Satu Hari Kutu Buku Lima Belas Menit

A.   Latar Belakang

Buku adalah Jendela Dunia. Itulah salah satu slogan yang disampaikan kepada masyarakat agar gemar membaca, khususnya di sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah, perpustakaan umum milik pemerintah, ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati buku terhadap masyarakat. Bahkan Duta Baca Indonesia, Tantowi Yahya, menyatakan Ibuku, perpustakaan pertamaku dan mensosialisasikan budaya membaca kepada masyarakat.

Dewasa ini, budaya membaca memang luput dari perhatian masyarakat, baik dari kalangan masyarakat umum maupun kalangan pelajar. Ini dapat dilihat dengan sedikitnya orang yang berkunjung ke perpustakaan, tradisi membaca di dalam dan luar rumah.

Berkembangnya teknologi jaringan dunia maya, banyaknya kegiatan pengisi waktumeskupun positifdan sebagainya menjadi alasan utama untuk tidak membaca.

Membaca tidak memerlukan waktu khusus, tidak memakan banyak waktu dan dapat dilakukan setiap harinya. Dalam satu hari saja tentunya kita (baca:masyarakat) memiliki waktu luang dalam melakukan aktivitas satu ke aktivitas selanjutnya meskipun tidak setiap peralalihan aktivitas kita memilki waktu luang. Tentunya bukanlah hal yang memberatkan mengisi waktu luang tersebut dengan membaca buku meskipun sebentar saja.

B. Permasalahan

  1. Siapakah yang berperan dalam upaya membudayakan membaca?
  2. Bagaimana menumbuhkan minat membaca sejak usia dini?
  3. Bagaimana upaya masyarakat membudayakan membaca buku paling sedikit lima belas menit setiap harinya?

C. Tujuan

Penulisan artikel ini dimaksudkan untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat terhadap budaya baca buku yang merupakan jati diri bangsa.

Secara spesifik, penelitian ini bertujuan;

D. Landasan Teori

Amanat Undang-Undang no. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 ayat (5) mengenai Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan melalui budaya membaca. Amanat ini menunjukkan bahwa budaya membaca merupakan kebudayaan jati diri bangsa Indonesia. Berkembangnya dunia atau globalisasi tidak berarti kita (baca:bangsa Indonesia) harus kehilangan kepribadian atau jati diri bangsa, namun sebaliknya, globalisasi seharusnya menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki suatu kebudayaan yang patut menjadi teladan yang dikenal seluruh penjuru dunia.

Budaya membaca kini telah mulai ditinggalkan oleh masyarakat kita yang bila ditinjau memiliki beberapa alasan. Ada yang beralasan karena sulitnya menjangkau perpustakaan di daerah pelosok, ada yang beralasan sibuk sehingga tidak memiliki waktu membaca buku, bahkan yang cukup ironi adalah beralasan bahwa membaca merupakan pekerjaan yang tidak penting dan membosankan.

Membaca tidaklah membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran secara khusus. Bahkan membaca dapat dilakukan disela-sela waktu aktivitas kita. Jadi, tidak alasan untuk tidak membaca. Tiada Hari Tanpa Membaca Buku. Slogan yang harus dijadikan upaya agar kita senantiasa cinta membaca.

E. Pembahasan

Membaca merupakan dari jendela dunia, karena membaca banyak hal yang semula tidak kita ketahui menjadi tahu. Tidak sulit untuk mendapatkan buku-buku untuk membaca. Kita dapat membeli buku-buku yang kita ingin di toko-toko buku ataupun dapat dipinjam melalui perpustakaan dan rekan-rekan terdekat seperti teman atau tetangga. Bahkan kita dapat membaca buku-buku elektronik (dikenal istilah e-book) melalui jaringan internet yang dapat diunduh (download).

Namun sayangnya, minat masyarakat terhadap buku masih sangat rendah. Dengan media yang berbeda, data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 perihal budaya baca bangsa Indonesia juga sangat rendah. Data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 %. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 %, buku cerita 16,72 %, buku pelajaran sekolah 44.28 %, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07  %.

Persoalan budaya baca agaknya tetap menjadi persoalan besar di negeri ini. Penyair Taufiq Ismail, disela-sela diskusi sastra di Rumah Dunia (17 November 2007) mengungkapkan bahwa bangsa kita rabun membaca dan pincang menulis. Hal ini ia tegaskan setelah melakukan penelitian sederhana kepada Siswa SMU di 13 negara. Jika siswa SMU di Amerika Serikat menghabiskan 32 judul buku sastra selama tiga tahun, di Jepang dan Swiss 15 buku, siswa SMU di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam menamatkan membaca 5-7 judul buku sastra, siswa SMU di Indonesia-setelah era AMS Hindia Belanda-adalah nol buku. Padahal, pada era Algemeene Middelbare School (AMS) Hindia Belanda, selama belajar di sana siswa diwajibkan membaca 15-25 judul buku sastra.

Padahal membudayakan membaca tidaklah sulit. Hanya saja perihal tersebut harus dilakukan secara terus-menerus atau pembiasaan. Alangkah baiknya bila waktu luang digunakan untuk membaca buku. Bila dalam satu hari saja kita membaca rata-rata lima belas menit, dalam satu bulan saja kita sudah membaca selama 450 ratus menit atau 7 jam 30 menit hanya dengan mengisi kekosongan waktu. Bila satu tahun berarti kita sudah membaca buku selama sembilan puluh jam. Dengan membiasakan membaca dengan cara seperti ini, kita dapat memperkaya wawasan dengan mudah.

1.    Gaya Hidup Baru dengan Kembali pada Budaya Lama

Tentang minat baca masyarakat Jepang yang tinggi, memang sudah sejak Restorasi Meiji lebih seabad lalu, Jepang memiliki tekad untuk mengejar kemajuan kebudayaan Barat. Sampai sekarang pun ribuan buku asing, terutama dari Amerika dan Eropa, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Seperti orang kehausan, mereka tidak henti-hentinya menimba ilmu dan pengetahuan lewat bacaan. Untuk penduduk sekitar 125 juta orang, di sana tiap harinya beredar puluhan juta eksemplar surat kabar, tiap bulannya beredar ratusan juta eksemplar majalah dan jenis terbitan serupa, dan tiap tahunnya dicetak lebih dari 1 miliar buku. Pemegang rekor dunia. Lebih dari 50% tenaga kerja menangani industri ilmu pengetahuan.

Ekspose para utusan luar negeri di seminar Reading for all itu menyemangati publik yang gemar membaca di Indonesia. Intinya mereka menegaskan, maju tidaknya minat baca masyarakat berkaitan erat dengan peningkatan kemajuan suatu masyarakat. Dan peningkatan minat baca yang paling efektif adalah yang melalui jalur pendidikan formal. Di Belanda, peningkatan minat baca disiasati dengan mengharuskan para siswa memperkaya pengetahuan dengan membaca, ditunjang sistem perpustakaan yang memenuhi kebutuhan mereka. Di Singapura, minat baca para siswa ditumbuhkan lewat kurikulum. Misalnya guru mengharuskan siswa menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan dukungan sebanyak mungkin buku. Di Australia, para siswa dibekali dengan semacam kartu untuk menuliskan judul buku yang dibaca. Catatan hasil membaca dan penilaian atas buku yang dibaca dilakukan setiap hari, sebelum kelas dimulai. Guru menyuruh setiap siswa menceritakan isi buku yang telah dibacanya. Sistem ini sekarang diberlakukan juga di sekolah-sekolah Indonesia yang berafiliasi dengan sekolah-sekolah Australia.

Untuk menunjang peningkatan minat baca, memang tidak akan cukup hanya dengan imbauan dan seruan. Banyak persoalan lebih gawat yang dihadapi masyarakat sehingga peningkatan minat baca dianggap bukan secara langsung menjadi tanggung jawab mereka. Karena itu kebijakan tersebut harus dijalin dalam sistem, khususnya dalam sistem pendidikan formal. Di luar itu, terbangunnya sistem dan fasilitas-fasilitas pendukung menjadi harapan banyak orang, termasuk pengadaan buku-buku bermutu yang harganya terjangkau dan jumlahnya mencukupi. Juga perpustakaan-perpustakaan yang jumlahnya memadai, untuk sekolah-sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi maupun perpustakaan-perpustakaan umum. Misalnya, selain yang milik pemerintah, akan sangat ideal kalau tiap RT, atau paling tidak tiap RW, berprakarsa membangun perpustakaan atau balai bacaan bagi warganya. Sejumlah budayawan aktivis telah melakukannya.

2.    Menumbuhkan Cinta Buku dan Baca pada Anak-anak

Membaca sudah menjadi kebutuhan pokok saat ini, karena dengan membaca kita akan mengetahui segala informasi yang kita butuhkan. Pembekalan intelektual dan emosional pada anak sudah harus dilakukan sejak dini. Begitu juga dalam membaca, karena merupakan basic mengembangkan intelektual.

Sejak usia tiga bulan setelah anak sudah dapat melihat, anak sudah dapat dirangsang untuk mencintai buku dan membaca, melalui dibacakan cerita, mainan buku, melihat alam sekitar, dan sebagainya. Setelah usia enam bulan anak sudah mulai dapat duduk anak dapat dirangsang unutk memegang buku. Nah, setelah usia tiga tahun, dapat dilakukan dengan membimbing membaca melalui dongeng.

Kiat-kiat berikut dapat membantu para orang tua agar anak-anak mereka tumbuh cinta buku;

  1. Ajaklah anak untuk sering ke toko buku atau ke perpustakaan
  2. Jangan paksa untuk melihat atau membaca salah satu judul buku
  3. Sesuaikan bahan bacaan atau buku (bentuk fisik) sesuai dengan tahapan usia membaca
  4. Upayakan lebih banyak membaca dengan buku bergambar karena akan lebih merangsang anak mencari tahu
  5. Segera bacakan bila diminta dibacakan atau diceritakan
  6. Jangan menolak setiap pertanyaan anak. Bila kita tidak tahu jawabannya, ajaklah untuk mencari di buku yang bergambar atau mencari tahu kepada orang lain.
  7. Ajaklah anak untuk berdiskusi tentang keadaan si sekitar yang pernah dilihat si anak dengan membuka buku yang terkait.
  8. Ajaklah membaca buku secara intensif minimal lima belas menit dalam sehari

3.    Tujuh Kiat Membaca Buku dengan Efektif

  1. Ketika anda mulai membaca buku baru, bacalah terlebih dahulu isi luar buku tersebut, resensi buku dibelakang, biografi penulis, kata pengantar, daftar isi dan lain-lain
  2. Ketika membaca ubah kebiasaan anda menggerakkan bibir, menunjuk tulisan, dan vokalisasi bacaan karena akan memperlambat anda dalam membaca dan itu membuang waktu anda untuk membaca kembali halaman selanjutnya atau bahkan buku yang lainnya
  3. Cobalah berlatih membaca cepat sehingga kecepatan anda membaca terus meningkat, cobalah membaca buku belajar membaca cepat yang ditujukan agar anda dapat berlatih membaca dengan efektif dan efisien
  4. Baca setiap tulisan tiap paragraf dengan teratur jangan melompat ke paragraf selanjutnya sebelum anda menyelesaikan paragraf tersebut. Setelah selesai membaca beberapa halaman dari buku tersebut tanyakan kepada diri anda beberapa pertanyaan dari bacaan tersebut, jika anda belum dapat memahaminya baca sekali lagi.
  5. Temukan ide pokok pada buku yang anda baca, membacalah lebih kritis, jika perlu siapkan catatan kecil untuk bagian bacaan yang perlu di ingat.
  6. Cobalah konsentrasi dalam membaca bacaan yang cukup berat, gunakan tips cara belajar yang sudah diberikan untuk menambah konsentrasi.
  7. Gunakan setiap waktu luang anda untuk membaca, usahakan anda membawa buku bacaan yang seukuran dengan saku anda atau surat kabar. Anda Dapat membacanya pada saat menunggu bis, menunggu makanan, atau pada saat menunggu teman anda.Sehingga waktu anda tidak terbuang percuma. Anda hanya membutuhkan waktu minimal 15 menit untuk membaca dalam setiap waktu luang anda. Akan tetapi ini bukan untuk jenis bacaan berat seperti textbook kuliah anda, paper dosen anda atau bacaan berat lainnya yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi untuk membacanya.

F.  Kesimpulan dan Saran

Membudayakan membaca perlu pembiasaan. Membaca akan lebih mudah bila sudah terbiasa, khususnya bila dimulai dengan langkah-langkah yang sederhana, seperti membaca buku secara intensif selama lima belas menit. Membudayakan kebiasaan membaca tidak memerlukan waktu khusus. Kita dapat membudayakan membacakan dengan disela-sela waktu kesibukan kita sehari-hari.  Cara seperti ini dapat dilakukan semua kalangan masyarakat dari berbagai usia.

Kita dapat memulai membudayakan baca dimulai saat ini juga. Sebaiknya kebiasaan ini tidak hanya kita lakukan sendiri, tetapi juga orang-orang terdekat khususnya pada anak-anak. Anak pada usia satu hingga tiga tahun merupakan masa pertumbuhan otak hingga 80 % atau dikenal dengan istilah Golden Growth Barin sehingga apabila mereka sudah terbiasa membaca buku, maka hal tersebut akan terbiasa pula usia dewasa dengan mudah.

G. Daftar Pustaka

  1. Buku

Dargatz, Jan. 52 Cara Membangun Harga Diri dan Percaya Diri Anak. Penerbit Pustaka Tangga

Leonhardt, Mary. 99 Cara Menjadikan Anak Anda Keranjingan Membaca. Penerbit Mizan

Munandar, Prof. Dr. Utami dan Prof. Dr. Joan Freeman. Cerdas dan Cemerlang. Jakarta:Penerbit Gramedia

  1. Website

www.fedus.com

www.opensubscriber.com

www.persmaitb.itgo.com

Penulis: Rakhmat Muliawan

Alamat: Bukit Lama Palembang

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

By Pemustaka on 26 November 2011 · Posted in Artikel Perpustakaan

Be the first to post a comment.