Home / Artikel Perpustakaan / User Education dan Library Instruction di Perpustakaan Perguruan Tinggi

User Education dan Library Instruction di Perpustakaan Perguruan Tinggi

Kemampuan pemustaka dalam memanfaatkan perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Akan tetapi banyak pemustaka yang terlahir di perguruan tinggi tidak tahu bagaimana memanfaatkan perpustakaan. Oleh karena itu, perpustakaan diharapkan mampu untuk mendidik pemustakanya untuk tertib dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan semua koleksinya secara maksimal. Dengan demikian perpustakaan akan berfungsi secara optimal apabila pemustakanya dapat mengetahui dengan baik dan cepat dimana dan bagaimana cara menemukan sumber informasi yang mereka butuhkan.
Pustakawan mengajarkan pemustaka bagaimana menggunakan perpustakaan meliputi koleksi, metode pencarian informasi yang disebut library instruction, bibliographic instruction hingga user instruction. Hal ini termasuk memberikan jawaban yang lengkap kepada pertanyaan pemustaka.
Dalam bahasa Inggris ada bermacam-macam istilah yang dipakai untuk pendidikan pemustaka diantaranya user education, library orientation, library instruction, bibliographic instruction, library use instruction, dan user guidance. User Education adalah istilah yang lebih luas yang digunakan daripada semua istilah lainnya.
Berikut ini beberapa pendapat mengenai definisi user education,
1. Hazel Mews
¦.. instruction given to readers to help them make the best use of a library..
Pendidikan Pemustaka adalah instruksi yang diberikan kepada pemakai agar mereka dapat menggunakan perpustakaan dengan baik.
2. Renford and Hendrickson
¦..encompass all activities designed to teach the user about library resources and research techniques
Pendidikan pemustaka adalah cara suatu kegiatan pengajaran dengan menggunakan berbagai sumber perpustakaan dan cara-cara penelitian
3. Malley
“¦.a process whereby the library user is firstly made aware of the extend and number of the library s resources, of its services and of the information sources available to him or her, and secondly taught how to use these resources, servicces and sources”.
Pendidikan pemustaka adalah suatu proses dimana pemustaka perpustakaan untuk pertama kali diberi pemahaman dan pengertian sumber-sumber perpustakaan, termasuk pelayanan dan sumber-sumber informasi yang saling terkait, bagaimana menggunakan sumber-sumber tersebut, bagaimana pelayanannya dan di mana sumbernya
4. ODLIS (Online Dictionary for Library and Information Science ) definisi user education (pendidikan pemustaka) adalah
All the activities involved in teaching users how to make the best possible use of library resources, services, and facilities, including formal and informal instruction delivered by a librarian or other staff member one-on-one or in a group. Also includes online tutorials, audiovisual materials, and printed guides and pathfinders..

Semua kegiatan yang terlibat dalam mengajar pengguna bagaimana memanfaatkan sebaik mungkin sumber daya perpustakaan, layanan, dan fasilitas, termasuk instruksi formal dan informal disampaikan oleh seorang pustakawan atau anggota staf lain satu-satu atau dalam kelompok. Juga termasuk tutorial online, bahan-bahan audiovisual, dan panduan tercetak dan pathfinders.
Ada beberapa hal yang melatarbelakangi perlunya user education di perpustakaan perguruan tinggi, diantaranya adalah :
1. Sarana dan prasarana serta koleksi di perpustakaan merupakan suatu investasi yang sangat besar bagi perguruan tinggi, oleh karena itu perpustakaan harus digunakan dan dimanfaatkan semaksimal oleh pemustaka.
2. Pemustaka sebagian besar adalah mahasiswa yang ditekankan pada studi mandiri, sehingga diharapkan dengan library instruction, pemustaka mampu untuk lebih memahami dan menggunakan perpustakaan dengan berbagai fasilitas dan layanannya secara lebih efektif dan efisien.
3. Dengan adanya kegiatan pendidikan pemustaka maka perpustakaan harus mengatur dan membenahi dirinya agar dapat dipergunakan dengan mudah oleh Pemustakanya.
4. Dengan adanya kegiatan ini maka merupakan suatu kesempatan bagi pustakawan untuk meningkatkan diri bukan hanya sebagai petugas yang hanya melayani Pemustaka saja tetapi ikut serta menyumbangkan pikiran dan keahliannya dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.
5. Melalui pendidikan Pemustaka ini berarti perpustakaan telah dapat dan secara nyata memberikan sesuatu yang amat diperlukan oleh Pemustakanya.
Program pendidikan pemustaka perpustakaan (user education programme) bagi mahasiswa perguruan tinggi perlu mendapatkan perhatian. Berbagai alasan dikemukakan mengapa program tersebut perlu dilaksanakan oleh perpustakaan. Hal yang sering disoroti adalah
1. Kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan merupakan dasar yang amat penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan.
2. Selain itu perpustakaan diharapkan mampu berfungsi dalam mendidik mahasiswa untuk menjadi pemustaka yang tertib dan bertanggungjawab.
3. Di sisi lain perpustakaan senantiasa mengupayakan agar segala kekayaan dalam bentuk koleksi, baik tercetak maupun terekam, dengan segala fasilitas dan pelayanannya, dapat digunakan secara maksimal oleh pemustaka.
Tujuan utama diadakannya kegiatan pendidikan pemustaka perpustakaan adalah untuk memperkenalkan ke pemakai bahwa perpustakaan adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat koleksi dan sumber informasi lain.
Menurut Rahayuningsih (2005), ada bermacam-macam tujuan yang hendak dicapai, diantaranya adalah :
1. Agar pemakai menggunakan perpustakaan secara efektif dan efisien.
2. Agar pemakai dapat menggunakan sumber-sumber literatur dan dapat menemukan informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapi.
3. Memberi pengertian kepada mahasiswa akan tersedianya informasi di perpustakaan dalam bentuk tercetak atau tidak.
4. Memperkenalkan kepada mahasiswa jenis-jenis koleksi dan ciri-cirinya.
5. Memberikan latihan atau petunjuk dalam menggunakan perpustakaan dan sumber-sumber informasi agar pemakai mampu meneliti suatu masalah, menemukan materi yang relevan , mempelajari dan memecahkan masalah.
6. Mengembangkan minat baca pemakainya
7. Memperpendek jarak antara pustakawan dengan pemustakanya
Dalam user education, Malley (1984) membagi ke dalam dua hal yaitu library orientation dan library instruction. Orientasi perpustakaan bertujuan untuk mengenalkan pemustaka tentang keberadaan perpustakaan dan layanan apa saja yang tersedia di perpustakaan juga memungkinkan pemustaka mempelajari secara umum bagaimana menggunakan perpustakaan, jam buka, letak koleksi tertentu dan cara meminjam koleksi perpustakaan.
Ratnaningsih (1994) memberikan tujuan orientasi perpustakaan yaitu :
1. Mengetahui fasilitas yang tersedia di perpustakaan
2. Mengetahui kewajiban yang harus dipenuhi
3. Mengetahui tata letak gedung, ruang koleksi serta layanan yang tersedia.
4. Mengerti tata cara menggunakan catalog, computer dan media teknologi lain.
5. Mampu memanfaatkan perpustakaan secara maksimal dengan efektif dan efisien.
6. Mampu menemukan koleksi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat.
7. Dapat menggunakan sumber-sumber penelusuran referensi, baik secara tradisional maupun media elektronik yang ada.
8. Termotivasi senang belajar di perpustakaan.
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah melaksanakan program pendidikan pemustaka, di antaranya adalah Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara, Universitas Atmajaya, Universitas Pelita Harapan, Universitas Sanata Dharma serta beberapa universitas lain.
Cara dan waktu pelaksanaan pendidikan pemustaka berbeda-beda, misalnya
1. Ada yang memasukkan program pada saat orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek),
2. Ada pula yang memasukkan dalam mata kuliah tertentu
Pendidikan pemustaka dimasukkan dalam mata kuliah kapita selekta dengan 2 SKS dan bersifat wajib. Sementara di Perpustakaan Universitas Pelita Harapan Tangerang, selain memasukkan program pendidikan pemustaka saat ospek, juga melayani permintaan jurusan dengan materi di kelas selama 2 jam.
3. Ada yang mewajibkan mahasiswa baru mengikuti progam sebagai syarat mendapatkan kartu anggota perpustakaan tetapi ada yang tidak mewajibkan mahasiswa baru dan hanya melayani mereka yang berminat.
Berbagai pendidikan pemustaka yang diterapkan dibeberapa perguruan tinggi belum mencapai hasil maksimal. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
1. Kurangnya tenaga pustakawan profesional,
2. kurangnya fasilitas perpustakaan,
3. Belum terjalinnya kerjasama di antara staf, pustakawan dan pemustaka, serta
4. Perencanaan program yang belum tepat.
Kadang-kadang pelaksanaan program tidak memperhatikan beberapa aspek seperti tujuan program, waktu pelaksanaan, rnateri yang akan disampaikan, siapa pelaksananya, serta metode yang akan digunakan. Sehingga terkesan hanya melaksanakan suatu program rutin, tanpa dipikirkan hasil yang akan dicapai.

Metode Pendidikan Pemustaka
Agar program pendidikan pemustaka perpustakaan dapat memperoleh hasil yang maksimal, perlu menentukan metode apa yang kira-kira sesuai dan efektif digunakan. Dalam memilih metode perlu pula dipertimbangkan medianya, karena masing-masing media mempunyai daya guna yang berbeda
Menurut Fjalbbrant dan Malley (Ratnaningsih, 1994) metode pengajaran yang cocok bagi program pendidikan pemustaka secara garis besar dapat dibagi atas 3 kelompok, yaitu
1. Metode yang sesuai pendidikan kelompok
2. Metode yang sesuai untuk pendidikan individu/perorangan
3. Metode yang dapat dipakai baik bagi pendidikan kelompok maupun perorangan
Metode yang dipilih dalam penyajian, masih pula harus mempertimbangkan subyek yang diajarkan, pemustaka yang mengikuti pendidikan dan pengajar atau pembimbingannya. Dalam pendidikan pemustaka dapat juga memilih beberapa metode antara lain :
a. Ceramah
b. Seminar/tutorial/demonstrasi
c. Wisata perpustakaan
d. Metode audio visual : Film, Video tape, Slide
e. Bentuk tercetak : Brosur, Leaflet
f. Latihan/Praktek
g. Program bimbingan kelompok
h. Program bimbingan khusus
I. Program bimbingan individu

Pelaksanaan Pendidikan Pemustaka
Mengenai kapan pendidikan pemustaka dapat dilaksanakan, tergantung kepada kedua pihak, yaitu antara pemustaka dan perpustakaan. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi melaksanakan program ini sebagai program wajib bagi setiap pemustaka perpustakaan, yang dilaksanakan secara kontinyu dan terjadwal.
Tempat pelaksanaan dapat di perpustakaan atau fakultas, disesuaikan dengan fasilitas yang ada. Tetapi nampaknya perpustakaan merupakan salah satu altematif terbaik sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan pemustaka, mengingat perpustakaan merupakan unsurpendukung terpen ting dalam penyelenggaraan program pendidikan pemustaka. Tentu saja perpustakaan harus menyelenggarakan kerja sama dengan fakultas agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik.
Pelaksanaan pendidikan pemustaka dapat dilakukan dengan tiga tingkatan antara lain:
a. Tingkatan orientasi
Orientasi ini biasanya dilakukan pada mahasiswa baru pada awal mengikuti kegiatan ospek. Kegiatan pendidikan pemustaka yang disatukan dalam ospek tersebut diberikan pada materi khusus yang diselenggarakan selama kurang lebih 2 jam. Dengan materi mengenai. pentingnya perpustakaan, jam buka perpustakaan. sarana temu kembali informasi, jasa perpustakaan.jenis koleksi yang dimiliki oleh suatu perpustakaan dan peraturan perpustakaan. Metode pendidikan pemustaka yang dapat digunakan adalah ceramah dengan prinsip pengenalan. kunjungan perpustakaan dan demonstrasi atau peragaan. Pelaksanaan dalam pemberian pendidikan pemustaka pada tingkat ini adalah minimal pustakawan dengan kualifikasi setingkat sarjana muda ilmu perpustakaan.
b. Pendidikan pemustaka pada tingkatan tertentu.
Pendidikan pemustaka pada tingkatan tertentu ini, ada yang melalui jalur kurikulum, ada juga melalui bimbingan individu atau kelompok (non kurikulum). Pada jalur kurikulum ada yang dititipkan pada metodologi penelitian, ada yang masuk ajaran pengantar perpustakaan dan ada juga yang memasukkan kedalam ajaran penelusuran literatur. Dengan alokasi waktu selama satu semester dengan 2 SKS. Untukjalur non kurikulum (bimbingan individu/kelompok) pendidikan pemustaka dapat dilakukan oleh pustakawan dengan cara bimbingan langsung pada masing-masing pemustaka. Dapat juga dibuka kelas pada jumlah tertentu dan dilaksanakan pendidikan pemustaka Pembahasan di perpustakaan.
Materi pendidikan pemustaka pada tingkatan ini sarna dengan materi orientasi, namun ada penekanan dalam materi pemustakaan sarana temu kembali informasi (katalog, indeks, abstrak dan bibliografi) juga penelusuran informasi otomasi. Staf pelaksananya bisa pustakawan atau yang berkualifikasi sarjana muda bidang ilmu perpustakaan. Untuk materi praktek di perpustakaan bisa dibantu oleh asisten pustakawan. Metode yang cocok adalah ceramah, demonstrasi dan praktek/latihan.
c. Pendidikan pemustaka pada peserta Pascasarjana
Pendidikan pemustaka program pascasarjana ini biasanya peserta terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Karena para peserta selalu melakukan penelitian, mereka selalu membutuhkan referensi yang lengkap dan mutahir dari jurnal, bibliografi dan sumber informasi tentang penelitian lain. Mereka sering melakukan wawancara dan dialog dengan pustakawan yang kompeten untuk mendiskusikan penelusuran informasi yang kadang sangat spesifik. Untuk kebutuhan seperti ini diperlukan adanya pustakawan spesialis atau setidaknya pustakawan yang telah mendalami bidang layanan minat tersebut dengan cukup pengalaman, sehingga mudah untuk memahami terminologi khusus yang kadang diperlukan pemustaka.
Pada tingkat ini, pendidikan pemustaka dapat dilaksanakan setiap tahun atau 2 x setahun. Materi yang diberikan sarna dengan tingkat pendidikan pemustaka yang lain tetapi ada penekanan pada materi penelusuran baik manual maupun terotomasi juga pemakaian bibliografi hasil-hasil penelitian. Staf pelaksana setidaknya berkualifikasi setingkat S-1 dan S-2 ilmu perpustakaan. Untuk pelaksanaan praktek bisa dibantu asisten pustakawan. Metode pendidikan/penyampaian yang cocok untuk program tingkat ini adalah : dibagikan makalah, ceramah, praktek penelusuran, dan soal-soal latihan, misal dengan membuat panduan pustaka (“path finder”)
d. Pendidikan pemustaka melalui homepage
Seiring dengan makin mudahnya akses internet maka banyak perpustakaan yang memiliki web site. Kegiatan pendidikan pemustaka akan lebih efisien dan efektif bila dilakukan melalui home page yang bisa diakses oleh pemustakanya. Fasilitas ini bisa diakses dimanapun dan kapanpun oleh pemustaka perpustakaan. Fasilitas homepage untuk pendidikan pemustaka telah dilakukan oleh perpustakaan di luar negeri misalnya di Perpustakaan Pusat University of The Ryukyus, Japan, dimana perpustakaan menyampaikan informasi kegiatannya yang dapat diakses pemustakanya dimanapun berada.
Informasi tersebut adalah :
1. Informasi kegiatan perpustakaan
2. Petunjuk menggunakan perpustakaan
3. OPAC, dan data base CD-ROM (searching)
4. Pengantar bahan bahan local
5. Pameran
6. Bulletin perpustakaan
Keuntungan metode tersebut antara lain :
a. Cepat
b. Dapat setiap saat diperbaharui
c. Tidak perlu waktu khusus untuk menyampaikannya (bahkan bisa sepanjang tahun)
d. Bila dihitung secara keseluruhan akan lebih murah

Library Instruction
Pada saat ini, jumlah informasi yang dihasilkan dan yang dapat diakses terutama melalui internet tumbuh dengan pesat. Kemampuan untuk menggunakan berbagai macam bentuk informasi dengan efektif dan efisien sangatlah penting. Ketrampilan ini yaitu library literacy atau information literacy.
Library instruction merupakan komponen yang penting dalam pencarian informasi, mempromosikan pembelajaran seumur hidup dengan menyediakan bantuan yang tidak hanya untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, tetapi juga belajar untuk menemukan informasi apabila referensi bantuan tidak selalu tersedia.
Menurut ODLIS, library instruction memiliki definisi yang sama dengan bibliographic instruction yaitu
Instructional programs designed to teach library users how to locate the information they need quickly and effectively. BI usually covers the library’s system of organizing materials, the structure of the literature of the field, research methodologies appropriate to the discipline, and specific resources and finding tools (catalogs, indexes and abstracting services, bibliographic databases, etc.).

Di perpustakaan akademik, LI biasanya berkaitan dengan kursus atau kursus-terintegrasi. Perpustakaan yang memiliki LI dengan laboratorium komputer dilengkapi sesi praktek penggunaan katalog online, database bibliografi, dan sumber daya Internet. Instruksi biasanya diajarkan oleh pustakawan layanan instruksional dengan pelatihan khusus dan pengalaman dalam metode pedagogis.
Library Instruction bertujuan agar para pemakai dapat memperoleh informasi yang diperlukan dengan tujuan tertentu dengan menggunakan semua sumber daya dan bahan yang tersedia di perpustakaan. Instruksi perpustakaan berkaitan dengan temu kembali informasi. Tujuan Library Instruction menurut Ratnaningsih (1994) adalah memberikan bimbingan bagi pemakai dengan tingkatan tertentu dengan tujuan sebagai berikut :
1. Mampu memanfaatkan perpustakaan secara efektif dan efisien
2. Mempunyai rasa percaya diri yang tinggi dalam penemuan informasi yang mereka butuhkan
3. Mampu menelusur informasi melalui sarana-sarana penelusuran informasi yang ada
4. Memahami penelusuran bibliografi baik secara manual (catalog) maupun dengan media teknologi (computer, CD ROM dsb).
Jenis-jenis dari Library Instruction yaitu :
1. Point-of-Use Instruction
Beberapa penulis memberikan gambaran point-of-use instruction dengan informasi tercetak di perpustakaan yang memberikan penjelasan tentang alat dan koleksi referensi yang dipajang dimana alat dan koleksi tersebut diletakkan. Ketika pemustaka membutuhkan jawaban maka pustakawan memberikan gambaran yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka.
2. Formal Instruction
Formal instruction merupakan salah satu aspek dari user education. Macamnya yaitu :
¢ Tour dan orientasi Perpustakaan
¢ Presentasi di kelas
¢ Tutorial

PENUTUP
Kegiatan user education termasuk didalamnya library instruction merupakan kegiatan yang sangat penting bagi perpustakaan. Kesuksesan pemustaka dalam memanfaatkan seluruh fasilitas dan koleksi perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasinya akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pelaksanaan user education. Kesuksesan kegiatan ini akan memberikan dampak positif bagi ketrampilan literasi informasi pemustaka.
Seperti yang kita ketahui bahwa informasi memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan, maka pemustaka yang memiliki information literacy skill yang baik akan berhasil dalam setiap tahapan bidang kehidupan yang dilaluinya.

DAFTAR PUSTAKA
Asrukin, Mochammad. 1995 . Memahami kebutuhan pemakai perpustakaan. Bulletin Bina Pustaka No. 103/th.XVI
Evans, G. Edward. et. al. 1992. Introduction to public library services. Colorado : Libraries Unlimited.
Malley, Ian. 1984. The basics of information skills teaching. London: Clive Bingley
Rahayuningsih, F. 2005. Mengkaji pentingnya pendidikan pemustaka. Info Persadha Vol. 3/No.2/Agustus 2005.
Soerono. 1996. Pendidikan pemustaka pada perpustakaan perguruan tinggi.Media Pustakawan Volume III No. 4 Desember 1996.
Sulistyo-Basuki. 1992. Teknik dan Jasa Dokumentasi. Jakarta : Gramedia.
University Ryukyu Library. 1999. Users guide to the Library University Ryukyus.
http://lu.com/odlis/ diakses pada tanggal 14 januari 2011 pukul 17.00

Oleh
Sugeng Priyanto dan Haryani
(pustakawan UNDIP)

Masukkan nama & email Anda untuk berlangganan artikel

Kata Kunci Penelusuran:

perpustakaan perguruan tinggi

About Pemustaka

Dengan senang hati kami akan menerima kiriman artikel anda. Anda bebas mengirim artikel, baik itu berupa Cerpen, Dongeng, Review, Informasi Lowongan Kerja, Promosi Perpustakaan, Catatan Harian dan lain-lain. Kirim ke : admin@pemustaka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


− three = 1

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Baca Jugaclose