Home / Artikel Perpustakaan / Perpustakaan Rakyat

Perpustakaan Rakyat

Perpustakaan adalah gudang ilmu. Oleh karena itu, perpustakaan menjadi salah satu ukuran kepintaran bagi masyarakat, misal, mahasiswa yang sering berkunjung ke perpustakaan akan selalu identik dengan istilah mahasiswa rajin atau mahasiswa pintar. Bahkan untuk mahasiswa yang paling malas sekalipun, jika suatu ketika ia mengunjungi perpustakaan maka kadang ia akan mendapatkan komentar yang bertolak belakang dari kebiasaanya seperti, Wah, tumben Mas, pengen jadi anak pintar ya ! jarang sekali ada komentar seperti Wah, tumben Mas, pengen jadi anak bodoh ya ! Hal ini karena perpustakaan memiliki image yang sangat baik berhubungan dengan kecerdasan.

Selain itu, perpustakaan merupakan bukti sejarah peradaban manusia. Di perpustakaan, tersimpan berbagai macam informasi masa lalu yang dibukukan. Informasi masa lalu tidak hanya terbatas pada buku-buku sejarah saja tetapi juga buku-buku lain seperti buku ekonomi, filsafat, sastra, bahkan buku eksak. Penulis berpendapat demikian karena pada dasarnya isi semua buku merupakan sejarah. Buku ditulis setelah seseorang atau sekelompok orang mengalami, mendalami atau meneliti suatu obyek. Segala sesuatu yang telah berlalu merupakan sebuah sejarah meskipun baru sedetik yang lalu, jadi setiap saat kita selalu mengukir sejarah. Kita selalu menggunakan ilmu-ilmu yang bersejarah dalam kehidupan.

Seiring berjalannya waktu, perpustakaan juga telah menjadi ukuran kecerdasan masyarakat suatu bangsa. Tidak bisa kita pungkiri bahwa di negara-negara maju, perpustakaannya juga maju pesat. Masyarakatnya menyukai aktivitas membaca, sehingga sering disebut dengan reading society. Bagaimana dengan Indonesia ? Saya rasa banyak yang sepakat jika banyak orang Indonesia yang jarang ke perpustakaan bahkan banyak yang tidak tahu kalau perpustakaan itu ada di sekitar mereka. Jika kita pakai perpustakaan sebagai parameternya, maka semua orang akan bisa menyimpulkan Negara Indonesia itu seperti apa, sudah maju atau belum, tidak perlu memakai parameter yang muluk-muluk seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita atau parameter-parameter lain yang sulit digunakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk melakukan suatu penilaian.

Namun, ada satu hal lagi yang begitu melekat di benak masyarakat Indonesia mengenai perpustakaan. Perpustakaan merupakan tempat yang elite. Mahalnya pendidikan telah menjadikan segala sesuatu yang berbau pendidikan seperti sekolah, kuliah, laboratorium dan perpustakaan menjadi sesuatu yang mahal pula. Jadi, wajar jika bayak masyarakat Indonesia yang memiliki ekonomi, katakanlah, kelas teri menjadi tidak familiar dengan perpustakaan maupun kegiatan membaca. Padahal, Indonesia masih didominasi oleh kalangan menegah kebawah. Bagaimana Negara ini bisa maju jika masih didominasi oleh orang-orang yang lemah secara ekonomi maupun intelektual ?

Untuk memaksimalkan peran perpustakaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, maka kita harus membangun perpustakaan yang ideal bagi masyarakat. Perpustakaan yang ideal bagi masyarakat Indonesia pasti akan berbeda dengan masyarakat di negara lain seperti Belanda, Jepang atau Negara lain yang sudah reading society. Namun sayangnya, pemerintah, pustakawan maupun pihak-pihak yang bersangkutan lebih suka melihat keluar dan kurang mempertimbangkan yang di dalam, sehingga hasilnya kurang proporsional. Kita tentu ingin menjadi sebuah Negara yang sukses seperti Belanda misalnya, tetapi kita tidak harus mengikuti cara-cara yang dipakai Belanda untuk menuju sukses. Belanda menjajah Indonesia untuk mendapatkan kekayaan, mereka memaksa penduduk Indonesia untuk kerja rodi. Apa kita juga harus ikut-ikutan ? Kita merodikan pekerjaan membaca pada masyarakat, memang seberapa sulitkah membaca? Pasti sudah banyak masyarakat yang bebas buta huruf. Untuk kasus-kasus tertentu, pemaksaan dapat berhasil, misalnya guru menyuruh murid untuk membaca buku halaman sekian sampai sekian. Tetapi jika kesadaran membaca tidak juga timbul, maka setelah Si murid lulus dari sekolahnya, ia akan kembali seperti semula, tetap tidak suka membaca.

Bagi masyarakat Indonesia, buku-buku tebal masih sering dihindari bahkan oleh kaum yang sudah berpendidikan seperti pelajar dan mahasiswa, kalaupun dibaca, itu karena terpaksa, karena ada tugas atau karena disuruh guru, terlebih lagi jika bukunya berbahasa asing. Sayangnya, pihak perpustakaan, terutama perpustakaan besar yang tingkat universitas, lebih suka menitikberatkan pada buku-buku jenis itu, buku-buku tipis berbahan kertas buram dan berpengarang tidak terkenal jarang ada, apalagi pengarangnya orang Indonesia, pasti diragukan. Mengapa kita tidak memberikan kesempatan untuk orang-orang Indonesia agar lebih maju? Perpustakaan menjadi sesuatu yang terlihat berguna, tapi sebenarnya tidak terlalu berguna.

Kedua, buku-buku di perpustakaan sering terlihat semakin tidak menarik karena ulah tangan-tangan jahil yang suka merusak keindahan buku baik dengan merobek halaman-halaman tertentu, mencorat-coret yang tidak perlu, melipat-lipat dan sebagainya. Padahal sebenarnya, tanpa coretanpun banyak buku di perpustakaan yang memang tidak menarik. Maksudnya tidak menarik bukan berarti bukunya salah, tetapi pembacanya yang bermasalah, kalau diibaratkan seperti ungkapan the right book in the wrong hand. Jadi sebaiknya, perpustakaan memiliki aturan yang tidak sekedar ditulis, tetapi juga dijalankan. Bila perlu, para pegawai perpus turun ke lapangan buku mengawasi para pengunjung. Jika kesulitan maka perpustakaan dapat menerapkan teknologi seperti cctv atau detector anti maling atau sensor kertas atau apa sajalah. Teknologi yang paling canggih tidak hanya cocok diterapkan di negara-negara maju, tetapi juga di Negara Indonesia yang banyak malingnya.

Ketiga, jumlah perpustakaan masih sangat sedikit, bukunya juga. Perpustakaan terbatas pada sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Perpustakaan keliling banyak yang macet. Di daerah pelosok lebih parah lagi, sudah tidak ada sekolah, sulit dijangkau pula. Bagi masyarakat yang terlanjur gemar membaca, perpustakaan merupakan unsur penting, jika ini tidak tersedia maka kegemaranya akan membaca bisa pudar. Menurut penulis, satu-satunya cara adalah dengan memperbanyak jumlah perpustakaan dan mengupdate koleksinya. Dengan demikian masyarakat menjadi tidak bosan sehingga perpustakaan keliling tidak macet-macet lagi. Jika kekurangan dana, perputakaan bisa mengumpulkan dana sukarela dari pengunjung-pengunjungnya, seperti di masjid-masjid yang ada kotak infaknya. Kita juga bisa memanfaatkan teknologi seperti internet untuk membuat perpustakaan virtual bagi masyarakat di pedalaman, jika menyediakan perpustakaan yang real sulit dilakukan. Selama ini internet hanya tersedia di kota-kota atau desa yang sudah maju saja, padahal sebenarnya mereka yang jauh dari jangkauan lebih membutuhkan teknologi ini, karena arti internet itu sendiri adalah antar jaringan. Kita sering terjebak pada istilah-istilah yang modern saja sehingga jika ada orang kota yang memggunakan fasilitas internet terlihat wajar, tetapi giliran anak dalam yang menggunakannya terlihat tidak lazim atau sok modern.

Keempat, perpustakaan harus dibuat senyaman mungkin bagi masyarakat. Perpustakaan, selain meyediakan buku, juga bisa memberikan fasilitas-fasilitas tambahan, seperti penggunaan mesin katalog agar lebih mudah menemukan buku yang mereka cari. Suasana perpustakaan harus dibuat senyaman mungkin agar menarik minat pengunjung. Perpustakaan juga harus menyesuaikan dengan selera masyarakat setempat, misal, di satu daerah yang masyarakatnya lebih suka membaca sambil santai, maka perpustakaan sebaiknya menyediakan tempat lesehan. Sedangkan di daerah lain, yang masyarakatnya lebih suka menggunakan kursi, sebaiknya tempat baca di perpustakaan juga menggunakan kursi. Bila perlu perpustakaan melakukan polling terhadap pengunjung atau masyarakat mengenai seberapa besar tingkat kepuasan mereka pada perpustakaan, dan meminta masukan dari mereka sehingga perpustakaan tahu apa yang harus dilakukan. Inilah yang dimaksud dengan kita juga harus melihat ke dalam pada pernyataan sebelumnya.

Langkah terakhir, semua itu tidak akan ada artinya jika tidak ada publikasi ke masyarakat luas. Apalah artinya bangunan perpustakaan megah yang lengkap baik isi maupun fasilitasnya, tetapi tidak ada yang memakai. Bukankah hal itu menjadi sangat sia-sia ? Seperti peribahasa monyet diberi kaca. Oleh karena itu, publikasi merupakan hal yang perlu. Kalau bisa, perpustakaan memiliki media tersendiri seperti buletin mingguan atau majalah bulanan. Akan lebih bagus lagi jika masyarakat dapat berpartisipasi menulis, jadi masyarakat tidak hanya sebagai pihak pasif yang hanya menerima dari perpustakaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata sekaligus menerapkan ilmu yang telah ia peroleh dari perpustakaan. Kegiatan ini, selain menambah koleksi perpustakaan itu sendiri, juga bisa melahirkan penulis dan pemikir handal di masa depan. Siapa tahu !

Pendek kata, perpustakaan yang ideal adalah perpustakaan yang banyak koleksi buku-bukunya dan banyak yang membacanya. Untuk menarik minat masyarakat, perpustakaan harus dibuat seideal mungkin dengan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, tidaklah mustahil jika antara perpustakaan satu daerah berbeda dengan daerah lain. Justru hal tersebut dapat membuat perpustakaan memiliki karakter yang  unik.

Penulis: SYARIFAH HANUM

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 4 = eleven

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose