Home / Artikel Perpustakaan / Peningkatan Minat Baca Pelajar Indonesia

Peningkatan Minat Baca Pelajar Indonesia

Sudah waktunya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini untuk mengejar ketinggalan-ketinggalannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dari berbagai negara tetangga, melalui upaya dasar meningkatkan minat baca dikalangan pelajar Islam pada lembaga-lembaga pendidikan formal -sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi- sebagai satu-satunya generasi bangsa ini di masa datang. Ini berdasarkan pada suatu fenomena, bahwa minat baca pelajar Indonesia  tampak mengalami kelesuan bahkan bisa dikategorikan rendah, tentu saja perbandingannya adalah masyarakat negara-negara maju.

Minat baca menurut penulis adalah tergolong masalah klasik yang dalam perkembangan terakhir masih tampak sebagai persoalan aktual dan menarik untuk dikaji lebih mendalam secara akademis. Banya anjuran yang memerintahkan untuk membaca secara formal dan tegas, berarti menempatkan kegiatan membaca sebagai posisi kunci guna memahami berbagai keadaan, sehingga aktifitas membaca itu tidak mungkin bisa ditinggalkan oleh siapapun yang ingin mendapat kemajuan dan kemandirian dalam hidupnya.

Minat baca masih menjadi masalah lantaran terdapat fenomena yang memperlihatkan rendahnya minat baca dalam masyarakat Indonesia termasuk juga di kalangan pelajar. Ternyata, tidak semua pelajar gemar membaca dan mampu memilih bacaan yang baik. Maka terasa wajar apabila negara-negara maju itu dijadikan sebagai cermin standar mengenai tingkat minat baca. Keadaan tingkat minat baca para pelajar jelas akan berpengaruh terhadap kualitas lulusan suatu sekolah. Maksudnya, jika minat baca itu baik, maka kualitas lulusan sekolah akan menjadi baik. Sebaliknya, jika minat baca itu buruk, maka kualitas lulusan sekolah akan menjadi buruk.

Permasalahan Kajian

Bagaimana strategi untuk meningkatkan minat baca pelajar Indonesia?

Tujuan Pembahasan

Untuk mendeskripsikan strategi untuk meningkatkan minat baca pelajar Indonesia.

Kajian Teori

1.   Minat Baca

Secara sederhana minat baca dapat diberi pengertian sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap aktifitas membaca, atau sebagai keinginan/kegairahan yang tinggi terhadap aktifitas membaca, bahkan ada pendapat yang menyatakan bahwa minat baca itu bisa diidentikkan dengan kegemaran membaca (the love for reading). (Koko Srimulyo, 1993; 4).

Membaca, bahkan komik sekalipun, dapat meningkatkan kemampuan memahami bacaan lebih baik dan lebih cepat, sehingga orang yang suka membaca biasanya lebih cepat dalam menangkap suatu pengetahuan. Seseorang (mahasiswa) yang memiliki hobi membaca biasanya membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk menangkap pelajaran daripada yang tidak suka membaca. Selain itu membaca juga meningkatkan kemampuan mengarang karena mempertajam imajinasi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Covey yang memasukkan membaca sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan  yang sangat efektif bagi remaja yaitu mempertajam pikiran. (Steven Covey, 2001: 28).

Kaum terpelajar dituntut untuk dapat mengembangkan diri, salah satunya dengan membaca. Tuntutan ini tidak akan dapat dipenuhi tanpa muncul minat dan kemauan dari diri sendiri.

Minat baca merupakan proses kejiwaan yang semula berwujud dorongan/motif dalam diri seseorang. Dorongan itu merupakan penggerak manusia untuk beraktifitas, yang tanpa dorongan tersebut manusia tidak akan beraktifitas sama sekali, ataupun bila ia beraktifitas tentu tidak disertai dengan kesadaran. Dorongan jiwa pada tingkat yang tinggi lazim disebut minat yang dapat megarahkan sekaligus menggairahkan seseorang kepada suatu kegemaran. Oleh sebab itu, membaca sebagai aktifitas seseorang jelas harus disertai dengan kesadaran yang bertitik tolak dari dorongan jiwa. Ini bukan berarti bahwa seseorang yang telah terbiasa membaca itu mejadi tanpa kesadaran melainkan kebiasaan membaca orang itu tetap disertai dengan kesadaran secara spontan yang seakan-akan terlihat tanpa kesadaran.

Telah dijelaskan bahwa membaca itu merupakan suatu aktivitas yang secara sederhana bisa penulis paparkan sebagai upaya melihat sekaligus memahami bahan tertulis (dengan melafalkan atau dalam hati) supaya dapat menguasainya. Dan dalam arti luas membaca juga dimaksudkan dengan meramalkan, mengetahui, menduga, memperhitungkan, dan memahami sesuatu. Menurut Winarno Surakhmad, membaca bukan berarti cuma membunyikan tanda-tanda baca atau huruf, yang dirangkai menjadi kata-kata, kalimat-kalimat dan karangan. Membaca tidak sekedar mengambil arti dari apa yang ia baca, walaupun itu betul. Membaca juga ialah memberi arti pada apa yang dibaca. (Winarno Surakhmad, 1982: 45). Pendapat lain menyatakan bahwa membaca adalah merupakan salah satu kegiatan social budaya yang dilakukan oleh seseorang untuk mengembangkan dirinya, sebagai warga negara dari suatu masyarakat yang berperadaban dan kebudayaan. Pengertian inilah yang dimaksudkan oleh ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dalam usahanya meningkatkan minat baca masyarakat yang dikampanyekan selama ini.(Irianto, 1991: 55).

Memperhatikan makna membaca di atas, dapat difahami bahwa aktifitas membaca itu ternyata menekankan aspek memahami dan menginterprestasikan lambang-lambang tertulis pada kertas atau bahan lain yang merupakan arti representatif.

Makna membaca memang luas sekali, yang terkadang terasa menjebak dan menjadilkan orang sangsi/pesimis akan kemungkinan untuk mentransfer ke dalam dunia pendidikan, terutama bagaimana mungkin para peserta didik mampu membaca kehidupan, zaman, dan alam. Padahal sebenarnya, kemungkinan yang disangsikan itu secara langsung jelas tidak akan pernah ada, mengingat bahwa pada lembaga pendidikan tertentu telah ada kegiatan praktikum, misalnya pada bidang studi ilmu-ilmu pasti dan pada bidang studi ilmu-ilmu sosial.

2. Membaca dan Ilmu Pengetahuan

Hubungan antara aktifitas membaca dengan penguasaan/pengembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai cabangnya adalah tidak ubahnya hubungan antara kail atau jala dengan usaha memperoleh ikan di lautan. Semakin cangggih kail/jala yang digunakan, tentu akan semakin banyak ikan yang bisa diperoleh. Maksudnya, semakin canggih seseorang memanfaatkan indrawinya dalam proses membaca, tentu akan menjadi luas dan beragam ilmu pengetahuan yang bisa dikuasai dikembangkannya. Maka bisa dimengerti, bahwa ilmu pengetahuan itu ada pada keduanya. Karena itu keduanya menuntut untuk dibaca supaya bisa dimengerti/dipahami oleh manusia. Sampai detik ini, telah berjuta-juta rahasia alam raya yang telah diungkapkan oleh para ilmuwan. Untuk mengabadikannya, telah beriburibu buku berhasil diterbitkan. Maka buku adalah merupakan akumulasi rahasia-rahasia alam semesta yang disistematisir dan dikemas ke dalam suatu disiplin ilmu pengetahuan, sehingga seolah-olah tiada satupun rahasia alam yang tak tercatat. Buku sebagai akumulasi pengetahuan dan budaya yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, masa akan datang, sebagai pencatat dan penyebar ilmu  pengetahuan dan teknologi dan sebagai penghubung kebudayaan antar bangsa-bangsa. Buku merupakan pencatat pengalaman, penemuan, pemikiran manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi besrta kebudayaan yang bersifat materiil dan spirituil. Buku merupakan sarana penyediaan informasi dan sarana komunikasi yang tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.

Berdasarkan kenyataan ini, maka tidak dapat dipungkiri bahwa untuk memperoleh pengetahuan yang tertuang pada buku-buku mustahil tanpa kegiatan membaca, karena buku tidak akan ada gunanya jika tidak dibaca. Itu sebabnya, buku merupakan guru yang tidak pernah bicara dan tidak pernah marah. Buku merupakan sahabat karib dikala suka dan duka sepanjang hayat manusia. Hanya saja buku tidak akan bicara, jika manusia tidak membacanya.

3. Realitas Minat Baca

Secara umum kondisi minat baca pelajar Indonesia adalah masih tergolong rendah, demikian sebagian besar sumber berpendapat. Kalaupun sebagian sumber menyatakan sebagai sekedar anggapan, tampaknya hal itu tidak jauh dari fenomena yang ada, lebih-lebih bila kondisi itu dihadapkan pada kondisi minat baca masyarakat negara-negara maju semisal Jepang. Konon di Jepang kegemaran membaca itu telah merakyat/membudaya sehingga media baca yang tersedia sebanding dengan jumlah penduduk, dengan perbandingan satu lawan dua di masyarakat negara-negara barat, membaca telah menjadi sarapan kedua.(Mimbar Pembangunan Agama, 1991: 8)  Fenomena yang tampak adalah bahwa daya beli buku masyarakat Indonesia termasuk Pelajar Islam- belum menggembirakan. Pengadaan pameran-pameran buku sebenarnya di samping sebagai upaya meningkatkan minat baca sekaligus dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan daya beli buku dari masyarakat. Dapat dilihat bahwa sebagian besar pembeli buku biasanya adalah sebagian dari kalangan pelajar, sedang jumlah kelompok ini di masyarakat adalah sangat kecil. Fenomena lain adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Meskipun di setiap masjid agung di ibu kota kabupaten terdapat perpustakaan tetapi secara kuantitatif dan kualitatif jumlah buku belum sebanding dengan jumlah penduduk.

Secara umum minat baca pelajar cenderung menurun. Buku bukan teman akrab lagi bagi mereka, karena mereka telah memiliki dunia baru yang mengasikkan, misalnya nongkrong dan ramai-ramai di tempat hiburan. Di lain pihak ada pendapat yang menyatakan bahwa minat baca pelajar menurun tidaklah mutlak benar, karena toko-toko buku yang popular banyak diserbu anak-anak untuk membeli buku.

Pembahasan

Dilihat dari segi asalnya, maka paling tidak ada dua faktor yang mempengaruhi minat baca seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dalam perkembangannya, sulit dideteksi mana faktor yang lebih dominan berpengaruh terhadap baik/buruknya minat baca seseorang. Akan tetapi, jika melihat fenomena di masyarakat tampaklah bahwa faktor eksternal adalah mendominasi misalnya:

1)       Pemupukan minat baca dalam keluarga

Dapat disaksikan ada keluarga yang di dalamnya dihidupkan budaya baca, maka anak-anak memiliki kemungkinan yang besar untuk mempunyai minat baca yang baik. Tidak terbinanya minat baca sejak masa anak-anak bisa mengakibatkan pihak luar dipersalahkan, seperti kurangnya buku bacaan, guru atau pihak sekolah tidak mampu memotifasi belajar, dan masyarakat yang tertinggal dari budaya baca. Lebih dari itu, adalah pentingnya pembinaan minat baca sedini mungkin. Pembinaan minat baca sejak masa anak-anak ini perlu ditempuh dalam rangka menumbuh kembangkan kebiasaan yang baik mengenai kegemaran membaca. Orang tua dalam rumah tangga dituntut mampu memberi contoh anak-anaknya dalam mengatur waktu guna menerapkan kebiasaan membaca. Ini perlu direalisasikan, mengingat keteladanan dalam rumah tangga itu sangat berpengaruh terhadap terbukanya minat baca bagi anak-anak di kemudian hari, termasuk ketika menjadi pelajar. Orang tua jangan memasakkan kehendaknya untuk menonton televisi yang semestinya bukan menjadi santapan anaknya, apabila diperlukan semua acara TV yang tidak mendidik untuk belajar harus dihilangkan, kemudian diganti dengan VCD player yang mengetengahkan sebuah kisah perjalanan seorang anak pembaca yang sukses, dan orang tua terus mendampingi anak untuk memberikan motivasi agar terus belajar.

2)       Imbas era globalisasi

Kaitannya dengan era globalisasi, ada yang berpendapat bahwa ia mempengaruhi budaya baca. Menjamurnya sarana informasi selain buku jelas mempengaruhi cara manusia memperoleh ilmu pengetahuan, dengan televisi suatu misal manusia tinggal menggunakan secara mudah dan menyenangkan, tanpa harus bersusah payah mencari dan menelaah serta merenungkan melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, manusia bisa semakin jauh saja dari budaya baca buku yang dengan tegas menuntut daya konsentrasi.

3)       Sulitnya mendapat lapangan kerja

Salah satu faktor yang mempengaruhi minat baca pelajar di Indonesia, adalah kondisi dunia pekerjaan. Banyaknya lulusan pendidikan sekolah menjadi pengangguran sebagai fenomena ketimpangan bidang ketenagakerjaan dengan bidang pendidikan, akan menimbulkan dampak yang nyata terhadap minat baca di kalangan pelajar. Banyak perta didik yang terjangkit kelesuan, motifasi, dan minat belajarnya menurun. Yang terpenting, bagi mereka mendapat ijazah.Hal ini sebuah kesalahan besar, kita harus melihat Jepang pada abad modern ini dimulai dengan mencuri dan mengalihkan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat. Membaca sebagai kebutuhan primer, bukan lagi kebutuhan sekunder, sehingga bagi mereka : Tidak membaca akibatnya sama dengan tidak makan.

Kualitas bangsa sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta laju pengembangan keduanya. Keduanya melekat pada sumber ilmu pengetahuan : buku dan alam. Buku adalah kumpulan catatan rahasia-rahasia alam, sedang alam adalah sumber ilmu pengetahuan yang perlu diungkap dan ditangkap. Keduanya harus  dibaca. Semakin banyak suatu bangsa berhasil membacanya maka semakin meningkatkan kualitas hidup, budaya, dan peradabannya. Secara umum bisa dikatakan bahwa fungsi pendidikan, adalah dalam rangka meningkatkan kualitas manusia. Mendidik itu tidak lebih dari upaya memanusiakan manusi, dalam arti menaikkan kualitas manusia. Maka sebenarnya hanya manusia yang berkualitaslah yang manpu menjadi manusia. Hanya saja ukuran kualitas itu relatif.

Penulis tidak dapat menggambarkan bagaimana keadaan kualitas lembaga pendidikan pada era globalisasi ini yang dalam proses pendidikan/ pengajarannya kurang ada aktifitas membaca. Yang jelas, semakin sering semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan bersentuhan dengan aktifitas membaca memungkinkan kondisi kualitas lulusan sekolah menjadi baik. Oleh sebab itu, aktifitas membaca jelas tidak dapat ditawar-tawar lagi apabila peningkatan kualitas lulusan benar-benar diinginkan. Kualitas pendidikan bisa dilihat dari manfaat membaca itu sendiri, karena membaca bisa menghantarkan pembaca pada cakrawala yang semakin luas, semakin kritis dan semakin kreatif. Membaca dapat menghantarkan pembaca untuk mampu meneropong jagad raya. Membaca merupakan sarana yang paling empuk dalam memupuk kemampuan nalar. Membaca bisa menghantarkan pembaca dalam memprsiapkan diri menjadi manusia tekno-struktur.

Dan pada dunia pendidikan, efektifitas belajar peserta didik amat ditentukan oleh aktifitas membaca. Semakin banyak buku yang dapat dibaca, semakin luaslah horizon pemikiran mahasiswa terhadap suatu permasalahan.

Kesimpulan

Setidak-tidaknya terdapat tiga macam lembaga pendidikan yang berkewajiban mengupayakan peningkatan minat baca di kalangan pelajar, yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Dasar pemikiran pembagian ini, melihat bahwa para pelajar itu hidup tumbuh dan berkembang dalam tiga lingkungan tersebut. Tanpa mengurangi/menyepelekan peran yang satu dangan yang lain, yang jelas ketiga lingkungan itu perlu menjalin kerja sama yang harmonis dalam upaya meningkatkan gairah membaca. Keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama, berkewajiban menumbuh kembangkan minat baca pada anak sejak usia dini dengan menciptakan suasana membaca yang menyenangkan, memilih untuk anak-anak bacaan yang sesuai dengan tingkat perkembangannya, membangkitkan motivasi kegairahan membaca mereka. Mengadakan tempat khusus sebagai ruang baca perpustakaan keluarga. Mengajak anak-anak melihat pameran buku, mengatur jam sebagai jam belajar/membaca dan bermain. Tugas ini lebih banyak ditekankan pada fungsi orang tua sebagai pendidik. Masyarakat dalam arti luas dituntut berupaya mengadakan pameran buku, mengadakan lomba resensi buku, mengadakan perpustakaan. Pihak penerbit buku dituntut menerbitkan buku-buku yang berkualitas dan harga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Pihak sekolah dituntut memiliki dan mengelola perpustakaan yang menarik, menyenangkan dan tidak membosankan. Pendidik dituntut untuk memberi tugas meringkas buku misalnya, memberi pekerjaan rumah supaya membuat makalah, membuat kliping, dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Covey, Sean. 2001. The 7 Habits of  Highly Effective Teens. Jakarta: Binarupa Aksara.

Mimbar Pembangunan Agama. 1991. Globalisasi Pengaruh Budaya Baca.

Srimulyo, Koko. 1993. Peranan Perpustakaan dalam Minat Baca Umat Islam, Makalah.

Surakhmad, Winarno. 1982. Cara Terbaik Belajar di Universitas. Bandung: Tarsito.

Irianto. 1991. Mengembangkan Minat Baca Anak di Sekolah Dasar, Media Pembinaan Pendidikan, Nomor : 12.

Penulis: Siswahyudianto, S.PdI

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


1 + five =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose