Home / Artikel Perpustakaan / Pustakawan Cilik sebagai Program Peningkatan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar

Pustakawan Cilik sebagai Program Peningkatan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar

Pendidikan sebagai aspek yang urgen dalam kehidupan individu dalam bermasyarakat dan mencapai kesejahteraan diri merupakan hal yang harus diperoleh oleh seluruh masyarakat Indonesia. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab III Pasal 4 ayat 5, disebutkan bahwa salah satu cara penyelenggaraan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Sekolah sebagai tempat untuk memperoleh pendidikan formal umumnya dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang dalam peningkatan ilmu pengetahuan seperti perpustakaan. Perpustakaan yang ada dalam setiap sekolah akan memberikan suplemen kepada siswa dalam memperoleh ilmu. Buku sebagai sumber utama pada perpustakaan adalah aspek yang harus ada pada sebuah perpustakaan. (www. tbm.guahira.or.id)

Keberadaan perpustakaan sekolah sangatlah vital dalam pembentukan budaya positif sejak dini. Selain sebagai pusat informasi, perpustakaan sekolah dapat pula berperan sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca, dan budaya baca. Hal tersebut diperoleh melalui penyediaan berbagai bahan bacaan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para siswa (Sulaiman, 2007).

Perpustakaan sekolah sebagai media dalam membangun budaya baca siswa belum sepenuhnya berjalan efektif. Kurangnya jam baca di perpustakaan sekolah yang disediakan oleh sekolah untuk siswa. Dukungan guru pun dalam membangun budaya baca kurang maksimal, misalnya dalam pemberian tugas dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah. Hal tersebut berefek pada siswa menjadi tidak proaktif untuk menggunakan perpustakaan sekolah sebagai sarana membaca

Permasalahan di atas menuntut sebuah solusi yang dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan budaya baca bagi siswa khususnya di lingkungan sekolah. Keterlibatan siswa untuk aktif menggunakan perpustakaan sekolah melalui dukungan guru merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan. Olehnya itu penulis bermaksud untuk mengangkat sebuah kajian terhadap Pustakawan Cilik sebagai sebuah program di sekolah yang diharapkan dapat meningkatkan minat baca siswa.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka disusunlah rumusan masalah sebagai berikut:

1.    Bagaimana peranan Pustakawan Cilik dalam meningkatkan minat baca di sekolah?

2.     Bagaimana konsep penerapan Pustakawan Cilik dalam meningkatkan minat baca di sekolah?

C. TUJUAN PENULISAN

Karya Tulis ini dibuat dengan tujuan memberikan kontribusi positif bagi:

1.     Sekolah

a.       Memberikan solusi dalam pengelolaan perpustakaan sekolah yang tidak berjalan efektif.

b.      Memberikan alternatif kegiatan ekstrakulikuler yang dapat diikuti oleh siswa dalam mewujudkan visi dan misi sekolah.

c.       Sebagai program percontohan bagi seluruh sekolah dalam pember-dayaan kemampuan siswa melalui kegiatan ekstrakulikuler di bidang pemasyarakatan minat baca sejak dini.

2.     Siswa

a.       Memberikan sebuah kegiatan ekstrakulikuler baru yang bersifat positif dalam meningkatkan ilmu pengetahuan.

b.      Menanamkan sikap tanggung jawab terhadap tugas yang diemban oleh Pustakawan Cilik.

D. LANDASAN TEORI

1.       Rendahnya Minat Baca

Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan baca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton televisi dan atau mendengarkan radio. Malahan kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya naik sekitar 0,2%. Jumlah itu jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 21,1%.

Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5% dari total penduduk. Sementara itu, mendapatkan informasi dengan menonton televisi sebanyak 85,9% dan mendengarkan radio sebesar 40,3%. (http://tbm.guahira.or.id). (Baderi, 2005).

2.       Penyebab Rendahnya Minat Baca

Arixs (2006) menjelaskan bahwa ada beberapa penyebab rendahnya minat baca di Indonesia, antara lain:

a.       Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dan sebagainya.

b.      Banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca.

c.       Banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket.

d.      Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis. Jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.

e.      Para ibu, saudari-saudari kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan upacara-upacara keagamaan serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, belum lagi harus memberi makan hewan peliharaan seperti babi, bebek, ayam (lebih-lebih kaum wanita di desa) sehingga tiap hari waktu luang sangat minim bahkan hampir tidak ada untuk membantu anak membaca buku.

f.         Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai dari usia sangat dini karena minat ini tumbuh sebagai hasil kebiasaan membaca.

E. PEMBAHASAN

1.       Peranan  Pustakawan Cilik dalam Meningkatkan Minat Baca.

Penyebab rendahnya minat baca bagi di Indonesia khususnya bagi anak-anak umumnya karena faktor eksternal dirinya. Fasilitas di sekolah yang belum maksimal serta sistem pembelajaran tidak mendukung budaya baca. Kondisi keluarga di rumah pun yang tidak terbiasa dalam menanamkan kebiasaan membaca (reading habit) menjadi penyebab rendahnya minat baca anak.

Dapat disimpulkan bahwa untuk menanamkan kebiasaan membaca bagi anak diperlukan sebuah pengkondisian lingkungan. Pengkondisian lingkungan dalam mewujudkan hal tersebut dapat diterapkan di sekolah. Fungsi utama sekolah sebagai tempat belajar perlu memanfaatkan fasilitas perpustakaan sekolah secara maksimal serta sistem pembelajaran yang mengarahkan dalam perwujudan budaya baca.

Pustakawan Cilik adalah sebuah program yang dirancang bagi siswa untuk dapat berperan aktif dalam mengelola perpustakaan yang ada di Sekolah Dasar. Melalui perpustakaan, siswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih banyak dan bervariasi. Siswa menjadi lebih mandiri dalam memperoleh ilmu jika dibiasakan membaca di perpustakaan.

Keberadaan pustakawan cilik tidak berarti guru pustakawan menjadi lepas tangan terhadap tugas utamanya. Guru pustakawan diharapkan mampu membimbing para siswa untuk merasakan bagaimana mengelola perpustakaan. Dengan demikian siswa akan mendapatkan pengalaman untuk dapat bertanggung jawab dalam mengelola perpustakaan. Tanggung jawab untuk mengelola perpustakaan tentunya tidak sampai pada tugas pustakawan sebenarnya.

Program Pustakawan cilik akan diberikan dalam beberapa bentuk kegiatan. Pemberian materi, simulasi, pembelajaran lapangan, serta berbagai bentuk program lainnya yang bertujuan utama dalam meningkatkan minat baca. Sebagai upaya meningkatkan minat baca siswa, maka bentuk program akan dibuat semenarik mungkin bagi siswa. Sehingga menimbulkan kesan bahwa membaca merupakan kegiatan yang menarik serta bermanfaat untuk masa mendatang.

2.       Konsep penerapan Pustakawan Cilik dalam meningkatkan minat baca.

a.       Sasaran

Pelaksanaan perpustakaan cilik diprioritaskan untuk dilaksanakan di tingkat sekolah dasar. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa pembangunan minat baca perlu ditanamkan sejak usia dini. Natadjumena (2006) mengemukakan bahwa kelas IV-VI merupakan tingkatan yang tepat untuk membangun kebiasaan membaca. Sehingga program pustakawan cilik akan diterapkan bagi kelas IV hingga kelas enam. Hal ini akan sesuai sebagaimana tujuan untuk penanaman tanggung jawab dalam mengelola perpustakaan.

b.      Proses Pelaksanaan

Agar pelaksanaan program pustakawan cilik terlaksana dengan baik, maka terdapat proses pelaksanaan yang dilalui yaitu: Perekrutan, Pembinaan, dan Pengontrolan

Proses perekrutan pustakawan cilik dimaksudkan untuk pemilihan siswa yang tertarik untuk mengikuti program ini. Dengan adanya pemilihan ini, dimaksudkan untuk pelaksanaan program pustakawan cilik lebih terarah. Terlebih lagi apabila pustakawan cilik ini masih dalam pelaksanaan perdana.

Pembinaan dilakukan setelah proses perekrutan. Proses pembinaan akan memberikan pemahaman seperti Pentingnya Membaca, Fungsi Perpustakaan, Tugas dan Peran Pustakawan Cilik, Pelayanan Prima di Perpustakaan, serta bagaimana Organisasi Kelompok bagi Pustakawan Cilik. Pembinaan dilakukan oleh guru pustakawan untuk memberikan penguatan dalam penanaman minat baca bagi pustakawan cilik.

Agar terdapat pengontrolan dalam pelaksanaan program, maka akan dilaksanakan evaluasi berkala yang menghasilkan rekomendasi selama kegiatan maupun setelah kegiatan.

c.       Bentuk Kegiatan

Kegiatan yang dilakukan khusus bagi siswa yang menjadi pustakawan cilik adalah pengelolaan perpustakaan, pemberian materi, serta simulasi. Pustakawan cilik selanjutnya menjadi pionir dalam melakukan sosialisasi  untuk mengajak siswa lain untuk membaca di perpustakaan. Secara umum, siswa akan diajak untuk menyukseskan program membaca pada jam tertentu serta program lainnya seperti kunjungan perpustakaan wilayah, museum, lomba menulis dan lainnya yang dapat menarik minat siswa dalam membaca.

F. SIMPULAN

Berdasarkan analisis dan sintesis yang dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.       Pustakawan Cilik memberikan peranan dalam meningkatkan minat baca siswa di sekolah, khususnya di sekolah dasar. Peningkatan tersebut diperoleh melalui pengkondisian lingkungan sekolah serta peranannya dalam mengelola perpustakaan.

2.       Konsep pelaksanaan Pustakawan Cilik terdiri meliputi sasaran pelaksanaan, tahapan pelaksanaan yang meliputi perekrutan dan pembinaan, bentuk pelaksanaan, serta pengontrolan yang dilakukan agar program berjalan dengan lancar.

G. SARAN

Adapun saran-saran yang dapat diberikan demi suksesnya program pustakawan cilik adalah sebagai berikut:

1.       Pihak pemerintah dapat menerapkan konsep Pustakawan Cilik sebagai salah satu ekstrakulikuler.

2.       Pihak sekolah diharapkan dapat mendukung melalui penerapan program pustakawan cilik di sekolah.

3.       Koordinasi antara guru, pustakawan, dan kepala sekolah agar tercipta lingkungan sekolah yang memiliki budaya membaca.

4.       Sarana perpustakaan sekolah hendaknya dilengkapi, khususnya buku yang bervariasi (bukan buku ajar saja) dalam menarik minat membaca siswa.

5.       Diharapkan dilakukan penelitian tindakan (action research) dalam menerapkan dan mengembangkan efektifitas konsep ini.

H. DAFTAR PUSTAKA

Ayun, Q. 2008. Peningkatan Minat Baca Siswa Kelas IV MI Muawanah Banjaranyar melalui Program Jam Baca. Online. “http://karya-ilmiah.um.ac.id/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Administrator. Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Lingkungan. Online. http://pendidikan.net/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Arixs, 2006. Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. Online. http://www.cybertokoh.com/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Baderi, A. 2005. Meningkatkan Minat Baca Masyarakat melalui Suatu Kelembagaan Nasional. Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Pustakawan Utama. Online. http://pustakawan.pnri.go.id/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Hakim, H.A.B. 2008. Perpustakaan Sekolah Sarana Peningkatan Minat Baca. Online. http://www.heri_abi.staff.ugm.ac.id/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Media Indonesia. 7.000 Sekolah Butuh Pustakawan. Online. http://pendidikan.net/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Natadjumena. 2006. Perpustakaan Sekolah Lahan Tidur Pustakawan. Orasi Ilmiah tidak diterbitkan. Online. http://pustakawan.pnri.go.id/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Permadi, P. 2007. Quo Vadis Perpustakaan Nasional R.I. Orasi Ilmiah. Online. http://pustakawan.pnri.go.id/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Cetakan Kelima. Bandung: Alfabeta.

Sulaiman, I. 2007. Peranan Perpustakaan Pesantren dalam Pendidikan. Online. http://pustakawan.pnri.go.id/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Sunartio, H. H. N. 2007. Perpustakaan Pusat Penelitian dan Pengembangan: Antara keinginan dan Kenyataan. Orasi Ilmiah. Online. http://pustakawan.pnri.go.id/. Diakses pada tanggal 28 Maret 2009.

Supriyoko, 2004. Minat baca dan Kualitas Bangsa. Online. http://www.bit.lipi.go.id/. Diakses pada tanggal 17 April 2009.

Penulis: Arman M. Yusuf

JL. Hertasning E 12/5 Makassar

Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) PENALARAN Universitas Negeri Makassar

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


nine + 3 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose