Home / Artikel Perpustakaan / Upaya Menciptakan Perpustakaan Ideal Melalui Pemberdayaan Teknologi dan Pustakawan Demi Terwujudnya Masyarakat yang Terdidik

Upaya Menciptakan Perpustakaan Ideal Melalui Pemberdayaan Teknologi dan Pustakawan Demi Terwujudnya Masyarakat yang Terdidik

Keberadaan perpustakaan sudah dikenal oleh peradaban manusia sejak 3000 tahun yang lalu. Pada masa tersebut, bangsa-bangsa besar seperti Cina, Mesir, dan Mesopotamia telah memiliki koleksi buku-buku dan tulisan yang disimpan dalam suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama perpustakaan. Perpustakaan  sendiri tidak pernah lepas dari sumber informasi, pengetahuan, penelitian, rekreasi, serta sarana mempertahankan kelesrarian budaya bangsa.

Bagi kebanyakan orang, perpustakaan dapat menunjukan tingkat kemajuan dan intelektualitas bangsa. Pernyataan tersebut senada dengan visi dan tujuan dari perpustakaan yakni sebagai wadah untuk mencerdaskan bangsa, serta demi tercapainya masyarakat yang terdidik.

Selain itu keberadaan perpustakaan juga dapat diartikan sebagai upaya untuk menampung,  memilah, dan menyajikan informasi serta data demi kepuasan dan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan akan cepatnya informasi yang sampai ke tangan masyarakat serta terus update-nya informasi tersebut, memaksa perpustakaan untuk memperbaharui diri hingga mencapai kondisi ideal seperti yang diharapkan oleh publik.

Untuk itu dukungan teknologi dalam upaya memperbaharui manajemen kepustakaan nasional sangatlah penting, mengingat kebutuhan dan keadaan masyarakat yang telah berubah diakibatkan penyesuaian diri, akan cepat dan pesatnya teknologi informasi dan komunikasi. Ditengah-tengah penyesuaiannya dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, perpustakaan haruslah mampu memberikan nilai tambah pada fungsi dan keberadaan dari perpustakaan.

Perpustakaan diharapkan tidak hanya manawarkan kemudahan, kecepatan, dan akses yang luas saja melalui pemanfaatan teknologi. Namun pustakawan-pustakawannya juga harus mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Kategori perpustakaan ideal tidak hanya lagi dilihat dari banyaknya koleksi dan ruangan baca yang besar. Perpustakaan ideal kini diukur dari sejauh apa perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan pemakainya. Oleh sebab itu menjadi tugas pustakawan untuk mampu menyatukan antara integritas organisasi kepustakaan dengan teknologi informasi ( TI ) dan sistem layanan yang digunakan.

Pemberdayaan teknologi dan pustakawan dalam era baru kepustakaan nasional demi menyosong perpustakaan ideal harus disesuaikan dan ditingkatkan seiring dengan perubahan tuntutan pengguna perpustakaan, yakni akses informasi yang cepat, akurat, dan luas. Tentunya dengan tujuan yang luhur, maka kedepan perpustakaan tidak lagi hanya tempat mencari buku, melainkan sebagai pusat pertukaran informasi dan sharing pengetahuan, baik melalui buku ataupun antar  individu.

5. Permasalahan

Akar permasalahan dari mewujudkan perpustakaan ideal yang paling mendasar adalah rendahnya minat baca dari masyarakat Indonesia pada umumnya. Berdasarkan survei internasional dari Associations for Evaluation of Educational ( IEA ) pada tahun 2007,  menyebutkan kemampuan baca siswa SD kelas VI di Indonesia menempati peringkat ke-29 dari 30 negara. Selain itu berdasarkan data dari Human Development Index ( HDI ) kualitas pendidikan di Indonesia dari 177 negara, Indonesia berada pada urutan ke-107. Menurut International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) minat baca anak-anak Indonesia selevel dengan Selandia Baru dan Afrika Selatan.

Rendahnya minat baca ini disinyalir karena terbatasnya jumlah perpustakaan umum yang berstandar nasional serta berkategori ideal. Nampaknya keberadaan perpustakaan belum bisa dijadikan sebagai faktor yang mendukung keberhasilan pendidikan. Manfaat perpustakaan yang seharusnya dapat meningkatkan mutu pendidikan belum bisa dipenuhi secara optimal, sehingga kualitas pendidikan masyarakat masih terbilang rendah. Hal ini juga disebabkan oleh minimnya fasilitas dan pelayanan yang dimiliki oleh beberapa perpustakaan yang telah ada. Pemanfaatan teknologi modern dalam kegiatan operasional perpustakaan juga tidak semerta-merta mampu meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Apalagi teknologi tersebut tidak didukung dengan keberadaan pustakawan yang profesional dan staf administrasi yang terlatih. Kesemua sumber daya manusia ( SDM ) yang handal tersebut sangat jarang tersedia pada perpustakan-perpustakan. Kurangnya training dan pembinaan kepada para pustakawan dan staf menjadi penyebab utama rendahnya mutu SDM pengurus perpustakaan.

Pelayanan dari perpustakaan juga menjadi kendala untuk terwujudnya perpustakaan yang ideal. Kebutuhan pengguna perpustakaan akan pelayanan yang cepat, akurat, dan luas terhadap update informasi seringkali dilupakan. Perpustakaan di era sekarang, tidaklah lagi hanya melayani peminjaman buku dan baca ditempat saja. Melainkan harus mampu menjadi one-stop station bagi para pengguna perpustakaan. Perpustakaan dengan kriteria one-stop station sendiri adalah lingkungan perpustakaan dimana setiap pengguna dapat saling berinteraksi, berbagi pengetahuan, mencari informasi, dan termotivasi untuk menciptakan inovasi dan berkarya. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh pengguna saja, namun seluruh struktur pendukung yang ada di perpustakaan.

6. Tujuan

Tujuan dari penulisan artikel ini antara dapat dijelaskan melalui poin-poin penting berikut :

1.       Memberikan pengetahuan akan pentingnya perpustakaan sebagai faktor pendukung kemajuan pendidikan.

2.       Menerapkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung kegiatan operasional dari perpustakaan.

3.       Meningkatkan minat baca dari masyarakat sehingga tujuan dari perpustakaan ideal dapat tercapai dengan optimal.

4.       Mewujudkan pemberdayakan tenaga pustakawan sebagai pilar utama kemajuan pelayanan perpustakaan nasional.

5.       Memberikan pelayanan pustaka yang cepat, akurat, dan akses yang luas kepada pengguna perpustakaan.

6.       Meningkatkan jumlah layanan dan mutu layanan yang semakin baik dari perpustakaan.

5. Landasan Teori

Perpustakaan berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia berarti kumpulan buku-buku atau bahan bacaan[1]. Sedangkan menurut International Federation of Library Associationsand

Institutions ( IFIA ), perpustakaan merupakan kumpulan bahan tercetak atau non tercetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang tersusun secara sistematis untuk kepentingan pemakai[2].

Pemakai perpustakaan adalah masyarakat umum, yakni pelajar, mahasiswa, guru, karyawan, dan masyarakat biasa[3]. Namun hal ini jadi berbeda apabila perpustakaan tersebut terdapat didalam sebuah wilayah tertentu, seperti hal perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan pribadi, dan perpustakaan khusus. Maka pengguna dari perpustakaan perpustakaan tersebut terbatas pada kalangan kalangan tertentu saja.

Dalam lampiran keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 11 Maret No. 0103/0/1981, terdapat berbagai jenis perpustakaan, antara lain adalah sebagai berikut:

1.       Perpustakaan Nasional

Berkedudukan di ibukota negara, berfungsi sebagai perpustakaan defosit nasional dan terbitan asing dalam ilmu pengetahuan sebagai koleksi nasional, menjadi pusat bibiografi nasional, pusat informasi dan referensi serta penelitian, pusat kerjasama antar perpustakaan di dalam dan di luar negeri.

2.       Perpustakan Wilayah

Berkedudukan di ibukota provinsi, sebagi pusat kerja sama antar perpustakaan di wilayah provinsi, menyimpan koleksi bahan pustaka yang menyangkut provinsi,semua terbitan di wilayah, pusat penyelenggaraan pelayanan referensi, informasi dan penelitian dalam wilayah provinsi menjadi unit pelaksana teknis pusat pembinaan perpustakaan.

3.       Perpustakaan Umum

Menjadi pusat kegiatan belajar, pelayanan informasi, penelitian dan rekreasi bagi seluruh lapisan maysrakat.

4.       Perpustakaan Keliling

Berfungsi sebagai perpustakaan umum yang melayani masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan umum.

5.       Perpustakaan Sekolah

Berfungsi sebagi pusat kegiatan kegiatan belajar-mengajar, pusat penelitian sederhana, pusat baca, guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi.

6.       Perpustakaan Perguruan Tinggi

Berfungsi sebagai sarana kegiatan belajar-mengajar, penelitian dan pengabdian masyarakat dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

7.       Perpustakaan Khusus/Dinas

Berfungsi sebagai pusat referensi dan penelitian serta sarana untuk memperlancar tugas pelaksanaan instansi/lembaga yang bersangkutan.

Tujuan dari keberadaan perpustakaan sendiri adalah untuk mencerdaskan bangsa dengan berbagai koleksi buku dan informasi yang disediakannya. Secara khusus perpustakaan sendiri memiliki fungsi memperluas wawasan, meningkatkan minat baca masyarakat, dan mempertinggi daya serap pengetahuan serta analisa dari masyarakat[4].  Perpustakaan juga mempunyai peranan penting dalam membantu meningkatkan mutu kualitas pendidikan masyarakat.

Dalam kesehariannya perpustakaan diselenggarakan oleh pustakawan dibantu dengan beberapa staf administrasi yang menangani kegiatan operasional perpustakaan. Pustakawan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah orang yang bergerak di bidang perpustakaan atau ahli perpustakaan[5]. Kemudian menurut kode etik Ikatan Pustakawan Indonesia dikatakan bahwa yang disebut pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan[6].

6. Pembahasan

Perpustakaan kini sangat dibutuhkan untuk menunjang dan mendukung pelaksanaan pendidikan masyarakat, selain itu perpustakaan juga sebagai suatu komunitas yang menawarkan jasa dan tidak hanya berkutat seputar pengadaan informasi semata saja[7]. Melalui perpustakaan pengguna dapat melakukan akses tanpa batas terhadap informasi yang dibutuhkannya dan menikmati fasilitas yang disediakan untuk kenyamanan pengguna. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi juga turut membantu dalam setiap fasilitas perpustakaan. Meskipun masih butuh waktu lama untuk mengubah pandangan dari para pustakawan mengenai teknologi ini, yang mana sebelumnya mereka ( Pustakawan, red ) biasa melayani dengan sistem manual berubah menjadi sistem yang serba otomatis jika teknologi ini diterapkan.

Pengguna perpustakaan sekarang telah menuntut pelayanan yang terbaik dengan akses yang cepat, seiring dengan kebutuhan informasi pengguna yang semakin besar. Layanan-layanan yang kebanyakan diminta antara lain sebagai berikut; layanan informasi terbaru (current awareness services), layanan informasi terseleksi (selective dissemination of information), layanan penelusuran secara online, layanan penelusuran dengan CD-Room, dan lain-lain[8]. Selain tuntutan akan jumlah layanan yang semakin variatif tersebut, perpustakaan juga dituntut memberikan mutu layanan yang lebih baik.  Dalam rangka meningkatkan jumlah layanan dan mutu layanan inilah dibutuhkan teknologi informasi dan komunikasi.

Akibatnya sekarang bermunculan berbagai istilah perpustakaan, antara lain perpustakaan elektronik, perpustakaan online, dan perpustakaan digital[9]. Secara teori perpustakaan memang memerlukan teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini sangat wajar mengingat dampak aplikasi IT yang meluas di kehidupan masyarakat. Tentunya jika tidak ingin ditinggalkan oleh penggunanya, pemanfaatan teknologi IT menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan perpustakaan ideal.

Pemanfaatan teknologi IT pada pelayanan perpustakaan dapat dilihat dengan digunakannya sistem informasi manajemen (SIM). Layanan SIM ini meliputi pengintregrasian antara administrasi, pengadaan, inventaris, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengolahan anggota, dan lain-lain[10]. Melalui SIM secara langsung merubah paradigma pelayanan perpustakaan. Perpustakaan harus mampu membuat suatu sistem sehingga sumber informasi dapat langsung diakses pengguna. Sehingga pemakaian perpustakaan tidak hanya mengandalkan kunjungan secara fisik, namun dapat dilakukan setiap saat, dimana pun, dan kapan saja.

Berbagai upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan guna mencapai standar perpustakaan ideal sangatlah banyak. Salah satunya gedung yang baik dan mudah terjangkau, kemudahan diakses dan desain bangunan yang unik dan menarik dapat membuat pengguna nyaman berlama-lama diperpustakaan. Apalagi jika dilengkapi dengan fasilitas cafe, ruang baca dan diskusi, serta tempat beristirahat dilengkapi dengan kursi-kursi yang ergonomic dan pendingin ruangan[11]. Dari segi kebutuhan IT, perpustakaan setidaknya memiliki layanan akses internet, agar bisa dimanfaatkan oleh pustakawan untuk mengakses informasi external perpustakaan.

Selain itu tentunya fasilitas internet tersebut dimanfaatkan oleh pengguna untuk melakukan searching koleksi dan browsing apabila informasi yang disediakan diperpustakaan tidak ada. Melalui fasilitas ini perpustakaan juga diharapkan memiliki homepage yang aktratif dimana terdapat berbagai info selayaknya homepage itu adalah perpustakaan beserta gedungnya. Menyediakan layanan Hot Spot di gedung perpustakaan, juga merupakan suatu usaha membuat pengguna betah, nyaman, dan akan kembali lagi ke perpustakaan tersebut untuk melakukan aktifitasnya. Namun semua fasilitas yang terdapat pada perpustakaan haruslah mengalami proses penyaringan, sehingga tidak disalah gunakan. Menjadi sorotan utama dalam hal ini adalah fasilitas internet dan Hot Spot, oleh sebab itu menjadi tugas pustakawan untuk mampu menyeleksi informasi yang terbaik dan terpercaya saja.

Banyak pengguna mencari informasi ataupun koleksi buku, namun tidak dapat menemukannya di perpustakaan tersebut. Menjadi kewajiban perpustakaan untuk mencarikan dan melakukan pinjam silang dengan perpustakaan lainnya, dalam hal ini perpustakaan menjalin kerja sama dengan perpustakaan-perpustakaan nasional atau bahkan perpustakaan negara-negara asing. Penyediaan jurnal-jurnal melalui situs-situs jurnal juga dapat membantu pengguna yang ingin mengumpulkan bahan untuk keperluan penelitian.

Pemanfaatan homepage dari perpustakaan itu sendiri bertujuan mempermudah pengguna untuk mengakses informasi dari perpustakaan kapan pun, dan dimana saja. Tidak kalah penting adalah data dan koleksi yang terdapat di perpustakaan tersebut haruslah disimpan dalam berbagai format data. Format data tersebut antara lain seperti e-book, CD-Room, data multimedia, dan format cetak. Semua format tersebut dilengkapi dengan alat-alat untuk memutarnya, seperti cd player, ruang multimedia, ruang audio visualtape recorder, dan komputer. Strategi ini memiliki keuntungan salah satunya adalah menjaga data, koleksi dan informasi dari kerusakan. Kerusakan sangat rawan terjadi pada data atau koleksi yang tercetak, daripada data yang tersimpan dalam media elektronik tersebut.

Dalam menghadapi tuntutan pengguna dan kemajuan IT yang digunakan pada layanan perpustakaan maka dibutuhkan seorang pustakawan yang profesional. Pustakawan yang dikatakan profersional adalah yang memiliki keahlian, etos kerja, serta faktor mental tertentu, yakni yang bersifat terbuka, ramah, suka kerja keras, dan suka melayani[12]. Diharapkan terlebih dahulu bagi seorang pustakawan adalah seorang pencinta buku terlebih lagi pencinta ilmu pengetahuan[13]. Seorang pustakawan yang telah memiliki sifat kecintaannya akan buku dan ilmu pengetahuan, tentunya akan menumbuhkan juga sifat tanggung jawab terhadap tugasnya sebagai pustakawan.

Hanya dengan pustakawan dan staf yang berkualitas tinggi perpustakaan ideal dapat terwujud. Oleh sebab itu seorang pustakawan diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, pelayanan berbasis pengguna, etos kerja tinggi, serta menguasai keteknisan perpustakaan. Tidak kalah penting adalah kemampuan memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti menguasai pemakaian komputer, database, internet dan intranet, serta menguasai peralatan IT[14]. Penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris serta keahlian dalam melakukan penelitian di bidang perpustakaan juga sangat mendukung meningkatkan kualitas pustakawan.

Demi mengimbangi pesatnya informasi dan pengetahuan baru, pustakawan diharapkan memiliki kemampuan manajemen yang baik. Selain itu memiliki kemampuan untuk mencari informasi baru,mengetahui sumber informasi, dan mengenal sistem jaringan informasi.

7. Kesimpulan dan Saran

Pemberdayaan teknologi IT dan pustakawan harus segera diterapkan, agar perpustakaan ideal seperti yang diharapkan masyarakat pengguna cepat tercapai dan dinikmati. Selain itu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sangat mendukung agar pelayanan perpustakaan menjadi lebih baik. Hal ini tentunya secara umum juga akan meningkatkan minat baca masyarakat dan mencerdaskan bangsa. Melalui kecepatan transfer pengetahuan hingga informasi yang diperoleh masyarakat, kemajuan bangsa dalam segala bidang akan tercapai.

Perpustakaan ideal yang menjadi impian tiap pengguna perpustakaan, tidak akan lagi menjadi sekedar mimpi. Namun manfaat dan keberadaannya akan segera dirasakan oleh masyarakat umum, apabila para pustakawan ikut berperan aktif untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam bidang komunikasi dan keteknisan keperpustakaan. Pustakawan yang mengutamakan serta melayani pengguna, dan menumbuhkan kecinta dirinya pada buku dan ilmu pengetahuan akan menumbuhkan kecintaan pula dengan perpustakaan. Peran Pustakawan sebagai tulang belakang perpustakaan menjadi pertimbangan untuk menentukan arah dan kemajuan perpustakaan ideal di Era pesatnya teknologi informasi dan komunikasi pada masa mendatang.


[1] Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta:

Balai Pustaka, 1988). hal 713

[2] Sulistyo Basuki. Pengantar Ilmu Perpustakaan. (Jakarta: Universitas Terbuka. Depdikbud,

2003). hal. 5

[3] Sutarno NS. Perpustakaan dan Masyarakat. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003).

hal.7.

[4] Ibid. hal.57.

[5] Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta:

Balai Pustaka, 1988). hal 713

[6] T.M Sumantri. Panduan Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. (Bandung: Remaja

Rosdakarya, 2002). hal.7.

[7] Ibid. hal.81-82.

[8] Mustafa, B. Perubahan Paradigma Layanan Perpustakaan Memasuki Era Teknologi Informasi. Dinamika Informasi dalam Era Globalisasi. (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1998).

[9] Wahyu, S .Digitalisasi Koleksi Perpustakaan Prospek dan Kendala. (Yogyakarta:Airlangga,2005).hal 4.

[10] Sutarno NS. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta .( Yayasan Obor Indonesia, 2003).

[11] Sardiman A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Pedoman Bagi Guru dan

Calon Guru). (Jakarta: Rajawali Press, 1988).hal. 94.

[12] Larasati Milburga. op. cit. hal.76

[13] Ibid. hal 51.

[14] Ibrahim Bafadal. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. (Jakarta : Bumi Aksara, 1992). hal.5.

Penulis: Fajjar Nuggraha

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

pengelolaan perpustakaan sekolah

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


six × = 24

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose