Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan Ideal: Jauh dari Kesan terlalu Formal dan Kaku

Perpustakaan Ideal: Jauh dari Kesan terlalu Formal dan Kaku

Pertama kali mendengar kata perpustakaan, seringkali respon orang-orang yang saya tanyai hanyalah datar alias biasa-biasa saja. Memang, hari ini, orang-orang yang datang mengunjungi perpustakaan pada umumnya ialah mereka yang berdomisili dekat dengan gedung perpustakaan atau para mahasiswa yang sibuk mencari literatur untuk tugas di kampus. Saya sendiri baru mulai aktif ke perpustakaan dan meminjam buku sejak setahun terakhir. Bagi mereka yang sering mengunjungi perpustakaan akan menyebut kata bau buku bercampur debu, atau, koleksi buku barunya mungkin setahun sekali atau dua kali saja baru muncul. Anekdot lain justru mengatakan bahwa perpustakaan itu tempatnya kurang menarik, karena yang ada hanya deretan meja panjang dan kursi serta rak buku yang semuanya berbentuk kotak. Tentu saja hal ini mendorong saya mencoba mencari tahu lebih banyak tentang perpustakaan itu sendiri. Mungkin saya bisa membantu orang mengingat esensi dasar dari sebuah kunjungan ke perpustakaan, yakni untuk mencari informasi. Dalam sebuah gedung perpustakaan biasanya kita temukan ribuan bahkan jutaan buku yang terbagi ke dalam kategori bacaan umum, bacaan anak, referensi, multimedia, dan fiksi/non fiksi. Banyak di antara informasi itu yang termuat ke dalam lembaran kertas yang dicetak dengan ketebalan yang tidak  sama dan dalam jenis sampul yang biasa hingga cukup ekslusif sehingga tidak mudah rusak. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai buku. Pertanyaan selanjutnya yang menjadi pertimbangan ialah buku apa yang akan kita baca ? Saya akan mulai dengan sebuah kalimat sederhana; bacalah tentang hal-hal yang ingin kita ketahui. Pada dasarnya kita semua adalah manusia, makhluk yang suka dengan keindahan, mimpi, dan berbagai hal yang menakjubkan. Rasa ingin tahulah yang membuat peradaban kita dimungkinkan untuk sampai ke tahap masa kini. Setelah peradaban-peradaban tertua di dunia mengenal tulisan, maka ada begitu banyak informasi yang mereka tuangkan untuk dapat di ketahui oleh kita di zaman sekarang, berevolusi dengan proses yang cukup historis, dari bahasa isyarat tubuh, bahasa lisan, lukisan di dinding, batu, daun, hingga kertas, menjadi surat, majalah, surat kabar, buku, e-book (buku elektronik yang bisa didapatkan di internet biasanya dalam bentuk data PDF). Seiring waktu, buku selalu mendapat tempat tersendiri di hati hampir sebagian besar manusia di seluruh dunia. Beberapa di antaranya bahkan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kita semua, dalam berbagai aspek kehidupan kita, seperti The Origin of Species karya Charles Darwin yang kemudian tidak hanya revolusioner di bidang ilmu sains tetapi juga berdampak pada politik dan cara pandang berbagai bangsa, buku merah komunisme aliran Mao Ze Dong di Cina yang sanggup menanamkan hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya ke benak rakyat Cina yang merupakan salah satu negara terpadat populasinya di dunia, atau beralih ke masa kini, ketika Harry Potter menjadi salah satu buku terlaris yang dibaca oleh hampir semua anak-anak di seluruh dunia, atau yang bahkan tidak akan mungkin tergantikan, yakni kitab-kitab suci keagamaan. Buku adalah catatan berharga tentang sejumlah informasi mencakup suatu hal tertentu, yang dapat diibaratkan sebagai manifestasi memori otak manusia yang menampilkan citra tentang suatu informasi, dan imajinasi, serta realisasi nalar penulisnya dalam wujud tulisan.

Untuk kesekian kali saya mengunjungi toko buku yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di kota tempat saya tinggal. Pengunjungnya cukup banyak. Antusias pembeli bahan bacaan terbanyak ialah untuk kategori majalah dan surat kabar, kemudian disusul komik bergambar, buku fiksi termasuk novel, buku referensi perkuliahan, kemudian yang terakhir, buku pelajaran sekolah (kalau ini tentu saja memiliki pasar tersendiri yang sistemnya direct selling representative atau perwakilan jual buku langsung di sekolah). Harga buku sekarang ialah rata-rata tergolong mahal. Tentu saja ini memancing rasa heran saya. Kembali melirik ke perpustakaan, prosedur peminjaman hanya rumit bagi mereka yang berstatus non pelajar karena masih diwajibkan membuat surat keterangan tertentu yang disahkan oleh kantor kelurahan setempat di mana mereka tinggal. Selanjutnya, ada sejumlah biaya administrasi yang tidak seberapa jumlahnya untuk kemudian dapat meminjam paling banyak dua buku secara gratis (kecuali buku di ruangan referensi yang tidak dapat dipinjam) selama jangka waktu dua minggu. Jika saya seorang yang penuh perhitungan dan ekonomis tentunya akan lebih memilih untuk meminjam di perpustakaan daripada membeli buku baru, apalagi ketika saya tidak tahu apa setelah selesai membaca buku baru tersebut, saya masih akan membacanya kembali atau hanya dibiarkan begitu saja di meja, di lemari atau entah hilang di suatu tempat di kamar saya, kecuali kalau buku itu benar-benar saya butuhkan. Tapi ketika saya berharap menemukan buku terbaru Rhenald Kasali di perpustakaan, pegawai di bagian informasi buku itu hanya tersenyum memandang saya. Senyum itu bisa berarti dia sadar perpustakaan ini hanya berisi buku-buku tua yang suatu saat akan habis dimakan oleh rayap, atau mugkin dia belum pernah mendengar nama penulis itu sebelumnya.

Kalau seseorang menanyakan kritik apa yang pantas diberikan pada perpustakaan, hal pertama yang akan saya singgung ialah mengenai koleksi bukunya. Saya tidak habis pikir kenapa kesan yang ada di benak saya setiap mengunjungi perpustakaan ialah ini merupakan museum buku dan bukannya tempat untuk membaca (meskipun saya sering datang ke sana untuk membaca atau paling tidak meminjam buku). Saya yakin bahwa dengan koleksi baru yang tidak kalah dengan yang ditawarkan oleh toko-toko buku, perpustakaan dapat menghidupkan kembali daya tariknya untuk masyarakat. Saya dapat berpikir dahulu apakah bijaksana membeli sebuah novel setebal 500 halaman setelah paling tidak membacanya di perpustakaan. Khususnya di saat krisis seperti sekarang. Saya juga ingin mengajukan protes karena perpustakaan sering tidak membuat publikasi ataupun memajang buku-buku baru sehingga semua orang yang datang dapat melihat ada bacaan baru yang ditawarkan setiap memasuki gedung perpustakaan. Ini dapat dibuat rutin dua minggu sekali atau sebulan sekali. Dari segi pelayanan, meskipun sepele, senyum dan sapa dari petugas di perpustakaan juga justru menjadi hal paling langka yang bisa dirasakan semua orang. Meski saya pikir ide ini sederhana, senyum dan ucapan terima kasih kepada pengunjung atau peminjam buku tentu akan memberikan kesan tersendiri yang berdampak besar kepada citra perpustakaan. Apakah ide ini sudah terpikirkan oleh mereka ?  Standar pelayanan publik yang baik sepantasnya ditiru seperti cara seorang customer service melayani nasabahnya di sebuah bank. Dan saya akan tanyakan pada setiap orang jika ada yang mengatakan tidak merasa tenang dan bahagia ketika ia tersenyum pada seseorang kemudian seseorang tersebut membalas senyumannya, atau ia tidak merasa diperhatikan dan dianggap eksis tatkala seseorang menyapanya dengan ucapan selamat pagi maupun terima kasih.

Buku merupakan kumpulan kertas. Sebagaimana kita ketahui pula, kertas itu terbuat dari kayu, pepohonan. Perpustakaan itu dapat diibaratkan sebuah pohon yang amat besar, dengan akar yang kokoh, dengan daun yang begitu lebat. Dedaunannya ialah ilmu, informasi yang berwujud buku-buku. Hal ini mengilhami saya untuk mengungkapkan gagasan saya tentang suatu perpustakaan yang ideal. Bisa sebagai salah satu tempat alternatif lainnya yang dikunjungi oleh masyarakat di akhir pekan atau hari Minggu. Perpustakaan sebagai tempat wisata pengetahuan tentang berbagai macam hal. Saya percaya ide ini akan mengubah citra perpustakaan secara luar biasa dalam waktu yang relatif singkat. Dan saya ingin kita semua masuk ke ruang sketsa yang ada di benak saya. Perpustakaan ideal itu, seharusnya tidak menetapkan hanya ruang-ruang berbentuk kotak yang monoton sebagai tempat pengunjungnya menikmati buku yang akan mereka baca. Ruangan baca itu seharusnya dapat dimodifikasi bentuknya dengan warna cat tembok yang cerah dan hidup. Meja dan kursi seharusnya dapat divariasikan dengan sofa, meja kecil seperti di ruang tamu, dan beberapa ruangan lainnya dapat menggunakan musik pengiring lagu klasik atau instrumen sebagai hiburan di ruang telinga pengunjungnya. Penempatan buku-buku baru sebaiknya dipisahkan pada ruang tertentu untuk periode tertentu sehingga dapat menjadi ruang yang populer dimasuki terlebih dahulu bagi mereka anggota perpustakaan yang setia. Pengurus perpustakaan itu sendiri seharusnya hanya dibagi secara praktis ke bidang kebendaharaan, sirkulasi buku baru, pengaturan peminjaman, pengembalian buku, penataan buku, administrasi keanggotaan, serta kehumasan yang mengarahkan informasi seputar produk dan kegiatan terbaru dari perpustakaan. Di ruang-ruang baca tadi, ada di antaranya yang dapat berupa ruangan luas dengan meja dan kursi serta kafetaria yang membuat para pengunjung perpustakaan lebih betah berlama-lama (hal ini didasarkan pada fakta bahwa pengunjung di warung kopi dapat menghabiskan waktu berjam-jam membahas pekerjaan, obrolan ringan lainnya, bahkan para penulis dan pembaca buku termasuk paling sering berada di tempat tersebut). Toilet atau kamar mandi juga adalah salah satu fasilitas publik yang sebaiknya tidak dianggap remeh keberadaannya. Dengan sistem sanitasi yang baik, bersih, tentunya pengunjung pun dapat memberikan penilaian yang positif tentang perpustakaan. Saya menyebutkan tentang hal ini karena setelah pernah berkunjung ke salah satu kantor instansi pemerintahan, begitu menyempatkan singgah ke toilet, aroma tak sedap dan pemandangan yang sangat mengintimidasi mampu membuat saya berjanji tidak akan pernah ke sana lagi (mudah-mudahan masalah toilet tidak ikut menjadi citra dari pelayanan instansi tersebut ke masyarakat).

Perpustakaan ideal juga seharusnya jauh dari kesan terlalu formal dan kaku. Saya berharap, pekarangan perpustakaan yang besar dapat dimanfaatkan dengan menanam pepohonan yang besar, agar rindang dan sejuk, kemudian diberi bangku-bangku agar para pengunjung atau mereka yang ingin membaca buku dapat memanfaatkannya dengan baik. Membaca seringkali dapat menimbulkan inspirasi, setidaknya untuk hal-hal yang positif. Tapi inspirasi itu tidak datang begitu saja apalagi jika tidak didukung oleh tempat yang tepat. Dengan menciptakan kenyamanan dan lingkungan asri di dalam maupun sekitar perpustakaan, ini memperjelas bahwa akan timbul rasa cinta yang mendalam terhadap apa yang selama ini mungkin dianggap tidak terlalu penting atau hanya sekedar sebagai museum buku semata. Perpustakaan bisa menyiapkan ruangan-ruangan yang dapat disewakan untuk mengadakan rapat, workshop, atau diskusi bedah buku yang menggairahkan kembali minat baca masyarakat. Perpustakaan juga dapat menjadi tempat referensi surat kabar setempat sehingga informasi apapun yang dibutuhkan masyarakat pada waktu entah dua puluh atau tiga puluh tahun terakhir mungkin untuk diperoleh, khususnya bagi mereka yang membuat penelitian.

Hal terakhir yang saya harapkan ada dalam gagasan tentang perpustakaan ideal ialah mengenai tempat. Di kota tempat saya tinggal, letak perpustakaan menjadi salah satu faktor penghambat masyarakat datang ke sana, terlepas dari kritik tentang koleksi buku dan fasilitas yang ada. Menurut saya, perpustakaan yang ideal itu seharusnya di tengah kota, menjadi salah satu ikon yang seharusnya dibanggakan oleh masyarakat, sejajar dengan gedung DPR yang mewah dan menghabiskan anggaran puluhan milyar, atau kantor Gubernur dan Walikota. Kenapa harus mendapatkan apresiasi demikian ? Karena perpustakaan ialah cermin, yang merefleksikan betapa pengetahuan dan pendidikan itu ada karena informasi, yang secara sejarah peradaban manusia dimulai berdampingan dengan bahasa mulut. Tulisan dan simbol-simbol termasuk buku-buku adalah salah satu faktor yang membuat kita menjadi pribadi kita yang sekarang ini. Buku adalah catatan sejarah tentang banyak hal dalam kehidupan manusia. Saya tidak bisa bilang dunia akan seperti apa kalau buku punah begitu saja. Jangankan buku, bagaimana dengan majalah, komik, novel, surat kabar, atau tulisan huruf, punah dari dunia ? Saya yakin ini adalah hal yang sangat mengerikan untuk peradaban manusia. Buku dapat menjadi alasan pengingat bahwa pengetahuan tidak pernah habis untuk dipelajari. Secara moral, buku dapat menjadi pengingat bahwa hendaknya seorang tidak angkuh atau merasa dirinya pintar, sebab semakin banyak buku baru yang bermunculan, berarti jelas semakin banyak pula hal baru yang belum ia ketahui. Demikianlah yang bisa saya tuangkan tentang perpustakaan yang ideal. Walaupun baru sekedar gagasan, saya percaya, revolusi pada wujud dan citra perpustakaan akan membawa dampak besar bagi masyarakat banyak. Tidak hanya dampak berupa daya tarik untuk datang dan minat baca yang semakin tinggi, tetapi secara nasional, masyarakat kita digiring ke titik kecerdasan yang luar biasa.

-*-

Penulis: Ito Lawputra

Palu, Sulawesi Tengah

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


4 + eight =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose