Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan Berhadiah Sebagai Wahana Untuk Membangun Kesadaran Membaca Bagi Masyarakat Indonesia

Perpustakaan Berhadiah Sebagai Wahana Untuk Membangun Kesadaran Membaca Bagi Masyarakat Indonesia

Budaya malas belajar masih menghinggap di negeri yang sedang berkembang ini. Hasil sensus penduduk 1990 di Indonesia, menunjukkan bahwa 29% penduduk masih buta aksara, dan 39% tidak memahami bahasa Indonesia. Sampai saat ini, di desa-desa masih terlihat ibu-ibu dan bapak-bapak yang buta aksara. Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh ibu-ibu Muslimat desa Padaan kabupaten Semarang, menyatakan bahwa dari 20 peserta belajar ada tujuh orang yang belum dapat membaca dan menulis. Padahal, masih banyak lagi kaum ibu di desa itu yang sebenarnya belum dapat membaca dan menulis tetapi tidak mau mengikuti kegiatan belajar bersama Pemberantasan Buta Aksara (PBA) itu dengan berbagai macam alasan.

Pembelajaran untuk membaca memang seharusnya diupayakan sejak dini. Anak yang dilatih dari kecil akhirnya dapat membaca dengan lancar. Sedangkan pada ibu-ibu, mereka sudah merasa terlambat untuk belajar. Ibu-ibu dan orang tua juga memiliki urusan yang lebih kompleks sehingga dapat dimaklumi jika kesulitan untuk menerima ilmu baru membaca dan menulis. Padahal dengan dapat membaca dan menulis, jendela dunia dapat terbuka. Apalagi untuk kaum ibu, dari kegiatan membaca mereka dapat mengatasi  berbagai persoalan yang terjadi di sekelilingnya. Jika ibu-ibu maju, keturunannya juga akan cepat berkembang.

Golongan yang dapat disalahkan bukanlah golongan terdahulu yang telah membuat orang tua tersebut tidak dapat membaca dan menulis. Golongan sekaranglah yang seharusnya turun tangan dengan memperbaiki generasi muda yang akan meneruskan bangsa. Ironisnya, golongan ini adalah orang yang sudah memiliki kemampuan membaca akan tetapi tidak memanfaatkannya secara maksimal. Kita lihat saja di jalur formal, peserta didik rata-rata akan pergi ke perpustakaan saat ada tugas dari guru atau dosen. Mereka memang masih perlu pengarahan untuk pergi ke perpustakaan. Jika tidak ada tugas, rata-rata yang dilakukan mereka bukanlah pergi ke perpustakaan. Mereka lebih sering menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan teman-temannya sekadar ngobrol yang tidak jelas tujuannya kemana, ke kantin, bermain HP (SMS-an, Chatting, Face Book, dan lain-lain), dan ada sebagian kecil yang ke Perpustakaan, itupun karena alasan tertentu, yang hanya ingin mengisi waktu luang saja dan tidak menganggap membaca itu suatu kebutuhan yang pokok.

Bukan hanya pada kalangan siswa dan mahasiswa, masyarakat umum juga lebih tertarik untuk beraktivitas selain membaca buku. Kita lihat saja, anak-anak dapat berjam-jam bermain dan menonton televisi, sementara membaca buku hanya beberapa menit saja, itupun paksaan dari orang tua untuk belajar. Padahal, membaca buku memiliki manfaat yang luar biasa. Hanya dengan duduk melihat tulisan-tulisan yang ada di buku, berbagai macam pengetahuan yang ada di dunia dapat terjamah. Sementara itu, para orang tua juga biasanya hanya menyuruh anak membaca buku-buku pelajaran. Orang tua tidak mengajak anaknya pergi ke perpustakaan umum untuk mengenalkan buku-buku pengetahuan yang menarik untuk dibaca.

Berbagai alasan memang, mengapa orang tua tidak mengajak anaknya berkenalan dengan buku-buku di perpustakaan umum. Yang pertama adalah faktor kesibukan dari orang tua sendiri terhadap pekerjaannya dan hal-hal lain mencakup kemasyarakatan yang bersinggungan dengan orang tua tersebut. Untuk orang tua pada golongan ekonomi menengah atas, mereka banyak menghabiskan waktu di kantor, sementara untuk anaknya difasilitasi berbagai  keperluan sekolahnya, belajar tambahan di luar sekolah, dan berkumpul keluarga ke suatu tempat (pusat wisata, supermarket, dan lain-lain). Mereka tidak sempat menjamah perpustakaan. Sedangkan para orang tua golongan menengah kebawah, mereka cenderung lebih banyak mengurusi pekerjaannya yang berat namun penghasilannya pas-pasan. Masalah perkembangan pendidikan anak tidak terlalu dipersoalkan, yang penting anak itu sudah disekolahkan. Sehingga urusan untuk mengajak ke perpustakaan pun tidak pula terjamah.

Selanjutnya, para gadis remaja juga sibuk untuk menghabiskan waktunya di mal dan pusat perbelanjaan. Sangat jarang melihat mereka pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Padahal perpustakaan sudah berusaha menyediakan buku-buku terbaru dan terlaris. Perpustakaan hanya menjadi tempat pajangan bagi daerah. Masyarakat akan ke perpustakaan saat butuh saja. Tidak banyak  orang yang secara sungguh-sungguh ke perpustakaan untuk menimba ilmu.

Semua pihak telah berupaya agar masyarakat rajin ke perpustakaan untuk menimba ilmu. Pemerintah sendiri sudah membangun perpustakaan-perpustakaan besar dan memberinya banyak fasilitas meskipun masih ada beberapa yang kurang lengkap. Beberapa guru telah mengarahkan muridnya, dan pihak lembaga perpustakaan sudah berusaha untuk memajukannya dengan merawat dan menerbitkan buku-buku baru. Namun yang terlihat bukanlah demikian. Perpustakaan-perpustakaan di negara kita belum berkembang dengan baik, baik kuantitas pengembangan budaya baca karena pada umumnya mutu dan jangkauan pelayanannya masih rendah dan belum merata.

Manfaat perpustakaan sangatlah besar, namun kebiasaan membaca masyarakat belum tercapai. Untuk itu perpustakaan perlu mencari cara yang cerdas guna menarik perhatian masyarakat agar mau berkunjung dan meluangkan banyak waktunya di perpustakaan. Meski beberapa pihak telah berusaha, namun budaya tidak bergairah untuk menggauli buku tetap saja terjadi.

Solusi yang dapat ditawarkan adalah dengan membuat program yang selama ini belum pernah dicanangkan. Program ini diharapkan mampu menggugah masyarakat dan membangkitkan jiwa-jiwa acuh tak acuh mereka terhadap perpustakaan. Program yang akan membuat semangat para pembaca semakin berkobar yaitu Perpustakaan Berhadiah. Perpustakaan berhadiah adalah suatu program yang ditujukan untuk menarik masyarakat agar mau berkunjung ke perpustakaan yang bersangkutan. Selama ini, gerak-gerik perpustakaan yang ada belum pernah kelihatan gregetnya.

Greget perpustakaan jangan hanya sampai pada pembuatan sarana dan prasarana yang baru. Fasilitas baru namun tidak diimbangi dengan kuantitas pengunjung yang meningkat, maka perpustakaan itu berfungsi sebatas pajangan belaka, pengisi kekosongan kota.

Jika digencarkan melalui media televisi, para penonton pasti akan heran dan minimal mau menengok perpustakaan yang kaya akan sumber pengetahuan. Dengan diperkenalkannya perpustakaan berhadiah, mereka akan bertanya-tanya dan mencari tahu mengenai perpustakaan itu. Mereka juga akan mencoba menjajaki buku-buku meski awalnya hanya tertarik dengan iming-iming hadiah. Namun harapan besarnya adalah terciptanya kesadaran sehingga membentuk budaya membaca masyarakat Indonesia yang merata dan kontinyu.

Adapun dalam praktek pelaksanaan perpustakaan berhadiah itu sendiri, tahap yang harus dilaksanakan adalah: pertama, sosialisasi akan adanya program perpustakaan berhadiah. Sosialisasi akan menginformasikan kepada masyarakat mengenai program yang menguntungkan ini, Melalui kegiatan sosialisasi ini, masyarakat akan mengenal beberapa manfaat ke perpustakaan, pentingnya ke perpustakaan dibanding tempat-tempat lain yang belum pasti, membujuk serta mempengaruhi masyarakat terutama anak muda bahwa yang gaul bukanlah di kafe dan diskotik, namun tempat gaul adalah perpustakaan. Jika perlu, sosialisasi tidak hanya dilakukan dengan media televisi. Justru kebanyakan anak muda banyak yang mendengarkan musik dari radio yang ada di hanphonenya. Dengan menyisipkan sosilisasi ini, mereka akan lebih terfokus mendengar informasi yang disampaikan dari radio tersebut.

Dan tentunya, perpustakaan berhadiah juga mensosialisasikan program dengan membuat spanduk berisi poster Ayo Kunjungi Aku karena Aku Berhadiah. Di dalam poster juga diberi keterangan, kapan perpustaaan akan memilih siapa yang dinyatakan rajin sehingga ia terpilih.

Zaman memang semakin canggih. Masalah sosialisasi saja sangat mudah dilakukan karena semakin banyak pula media dan cara yang bisa digunakan. Apalagi jika pemerintah melalui dinas pendidikan dan kebudayaan yang terjun secara  langsung untuk mengumumkan, secara otomatis sosialisasi dapat meluas sampai ke desa-desa dan golongan orang tua. Masalah bentuk hadiahnya apa, cukup disampaikan seperlunya dan tidak disosialisasikan secara mendalam. Hadiah cukup diiming-imingkan dulu dengan mengatakan bahwa pengunjung perpustakaan yang terpilih akan mendapat hadiah berupa bingkisan menarik dan kenang-kenangan sebagai pencinta buku-buku perpustakaan. Di dalam sosialisasi, juga perlu dijelaskan sedikit mekanisme bagaimana perpustakaan memilih sosok yang pantas mendapat hadiah. Caranya, dengan hadir di perpustakaan dan  mengisi buku presensi yang ada dan di dalamya secara otomatis memuat nama, alamat, dan nomor telefon, pustakawan akan lebih mudah menghubunginya.

Setelah pelaksanaan sosialisasi perpustakaan berhadiah,  kegiatan selanjutnya adalah seperti apa yang dilakukan pustakawan pada umunya. Mereka bertugas menjaga perpustakaan dan mengontrol presensi atau buku kehadiran pengunjung. Selain itu, petugas perpustakaan  mendapat kepercayaan untuk mengamati wajah-wajah yang sering berkunjung. Tidak hanya mereka yang sekadar datang lalu pergi, pustakawan melihat dari kesungguhan pengunjung untuk mencintai buku.

Setelah waktu yang ditentukan tiba, petugas memilih beberapa orang yang terajin dan kemudian menghubunginya. Tentunya saat pembagian hadiah ini yang terpenting adalah pendokumentasian. Dokumentasi ini dapat dijadikan sebagai fakta kejadian dan membuktikan bahwa program benar-benar berjalan. Bagi mereka yang beruntung akan mendapat hadiah, dan bagi yang belum diharapkan untuk terus aktif agar pada periode berikutnya dia bias berhasil.

Setiap program yang dilakukan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, program ini mampu menghidupkan hati masyarakat yang kebanyakan menganggap perpustakaan itu adalah tempat pada nomor kesekian. Mereka yang mendengar bahwa perpustakaan akan beraksi setidaknya menunjukkan perhatiannya dan mengalihkan pandangannya untuk mencoba. Dengan belum pernah ada program baru ini sebelumnya, hal ini akan sangat menarik untuk ditindak lanjuti guna menarik kembali kobaran api pembaca dan mampu mengguncang masyarakat.

Kelemahan dari program ini adalah terkait dengan masalah dana. Ada beberapa perpustakaan yang buku-bukunya masih lawas karena belum ada anggaran untuk membeli buku-buku baru. Namun di beberapa tempat fasilitas perpustakaan sudah tersedia. Hanya saja, pengunjungnya yang tidak banyak. Dana untuk program ini cukup dianggarkan oleh masing-masing daerah. Dana antara lain dibutuhkan dalam proses sosialisasi dan pemberian hadiah.

Penulis: ARIFATUL FAIZAH

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ two = 8

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose