Home / Artikel Perpustakaan / Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan Melalui Penyediaan Taman Baca Masyarakat (TBM)

Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan Melalui Penyediaan Taman Baca Masyarakat (TBM)

Perpustakaan Komunitas Peduli Kampung HalamanI.    PENDAHULUAN

Salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia adalah melalui gemar membaca melalui pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berupa karya tulis, karya cetak dan/atau karya rekam.Perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi pada para pemustaka (pengguna perpustakaan). Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia dan tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki.

Untuk mewujudkan layanan kepada pemustaka sebagai program  membudayakan kegemaran membaca pada masyarakat khususnya yang ada di daerah pedesaan/daerah terisolir/daerah terpencil perlu adanya pemerataan penyediaan Taman Baca Masyarakat (TBM) sebagai program pengembangan perpustakaan Umum di Kabupaten/Kota.

Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten/Kota diharapkan dapat menjadi fasilitator dengan menyediakan Taman Baca Masyarakat (TBM) secara merata sebagai upaya penunjang pembudayaan gemar membaca dengan melibatkan seluruh masyarakat pedesaan.

II.       PERMASALAHAN

A.      Rendahnya minat baca masyarakat pedesaan.
B.      Fasilitas yang tidak ada/minim.
C.      Kurangnya Perhatian Pemerintah daerah setempat untuk  menumbuhkan minat baca masyarakat pedesaan.

III.  TUJUAN

                Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menyumbangkan suatu gagasan kepada Pemerintah Daerah mengenai program pengembangan dan pemberdayaan Perpustakaan Daerah ke pedesaan melalui penyediaan Taman Baca Masyarakat secara merata sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat pedesaan.

Dengan tersediannya Taman Baca Masyarakat didaerah pedesaan diharapkan mampu menumbuhkan minat baca sebagai edukasi tidak langsung bagi generasi muda dan masyarakat pedesaan, sehingga mampu membuka wawasan mereka mengenai  pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah di desa yang tidak terberdayakan dengan baik akibat minimnya pengetahuan yang dimiliki.

Dengan pengetahuan masyarakat dan generasi muda pedesaan dalam memanfaatkan sumber daya alam di daerahnya maka hal ini akan bermanfaat sebagai lahan untuk mencari nafkah, dan hal ini dapat menurunkan tingkat urbanisasi yang tidak terbendung, sehingga mampu menyelesaikan masalah ketimpangan komposisi penduduk kota yang sesak dan tak tertata akibat adanya urbanisasi.

IV.LANDASAN TEORI

Budaya Membaca Membangun Peradaban Bangsa

Buku adalah salah satu jendela informasi selain media elektronik (radio, televisi maupun internet), buku adalah jendela dunia, buku adalah sumber ilmu dan buku akan menjadikan kita pintar. Dan membaca adalah suatu kebutuhan hidup yang dengan melakukannya kita akan mengetahui rahasia atau misteri alam yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup, semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca (Gleen Doman, 1991). Selanjutnya melalui budaya membaca disamping akan mendapatkan pengetahuan yang tiada ternilai juga akan dapat merubah peradaban manusia, karena setiap bacaan mengandung virus yang berpengaruh terhadap peradaban bangsa.

Berdasarkan hasil penelitian professor dari Harvard University, kemajuan dan kemunduran suat bangsa ditentukan oleh kualitas bacaan yang dilahap generasi muda pada waktu 20 tahun silam. Jadi, jika sekarang ada bangsa yang maju atau mundur, itu tergantung dari bacaan generasi muda pada masa 20 tahun yang lalu.

V.  PEMBAHASA

A.    Rendahnya minat baca masyarakat pedesaan.

Rendahnya minat baca masyarakat pedesaan disebabkan karena masalah buta huruf  yang banyak terjadi di daerah-daerah pelosok. Masalah buta huruf ini terjadi karena sebagian besar masyarakat tidak pernah bersekolah atau hanya berpendidikan SD, SMP sehingga minat baca masyarakat pedesaan  tergolong rendah.

Adanya media Televisi yang mudah diakses oleh masyarakat pedesaan pun menjadi penyebab rendahnya minat baca ini. Keberadaan Televisi selama 24 jam menjadikan masyarakan pedesaan lebih betah melihat televisi daripada belajar membaca.

Upaya pemerintah daerah untuk mengentaskan masalah buta huruf sebagai alat utama untuk memancing minat membaca masyarakat pedesaan dapat dilakukan dengan cara mengadakan program pemberantasan buta huruf yang dapat dilaksanakan dengan membangun kerjasama antara pemerintah dan beberapa pihak antara lain mahasiswa, guru, LSM, penerbit buku, penulis, dsb.

B.   Tidak ada/minimnya fasilitas.

Fakta menunjukkan bahwa pembeli buku di Indonesia masih didominasi oleh orang kota, atau kalaupun ada orang desa, mereka adalah orang-orang yang bermigrasi atau bersekolah ke kota, itu berarti kebutuhan masyarakat pedesaan terhadap buku sebagai media baca masih sangat minim.

Perpustakaan umum daerah di Indonesia pun sebagian besar saat ini hanya terdapat di daerah kabupaten/kota, kalaupun terdapat perpustakaan desa/kecamatan itupun tidak merata, hanya terdapat di beberapa pedesaan tertentu saja dengan fasilitas buku yang minim, yang tidak mampu menarik minat masyarakat pedesaan untuk gemar membaca.

Minimnya pengetahuan masyarakat pedesaan akibat minat baca yang rendah menyebabkan mereka tidak mampu untuk melihat potensi daerahnya sebagai lahan untuk mencari nafkah. Sumber daya alam yang melimpah di desa banyak yang tidak terberdayakan akhirnya masyarakat Pedesaan memilih jalan instan dengan berurbanisasi bekerja di kota, entah sebagai buruh, PRT, dan lain-lain, karena langkah itulah yang dianggap lebih cepat membawa mereka pada uang. Urbanisasi yang tak terbendung dari desa ke kota pada akhirnya menyebabkan ketimpangan komposisi penduduk. Wilayah perkotaan semakin sesak dan tak tertata karena banyaknya para urban yang mencari nafkah di kota.

Peran pemerintah dalam menyediakan fasilitas Taman Baca Masyarakat di pedesaan akan sangat membantu menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat pedesaan, upaya-upaya menumbuhkan minat baca dapat dilakukan dengan mengadakan pembentukan kelompok-kelompok  petani, peternak, ataupun pedagang dan melakukan penyuluhan-penyuluhan kerja dan pengembangan potensi masing-masing kelompok. Selain itu untuk meningkatkan minat baca generasi muda pedesaan (anak-anak sekolah) dapat dilakukan dengan cara mengadakan lomba-lomba yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis.

Hal diatas dapat menjadi suatu stimulus untuk meningkatkan minat baca generasi muda dan masyarakat pedesaan sehingga mereka akan peduli dengan lingkungannya dan dapat melihat potensi-potensi untuk meningkatkan kesejahteraan daerahnya.

C.    Kurangnya Perhatian Pemerintah daerah setempat untuk  menumbuhkan minat baca masyarakat pedesaan.

Sebagian besar wilayah pedesaan yang jauh dari kota dan sulit dijangkau transportasi, menyebabkan pemerintah kota mengesampingkan fasilitas umum, terutama untuk kebutuhan membaca masyarakat pedesaan. Pada umumnya pemerintah kota lebih memprioritaskan pelayanan masyarakat kota, fasilitas umum yang sangat sangat jauh berbeda ini menyebabkan gap pengetahuan antara penduduk desa dan penduduk perkotaan.

Pengadaan perpustakaan keliling dari Perpustakaan daerah setempat pun hanya menjangkau wilayah-wilayah perkotaan saja, sedangkan wilayah pedesaan jarang ataupun tidak pernah tersentuh adanya pengadaan perpustakaan keliling tersebut. Alasan anggaran dana dari pemerintah yang tidak mencukupi pun menjadi tameng pihak perpustakaan daerah untuk tidak menjangkau wilayah pedesaan.

Anggaran dana yang tidak mencukupi sebenarnya dapat diatasi dengan mencari donatur buku-buku bacaan untuk membantu pengadaan Taman Baca Masyarakat di daerah pedesaan. Kerjasama dengan masyarakat pedesaan dalam penyediaan tempat juga dapat membantu menyelesaikan kekurangan anggaran dana ini. Penglibatan masyarakat dalam pengadaan Taman Baca Masyarakat ini juga dapat menjadi stimulus meningkatkan minat baca masyarakat pedesaan.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A.     KESIMPULAN

Kegiatan membaca yang merupakan salah satu upaya untuk membuka jendela ilmu pengetahuan, belum begitu banyak dilakukan oleh saudara-saudara kita, terutama masyarakat pedesaan. Masalah buta huruf, tidak adanya fasilitas untuk membaca, dan kurangnya perhatian pemerintah setempat untuk menyediakan fasilitas Taman Baca Masyarakat menjadi beberapa faktor penyebab rendahnya minat baca masyarakat pedesaan.

Rendahnya minat baca ini menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan masih rendah, karena kegiatan membaca yang seharusnya dapat membuka wawasan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat pedesaan untuk memberdayakan Sumber Daya Alam maupun potensi-potensi usaha yang ada didaerahnnya belum terberdayakan.

Akibatnya banyak penduduk desa, terutama generasi muda yang melakukan urbanisasi untuk bekerja di kota, entah sebagai buruh, PRT, dan lain-lain, karena langkah itulah yang dianggap lebih cepat membawa mereka pada uang, hal ini memberikan dampak negatif diantaranya yaitu terjadinya ketimpangan komposisi penduduk kota yang semakin sesak akibat adanya urbanisasi.

Pengadaan Taman Baca Masyarakat di daerah pedesaan dapat menjadi sebuah solusi pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Adanya Taman Baca Masyarakat dapat membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat pedesaan, sehingga mereka mampu melihat potensi dan memberdayakan SDA yang terdapat didaerahnya sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan nafkah mereka tanpa harus berurbanisasi.

B.     SARAN

Untuk mengembangkan dan mewujudkan budaya baca masyarakat pedesaan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan perlu dilakukan melalui berbagai upaya, antara lain :

  1. Mengadakan Program Pemberantasan Buta Huruf masyarakat pedesaan dengan menjalin kerjasama antara pemerintah daerah setempat dengan mahasiswa KKN, guru, LSM dan sebagainya.
  2. Menjalin kerjasama dengan masyarakat pedesaan dalam penyediaan tempat untuk pengadaan Taman Baca Masyarakat didaerah pedesaan.
  3. Menjalin kerjasama dengan Perpusnas, Bapusda, penerbit buku, penulis, dan donatur dalam dalam penambahan koleksi bahan pustaka yang diminati masyarakat.
  4. Pelibatan masyarakat pedesaan dalam mengelola Taman Baca Masyarakat.
  5. Pembuatan Kartu Tanda Anggota Perpustakaan secara gratis.
  6. Tidak ada denda berupa uang.

 

DAFTAR PUSTAKA

-     Zone, Girlie (2009), Melek Baca dan Budaya, Surakarta : Indiva Media Kreasi.
-     http://www.bit.lipi.go.id
-     http://www.katalog.ipb.ac.id
-     http://www.perpustakaanbantulkab.go.id
-     http://www.one.indoskripsi.com

Penulis: Vika Pravesti

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

rendahnya pemanfaatan fasilitas pemerintah, contoh taman baca di pedesaan

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ five = 12

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose