Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan Seperti Apakah Yang Ideal?

Perpustakaan Seperti Apakah Yang Ideal?

Perpustakaan merupakan suatu sarana yang mampu memberikan layanan keilmuan dan pengetahuan kepada masyarakat berbagai lapisan. Dengan adanya perpustakaan, masyarakat diarahkan untuk menjadi masyarakat yang aktif. Aktif dalam arti mau dan bersedia mencari dan memperdalam ilmu maupun memperluas pengetahuan. Sarana umun yang satu ini telah menyediakan berbagai jenis buku, baik fiksi atau pun non-fiksi yang dapat dinikmati masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya pembelian.

Namun sayangnya, masyarakat Indonesia dewasa ini kurang memberikan perhatiaanya terhadap keberadaan perpustakaan hal ini disebabkan karena minat baca masyarakat DKI Jakarta rendah dan kondisi perpustakaan yang tidak mendukung serta jumlah koleksi buku yang tidak memadai.[1] Padahal, dengan hadirnya perpustakaan baik di sekolah, universitas, ataupun tempat-tempat umum lainnya, dapat membantu masyarakat meningkatkan pengetahuan, menjadi sumber referensi bebas biaya, dan menjadi tempat nyaman untuk membaca.

Dengan latar belakang tersebut, maka penulis mencoba untuk memaparkan perpustakaan seperti apakah yang ideal, sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk mengunjunginya. Semuanya dirangkum dengan judul Perpustakaan Ideal.

II.          PERMASALAHAN

Menyadari kurangnya minat baca masyarakat dari berbagai kalangan pembaca inilah yang memunculkan permasalahan baru, yaitu:

1.      Perpustakaan seperti apakah yang diharapkan masyarakat?

III.        TUJUAN

Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuannya adalah:

1.       Mendeskripsikan jenis perpustakaan yang diharapkan masyarakat.

IV.       LANDASAN TEORI

Menurut Sutarno NS (2005) Perpustakaan merupakan salah satu lembaga ilmiah, yakni lembaga yang bidang dan tugas pokoknya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian dan pengembangan, dengan ruang lingkupnya mengelola informasi yang mencakup berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.[2]

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam pembentukan perpustakaan ideal, yaitu:

1.       Sumber daya manusia yang mengelola perpustakaan.

2.       Manajemen perpustakaan yang digunakan.

3.       Lengkapnya koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan.

4.       Dana.[3]

Menurut Mahmudin ada beberapa alasan mengapa teknologi informasi saat ini sangat dibutuhkan di perpustakaan, meliputi:

1. Sistematika Informasi: Terjadinya ledakan informasi yang membanjiri dunia saat ini membutuhkan pengelolaan yang lebih sistematis.

2. Tingginya akses informasi: Katalog online memungkinkan pustakawan dan pengguna untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber.

3. Efisiensi pekerjaan: komputer di perpustakaan membantu pekerjaan menjadi lebih cepat.

4.  Memudahkan tukar-menukar informasi dalam bentuk data.

5. Mailing list sebagai sarana yang ampuh untuk mendapatkan sumbangan buku, perbaikan fasilitas perpustakaan (lift, kamar mandi- WC dll).
6. Menjadi trend bila pustakawan saat ini menyimpan data pada pada web dari e-mail pribadi.
7. Keseragaman : salinan data atau informasi yang dibuat dapat diseragamkan sehingga memudahkan pengguna (user friendly). [4]

V.        PEMBAHASAN

Berkembangnya zaman, menuntut perpustakaan konvensional untuk membenahi dirinya menuju ke era global informatika yang jauh lebih memudahkan perpustakaan dalam pengoperasiaannya. Selain itu, perpustakaan dewasa ini diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan gaya hidup masyarakat Indonesia yang mulai bergeser ke arah efisien dan efektif.

Perpustakaan konvensional disini maksudnya adalah perpustakaan yang hanya menyediakan buku dalam jumlah terbatas dan jarang ditemukannya buku-buku baru, menggunakan cara manual dalam pencarian koleksi, menyediakan beberapa meja untuk pembaca, terdapat tulisan harap tenang di berbagai sudutnya, dan terlebih dijaga oleh petugas yang memasang wajah galak dan selalu meminta pengunjung untuk diam.

Apabila perpustakaan di Indonesia tetap menjalankan fungsinya yang konvensional seperti itu, maka dapat dipastikan jumlah pengunjung dan peminat perpustakaan akan semakin berkurang. Hal ini dikarenakan peforma perpustakaan yang tidak lagi mampu menyeimbangi laju kehidupan masyarakat modern yang lebih menikmati kebebasan, demokrasi.

Pengelola perpustakaan sudah seharusnya mampu memperbaiki kinerja perpustakaan dari lingkungan internal perpustakaan itu sendiri, seperti perbaikan terhadap sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. SDM disini meliputi petugas-petugas dan para pengurus perpustakaan baik yang secara langsung berhadapan dengan pengunjung atau pun tidak. Peningkatan kualitas tersebut dapat dilakukan dengan dinaikkannya standar bagi para petugas yang ada. Setidaknya, pengurus perpusatakaan harus lah memiliki gelar sarjana pustakawan atau sekurang-kurangnya memiliki kompetensi dalam bidang yang sama. Dengan demikian, SDM yang ada mampu menjalankan perpustakaan dengan baik, menciptakan suasana yang menyenangkan bagi para pengunjung, dan mampu mengoordinasikan perpustakaan dengan cara yang tepat.

Selain SDM, perpustakaan seharusnya memperbaiki fungsi manajemennya. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas perpustakaan itu sendiri, seperti perbaikan kualitas jumlah koleksi serta perbaikan gedung dan fasilitas perpustakaan. Kedua hal ini lah yang mampu membentuk persepsi baik terhadap perpustakaan dan pada akhirnya tertarik untuk mengunjungi perpustakaan.

Koleksi buku sangat mempengaruhi ketertarikan masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan. Apabila koleksi buku yang disediakan minim dan hanya sebatas buku-buku lama dan hanya terbatas pada jenis buku yang sama, maka masyarakat akan cenderung malas untuk mengunjungi perpustakaan yang nota bene nya tidak mampu memberikan apa yang mereka cari. Terlebih, perpustakaan adalah salah satu lembaga ilmiah, yakni lembaga yang bidang dan tugas pokoknya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian dan pengembangan, dengan ruang lingkupnya mengelola informasi yang mencakup berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Terlepas dari lembaga ilmiah, perpustakaan modern baiknya mampu menyesuaikan diri dengan gaya hidup masyarakat modern. Penyesuaian tersebut dapat dilakukan dengan penambahan buku-buku non-fiksi dan juga media cyber seperti jaringan wi-fi atau pun menyediakan perangkat komputer, notebook, ataupun netbook yang dapat menjadi sarana hiburan bagi pengunjung.

Perbaikan gedung dan fasilitas perpustakaan juga mampu meningkatkan citra perpustakaan itu sendiri. Perbaikan itu dapat dilakukan terhadap gedung itu sendiri, agar terlihat lebih nyaman dan mampu menampung pengujung dalam jumlah besar. Bila perlu, ciptakan lah perpustakaan yang asri dan menyatu dengan alam. Hal ini dapat menjadikan perpustakaan sebagai salah satu tempat favorit masyarakat.

Selain perbaikan gedung, fasilitas dari perpustakaan konvensional juga harus diperbaiki, seperti fasilitas pencarian buku yang dapat menggunakan teknologi informatika sehingga tak lagi manual yang pastinya akan sangat memudahkan pencarian buku. Fasilitas lain yang perlu diperhatikan adalah areal parkir yang memadai, toilet, bahkan bisa juga disediakan jasa fotokopi dan kantin yang tentunya akan semakin membuat pengunjung merasa dimanjakan.

Bicara soal fotokopi dan kantin, kedua hal tersebut tentu saja dapat membantu meningkatkan stabilitas manajemen perpustakaan, sehingga dapat terus meningkatkan koleksi buku dan perbaikan gedungnya.

Selain perbaikan internal, perpustakaan dapat melakukan perbaikan citra konvensionalnya melalui perbaikan eksternal. Perpustakaan sebaik dan senyaman apa pun tidak akan pernah ramai dikunjungi apabila kurangnya publikasi. Jadi, setelah melakukan perbaikan di lingkungan internalnya, lakukanlah publikasi sebesar-besarnya agar masyarakat mengetahui perubahan yang telah terjadi terhadap perpustakaan dan meninggalkan citra konvensional perpustakaan menuju perpustakaan yang ideal.

Namum perlu diingat, publikasi yang dilakukan juga harus tepat sasaran dan berlangsung secara efektif

VI.       KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.  Kesimpulan

Perpustakaan yang ideal bagi masyarakat modern yang memiliki gaya hidup efisien dan efektif ini adalah:

a.      Berdiri di tempat yang nyaman dan asri.

b.     Memiliki koleksi buku yang lengkap.

c.     Menyediakan berbagai fasilitas dan fitur yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat modern, yaitu : di sediakannya fasilitas wi-fi, internet gratis, toilet yang bersih, lapangan parkir yang luas, fotokopi, dan kantin.

Ada 2 cara untuk mewujudkan perpustakaan yang ideal :

a.       Melakukan perbaikan terhadap lingkungan internal perpustakaan, seperti : Sumber Daya Manusia, fungsi manajem, koleksi, gedung, dan fasilitas.

b.      Memperbaiki citra perpustakaan melalui publikasi terhadap lingkungan eksternal.

6.2.  Saran

Untuk menuju perpustakaan yang ideal, disarankan:

a.       Perbaikilah citra perpustakaan ke arah yang lebih baik dimata masyarakat. Perbaikan pencitraan dapat dilakukan dengan dilakukannya publikasi. Dengan bergesernya persepsi masyarakat tentang perpustakaan, akan mampu meningkatkan minat masyarakat berkunjung ke perpustakaan.

b.      Pencitraan yang baik tentu saja harus diimbangi dengan perbaikan perpustakaan itu sendiri sesuai dengan apa yang dicitrakan, agar tidak terjadi kesenjangan antara apa yang telah dicitrakan dengan realitanya.


[1] www.tempo-interaktif.org

[2] Sutarno NS. Tanggung Jawab Perpustakaan dalam mengembangkan Masyarakat Informasi. Jakarta: Panta rei, 2005

[3] http://kober.tripod.com/4.html

[4] http://misra.blog.ugm.ac.id/2009/05/08/perpustakaan-ideal-bagi-dunia-perkantoran/

Penulis: Mely Yanti
Tangerang

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


7 + = twelve

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose