Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan Dan Tantangan Membangun Masyarakat Di Era Global

Perpustakaan Dan Tantangan Membangun Masyarakat Di Era Global

Globalisasi mendesakkan tuntutan-tuntutan yang berorientasi pada kemajuan. Hal ini akan mempengaruhi masyarakat yang nantinya terlihat pada cara mereka menerima perubahan. Salah satu persoalan yang tak mungkin dihindari dalam proses menjadi global adalah kemungkinan terkikisnya nilai-nilai budaya yang telah menjadi bagian dari masyarakat suatu bangsa. Mereka harus berhadapan dengan keputusan untuk sukarela meninggalkan nilai-nilai budaya yang akan menghalangi jalan menuju kemajuan atau menerima perubahan itu sebagai suatu bentuk keterpaksaan.

Kesenjangan-kesenjangan yang mungkin timbul di dunia yang terus-menerus berubah mengakibatkan sebagian orang akan terpinggirkan dalam kancah persaingan global. Dalam hal ini, ketrampilan literasi menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat agar mampu berpartisipasi dalam memberikan keputusan sosial secara bertanggung jawab dan menyumbangkan pemikiran kritis yang dibutuhkan dalam upaya mengejar ketertinggalan. Ketrampilan literasi dalam masyarakat modern berkaitan dengan kemampuan seseorang menyampaikan aspirasinya sebagai anggota masyarakat.

Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju. Usaha mewujudkan masyarakat yang mampu menghadapi tantangan di era global akan berjalan lancar dengan didukung keberadaan sebuah perpustakaan yang diposisikan sebagai media pencerahan bagi masyarakat. Pengadaan perpustakaan sebagai media pencerahan akan mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses belajar secara kolektif menjadi masyarakat yang mampu bersikap bijak dalam menentukan nilai-nilai budaya yang harus dipertahankan dan nilai-nilai budaya yang sudah tidak relevan bagi perkembangan ke arah kemajuan.

PERMASALAHAN

Kemampuan masyarakat mempertahankan nilai-nilai yang menyokong kemajuan dan menghilangkan nilai-nilai yang menghalangi kemajuan mempengaruhi penerimaan mereka terhadap hal-hal baru yang ditawarkan dunia yang berubah. Feodalisme yang menjadi ciri masyarakat Indonesia sebelum beralih ke sistem demokrasi meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Di era global, demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan mengemukakan pendapat menjadi indikator perkembangan politik suatu negara. Akan tetapi, demokrasi bukan merupakan sesuatu yang dapat dicapai dengan hanya mengadopsi aturan-aturan yang sama.

Suatu usaha untuk mengubah karakter budaya masyarakat yang sebelumnya tidak demokratis menjadi masyarakat yang demokratis tidak terbatas pada keberhasilan memberantas buta huruf. Tindak lanjut ke arah masyarakat demokratis yang mampu menghadapi tantangan di era global tanpa harus kehilangan Volksgeist yang telah melekat pada suatu bangsa menuntut usaha yang jauh lebih terarah dan sesuai dengan situasi yang dihadapi masyarakat. Perpustakaan umum sebagai ruang publik yang terbuka untuk semua kalangan memainkan peran penting.

Sebagian besar perpustakaan cenderung dimaknai hanya sebagai tempat penyimpanan buku. Perpustakaan umum hendaknya dapat menjadi ruang publik yang menyediakan sarana pembelajaran tentang realitas yang dihadapi masyarakat dan pencarian solusi atas masalah-masalah baru yang muncul dalam penerapan sistem demokrasi. Inti persoalannya, hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan umum agar dapat memenuhi tuntutan membangun masyarakat yang dihadapkan pada keharusan untuk terlibat dalam proses perubahan ?

TUJUAN

Usaha membangun masyarakat di era global hendaknya didukung dengan upaya mengoptimalkan peran perpustakaan umum sebagai media yang dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat. Hal ini perlu dilakukan dengan tujuan memberi gambaran tentang pentingnya perpustakaan sebagai sarana pembelajaran yang mendukung pemberdayaan masyarakat dan alternatif solusi bagi masyarakat agar dapat memberikan penilaian tentang sejauhmana demokrasi yang diterapkan di negeri ini memberikan ruang kebebasan berpikir bagi masyarakat.

LANDASAN TEORI

David Landes, Francis Fukuyama, Samuel P. Huntington, dan para penggagas teori modernisasi lainnya dalam kumpulan tulisan tentang nilai-nilai yang membentuk kemajuan manusia, Culture Matters: How Values Shape Human Progress (terjemahan: Kebangkitan Peran Budaya: Bagaimana Nilai-nilai Membentuk Kemajuan Manusia, 2006), berpendapat bahwa kekuatan budaya yang bisa menghalangi atau mendukung kemajuan seringkali diabaikan dalam kebijakan pembangunan bangsa-bangsa di negara berkembang. Kenyataan yang tidak dapat disangkal, negara-negara berkembang masih menghadapi masalah kesenjangan sosial.

Kesenjangan dalam mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan kesempatan mendapatkan penghidupan yang layak menyebabkan sebagian masyarakat mengalami kesulitan ketika harus mengikuti arus perubahan. Upaya untuk menghapus kesenjangan di masyarakat membutuhkan sarana pembelajaran yang mendukung pemberdayaan masyarakat. Sistem demokrasi yang seharusnya merupakan suatu bentuk perubahan yang lahir dari hati nurani rakyat menuntut keputusan tidak hanya diambil berdasarkan suara terbanyak tetapi juga didasari kesadaran masyarakat dalam memahami makna demokrasi.

Masalah tersebut mungkin dapat diatasi dengan menghadirkan perpustakaan sebagai institusi yang mampu menjembatani kesenjangan antara mereka yang berpendidikan dan mereka yang tidak berpendidikan. Salah satu tujuan kepustakawanan menurut Prof. Dr. Sulistyo Basuki dalam Pengantar Ilmu Perpustakaan (1991) adalah pendidikan, artinya perpustakaan adalah tempat belajar seumur hidup. Masyarakat membutuhkan akses fisik yang dapat membantu mereka memahami hal tertentu pada budaya yang menghalangi keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan apa yang harus mereka lakukan untuk memahami perubahan.

Masyarakat yang berada dalam masa transisi membutuhkan forum yang dapat menggerakkan partisipasi publik. Menyinggung konsep Jürgen Habermas tentang ruang publik, ruang komunikasi yang terbentuk ketika dua orang atau lebih menjalankan proses komunikasi membantu masyarakat memahami cara-cara prosedural dalam penyelesaian masalah untuk kepentingan bersama. Indonesia membutuhkan institusi sosial seperti perpustakaan sebagai media pencerahan yang membantu memantapkan modal sosial masyarakat seperti musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan.

Analisis kritis masyarakat terhadap persoalan yang menyangkut kepentingan publik tergantung pada tingkat kesadaran masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya. Usaha mendorong masyarakat untuk mengaktualisasikan perannya dalam berdemokrasi seharusnya mudah diwujudkan mengingat tingkat melek huruf di Indonesia berdasarkan 2007/2008 Human Development Report sebesar 90,4 persen. Denise Lievesley dan Albert Motivans dalam Examining the Notion of Literacy in a Rapidly Changing World mengungkapkan peranan literasi selain meningkatkan taraf hidup dan mendukung upaya mempertahankan identitas kebudayaan adalah menguatkan partisipasi masyarakat.

Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat berkaitan dengan adanya hal-hal tertentu dalam proses pembangunan yang tampaknya remeh namun cenderung diabaikan. Berkaitan dengan masalah pemberantasan buta aksara di Indonesia yang menonjol pada era Orde Baru, pemberantasan buta aksara tidak diikuti dengan usaha pengembangan pemikiran kritis. Kecenderungan semacam itu bisa dipahami mengingat Orde Baru tidak memberikan toleransi pada pihak-pihak yang memiliki pemikiran yang tidak sepaham dengan penguasa. Model kebijakan yang dikembangkan pemerintah Orde Baru tersebut tampaknya berhasil memandulkan bakat kritis sebagian masyarakat yang terpendam. Akibatnya, bangsa ini sulit melepaskan diri dari penjajahan secara mental.

Hingga saat ini, kesadaran untuk memberdayakan perpustakaan sebagai tempat pembelajaran juga masih kurang. Kerala, negara bagian di India yang dikuasai oleh Communist Party of India-Marxist (CPIM), justru berhasil menunjukkan pada dunia bahwa perpustakaan memiliki arti penting bagi upaya pemberantasan buta huruf, penyediaan kesempatan untuk pendidikan lanjutan bagi rakyat, sarana memperkuat pendidikan non-formal, dan media yang menjembatani aktivitas pembangunan. Kerala yang mencapai tingkat melek huruf tertinggi di India (91 persen) pada sensus 2001  berhasil menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik untuk pencerahan, pendidikan politik, dan pembebasan bagi mayoritas kelas tertindas (Kompas, 8 Februari 2007).

Tradisi literasi mendorong masyarakat untuk tumbuh dan berkembang ke arah kemajuan. Perpustakaan umum sudah saatnya diberdayakan sebagai institusi sosial yang memiliki peranan dinamis dan tidak hanya dijadikan sebagai tempat menampung buku atau materi bacaan lainnya. Tumbuh dan berkembangnya sebuah perpustakaan di tengah masyarakat ditentukan oleh ada tidaknya kemungkinan menemukan bentuk ideal yang dapat membuatnya bertahan dari masa ke masa.

PEMBAHASAN

Peran perpustakaan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Jepang terkait erat dengan kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tersebut, demikian diungkapkan oleh Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar dalam ceramah pada Kongres Kelima Ikatan Pustakawan Indonesia pada 2629 September 1989. Masyarakat di negara-negara maju telah menyadari pentingnya informasi dan ilmu pengetahuan untuk mendukung segala bentuk aktivitas keseharian mereka. Terkait dengan hal itu, perpustakaan di negara-negara maju memainkan peran utama sebagai penyedia sarana informasi yang dapat diandalkan.

Kompleksitas persoalan di masyarakat yang menghadapkan masyarakat pada keharusan untuk mengambil keputusan membutuhkan sarana penyedia informasi yang dibutuhkan dalam proses tersebut. Di Indonesia, kesadaran akan fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi yang masih sangat rendah menurut beberapa kalangan membutuhkan penanganan yang serius. Perpustakaan di negeri ini sudah seharusnya mulai diberdayakan untuk membangun kesadaran masyarakat untuk memahami realitas yang mereka hadapi dan berbagai kemungkinan untuk memecahkan persoalan yang menuntut tanggung jawab bersama.

Keterlibatan masyarakat untuk memilah hal-hal baik dan hal-hal buruk dalam nilai-nilai budaya terletak pada kepekaan mereka untuk merasakan kebebasan mengungkapkan pikiran. Perpustakaan umum yang dimanfaatkan sebagai media pencerahan berperan penting. Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan umum yang dihadapkan pada tantangan untuk membangun masyarakat di era global antara lain dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu:

1. Mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan

Keharusan untuk mengubah cara pandang masyarakat adalah masalah mental. Kelemahan mental merupakan bentuk-bentuk dari pengaruh konsep atau pandangan lama yang telah mengendap dalam alam pikiran individu. Selama ini, masyarakat cenderung beranggapan perpustakaan hanya diperuntukkan bagi mereka yang berpendidikan dan memiliki minat baca-tulis yang tinggi. Oleh karena itu, upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan berkaitan erat dengan kebutuhan untuk merancang bentuk perpustakaan yang mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Masyarakat telah mengenal perpustakaan sekolah, perpustakaan di lingkungan universitas, dan perpustakaan-perpustakaan khusus lainnya sebagai penyedia materi bacaan. Namun, keberadaan perpustakaan semacam itu hanya mungkin diakses oleh kelompok masyarakat tertentu dengan bekal ketrampilan literasi yang memadai. Perpustakaan umum yang terbuka untuk semua kalangan perlu dibangun sebagai ruang publik yang memungkinkan masyarakat dapat berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Materi bacaan yang disediakan meski terbatas sebisa mungkin dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan informasi yang benar.

2. Memperluas penyebaran perpustakaan

Komitmen untuk membangun masyarakat yang memiliki ketrampilan literasi berkualitas madani menuntut keberadaan perpustakaan di beberapa titik strategis yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Pengadaan perpustakaan di desa-desa yang disinergikan dengan organisasi kemasyarakatan setempat seperti PKK, Karang Taruna, Pemuda Masjid, dan bentuk-bentuk paguyuban lainnya perlu menjadi bahan pertimbangan.

Kelangsungan pengadaan perpustakaan membutuhkan petugas perpustakaan yang handal yang sebaiknya berasal dari masyarakat setempat. Petugas yang telah mengenal baik lingkungannya diharapkan akan lebih fleksibel dalam menyediakan informasi tentang hal-hal baru yang berhubungan dengan masalah kesehatan, pertanian, pendidikan, politik, dan masalah kompleks lainnya yang tengah dihadapi bangsa ini seperti isu terorisme agar mendapatkan tanggapan dari masyarakat yang nantinya melahirkan opini publik sebagai suatu bentuk penyampaian aspirasi.

3. Menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat

Partisipasi aktif masyarakat menunjang visi dan misi perpustakaan yang mengusung wacana perpustakaan sebagai media pencerahan bagi masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan hendaknya lebih ditujukan pada usaha mendorong masyarakat untuk menjadi pembicara aktif tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan publik. Dalam hal ini, kegiatan bisa berupa forum yang menampilkan pembicara yang berasal dari masyarakat yang mengakses perpustakaan itu sendiri meski kadang menghadirkan pembicara ahli dalam bidang pendidikan, pertanian, kesenian, dan sebagainya. Atau, perpustakaan dapat menjadi ajang untuk penyelenggaraan acara kesenian dan kegiatan bernuansa budaya lainnya.

4. Membuka kemungkinan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak

Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat tak akan terwujud tanpa kerjasama dengan berbagai pihak. Kerjasama yang saling menguntungkan dengan perbankan, penerbit, lembaga pendidikan, LSM, dan mungkin juga perusahaan tertentu dapat dilakukan dengan memanfaatkan jasa perpustakaan sebagai ruang publik yang efektif untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Kerjasama tidak harus berupa pemberian bantuan dana untuk pengembangan perpustakaan tetapi dapat juga berupa kepedulian untuk berbagi ilmu yang menjadi keahlian pihak-pihak yang terlibat kerjasama.

            Keberadaan perpustakaan umum sebagai media pencerahan memungkinkan masyarakat belajar tentang berbagai hal baru yang mendorong mereka untuk maju dan bersikap kritis terhadap hal baru yang dianggap tidak sesuai dengan budaya bangsa. Koentjaraningrat dalam Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan (1983) menjelaskan bahwa usaha untuk mengubah nilai-nilai yang tidak cocok dengan tujuan ke arah kemajuan dapat dilakukan dengan membiasakan diri terhadap nilai-nilai pada bangsa lain tanpa harus menjadi seperti bangsa tersebut. Pemanfaatan perpustakaan umum yang disesuaikan dengan tuntutan untuk membangun masyarakat yang memiliki orientasi ke arah kemajuan merupakan jalan bagi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari keberadaan perpustakaan.

KESIMPULAN DAN SARAN

            Perpustakaan yang ideal adalah perpustakaan yang mampu memberikan akses fisik tidak hanya dalam bentuk ketersediaan bahan bacaan untuk masyarakat yang telah lekat dengan budaya literasi tetapi juga ajang pembelajaran bagi masyarakat lainnya yang belum mengenal budaya literasi. Lebih lanjut, pencapaian target melek huruf sesuai yang diharapkan akan mengarahkan seluruh anggota masyarakat menjadi masyarakat yang berpendidikan yang mampu mengaktualisasikan perannya dalam kehidupan berdemokrasi.

Demokrasi tidak mungkin berkembang dengan baik di tengah masyarakat yang tidak memiliki dasar pemahaman tentang demokrasi. Usaha mempertahankan nilai-nilai budaya yang mendukung kemajuan dan menghilangkan nilai-nilai budaya yang tidak sejalan dengan usaha mencapai kemajuan tidak bisa dilakukan tanpa adanya proses pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif seluruh anggota masyarakat. Perpustakaan umum sebagai ruang publik yang bisa diakses oleh semua anggota masyarakat memiliki arti penting bagi usaha memperkuat peran aktif masyarakat.

Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan umum agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai media yang dapat memberikan pencerahan mencakup upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan, memperluas penyebaran perpustakaan, menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, dan membuka kemungkinan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, titik berat pencapaian bentuk ideal sebuah perpustakaan hendaknya mengarah pada kesepakatan berbagai pihak untuk menjadikan perpustakaan sebagai institusi sosial yang bersifat dinamis.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Sulistyo.  Pengantar  Ilmu   Perpustakaan.   Jakarta:  Gramedia Pustaka Utama,1991.

Harahap,  Basyral  Hamidy,  J. N. B.  Tairas,  et.  al.   Kiprah  Pustakawan:  Seperempat

Abad Ikatan Pustakawan Indonesia 1973-1998. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia, 1998.

Hardiman, F. Budi.  Demokrasi  Deliberatif:  Menimbang ”Negara Hukum” dan ”Ruang

Publik” dalam Teori Diskursus Habermas. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Harrison,  Lawrence E.  &  Huntington,  Samuel  P. (ed.).  Culture Matters: How Values

Shape Human Progress (Kebangkitan Peran Budaya: Bagaimana Nilai-nilai Membentuk Kemajuan Manusia. Terjemahan: Retnowati. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2006.

Koentjaraningrat. Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.  Jakarta: PT. Gramedia, 1983.

Purwantari, Bi.  Kerala: Perpustakaan  untuk  Hapus  Buta  Huruf.  Kompas, 5 Februari 2007.

Sumber dari Internet:

Lievesley,  Denise &  Motivans,  Albert.  Examining the Notion of Literacy in a Rapidly

Changing World. Diakses dari: http://www.uis.unesco.org.

2007/2008     Human    Development     Report.   Diakses   dari: http://hdrstats.undp.org/

countries/data_sheets/cty_ds_IDN.html.

Penulis: Ratri Astutiningtyas

Alamat: Trucuk, Klaten

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

angka melek huruf di amerika serikat, angka melek huruf amerika serikat

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


× 4 = twenty eight

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose