Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan â??Gaulâ?? : Adopsi Trend Dalam Tampilan Layanan

Perpustakaan â??Gaulâ?? : Adopsi Trend Dalam Tampilan Layanan

Zaman telah banyak berubah, kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi/media membawa dampak yang begitu besar terhadap berbagai bidang kehidupan. Trend yang terjadi silih berganti sangat mempengaruhi bentuk gaya hidup masyarakat di hampir semua kelompok umur, dari anak, remaja sampai orang dewasa. Dari tahun ke tahun semua bangsa berupaya untuk maju dan berkembang demi kehidupan yang lebih baik. Segala macam inovasi diciptakan pula untuk kemudahan manusia. Untuk menyambut era globalisasi itu tentu saja semua lembaga harus terus berupaya dalam meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat tidak terkecuali perpustakaan.

Realitas yang masih tergambar oleh banyak orang ketika mendengar kata perpustakaan dan memang itulah fakta adanya adalah kesan ketinggalan zaman, yang ada hanya terlukis layanan klasik yang manual dan sederhanan pada sebuah ruangan atau gedung yang penuh rak-rak kayu dan buku-buku, di sana-sini terlihat tulisan standar harap tenang. Kemudian di salah satu sudut terlihat seorang atau beberapa petugas sedang membaca atau memeriksa data sambil sesekali mengawasi pengunjung di sekitarnya. Di meja panjangnya terlihat buku tamu dan buku-buku katalog yang cukup usang yang mungkin bukan karena lama tetapi akibat terlalu sering di bolak-balik pengunjung serta berbagai kertas prosedural dari perpustakaan tersebut.

Secara keseluruhan gambaran akhirnya yaitu sebuah tempat yang jauh dari keramaian, media serta teknologinya terlalu kuno (old fashion), anti dekorasi serta pernak-pernik yang nampak terlalu formal dan standar. Perpustakaan akhirnya identik dengan layanan yang tidak punya gaya. Sampai ada pameo yang menyebutnya dengan tempat yang kurang gaul. Mungkin inilah yang disebut dengan perpustakaan tradisional yang keberadaanya masih banyak di sekitar kita yang diantaranya bahkan adalah milik negara atau pemerintah daerah.

Fakta keadaan perpustakaan tersebut di atas sepenuhnya tidaklah salah namun tidak tepat rasanya mempertahankan keseluruhan bentuk layanan seperti itu di saat sekarang ini yang notabene sebenarnya bisa lebih diefektifkan sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi fakta yang ada bahwa mayoritas masyarakat kita adalah masyarakat gaul yang sudah cukup melek dan akrab dengan arus globalisasi, bahkan jika dapat disebut ekstrim nampaknya sudah kecanduan untuk terus bergaul dengan trend gaya hidup terkini termasuk perkembangan teknologi dan media.

Perpustakaan selayaknya tidak lagi memberikan model layanan yang sama dari tahun ke tahun tetapi harus menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan penggunanya yang beriringan dengan trend gaya hidup yang terjadi. Kalau tidak mengikuti perkembangan tersebut, perpustakaan akan ditinggalkan penggunanya. Untuk itu perpustakaan harus mereposisi kembali bentuk inovasi layanannya dalam menunjang kebutuhan informasi para penggunanya sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman.

B. Permasalahan

Fondasi filosofi dari perpustakaan tetaplah mesti dijaga dan dipertahankan yaitu sebagai gudang ilmu yang mempunyai peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun seyogyanya metode dan bentuk layanannya tetaplah harus terus berinovasi sesuai dengan zaman yang dilaluinya. Bukankah kita adalah bangsa yang ingin maju atau tidak anti akan moderenisasi. Secara garis besar, pertanyaan penting yang hendaknya menjadi koreksi dari bentuk layanan yang selama ini dibangun adalah seperti bagaimanakah model perpustakaan yang seharusnya diterapkan guna membentuk format perpustakaan yang ideal di saat sekarang ini yang bersesuaian dengan realitas kemajuan masyarakat ?

C. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam artikel ini adalah sebagai berikut :

1.       Mengupayakan bentuk atau model terkini dari layanan perpustakaan yang lebih diminati dan lebih efektif bagi masyarakat secara luas;

2.       Meningkatkan optimalisasi bentuk layanan perpustakaan secara internal untuk membentuk sasaran perpustakaan yang ideal;

3.       Meningkatkan pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat luas sebagai wujud membangun rasa cinta masyarakat terhadap perpustakaan;

D. Landasan Teori

Banyak pendapat dari berbagai pakar bahwa pada kenyataannya konsep perpustakaan seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan media memang telah mengalami pergeseran. Dari sekedar penjaga pengetahuan menjadi penyedia jasa informasi, Perpustakaan bukan lagi sekedar sebuah bangunan yang hampa akan gaya yang hanya menyimpan informasi namun tempat yang memiliki berbagai fungsi serbaguna bahkan dapat dianggap sebagai rumah kedua bagi para pengunjungnya di masa kini dan masa mendatang sebagai sumber untuk mencari informasi.

Ada beberapa pendapat mengacu tentang kekinian perpustakaan, diantaranya Jakovlevas-Mateckis yang menyatakan bahwa perpustakaan di abad ini mestinya bersifat multifungsi, nyaman, selaras dengan lingkungan, demokratis, fleksibel dalam gaya termasuk bentuk bangunan; Tina Hohmann menyatakan adanya perubahan peran dan tugas dari perpustakaan sebagai pasar informasi, lingkungan bekerja dan belajar yang nyaman, akses informasi yang mudah, tempat informasi dan ilmu dengan bangunan kokoh yang tetap memiliki arti filosofi dasar; Stephen Mallinger (2003), seorang Information Resources Officer di Bangkok, mengidentifikasi perpustakaan yang bagus dan efektif yang disebut sebagai the Wining Library yaitu menyesuaikan serta memberikan layanan perpustakaan berdasarkan kebutuhan pengguna sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Akhirnya pendapat Henri Steele Commager perlu penulis kutip sebagai alasan perlunya sebuah terobosan pada layanan perpustakaan, beliau mengemukakan bahwa perubahan tidak selalu membawa kemajuan, tetapi kemajuan selalu membutuhkan perubahan.

E. Pembahasan

Jalan agar perpustakaan kita tetap ideal untuk digunakan banyak orang adalah beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Semakin kita menjauhi perubahan semakin tertinggallah perpustakaan kita, dan akan semakin sulit mengejar ketinggalan tersebut. Dengan kata lain perpustakaan harus gaul dengan kemajuan dan kekekinian yang berada di sekitarnya. Intinya menurut penurut, perpustakaan dan layanannya harus mempunyai trend gaya sehingga punya taste (baca : rasa) bagi masyarakat untuk terus merindukan serta membutuhkannya.

Menurut penulis, perpustakaan dan layanannya selama ini masih terperangkap pada gaya tampilan klasik, tidak berkembang atau cenderung monoton. Perpustakaan tidak mengantisipasi realitas yang berada disekitarnya, bahwa para penggunanya sudah beranjak dewasa dalam hal kebutuhan informasi yang dibarengi dengan semakin berwarnanya gaya hidup serta meningkatnya selera akan layanan inovatif dan kreatif. Segala sesuatunya jika memungkinkan harus punya nilai lebih untuk dapat memancing ketertarikan mereka. Inovasi dan kreatifitas dalam tampilan atau gaya layanan mutlak dilakukan sehingga perpustakaan tetap punya taji untuk tetap terus disebut gaul sehingga tetap dilirik oleh penggunanya.

a.       Perpustakaan Sebagai Gedung

Arsitektur bangunan perpustakaan merupakan bagian penting karena bangunan memberikan ketertarikan awal bagi pengunjung. Mengapa tidak, bahwa suatu saat nanti perpustakaan umum mengadopsi desain bangunan mall. Desain yang cantik dan luas yang mumpuni menampung semua aktivitas layanan kebutuhan informasi dan ilmu beserta segala kebutuhan sekunder lainnya yang bisa disediakan. Konsep desain perpustakaan juga bisa meniru seperti toko dengan kaca sebagai pintu depan dimana bagian dalam perpustakaan dapat dilihat dari luar sehingga dapat melukiskan tampilan elegan yang saat ini menjadi trend.

Perpustakaan ideal di zaman terkini ini hendaknya merupakan gabungan dari berbagai fungsi kehidupan dalam pergaulan masyarakat. Sebuah perpustakaan semestinya menjadi tempat yang multifungsi, dimana kita bisa merasa nyaman untuk belajar, bekerja, berinteraksi dengan teman, memperoleh buku, informasi, pelayanan, teknologi dan menemukan hal-hal baru lainnya. Diperlukan munculnya ruang-ruang baru yang tercipta dari bentuk pelayanan non-tradisional perpustakaan (pelayanan pendidikan, komersil, rekreasi, dan hiburan). Hampir semua ruang dipersiapkan untuk pelayanan pengunjung dengan berbagai peralatan sesuai kebutuhan. Bentuk pelayanan berubah dari pelayanan massal menjadi pelayanan kelompok bahkan individu. Oleh karena itu, diperlukan ruang-ruang diskusi kelompok pribadi dengan fasilitas koneksi internet, white board dan berbagai multimedia dalam ruang yang kedap suara. Ruang lainnya dapat berupa ruang kosong yang dapat diset sesuai keinginan pemakai, ruang seminar, ruang multimedia, ruang pelatihan, ruang bermain, ruang baca (quite room), ruang informasi, ruang informasi budaya bagi turis lokal maupun internasional, ruang rapat, ruang internet, dan ruang lainnya yang dapat saling mendukung dalam pelaksanaannya. Selain menjadi tempat peminjaman buku pada masyarakat, perpustakaan dalam skala luas juga dapat mengakomodir layanan lain yang faktanya juga menjadi kebutuhan sekunder lainnya seperti layanan cetak dan fotokopi, penjualan peralatan sekolah, kantin ataupun cafe, penjualan pernak-pernik atau merchandise, ataupun layanan penjualan pulsa yang akhir-akhir ini seperti menjadi kebutuhan utama banyak orang.

Kompleksnya ruang perpustakaan masa mendatang, memerlukan suatu wilayah yang cukup luas dan dana yang besar dalam pengaplikasiannya, belum lagi pengadaan media teknologi informasi yang lengkap. Suatu cita-cita yang     sia-sia bila tidak dapat direalisasikan, namun perpustakaan umum/daerah masa mendatang akan menjadi aset daerah melalui kerja sama dengan pihak-pihak terkait yang mendukung perkembangan perpustakaan tersebut.

Perpustakaan umum haruslah memiliki daya tarik tersendiri, misalnya dengan penyediaan informasi bersifat personal. Penyediaan gedung dan ruang baca harus ditata sedemikian rupa agar nyaman dan membuat pengunjung betah, yang tak selalu harus bernuansa terlalu akademis. Konteks nyaman yang dimaksud misalnya penataan yang memperhatikan kebutuhan individu. Fakta bahwa sekarang ini tidak semua orang yang ingin ruang sunyi ketika membaca, banyak orang yang suka membaca sambil mendengarkan slow music ataupun sambil makan makanan kecil. Layanan kantin sepertinya dapat dipertimbangkan untuk mengakomodir hal tersebut. Hal di atas jelas dapat membantah bahwa perpustakaan hanya berupa ruangan sepi berisi buku disertai meja dan kursi layaknya di sekolah atau kampus. Tidak semua orang senang dengan suasana seperti itu. Ada orang yang tidak kuat duduk tegak di kursi berlama-lama dan perlu selonjoran, dan sebagainya. Hal-hal kecil seperti itu semua harus diperhatikan sebagai cerminan layanan gaul yang kreatif.

Penataan warna interior gedung dan ruang baca juga tidak harus monoton dengan warna standar. Hal ini terkait dengan keindahan dan tingkat kelelahan mata saat membaca di perpustakaan lebih tinggi dari tempat lain. Dapat dipilih warna-warna dinding yang menarik, tidak harus selalu putih. Banyak pakar desain interior yang menyatakan bahwa tidak jarang nuansa warna yang dihadirkan menentukan setengah dari gairah dan suasana hati sang pembaca. Selain itu tampilan dari tulisan-tulisan standar yang biasanya ada di perpustakaan bisa diganti dengan teknologi sederhana namun lebih terlihat memikat yaitu dengan penggunaan tampilan elektronik (display electronic) tulisan berjalan (running text). Ataupun misalnya mengapa tidak di dalam gedung atau ruang-ruang baca dipasang pernak-pernik lukisan, dekorasi-dekorasi unik, display layar plasma yang berisi info-info penting, info buku, berita tv, ataupun iklan dan video seperti yang ada di showroom mobil, toko-toko buku terkemuka ataupun bank. Inovasi tampilan seperti ini setidaknya dapat menghadirkan sebuah paket layanan yang lebih bergaya dan lebih memikat.

b.      Perpustakaan Sebagai Pusat Layanan Informasi

Layanan internet pada saat ini menjadi alternatif utama hampir sebagian besar orang dalam memburu sebuah informasi dan sudah menjadi trend gaya hidup baru hampir sebagian besar orang. Perpustakaan perlu mengupayakan pengadaan layanan internet yang dapat berfungsi sebagai penunjang atau pendamping dari koleksi buku yang ada untuk pencarian informasi yang dibutuhkan oleh para pengunjung. Mereka dapat terbantu memilih atau mencari referensi pustaka yang tepat sebelum memutuskan untuk meminjam atau membacanya. Maka sepantasnya jika sekarang perpustakaan harus sudah mulai merintis katalog online dan pembuatan situs perpustakaan. Konsep informasi koleksi pustaka dengan sistem online akan semakin memanjakan para pengguna, jadi dimanapun dan kapanpun masyarakat dapat dengan leluasa mengakses bahan pustaka apa yang dapat mereka cari sebelum berkunjung.

Khusus target pengunjung dari perpustakaan yang berasal dari kalangan anak dan remaja, maka perlu dipertimbangkan menyediakan pelayanan pembelajaran yang lebih friendly bagi mereka, seperti: story-telling, toy library, coffee-lounge, ruang belajar individu dan kelompok, menonton video, serta ruang diskusi tugas. Desain luar dan dalam perpustakaan ini dirancang semenarik mungkin untuk menarik perhatian, karena melayani kelompok usia muda haruslah dengan pendekatan yang lebih gaul menurut usia mereka.

Berdasarkan pada fakta bahwa seiring dengan perkembangan teknologi dan media, nampaknya perpustakaan wajib melirik dan mencari inovasi baru untuk mengantisipasi bahwa dengan berjalannya waktu maka koleksi pustaka yang ada tidak hanya melulu dari segi koleksi fisik saja. Koleksi pustaka non buku juga terus perlu diusahakan. Beberapa tambahan lagi layanan gaul yang patut diperhitungkan untuk segera dihadirkan, saat ini gejala electronic book (e-book) atau buku elektronik mulai booming dan menjadi sesuatu yang perlu direspon.     E-book pada saatnya nanti akan trend yang tak bisa dipungkiri untuk mendampingi koleksi buku dalam hal kepraktisan. Perpustakaan bisa mencoba layanan ini dengan menawarkan jurnal atau buku elektronik dengan cara berlangganan online. Selain hal tersebut, perpustakaan kini harus mencoba menyediakan dan menata koleksi non buku lainnya, seperti CD ROM atau kaset. Dalam format data digital tidak hanya memuat dokumen atau buku tetapi juga termasuk multimedia seperti rekaman audio dan video.

F. Kesimpulan Dan Saran

Banjir informasi dan kebutuhan perkembangan ilmu semakin terasa dampaknya. Di sana-sini orang membutuhkan dan terus mencarinya. Perpustakaan pun hadir untuk mengakomodirnya. Layanannya diharapkan sejalan dengan perkembangan zaman yang terjadi disekitarnya yang menjadi gaya hidup pergaulan di sekitarnya, termasuk teknologi, media, dan trend gaya. Tidak pantas rasanya dengan perkembangan itu, perpustakaan terus berdiam diri dengan layanan konvensional. Apakah perpustakaan dapat menjamin pelanggan tetap terpuaskan dengan layanan yang selalu monoton dan kurang terjamah teknologi. Semua tantangan ini patut dijadikan perhatian untuk melangkah kepada perpustakaan yang mempunyai daya saing berkualitas. Satu hal yang pasti, hampir semua atau sebagian besar orang telah hidup dengan perkembangan zaman.

Layanan yang diidamkan para pengguna saat ini adalah layanan yang terkini yang lebih inovatif, kreatif, fleksibel, sesuai trend, nyaman dan yang paling penting adalah kepraktisan. Intinya, layanan gaul yang memudahkan pergaulan mereka dalam aktivitasnya di percaturan peradaban. Layanan yang dimaksud tersebut menurut penulis bisa diartikan bahwa perpustakaan tidak cukup dengan menghasilkan produk yang baik saja, tetapi suguhan menarik juga diperlukan. Dengan kreativitas akan memunculkan aktivitas-aktivitas yang selalu menguntungkan pengguna. Dengan harapan melalui kreativitas, pengguna akan merasa betah dan tertarik untuk selalu memanfaatkan serta datang kembali ke perpustakaan. Sehingga akhirnya perpustakaan adalah menjadi sebuah paket menarik.

Perpustakaan gaul bisa diartikan dalam konsep fisik dan jasa atau layanannya. Dalam konteks fisik, perpustakaan sepantasnya dapat mulai mewarnai dirinya dengan lebih kreatif. Perpustakaan sebenarnya sudah harus terlepas dari gambaran klasik yang terlalu standar, monoton atau terkesan formal. Intinya bahwa secara fisik perpustakaan harus punya gaya, tidak terkungkung dalam aturan tampilan tertentu. Biarkan trend tampilan terbaru menjadi calon adopsi gaya perpustakaan, baik runag, desain, dekorasi, maupun pernak-pernik lainnya. Di sisi lainnya, konsep gaul harus muncul dari sisi layanan. Layanan perpustakaan harus disesuaikan dengan trend kebutuhan para penggunanya, jika memungkinkan sebuah perpustakaan bisa menampung banyak aktivitas sekunder lain yang menjadi kebutuhan mereka. Intinya perpustakaan harus multifungsi yang bisa mencakup pelayanan informasi, pelayanan pendidikan, komersil, rekreasi, dan hiburan. Pemanfaatan teknologi dan media mutlak dilakukan, sarana gaul para pengguna sangat penting untuk disediakan. Namun kesemuanya haruslah ditopang dengan inovasi dan kreativitas, kehadirannya tetap harus menghadirkan nuansa filosofi dasar dari perpustakaan, kemajuan teknologi dan media serta sarana gaul lainnya hanya bersifat sebagai alat bantu menciptakan perpustakaan yang ideal di zaman yang dilaluinya.                                                            

Referensi Pustaka

Ernawati, Endang. (2003). Pengembangan Perpustakaan Digital Dalam Mendukung Pembelajaran Elektronik di Universitas Bina Nusantara. Makalah Seminar Peran Perpustakaan Perguruan Tinggi Dalam Mendukung e-Learning. Tanggal 23 April 2003 di Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Evans, G. Edward and Zarnosky, Margaret R. (2000). Developing Library and Information Center Collections. Libraries Unlimited. Englewood, Colorado

Hohmann, Tina. New Aspects of Libraries Design. http://www.zhbluzern.ch/liber-lag/PP_LAG_06/Wednwsday/Hohmann_LibDesign-oA.pdf

Jakovlevas-Mateckis, dkk. Conceptual Principles of the Planning of the Modern Public Libraries. http://www.zhbluzern.ch/LIBER-LAG/PP_LAG_04/Thursday/K_Jakovlevas-Mateckis/Venice1.pdf

Munandar, Utami. 2002. Kreativitas & Keberbakatan : Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Wen, Sayling. 2003. Future of Education. Alih bahasa : Arvin Saputra. Batam : Lucky Publishers.

Sudarsono, B. Peran Pustakawan di Abad Elektronik: Impian dan Kenyataan.Makalah Seminar Sehari Peran Pustakawan di Abad Elektronik: Impian dan Kenyataan. Tanggal 2 Juni 2000 di PDII-LIPI, Jakarta.

Penulis: ANDI MULAWARMAN, SKM

BTN MINASA UPA BLOK D 6 NO. 15 , RT 3 RW 7 KEL. GUNUNG SARI, KEC.  RAPPOCINI, KOTA MAKASSAR, SULAWESI SELATAN, 90221

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


− one = 5

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose