Home / Artikel Perpustakaan / Stimulasi Linguistik Sejak Dini, Upaya Membangun Budaya Baca Dalam Perspektif Psikologi

Stimulasi Linguistik Sejak Dini, Upaya Membangun Budaya Baca Dalam Perspektif Psikologi

Membangun budaya membaca, dalam sebuah masyarakat yang masih kurang apresiatif terhadap buku, bukanlah sesuatu yang mudah. Akan tetapi, ini sama sekali bukan sebuah isyarat bahwa mengupayakan budaya membaca adalah hal yang mustahil. Menyoal apresiasi masyarakat yang masih rendah terhadap buku dan budaya membaca, kita tidak boleh secara linier menyalahkan masyarakat. Apa pasal? Keadaan di mana masyarakat kurang responsif terhadap buku dan budaya membaca adalah efek dari kemiskinan, dan aktivitas utama masyarakat yang berpusat pada pemenuhan kebutuhan dasar.

Fakta empirik tentang minat baca yang rendah, seperti dilansir www.jurnalbogor.com menuliskan bahwa minat baca masyarakat Kota Bogor dinilai masih rendah, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi rendahnya budaya baca. Hal senada, juga disimpulkan oleh Ki Supriyoko[1] yang menuliskan, kebiasaan membaca pada masyarakat umum juga rendah. Salah satu indikatornya adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi sepuluh orang, tetapi di Indonesia angkanya 1:45; artinya setiap 45 orang mengonsumsi satu surat kabar.

Dalam sebuah kultur masyarakat yang sejahtera, membaca adalah sebuah budaya sehat dan pemantik gerakan ilmu pengetahuan. Tetapi, dalam masyarakat yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, aktivitas membaca menempati prioritas ke sekian, bahkan sama sekali tidak diperhitungkan. Sekali lagi, kita kini bicara tentang prioritas. Artinya, ketika kondisi masyarakat telah sejahtera, atau pun menuju ke sejahtera tapi memiliki fokus yang besar terhadap keberlangsungan pendidikan dan transformasi ilmu pengetahuan, maka budaya membaca adalah hal yang niscaya.

Dalam pandangan sosio-kultural seperti di atas, budaya membaca dapat saja terwujud, tetapi belum secara total. Oleh karena itulah, starting point dari uraian ini adalah upaya menganalisa dan membangun budaya membaca, melalui perspektif psikologi dan kajian linguistik. Memilih psikologi dan linguistik sebagai paradigma untuk membangun budaya membaca, tentu bukan tanpa makna. Pasalnya, keilmuan psikologi kaya akan aspek manusiawi dengan pendekatan humanistik[2] dan fenomenologi[3], yang memungkinkan lahirnya solusi-solusi praktis sekaligus pragmatis dan tidak melangit.

Sedangkan linguistik, berkaitan erat dengan keterampilan membaca, mengelola informasi, dan karenanya menjadi bagian yang penting dalam memformulasikan stimulasi linguistik sejak dini. Kenapa harus sejak dini? Psikologi perkembangan mempercayai bahwa setiap individu tumbuh dan berkembang dengan awalan dan proses yang sama sekali tak sama. Akan tetapi, setiap tahap perkembangan dibangun oleh tahap perkembangan berikutnya. Dalam istilah psikologi, hal itu dinamakan prinsip epigenetik. Kausalitasnya adalah sebuah fakta tak terbantahkan bahwa tahapan perkembangan dapat diprediksi berdasarkan stimulasi dan pondasi yang dibangun sejak awal, dengan mempertimbangkan kontinuitas upaya.

Membangun budaya membaca, tentu saja merupakan respon yang aktif atas prakarsa pemerintah ataupun organisasi tertentu yang memberikan fasilitas perpustakaan. Gerakan masyarakat cinta pustaka ini, sesungguhnya berupaya mengkompensasi fenomena melangitnya harga buku-buku, dan orientasi masyarakat yang masih belum begitu menggembirakan dalam ranah gerakan intelektualitas. Jika tidak diformulasikan sejak awal, maka masyarakat kita akan semakin jauh dari akses ilmu pengetahuan, baik yang bersifat popular, atau bahkan saintifik. Tentu saja, ini adalah fenomena yang harus dihindari secara kolektif.

Maka kemudian,  sangat menarik mencermati sekaligus memformulasikan stimulasi linguistik pada anak sejak dini agar mencintai sekaligus menginternalisasi aktivitas membaca. Jika dalam sistem eksosistem[4]pemerintah kita telah memberikan fasilitas perpustakaan, maka adalah sebuah hal yang wajar bagi kita untuk merespon dan memanfaatkannya. Bagaimanapun juga, aktivitas membaca tidak berarti hanya menjumlahkan kata-kata dan suara, tetapi membaca mengaksentuasikan pada ketrampilan memproses informasi. Proses informasi ini, adalah indikator dari keberhasilan membaca.

Kejenuhan membaca, disebabkan salah satunya oleh kegagalan atau parsialnya informasi yang ditangkap individu dalam aktivitas membaca. Sehingga, totalitas informasi tidak tercover secara total, dan akibatnya adalah membaca menjadi aktivitas  yang sifatnya perifer. Oleh karena itu, melatih pemrosesan informasi dalam aspek baca, adalah hal yang penting. Lagi-lagi, ini membutuhkan kajian linguistik, dan perspektif bahasa. Tentu saja problem esensialnya adalah, bagaimana membuat anak cerdas memproses  informasi dalam bacaan, sekaligus stimulasi apa yang dapat dilakukan kelak, agar setelah mampu membaca, anak-anakjuga individu dewasa lainnyamampu menikmati aktivitas membaca secara total.

Dalam hal memilih bahan bacaan, ada banyak alternatif genre sastra ataupun non sastra yang bisa dipilih. Akan tetapi, untuk lebih menumbuhkan minat baca atau semacam intelegensi dalam membaca dan menyerap ilmu pengetahuan, faktor lingkungan ternyata memiliki peran yang tidak dapat dinafikan . Psikologi mengistilahkannya dengan pengalaman lingkungan. Santrock(2005; 51) mengemukakan bahwa pengaruh lingkungan yang dialami bersama (shared enviromental influences) merupakan pengalaman bersama anak-anak seperti kepribadian, orientasi intelektual, dan kelas sosial keluarga akan berpengaruh kepada intensi  dan orientasi anak ke depan.

Lebih lanjut, Santrock (2005; 97) juga mengemukakan keturunan dan lingkungan bekerja bersama-sama untuk menghasilkan intelegensi, perangai, pola kepribadian, dan ketrampilan-ketrampilan yang bersifat sosio-emosi lainnya. Akan tetapi, pandangan optimistik kemudian mempercayai, bahwa faktor genetis akan dapat dikompensasi oleh faktor lingkungan. Artinya, untuk dapat mengupayakan budaya baca sejak dini, masyarakat secara massal harus melakukan beberapa upaya, sebut saja stimulasi. Cara itu dapat ditempuh dengan  memberi keteladanan budaya membaca atau hal-hal yang bersifat stimulan lainnya.

Mengupayakan budaya membaca kepada orang-orang dewasa, tidak serumit melakukan stimulasi membaca kepada anak usia dini. Keduanya sama-sama penting, tetapi, memberikan stimulasi kepada anak usia dini untuk menyukai aktivitas membaca di kemudian hari bukanlah hal yang sederhana dan praktis. Stimulasi membaca, dimulai sejak awal, bahkan jauh sebelum anak dapat membaca dengan baik dan benar. Stimulasi ini, bertujuan memberikan sebuah ketertarikan kepada anak-anak bahwa membaca adalah aktivitas yang menyenangkan. Stimulasi linguistik semacam ini, dapat dilakukan dengan mendongeng, membacakan cerita, berbincang denngan anak, memberikan seumlah pengetahuan dasar bagi anak, dan lain sebagainya. Nah, untuk  melakukan stimulasi semacam itu, diperlukan keterampilan baik intelektual, maupun kecakapan sosio-emosional dari orang tua dan orang dewasa lain di sekitarnya.

Di sisi yang lain, ada sebuah fakta memprihatinkan dalam masyarakat kita. Rendahnya budaya membaca ternyata merupakan perpanjangan dari fenomena kegagalan penguasaan ketrampilan membaca yang dialami anak-anak. Fakta mengemukakan (sebagaimana dilansir http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/minat-baca/72-minat-baca-dan-kualitas-bangsa), world Bank di dalam salah satu laporan pendidikannya, “Education in Indonesia – From Crisis to Recovery” (1998) melukiskan begitu rendahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia. Dengan mengutip hasil studi dari Vincent Greanary, dilukiskan siswa-siswa kelas enam SD Indonesia dengan nilai 51,7 berada di urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Artinya, kemampuan membaca siswa kita memang paling buruk dibandingkan siswa dari negara-negara lainnya.

Sampai di sini, semua menjadi sangat yakin, bahwa stimulasi linguisitik yang akan menstumulais anak untuk lebih bersemangat dalam menguasai keterampilan membaca sangatlah diperlukan. Memeberi stimulasi agar anak bergairah dalam berlatih membaca, bukan hanya berarti memaksa anak menguasai ketrampilan kompleks itu. Akan tetapi, lebih mengaksentuasikan bahwa lingkungan, baik orang-tua maupun orang-orang dewasa di sekita anak, mampu memberikan kesan bahwa pengetahuan adalah penting, maka membaca adalah bagian dari proses mengetahui. Lebih lanjut,stimulasi ini seharusnya mengesankan bahwa   aktivitas intelektual yang kompleks itu menyenangkan karena akan bermuara pada aktivitas yang fun dan mencerdaskan.

Selain dengan model komunikasi ceramah, ada sebuah strategi klasik yang cukup unik, agar anak-anak tertarik pada aktivitas membaca, kelak di kemudian hari. Stimulasi itu adalah dongeng. Mendongeng, selain membuat anak tertarik untuk mengetahui pesan-pesan dan cerita menarik, juga bermanfaat bagi penanaman aspek moral. Selain itu, mendongeng dapat menjadi sebuah aktivitas yang menggairahkan anak-anak untuk berimajinasi dan berkreativitas. Sayangnya, aktivitas mendongeng dan stimulasi linguistik kepada anak-anak semakin langka saja. Hal ini disebabkan antara lain miskinnya kapasitas mendongeng, dan interaksi yang terbatas dengan anak-anak karena benturan ekonomi, dan aktivitas-aktivitas jangka pendek yang dianggap lebih penting.

Padahal, kita sangat paham bahwa mendongeng sangat bermanfaat dalam menimbulkan ketertarikan membaca kepada anak. Tapi kemudian, sangat wajar jika dongeng menjadi hal yang langka. Pasalnya, untuk mendongeng, diperlukan kecakapan-kecakapan seperti teknik oleh vokal, yang cukup merepotkan bagi banyak orang. Akan tetapi, tanpa bermaksud mereduksi konsep fun dari dongeng, sebaiknya aktivitas mendongeng, ataupun dialog tentang pengetahuan dasar kepada anak-anak harus tetap dilakukan oleh orang tua dan orang dewasa di sekitarnya.

Jika tidak, hasrat keingintahuan anak akan semakin kita biarkan menyusut. Dan tentu saja, itu berarti bahwa kita mulai mengkhianati gerakan intelektualisasi yang mulai dicanangkan pemerintah secara berkelindan, dengan kita. Lalu menyoal tentang karakter anak. Apakah kita harus berkontribusi dalam pembentukan karakter pembalajar (baca:pembaca) sejati? Apakah model ceramah kepada anak-anak adalah sebuah jalan terbaik untuk membentu karakter anak yang cinta buku dan menikmati aktivitas membaca? Montessori telah menjawab hal ini. Beliau adalah pakar pendidikan anak usia dini sekaligus antropolog wanita pertama dari Itali.

Montessori (2008;365) merumuskan bahwa anak-anak membangun karakternya sendiri, membangun kuantitas yang kita kagumi dalam dirinya. Kualitas-kualitas itu tidak berasal dari teladan atau nasihat, namun semata-mata bersumber dari rangkaian aktivitas yang panjang dan lambat yang dijalani oleh anak antara usia tiga hingga enam tahun. Merujuk pada konstruk pandangan Montessori yang setuju bahwa ketrampilan calistung (membaca, menulis, dan berhitung) dapat diajarkan sejak dini maka mau tidak mau kita harus mengamini bahwa stumulasi linguistik harus berupa rangkaian aktivitas, yang tidak hanya berupa ceramah, tetapi aktivitas nyata yang kemanfaatannya dirasakan langsung oleh anak-anak.

Oleh karena itu, memberikan stimulasi pada anak-anak, dengan demikian harus disesuaikan dengan tahap perkembangan linguistik (bahasa). Sampai pada titik inilah, kolaborasi antara aspek psikologi perkembangan dan linguistik (bahasa) diperlukan untuk lebih tegas menformulasikan stimulasi yang tepat untuk menginvestasikan budaya membaca di masamasa berikutnya. Psikologi perkembangan, mempercayai bahwa pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak adalah periode yang penting untuk belajar bahasa. Jika pengenalan bahasa terlambat diajarkan, dan baru dimulai pada masa remaja, maka kita harus membayar keteledoran itu dengan harga yang sangat mahal; anak akan cenderung mengalami kesulitan dalam mempelajari tata bahasa dan aksen khas, seumur hidupnya.

Sebenarnya, tentang stimulasi bahasa untuk anak usia dini ini, psikologi perkembangan mempercayai bahwa secara alami, anak akan dibimbing kapasitasnya sendiri mempelajari sesuatu. Ada sebuah kutipan menarik tentang hal ini.

Pakar bahasa Noam Chomsky (1957) yakin, manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dengan cara tertentu. Ia mengatakan bahwa anak-amak dilahirkan  ke dunia dengan alat penguasaan bahasa (language, accquisition device, LAD) ; suatu keterikatan biologis yang memudahkan anak-anak untuk mendeteksi kategori bahasa tertetu seperti fonologi, sintaksis, dan semantik. LAD ialah suatu kemampuan tata bahasa bawaan yang mendasari semua bahasa manusia ( Montessori: 180)

 

Pandangan alamiah sekaligus mengembiarakan di atas, sesungguhnya bukan mengisyaratkan kepada kita agar lebih santai memberi stimulasi kepada anak usia dini. Akan tetapi, ia hanya berfungsi sebagai modalitas. Jika tidak dikembangkan, ia akan mengalami perkembangan yang tidak menggembirakan. Maka, stimulasi sesungguhnya adalah bagian yang sangat penting dalam membangun budaya kritis, sekaligus budaya membaca. Stimulasi-stimulasi linguistik, sesungguhnya bagi anak-anak berfungsi sebagai media pembiasaan, juga doktrin tentang orientasi terhadap aktivitas intelektual.

Stimulasi linguistik ini, dapat bebas dilakukan di setiap budaya, baik dengan keadaan latar belakang ekonomi yang sulit sekalipun. Syaratnya hanya satu; orangtua dan orang-orang dewasa di sekitar anak-anak sebagai lingkungan yang akan memberi banyak stimulasi linguistik memiliki kecakapan sosio-emosi yang memadai. Kecakapan semacam ini, memungkinkan bagi orangtua dan orang-orang dewasa, memperlakukan anak-anak sebagai sosok yang patut diapresiasi, diajak berkomunikasi, dan diperkenalkan dengan sistem pengetahuan dan nilai.

Jika stimulasi berbahasa dapat diberikan kepada anak-anak sejak dini, maka muaranya adalah sebuah keadaan di mana anak-anak akan mengalami kecerdasan berbahasa. Pada gilirannya, kecerdasan berbahasa inilah yang akan mempengaruhi kemampuan  baca dan minat baca seseorang, juga mempengaruhi ketertarikan seseorang terhadap aktivitas-aktivitas linguistik lain seperti menulis, berorasi, menyampaikan sesuatu, mengubah pola pikir, dan lain sebagainya. Kecakapan-kecakapan linguistik semacam itu pun akan bermanfaat dalam jenjang karir, dan hubungan interpersonal, bahkan intrapersonal.

Ada hal positif yang akan kita jumpai dalam masyarakat yang cerdas secara linguistic. Secara alami akan terbentuk masyarakat yang cerdas dalam beberapa bidang lainnya. Yang paling penting, dalam kedaan linguistik yang melejit, individu akan menikmati aktivitas yang berhubungan dengan bahasa secara total, dan muaranya adalah;budaya membaca dapat kita  ciptakan. Sangat menarik memang, bahkan optimisme ini harapannya dapat terwujud. Dalam artian, kita tidak ingin dalam keadaan euforia dan dibahagiakan oleh fakta-fakta psiko-linguistik bahwa belajar bahasa adalah keterampilan alami. Tidak mudah memang untuk membangun budaya, karena masyarakat kita memiliki kekayaan kompleksivitas.

Pun meski demikian, kompleksivitas bukanlah menadi sebuah  halangan untuk membangunnya dari awal. Pasalnya, fakta saintifik dan sosial mengatakan, kecerdasan berbahasa yang dilejitkan dari awal adalah pemantik bagi adanya sebuah kultur; menyukai aktivitas membaca. Dan jika aktivitas ini telah menjadi sebuah orientasi, maka apa pun halangannya, baik berupa mahalnya buku, dan minimnya fasilitas, kreativitas selalu dimunculkan ego dengan maksimal. Psikologi kepribadian mengistilahkannya dengan ego kraetif. Ego kreatif secara sederhana dapat didefinisiakan sebagai mekanisme pertahanan dari ego untuk dapat mencapai kepuasan, yang tidak hanya dalam bentuk minimal, tetapi maksimal.

 

Dalam kondisi demikian, maka masyarakat cenderung memiliki gairah membaca dan kesadaran untuk mengapresiasi fasilitas perpustakaan dengan lebih baik. Pada muaranya, jika budaya membaca telah mendarah daging dalam masyarakat kita, kita akan menemukan fakta menggembirakan; masyarakat kita akan cerdas secara pelan-pelan, meski dalam keadaan ekonomi dan fasilitas yang serba minimal. Akhirnya, kondisi ini adalah iklim ideal untuk menciptakan gerakan intelektual yang lebih optimistis.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. Psikologi Kepribadian. 2006 ( Malang: UMM Press

http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/minat-baca/72-minat-baca-dan-kualitas-bangsa)

Gunarsa, Singgih D. 2004. Bunga  Rampai Psikologi Perkembangan: dari anak sampai lanjut usia. Jakarta: PT BPK  Gunung Mas.

Montessori, Maria. 2008. The Absorbent ind, Pikiran yang Mudah menyerap. Terj. Daryanto.  Yogyakarta: Pusataka Pelajar

Santrock, John W. 2002. Life Span Development. Terj. Ahmad Khusairi.  Jakarta: Erlangga.

Suryabrata, Sumadi.  2007. Psikologi Kepribadian. Jakarta; PT RajaGrafindo Persada.

www.jurnalbogor.com


[2] Sebuah model pendekatan yang memahami individual defferences, sehingga labih manusiawi dan bersifat optimistis.

[3] Sebuah model pendekatan yang memandang bahwa manusia memiliki perspektif subjektif, sehingga menempatkan individu sesuai dengan kapsitas pengalaman dan keilmuannya.

[4] Sebuah entitas sistem dalam teori ekologi(pandangan sosio-kultural brofenbrenner yang terdiri dari 5 sistem lingkungan, mulai dari masukan interaksi alngsung agen-agen sosial yang berkembang hingga masukan kebudayaan (Santrock, 2005, hal 51)

Penulis: Nurul lathiffah

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

melejitkan kesadaran budaya bangsa melalui bahasa dan sastra indonesia

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


nine × 4 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose