Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan Elektronik, Why Not?

Perpustakaan Elektronik, Why Not?

Perpustakaan elektronik ialah perpustakaan modern yang tidak hanya menggunakan buku-buku sebagai sumber ilmu, namun juga menggunakan internet, komputer/laptop yang bisa digunakan untuk mengakses internet. Biasanya perpustakaan elektronik itu terdapat pada negara-negara maju. Karena di negara maju masyarakatnya sudah tidak gaptek lagi. Sedangkan di negara berkembang kebanyakan para penduduknya masih gaptek. Maka dari itu di Indonesia harus dibangun perpustakaan elektronik supaya tidak kalah saing dengan negara-negara maju lainnya dibidang pendidiakan dan teknologi. Untuk para penjaga perpustakaannya pun harus bisa mengopersasikan komputer/laptop dan internet. Serta paling tidak ada satu tenaga ahli yang mampu memperbaiki jika ada kerusakan-kerusakan.
Desain sebuah perpustakaan biasanya juga mempengaruhi jumlah pengunjung yang berkunjung ke perpustakaan tersebut. Jika suatu perpustakaan telah maju dan desain interiornya maupun exteriornya bagus masyarakat akan berbondong- bondong untuk berkunjung keperpustakaan.
Di perpustakaan elektronik ini desain ruangnya dibagi menjadi tiga kelompok diantaranya ruangan untuk anak-anak, ruangan untuk pelajar dan ruangan untuk umum.
Ruangan untuk anak-anak dibuat sedemikian rupa menarik suapaya anak-anak lebih tertarik untuk berkunjung keperpustakaan. Rak-rak buku dibuat seperti bentuk mobil-mobilan maupun hewan-hewan yang lucu dan meja untuk komputer maupun laptop dibuat membentuk seperti buah-buahan tempat duduknyapun juga dibuat menyerupai bentuk buah-buahan. Dan di ruang anak-anak juga tersedia komputer untuk belajar mebaca, misalnya di komputer tersebut terdapat gambar buku jika gambar buku itu kita sentuh maka kompurter akan berbunyi buku serta menyebutkan bagaimana cara pengejahanya. Walaupun di ruang anak-anak juga tersedia komputer yang terhubung dengan jaringan internet, tetapi jaringan internet tersebut dibatasi hanya bisa untuk membuka situs-situs yang berhubungan dengan anak-anak. Untuk tembok-temboknya diberi lukisan pemandangan alam yang indah. Di ruangan untuk anak-anak juga ada harus ada beberapa penjaga perpustakaan yang siap membantu jika ada kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pengunjung. Selain ada penjaga perpustakaannya harus ada kamera cctv untuk mengawasi semua gerak-gerik pengunjung yang ingin curang. Setiap masuk ke ruang untuk anak-anak harus menunjukan kartu anggota perpustakaan tersebut dan kartu pelajar anak tersebut.. Umur maksimal pengunjung perpustakaan anak-anak ialah 12 tahun .
Di ruang pelajar juga dibuat sedemikian rupa menarik dengan desainnya berupa benda-benda luar angkasa. Jadi dengan adanya desain yang seperti itu akan membuat para pengunjung secara tidak langsung belajar tentang antariksa. Rak-rak buku, meja-meja komputer maupun laptop juga dibuat menyerupai planet-planet dan benda-benda antarik salainnya. Tidak lupa bangku-bangku untuk para pembaca buku-buku berbentuk awan-awan yang lucu. Untuk dindingnya juga tidak lupa diberi lukisan yang bertema antariksa jadi para pengunjungpun tidak akan merasa bosan bila ada disana. Di ruang ini juga tersedia beberapa komputer maupun laptop yang terhubung dengan jaringan-jaringan internet yang lebih luas dari pada ruang anak-anak.
Pengunjung ruang untuk pelajar ialah harus seorang pelajar pengujung harus mampu menunjukan kartu pelajarnya minimum pelajar Smp dan maksimal ialah para mahasiswa. Selain kartu pelajar harus menunjukan kartu anggota perpustakaan. Dan di ruang untuk pelajar juga harus tersedia beberapa orang penjaga perpustakaan yang siap membantu pengunjung yang membutuhkan serta juga dilengkapi dengan adanya kamera cctv untuk mengawasi semua pengunjung yang ingin curang. Bagi para pengunjung yang ingin curang di ruangan ini dan ketahuan maka selain dipidana maka ia harus membayar denda berupa satu unit komputer maupun laptop.
Tak mau kalah dengan ruang-ruang yang lain, maka di ruang untuk umum ini desainnya berupa ruangan yang minimalis namun tetap indah dan nyaman. Di ruang untuk umum ini terdapat fasilitas internet yang lebih luas daripada jaringan internet yang terdapat di ruang-ruang lainya sebab rata-rata pengunjung ruang ini ialah orang-orang dewasa yang masih mau belajar untuk menambah ilmu pengetahuanya. Para pengunjung ruang perpustakaan ini adalah masyarakat luas namun paling tidak berumur 17 tahun keatas jadi cukup menunjukan kartu anggota saja untuk bisa masuk ke ruangan ini. Namun penjagaan di ruang ini tergolong lebih ketat dari pada ruangan-ruangan yang lain. Selain ada beberapa kamra cctv para penjaga perpustakaanpun juga lebih banyak karena di ruang untuk umum ini pengunjungnya kebanyakan masyarakat luas yang masih gaptek jadi memerlukan bantuan yang ekstra.
Untuk peminjaman buku maupun pencetakan data-data yang sudah dicari tadi mengguakan sistem voucher. Vouchernya berupa kartu anggota serta memiliki pasword yang pada awal pembuatanya dipungut biaya. Dari biaya yang dipungut itu dibuat untuk biaya peminjaman, jadi penjaga perpustakaan akan menuliskan data anggota perpustakaan itu ke komputer dan menuliskan berapa jumlah pungutan yang diberikan namun jumlah pungutan pun diberi batas minimum. Jika uang pungutan sudah habis untuk biaya peminjaman maupun pencetakan maka kartu anggotanya pun tidak dapat digunakan untuk meminjam buku, pencetakan data-data maupun masuk ke ruangan-ruangan perpustakan.
Di perpustakaan elektronik ini juga harus ada beberapa tata tertib yang harus dipatuhi antara lain dilarang membawa makan dan minuman ke dalam ruangan perpustakaan, dilarang merokok, dilarang membawa benda-benda tajam dan dilarang gaduh. Semua peraturan yang ada di perpustakaan elektronik hampir sama dengan peraturan-peraturan yang ada diperpustakaan biasa.
Keuntungan adanya perpustakaan elektronik ini ialah semakin majunya perpustakaan yang ada di Indonesia dan membuat masyarakat menjadi lebih maju dan tidak lagi gaptek dan dengan adanya perpustakaan elektronik ini maka akan memacu pemerintah untuk menganggarkan dana dalam bidang sarana pendidikan terutama perpustakaan. Kerugianya ialah membutuhkan biaya yang lumayan besar untuk pembangunan dan perawatan terhadap perpustakaan ini. Serta saat listrik padam pasti semua komputer-koputer maupun laptop dan pendingin udarapun juga ikut padam. Kelemahan lainnya ialah paling tidak pemerintah harus menyediakan kursus komputer atau laptop dan internet yang ditujukan untuk masyrakat yang belum bisa menggunakan sarana yang ada diperpustakan elektronik tersebut.
Untuk itu sudah siapkah pemerintah kita untuk menyediakan perpustakaan yang berbasis elektronik ? tentunya itulah pertanyaan yang perlu mendapatkan perhatian kita semua.
Dan semoga dengan tulisan ini dapat memberikan kontribusi pemikiran terhadap perpustakaan ideal indonesia pada tahun 2010. Dengan harapan bangsa indonesia dapat cerdas dan gemar membaca.

Penulis: Mirna Nurviani

Bojonegoro

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


two + 2 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose