Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan Digital Model “Book Conveyor”

Perpustakaan Digital Model “Book Conveyor”

Modernisasi serta globalisasi seperti sekarang ini memberikan beberapa masukan tersendiri terutama bagi dunia pendidikan atau yang berhubungan dengan prosesi peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia). Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak tersendiri bagi kemajuan bangsa. Dalam bidang pendidikan terdapat beberapa objek vital yang perlu mendapat perhatian penuh, ini ditujukan untuk menggali dan menciptakan kualitas SDM yang andal. Struktur masyarakat Indonesia yang beragam menjadi tantangan bagi pemerintah untuk terus memberikan layanan agar mendapatkan input yang berkualitas.

Pendidikan membawa pengaruh besar bagi penciptaan input SDM yang berkualitas. Pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk terus memajukan pemikiran kritis dan maju. Sosialisasi gemar membaca dan wajib belajar 9 tahun 12 tahun juga sudah dicanangkan dengan baik, oleh karenanya pemerintah perlu sekali memberikan fasilitas sebagai penunjang keberhasilan program tersebut. Salah satu program yang sudah ada yakni membudayakan gemar membaca.

Dalam manajemen pendidikan terdapat beberapa substansi yang perlu dilaksanakan untuk mencapai keberhasilan pendidikan salah satunya adalah manajemen perpustakaan, substansi ini melingkupi segala hal untuk memberdayakan peningkatan kualitas pelayanan publik berupa ruang baca, literary, serta penerapan Iptek. Perpustakaan sebagai ruang basa dan penyimpanan literatur pengetahuan memiliki peranan krusial dalam membantu terlaksananya manusi modern yang mengetahui segala peradaban dunia.

Peningkatan sumber daya manusia terutama pengembangan minat dan baca dapat diperoleh dari perpustakaan karena sifatnya sebagai sumber informasi, pusat ilmu pengetahuan dan teknologi, rekreasi, dan pembudayaan gemar membaca. Untuk memberikan penyeimbangan maka kinerja perpustakaan juga harus ditingkatkan agar dapat memberikan public services dengan maksimal. Modernisasi perpustakaan di era globalisasi memberikan dampak tersendiri bagi para pengguna dimana mereka lebih berpikir penerapan teknologi sebagai dasar pemuasan pelayanan umum. Seperti diungkap Sismanto (2008) dalam buku manajemen perpustakaan digital diakatakan  terdapat beberapa syarat tertentu agar pelayanan perpustakaan dapat berjalan maksimal. Syarat tersebut antara lain adalah faktor personal, koleksi pustaka, biaya, ruangan dan inventarisasi alat perpustakaan, pengorganisasian, pelayanan, program dan tujuan, serta faktor pelayanan.

Syarat tersebut dapat diaplikasikan dalam segala bentuk perpustakaan, ini mengingat banyaknya jenis perpustakaan yang ada meliputi dua jenis perpustakaan secara garis besar yakni perpustakaan umum dan khusus. Dari jenis tersebut aplikasi syarat peningkatan kualitas perpustakaan dapat dijalankan, terutama dalam hal pelayanan yang sudah menjangkau pada frase teknologi. Rachmananta (2002) juga mengatakan ada beberapa hal untuk menciptakan perpustakaan ideal, antara lain

1.      Berani memantapkan keberadaan lembaga perpustakaan sesuai dengan jenisnya

2.      Selalu meningkatkan mutu melalui pelatihan tenaga pustakawan

3.      Melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam negeri maupun luar negeri

Pentingnya pelayanan perpustakaan pada pengguna menjadi modal utama dalam menumbuhkembangkan gemar membaca serta peningkatan kualitas SDM di era modernisasi dan globalisasi. Pengaruh teknologi dalam peningkatan kualitas perpustakaan dapat mengubah citra perpustakaan yang dulunya bersifat konvensional menjadi modern bahkan menuju model perpustakaan abad teknologi.

Pada awal masuk abad milenium, perpustakaan sudah berkembang maju dimana penerapan teknologi menjadi bagian penting dari kualitas pelayanan. Penerapan ini diantaranya adalah mengubah sistemasi tradisional menjadi modern dengan memasukkan unsur komputerisasi canggih. Pelayanan yang sebelumnya dilakukan dengan manual atau model mencari buku sendiri berubah dengan bantuan komputer hanya dengan mengetik judul, pengarang, tahun terbit, pengguna sudah mengetahui letak buku tersebut dalam perpustakaan. Unsur komputerisasi memang sangat diperlukan dalam memberikan pelayanan maksimal terutama pada kondisi perpustakaan yang tata letak serta ruangannya sangat besar.

Penerapan sistem komputerisasi terus berkembang dan memberikan masukan tersendiri bagi pengembangan perpustakaan. Pada tahun-tahun selanjutnya program database perpustakaan lebih berkembang lagi dengan menerapkan unsur networking atau jaringan internet dengan membuat website khusus dan pengguna perpsutakaan dapat mengetahui seluruh buku yang ada pada suatu perpustakaan dengan memasuki jaringan internet walaupun berada dalam jarak yang sangat jauh dari lokasi perpustakaan. Tidak hanya itu, pelayanan peminjaman dapat juga dilakukan jarak jauh antar server, dalam artian pustakawan terlatih yang meng-handle server perpustakaan mencatat buku yang akan dipinjam pengguna jarak jauh kemudian menyimpannya untuk diserahkan pada pengguna ketika pengguna sudah datang ke perpustakaan tersebut.

Perpustakaan digital ini berkembang lagi mengikuti alur kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Penerapan teknologi dalam menggagas perpustakaan ideal sangat diperlukan terlebih lagi untuk dijadikan sebagai peningkatan program gemar membaca serta pelayanan berkualitas.

Pengembangan perpustakan ideal tersebut adalah dengan menciptakan model perpustakaan 2010 yakni perpustakaan digital model book conveyor. Teknologi ini memungkinkan pemerataan SDM yang benar-benar berkualitas termasuk pustakawan serta pengguna. Pada model ini unsur yang perlu dipenuhi adalah adanya penerapan computerize, networking, serta product support. Ketiga teknologi tersebut akan merangkul adanya pengguna/ user, hardware (perangkat keras), software (perangkat lunak), data (kelengkapan literatur), dan prosedur penggunaan.

Pada model perpustakaan digital book conveyor, konsep teknisnya hampir sama dengan penerapan teknologi pada perpustakaan milenium, hanya saja kecanggihan serta peralatan pendukungnya lebih dipenuni lagi. Gambaran mengenai perpustakaan ini yakni pengguna atau user yang akan menggunakan jasa perpustakaan meliputi buku-buku, majalah, dokumen penelitian, serta koran dengan  melakukan acces peminjaman hanya pada satu tempat saja atau ruang khusus. Jika sebelumnya user harus mengambil buku-buku tersebut dengan menghampiri letak library room (rak buku), pada model book conveyor yang menghampiri pengguna adalah buku yang akan dipinjam tersebut melalui media conveyor (meja pengantar).

Ada beberapa unsur penting yang harus ada  dalam model perpustakaan digital ini yakni networking yang meliputi sistem LAN, display/ LCD, sensorik, serta book conveyor (meja pengantar) . Sistem networking atau LAN dimaksudkan untuk mengaktifkan acces pendataan pengguna dan buku-buku yang ada di perpustakaan. Sistem ini dapat dilakukan dengan pemrograman database mengenai segala judul buku dan pengguna (yang sudah ter-registrasi). Display LCD dimaksudkan untuk membantu pencarian buku oleh pustakawan yang memang sudah disiapkan pada ruang tertentu yang mengakses model ini. Display ini akan memuat judul, pengarang, serta penerbit buku yang akan dipinjam yang nantinya akan ditelusuri oleh pustakawan..

Sensorik disini diibaratkan sebagai staf pustakawan, dimana sensorik membantu pustakawan mencari letak buku yang dipinjam. Teknisnya, sensorik yang diletakkan pada ruang khusus tersebut akan menyala/ berbunyi ketika buku yang dicari berada pada rak-rak tertentu. Senorik ini cukup diletakkan pada ujung rak saja, sehingga ketika sensorik menyala/ berbunyi pustakawan sudah dapat mengetahui rak tempat buku tersebut berada. Teknologi ini memudahkan pustakawan untuk melakukan proses pencarian buku.

Untuk tahapan terakhir, buku yang sudah ditemukan pustakawan akan diberikan kepada pengguna melalui media conveyor (pengantar). Meja ini nantinya yang akan menggerakkan buku dari ruangan kepada pengguna sehingga dengan model perpustakaan seperti ini pengguna tidak perlu berjalan untuk mencari buku pada rak tertentu, tetapi buku yang menghampiri pengguna. Book conveyor ini berbentuk menyerupai rel kereta tetapi yang akan membawa buku dari ruang pinjam ke pengguna seperti ketika kita berada di bandara, terdapat rel pengantar tas/ barang bawaan yang berjalan sendiri menghampiri si pemilik. Secara real construction, model ini dapat digambarkan pada skema dibawah ini:

Skema tersebut dapat menggagas munculnya perpustakaan ideal tahun 2010, mengingat perkembangan teknologi tiap tahun terus meningkat oleh karenanya perpsutakaan sebagai fasilitas penunjang mutu SDM juga harus menerapkan metode teknologi dalam memberikan pelayanan pada pengguna perpustakaan.

Gambaran diatas secara garis besar dapat diulas yakni: perpustakaan digital model book conveyor harus mempunyai sistem komputerisasi untuk menampung data base buku dan pengguna yang nantinya ditempatkan pada server komputer serta komputer untuk pengguna. Pengguna kemudian melakukan proses pencarian buku pada komputer dengan mengetik judul buku, penerbit, atau pengarang. Setelah melakukan proses tersebut, komputer server perpustakaan akan menindaklanjuti pesan dari pengguna tersebut untuk dijadikan data file rekap pengguna, program ini menggunakan software untuk database komputer. Pada tahap selanjutnya secara otomatis display/ LCD menerima pesan dari pengguna dalam bentuk tulisan yang sama seperti pada komputer pengguna. Dari tahap tersebut, minimal pustakawan sudah dapat memahami buku yang dicari pengguna.

Teknologi sensorik kemudian membantu mencari buku pada rak perpustakaan. Sistem ini beroperasi ketika display/ LCD memberikan sinyal pesan buku yang diminta. Pustakawan dalam tahap ini akan mencari buku yang sudah dipesan pengguna. Sensorik ini bisa dihilangkan jika pustakawan sudah mengetahui dan memahami letak buku perpustakaan dengan baik. Tahap berikutnya yakni pustakawan mengantar buku tersebut melalui media conveyor, ini membantu mempercepat penyampaian buku ke tangan pengguna. Media conveyor ini dibuat tidak terlalu besar atau menyesuaikan ruang perpustakaan yang ada, kinerjanya sama seperti media pengantar barang atau tas di bandara.

Dalam hitungan menit buku yang dicari pengguna sudah datang dengan sendirinya. Hal inilah yang menjadi intii dari perpustakaan digital model book conveyor, dimana pengguna akan mendapatkan buku tanpa berjalan menghampiri rak buku tetapi buku yang berjalan menghampiri pengguna. Model seperti ini akan mendukung meningkatnya penerapan teknologi untuk memberikan kualitas pelayanan tinggi pada pengguna dan mengikuti up-date teknologi ketika memasukii era baru tahun 2010.

Dalam model ini tedapat juga kelebihan serta kekurangannya tetapi tetap pada konsep pembentukan kualitas pelayanan serta lebih menyegarkan pengguna ketika berada dalam model perpustakaan digital seperti ini. Beberapa kelebihan yang bisa didapatkan dalam model ini sangat membantu semua pihak perpustakaan dan pengguna, antara lain:

  1. pengguna tidak lagi menghampiri dan mencari buku pada rak, melainkan buku yang menghampiri pengguna;
  2. Dapat memberikan suasana baru bagi semua pengunjung perpustakaan (walaupun hanya ruangan tertentuu yang menggunakan model ini);
  3. Menghemat waktu pengguna dalam menemukan buku;
  4. Menjaga agar buku tidak cepat rusak karena biasanya pengguna akan mencari-cari bahkan terkadang ketika mencari tidak sengaja menjatuhkan atau menyobeknya (pada perpustakaan tradisional);
  5. Memberikan kesan tersendiri akan penguasaan Iptek baik oleh pustakawan atau pengguna.

Selain itu beberapa kelemahan yang ada yakni pihak perpustakaan perlu menganggarkan dana besar untuk menyediakan segala perlengkapannya meliputi hard ware, software, serta product support lainnya.

Proses pembelajaran dan segala pembaruan memang membutuhkan tenaga dan biaya yang besar dan hal itu seimbang dengan hasil yang akan dicapai. Perpustakaan model 2010 ini pun juga perlu dana besar, tetapi hasilnya akan seimbang dengan penerapan teknologi serta kepuasan pelayanan pengguna yang nantinya berdampak pada peningkatan keaktifan gemar membaca dan memperoleh pengetahuan teknologi. Minat baca akan tumbuh pada pelayanan yang baik, oleh karenanya pemerintah sebagai penentu kebijakan harus lebih berani dalam mengambil langkah untuk meremajakan kembali program gemar membaca dan hal itu perlu didukung oleh semua pihak termasuk pustakawan serta pengguna.

Indonesia dengan tingkat pendidikan yang berkembang akan dapat meningkatkan SDM dengan memulai gemar membaca, membuka cakrawala dengan buku serta pengaplikasian teknologi yang baik. Perpustakaan digital model book conveyor akan sedikit membantu terciptanya unsur gemar membaca pada masyarakat dan mengenalkan pertumbuhan yang ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang dari tahun ke tahun dan dari perpustakaan ini diharap masyarakat akan lebih antusias untuk familiar terhadap dunia perpustakaan dan menghappus paradigma perpustakaan yang terkadang bersifat kuno atau tradisional untuk menuju perpustakaan ideal tahun 2010.

Penulis : Nanok Triyono, S. Pd

Malang

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

model perpustakaan digital, perpustakaan khusus di era modernisasi

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


seven × = 49

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose