dapat memberi stimulus. Ruang-ruang publik yang dapat melepas lelah dari kepenatan hidup. Ruang dimana orang-orang saling menyapa, gembira, dan rileks. Taman-taman dibuat selain untuk tempat tumbuh tanam-tanaman, juga untuk memberikan tempat istirahat. Manusia juga membutuhkan ruang-ruang hiburan maka, bioskop, mall, taman-hiburan berbayar dibangun sehingga kebutuhan refresing manusia bisa terpenuhi.

Perpustakaan Umum adalah perpanjangan tangan pemerintah untuk melayani masyarakatnya dari segi intelektual. Program buku untuk semua (book for all) dapat dilakukan dengan pengembangan Perputakan Umum. Otonomi daerah kiranya juga dapat mengembangkan sarana umum bernama perpustakaan. Pengembangan SDM tingkat lokal dapat dikembangkan sesuai keadaan daerah masing-masing. Perpustakaan dengan koleksinya dapat menunjang pembangunan (otak) intelektual SDM daerah di Indonesia.

Bagaimanpun keadaan perpustakaan, sesuai dengan kemampuannya telah melakukan bantuan dan pertolongan kepada masayarakat pemakainya. Perpustakaan telah berjasa ikut berperan serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Negara mesti juga memperhatikan kelayakan fasilitas rakyatnya yang bernama perpustakaan. Suatu kerugian besar jika masyarakat masih buta perpustakaan. Perpustakaan adalah temuan manusia sebagai tempat penyimpanan. Kenapa demikian karena tempat khusus ini telah dilakukan dan diretas sejak berkembangnya tulis menulis. Transfer informasi bisa terwujud tidaklah mungkin tanpa adanya sarana simpan dan temu kembali yang bentuknya telah beragam-ragam baik cetak dan non-cetak. Buta aksara yang telah lama diperangi dan sukses, kini buta perpustakaan juga perlu mendapat perhatian penuh.

Bibliografi

Altbach, Philip G., and Damtew Tefferra. Bunga Rampai Penerbit dan Pembangunan. Jakarta: Obor-Grasindo, 2000.

Astuti, Palupi Panca. “Saat Literasi Dibenamkan Televisi.” Kompas, Sabtu, 3  Januari, 2009 lihat http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/03/00535067/saat

.literasi.dibenamkan.televisi

Editorial-Board. The Encyclopedia Americana. New York: Grolier Inc., 1985.

Greenhalgh, Liz, Ken Warpole, and Charles Landry. Library in a Wolrd of Cultural Change. London: Univ. College London Press, 1995.

Indonesia. Undand-Undang Republik Indonesia No. 34 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: s.n, 2007.

Pendit, et.all Putu Laxman. Kepustakawanan Indonesia: Potensi dan Tantangannya : 40 th Pendidikan Perpustakaan di Indonesia (1952-1992). Jakarta: Kesaint Blank, 1992.

Sutarno-NS. Tanggung Jawab Perpustakaan dalam menegmbnagkan Masyarakat Informasi. Jakarta: Panta Rei, 2005.

Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia No. 34 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. (diunduh dari homepage www.pnri.go.id)


[1] Disebutkan dalam Encyclopedia Americana . Vol. XVII. : The Library is older than the book as we know it, older than paper , older than print. It extends back to the scrolls, papyri and clay tablet that appear near the down writing back to the ancient Messopotamian and Egyptian civilization through all the countries of its existence. The Encyclopedia Americana. New York: Grolier Inc., 1985 p. 307

[2] Menurut catatan tahun 2005, pertumbuhan mall 25 % per tahun, dikutip dari www.kapanlagi.com/h/0000053894.html. dalam artikel Pertumbuhan Mall, Ancam Pasar Tradisional (senin, 7 Maret 2005)

[3] Diposting juga di http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/03/00535067/saat.literasi.dibenamkan.televisi Buku bacaan di perpustakaan umum daerah (Perpumda) DKI Jakarta kurang diminati warganya terbukti sepanjang tahun 2008 jumlah pengunjung rata-rata hanya mencapai 200 orang/hari, hari libur pengunjung kisaran 300 orang. kata Tuty Mulyati, Kepala Perpumda DKI Jakarta, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (11/11/2008). Warga Jakarta Kurang Minati Perpustakaan. Sumber www.kapanlagi.com. (Selasa, 11 November 2008).

Di Inggris, terdapat survey penggunaan Perpustakaan Umum, disebutkan bahwa tidak tempat yang paling banyak dikunjungi selain Public Library mengalahkan taman hiburan, dan merata dalam jumlah yang signifikan diseluruh kota-kota di Inggris raya. Kondisi yang berbanding terbalik dengan Indonesia. Sekali lagi karena keberpihakan, perlu kebijakan pemerintah daerah, Otonomi daerah dapat dijadikan momen terbaik untuk mendorong perhatian kepada perpustakaan. Greenhalgh, Liz, Ken Warpole, and Charles Landry. Library in a Wolrd of Cultural Change. London: Univ. College London Press, 1995. hal. 77

* Perpustakaan CSIS Jakarta, beralamat di Jl. Kesehatan III, Jakarta Pusat, sedangkan Perppustakaan British Council beralamat d.h. Jl. Sudirman-Thamrin (Menara S. Widjoyo) Kini (th. 2007) koleksinya telah dihibahkan ke Perpustakaan Depdiknas

* Prof.Dr.Yohanes Surya, MSc. fisikawan Indonesia, beliau adalah pendidik, dan pencari bakat untuk peserta Olimpiade Fisika Internasional. Pernah menulis buku dengan judul Teori Mestakung, diterbitkan oleh Mizan Pustaka (th.2007)

Penulis: M.Sukron

Jakarta

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

artikel perpustakaan umum

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


9 + = fifteen

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose