Home / Artikel Perpustakaan / Revolusi Menuju Mayarakat Cinta Membaca

Revolusi Menuju Mayarakat Cinta Membaca

Indonesia adalah negara yang memiliki populasi penduduk tertinggi ke-4 di dunia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, tentu memiliki keanekaragaman budaya yang berbeda-beda. Keanekaragaman budaya tersebut merupakan suatu identitas bangsa (uniqueness capital) bagi Indonesia. Akar-akar budaya bangsa yang beragam yang telah mendarah daging pada diri tiap individu bangsa Indonesia, menyebabkan keberagamaan budaya  Indonesia menjadi terkenal dan dipandang di mata dunia, contohnya budaya dalam bentuk tarian, budaya dalam bentuk motif batik, budaya dalam bentuk alat musik tradisional, budaya dalam bentuk pakaian, budaya dalam bentuk makanan dan minuman tradisional, budaya dalam bentuk permainan tradisional, budaya dalam bentuk kebiasaan. Namun, faktanya, budaya kebiasaan bangsa Indonesia saat ini masih belum mampu membawa citra baik bagi bangsa Indonesia sendiri. Hal tersebut bisa dilihat dari perbuatan negara-negara lain yang mengeklaim budaya-budaya Indonesia, seperti budaya tarian, budaya motif batik, hingga budaya makanan taradisional, tetapi tidak untuk pengeklaiman budaya kebiasaan bangsa Indonesia. Budaya-budaya berbentuk kebiasaan kurang baik yang hingga saat ini masih melekat dalam diri bangsa Indonesia.yaitu budaya mengaret (tidak tepat waktu), dan budaya malas membaca. Semestinya hal tersebut memberikan pertanyaan besar dan perhatian lebih bagi bangsa Indonesia.

Menurut International Association for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29 setingkat di atas Venezuela. Peta di atas relevan dengan hasil studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan  Education in Indonesia from Crisis to Recovery tahun 1998, hasil studi tersebut menunjukan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI sekolah dasar kita, hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina yang memperoleh 52,6  dan Thailand dengan nilai 65,1 serta Singapura dengan nilai 74,0 dan Hongkong yang memperoleh 75,5. Berdasarkan laporan UNDP tahun 2003 dalam  Human Development Report 2003 bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks HDI) berdasarkan angka buta huruf menunjukan bahwa  Pembangunan Manusia di Indonesia menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia yang dievaluasi, sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109 padahal Negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar, namun Negara mereka lebih yakin bahwa dengan membangun manusianya sebagai prioritas terdepan akan mampu mengejar ketinggalan yang selama ini mereka alami. Melihat beberapa hasil studi di atas dan laporan UNDP di Indonesia , ini adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa kita. Hingga istilah malas membaca agaknya menjadi hal yang telah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia.

Budaya malas membaca yang telah membudaya di kalangan bangsa Indonesia sebenarnya bisa saja tidak terjadi, jika setiap individu bangsa Indonesia memahami tentang pentingnya arti membaca bagi individu tersebut. Dengan membaca, seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan, dan meningkatkan kecerdasan. Pemahaman terhadap kehidupan pun akan semakin tajam karena membaca dapat membuka cakrawala untuk berpikir kritis dan sistematis. Selain itu membaca dapat dijadikan tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Hanya dengan melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran, membaca bisa menjadi kegiatan sederhana yang membutuhkan modal sedikit, tapi menuai begitu banyak keuntungan. Sungguh investasi jangka panjang yang menguntungkan.

Sebenarnya, kebiasaan membaca adalah ketrampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan ketrampilan bawaan. Oleh karena itu kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Namun, faktanya, memupuk, membina dan mengembangkan kebiasaan membaca itu tidak semudah membalikkan tangan, banyak faktor penghambat dalam merealisasikan niat baik tersebut. Faktor-faktor penghambat tersebut juga beragam, misalnya, kemajuan media elektronik, kemajuan jenis hiburan atau permainan, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, klub malam, mall, supermarket yang dapat menyita perhatian individu dari buku. Faktor penghambat lain bisa saja timbul ketika sarana dan prasarana untuk mendukung budaya giat membaca itu tidak memadai, bahkan langka, seperti perpustakaan atau taman bacaan yang masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan, jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan, hingga suasana di dalam perpustakaan yang tidak mendukung terciptanya kenyamanan si pembaca. Banyaknya faktor-faktor penghambat di atas seharusnya menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia dalam mengatasi budaya malas membaca.

Namun, jika kita cermati lebih dalam mengenai masalah yang ada dan faktor-faktor penghambat yang timbul, perpustakaan mengambil peranan penting dalam mempengaruhi terbentuknya budaya malas membaca. Tidak dapat dipungkiri, di era globalisasi dan kemajuan teknologi seperti saat ini, perpustakaan seperti kehilangan peminatnya, apalagi diperparah dengan faktor kurangnya sarana dan prasarana serta kenyamanan perpustakaan seperti yang telah disebutkan di atas. Padahal, seharusnya perpustakaan dapat mengambil peranan penting dalam memberantas budaya malas membaca dan dapat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa, bukan sebaliknya. Jika perpustakaan telah memenuhi peranan tersebut, perpustakaan dapat dikatakan sebagai perpustakaan ideal. Namun, hal ini tentu tak terlepas dari peran masyarakat dan pemerintah. Dukungan dan satu-padu mereka adalah motor penggerak dalam mencapai perealisasian perpustakaan ideal tersebut.

Sebelum  kita melangkah lebih jauh mengenai kriteria perpustakaan ideal, sebaiknya kita mengetahui apakah arti dari kata ideal itu sendiri. Ideal berarti sesuai seperti yang diinginkan atau dikehendaki. Jadi perpustakaan ideal adalah perpustakaan yang diminati oleh masyarakat, karena sesuai dengan keinginan masyarakat. Perpustakaan ideal seharusnya memiliki standar penilaian agar tetap diminati masyarakat, seperti :

1.       Letak dan suasana gedung pepustakaan

Letak gedung perpustakaan seharusnya diletakkan di tempat strategis di pusat kota sesuai dengan rencana tata ruang kota, sehingga akan dapat dengan mudah dijangkau oleh semua anggota masyarakat. Lokasi bangunannya juga harus cukup untuk menampung pengunjung baik di dalam maupun di luar gedung perpustakaan.

Di sisi lain, suasana tentu saja berpengaruh dalam hasil yang dicapai pengunjung pada saat itu. Dalam hal ini, perpustakaan seharusnya diciptakan dengan suasana nyaman, bersih, nan indah guna  terciptanya kenyamanan pembaca.

Inovasi-inovasi juga bisa diberikan pada perpustakaan agar bisa lebih menarik pengunjung, seperti dibangunnya dua ruang, yaitu ruang diskusi dan ruang tenang. Seperti yang kita ketahui, ada tipe pembaca yang lebih suka berada di ruangan tenang dan membaca dalam keadaan senyap, tetapi ada juga tipe pembaca yang lebih suka membaca sambil mendengarkan musik serta berdiskusi dengan sesama pembaca. Kedua pembaca ini tentu saja kurang cocok bila bersama dalam satu ruangan, karena berpotensi menganggu satu sama lain. Menyikapi hal ini, perpustakaan  bisa menambah ruangan baru, untuk dimanfaatkan sebagai ruang diskusi, tanpa mengesampingkan ruangan utama yaitu ruangan membaca secara konvensional.

2.       Sarana dan Prasarana yang memadai

Sarana dan prasarana juga berperan sangat penting untuk menambah nilai sebagai perpustakaan ideal. Dalam hal ini, untuk menciptakan kenyamanan bagi para pembaca, meja dan kursi tentu harus diperhatikan. Jumlahnya harus diimbangi dengan rata-rata jumlah pengunjung, sehingga seluruh pengunjung dapat duduk dan membaca dengan nyaman. Tempat duduk tersebut tidak perlu mahal, tetapi yang paling penting adalah dapat membuat nyaman para pembaca saat duduk. Inovasi lainnya juga dapat dilakukan dengan menyediakan tempat membaca tanpa kursi dan meja (lesehan), sehingga pembaca bisa membaca dengan santai tanpa perlu terikat dengan meja dan kursi.

3.       Pelayanan yang baik serta ramah.

Saat ini, perpustakaan di Indonesia kebanyakan menyediakan suatu tempat dengan rak-rak buku sehingga pengunjung bebas memilih buku yang dibacanya. Tetapi cara ini tidak efektif karena terkadang buku yang diambil dikembalikan tidak pada tempat yang sebenarnya, yang semestinya di rak A dikembalikan ke rak B. Ditambah lagi terkadang buku-buku di rak tersebut tidak tersusun dengan rapi. Hal itu pula yang menyebabkan pengunjung tidak menemukan buku yang mereka cari. Untuk mengatasi hal ini, alangkah baiknya jika diciptakan inovasi suatu sistem pelayanan dimana pengunjung cukup mendatangi petugas dan memesan kriteria atau judul buku yang ingin dibaca di tempat atau yang ingin dipinjam. Kemudian petugas akan mengantar buku yang diinginkan ke meja pengunjung dan jika telah selesai membaca buku, pengunjung dapat mengembalikan buku ke meja petugas

4.       Kualitas dan kelengkapan buku.

Sebagai tempat yang meminjamkan buku maka seharusnya perpustakaan memiliki koleksi buku yang lengkap serta memiliki kualitas bacaan yang baik. Perpustakaan ideal tidak akan bisa terbentuk jika hal ini tak terpenuhi, karena hal ini merupakan masalah pokok yang harus dimiliki.

Perpustakaan-perpustakaan yang ada saat ini cenderung tidak meng-update koleksi bukunya dan hanya mempertahankan koleksi lama. Terutama di beberapa bidang yang perkembangannya sangat pesat, seperti bidang teknologi informasi misalnya, buku-buku terbaru sangat dibutuhkan oleh pembaca. Selain buku, perpustakaan seharusnya juga berlangganan beberapa majalah-majalah di berbagai bidang, seperti otomotif, musik, atau majalah teknologi.

Jika kita cermati kriteria dan inovasi-inovasi terciptanya perpustakaan ideal tersebut di atas, tentu tidak mudah mewujudkannya. Tingginya dana adalah faktor penghambat terwujudnya hal tersebut. Namun, hal itu tidak perlu dirisaukan, jika perpustakaan dapat menggali dana secara swadaya dengan menarik biaya dari para anggotanya, namun menawarkan kenyamanan, sarana dan prasarana yang membuat masyarakat tidak merasa rugi mengeluarkan uang untuk datang ke perpustakaan.

Sebagian dana dari anggota perpustakaan tersebut dibagi ke dalam kantong-kantong keuangan perpustakaan guna menambah nilai perpustakaan ideal yang telah disebutkan di atas dan sebagian dana digunakan untuk membantu pendanaan pada perpustakaan keliling. Kemudian perpustakaan keliling inilah yang nantinya menjadi alternatif bagi masyarakat yang kurang mampu menjadi anggota perpustakaan. Dengan perpustakaan keliling inilah, masyarakat kurang mampu dapat membaca, meminjam, maupun menjadi anggota perpustakaan cukup dengan menghubungi perpustakaan perpustakaan keliling. Dengan begitu masyarakat menengah ke atas maupun masyarakat menengah ke bawah dapat menikmati perpustakaan di manapun mereka berada. Jika hal ini dapat terwujud, budaya masyarakat malas membaca di Indonesia diharapkan dapat berevolusi menjadi budaya masyarakat cinta membaca. Namun, hal ini juga harus didukung oleh pemerintah dan semua elemen mayrakat.

Penulis: Dimas Tri Rendra Graha

Surabaya

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


+ 7 = nine

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose